Lokakarya Penulisan Buku Anak Room to Read (13-16 Mei 2019)

Sejak dulu, saya ingin sekali membuat buku cerita anak. Tapi, karena saya penerjemah, dan waktu di Mizan berurusan dengan buku anak terjemahan, saya lebih banyak terpapar buku-buku anak luar negeri.

Standar saya jadi ketinggian. Saya selalu mengacu ke buku-buku anak luar, yang tentu saja sudah melewati berkali-kali revisi dan proses berlapis-lapis sebelum sampai di Indonesia. Setiap kali mencoba menulis, saya selalu nggak puas. Minder. Lalu, nggak jadi dan nggak jadi lagi. Begitu terus selama berbelas-belas tahun.

(Penafian: Tentu saja banyak sekali buku anak Indonesia yang bagus. Cuma karena situasi, kecenderungan saya jadi begitu).

Saya baru menemukan titik terang saat ikut lokakarya singkat penulisan buku anak dengan mentor Mbak Sofie Dewayani di UPI. Kemudian, tahun ini, ada dua lokakarya penulisan buku anak yang saya ikuti: pertama dengan Litara-Estee Lauder-TAF, bertema “Mighty Girls” (mudah-mudahan sebentar lagi bukunya muncul di lestreadasia.org dan apps letsreadasia). Pengalaman ikut lokakarya pertama ini belum sempat saya tulis karena setelahnya mengalami kerempongan nan hakiki. Hiks.

Pertemuan dengan Kembangmanggis di acara Tacita pun menginspirasi untuk menulis, karena saya ingat pesannya, “Berkarya aja dulu, jangan takut kritik!” (ada di postingan FB beberapa bulan lalu).

Salah satu penulis idola dari zaman SD, nggak pernah ketinggalan baca cerbung Tia di Majalah Hai!

Kalau pertemuan dengan Oma Mulyana? Menyenangkan sih tapi nggak menginspirasi di bidang tulis-menulis, hahahaaaaaa…. (Kalau ada yang nggak tahu Oma Mulyana, oh… keterlaluan! :p)

Kang Oma is in da house! 😀

Yang akan saya ceritakan di sini adalah lokakarya penulisan buku anak kedua yang saya ikuti, bersama Room to Read. Sebetulnya materi setiap lokakarya mirip-mirip. Khusus di lokakarya Room to Read ini, selain penulisan buku cerita anak bergambar (fiksi), kami juga belajar menyusun dan menulis nonfiksi naratif serta cerita rakyat yang cocok untuk pembaca anak.

Selamat datang di Sangria Spa & Resort… Di spanduknya Bandung padahal Lembang. (trus motretnya pas mau pulang hihi)

Apa saja materinya? Ada di buku catatan saya yang warna kuning di bawah ini, nggak perlu diketik lagi ya hahahaaaa…. Panjang soalnya. Mending ikutan sendiri.

cendera mata lokakarya, unyu yaaa

Kesan saya setelah mengikuti lokakarya ini adalah… kita harus mengosongkan isi kepala dulu, lalu menerima materi yang diberikan, juga masukan dari mana-mana: dari editor, teman penulis lain, atau Mahesh, fasilitator dari Room to Read. Lalu mengguncang kepala supaya pikiran kita “bercampur merata dan matang” sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang apik.

hasil kepala diguncang jadinya teler gini (seperti biasa, selalu dapet candid kacau dari Mas Moemoe)

Empat hari rasanya terlalu singkat. Tapi nggak membosankan karena ada selingan yoga pagi pada hari ketiga dan bisa berenang-jacuzzi-sauna pada hari terakhir, setelah mengumpulkan naskah hihiii….

 

Yang juga menyenangkan adalah berkenalan dengan teman-teman penulis dan para editor dari beberapa penerbit. Ada beberapa yang sudah saya kenal seperti Teh Irawati Subrata (editor lokakarya Litara-Estee Lauder-TAF), Mbak Pristian dan Mbak Nurhayati Pujiastuti (sesama alumni lokakarya Litara-Estee Lauder-TAF), dan beberapa penulis lain yang sudah saya kenal namanya. Di sini juga saya bertemu dengan kakak seorang teman lama saya (nggak usah sebut nama ya, pokoknya sang kakak ini adalah ilustrator beken hahaaaa). Meskipun baru pertama bertemu, tapi rasanya sudah sering mengobrol sejak lamaaaa sekali (Fotonya nggak ada di sini, soalnya sesekakak itu yang motret dan belum dishare hihiiiii).

 

 

Naskah hasil lokakarya ini akan diterbitkan oleh empat penerbit yaitu Bestari, BIP, Kanisius, dan Litara (saya masuk tim Litara bersama empat penulis lain) dan nanti akan ditampilkan juga di http://www.literacycloud.org.

Setelah ini, saya juga bercita-cita ikut workshop ilustrasi buku anak, tapiiiii… harus mengumpulkan portofolio yang rapi dulu. Selama ini, setiap kali mencoba menggambar sesuatu, sesaat kemudian gambar itu akan ada tambahannya (mungkin kumis baplang, tahi lalat besar, kacamata hitam, dan lain-lain hihiiii). Mudah-mudahan tahun depan bisa lolos.

Kalau ada kesempatan untuk ikut lokakarya semacam ini, saya mau lagi! Teman-teman yang berminat menulis buku anak pun saya sarankan untuk ikut. Ilmu dan pengalamannya tak ternilai!

Advertisements

Ranah Minang, Saya Akan Kembali! (April 2018)

Ah, seharusnya saya menuliskannya beberapa bulan lalu. Soalnya, ini sambungan dari cerita workshop (harusnya saya pake kata lokakarya, tapi karena sudah telanjur jadi biar aja ya, beibehhhh) yang ini. Mudah-mudahan masih cukup akurat, maafkan kalau nggak, hehe….

Tanggal 16 April, wisata kuliner sudah dimulai padahal masih di Bandung. Makan di Sate Pojok Bandara Husein Sastranegara, yang konon terkenal sejak dulu. Sayang nggak ada fotonya, karena saya pikir toh ini di Bandung, bisa kapan pun didatangi lagi. Tapi, ternyata meskipun dari rumah ke bandara relatif dekat, karena belum ada lagi keperluan ke daerah situ, sampai sekarang belum mampir lagi.

Kami sampai di Padang sore dan hujan. Karena teman-teman yang dari Jakarta (Mbak Dina dan Mbak Erna) belum datang, kami menunggu di salah satu kedai kopi di bandara Padang. Waaa… sudah terasa kopinya beda dengan di Bandung! Apa bedanya, saya nggak bisa jelasin karena bukan pakar kopi, yang jelas kalo kata orang Spanyol mah LEKOH.

IMG-20180416-WA0003

Ngopi “lekoh” bersama Mbak Eva (difoto oleh Mas Ricky)

Di kedai kopi itu juga kami bertemu tim penjemput. Kami diantar ke Hotel Daima, menyimpan barang sebentar, lalu menuju kedai martabak Malabar. Di sana saya pesan nasi kabuli dibagi dua dengan Mbak Dina, soalnya porsinya edun! Nasi kabuli ini disajikan di piring kaleng, dengan potongan daging kambing, gulai terung, acar wortel dan mentimun, serta beberapa potong nanas. Rasa masakan penuh rempah khas India/Timur Tengah ini diseimbangkan segarnya acar dan irisan nanas, tapi sayang nanasnya buat saya kurang banyak. Saya juga sempat mencicip martabak telur plus kari kambingnya. Enak juga!

nasi kabuli malabar

Piring kaleng khas makanan India

Besoknya, kami sarapan di hotel. Biasanya kan masakan hotel menurut saya biasa-biasa aja, kalau masakan Indonesia, malah lebih enak di warung-warung pinggir jalan. Tapi, di Hotel Daima ini, sarapannya enaaaak! Menunya beragam, mulai dari roti, sereal, nasi, nasi goreng, dua sampai tiga macam lauk pauk. Yang menurut saya istimewa adalah ketupat sayurnya (dengan kuah yang berganti setiap hari, kuah kuning, kuah merah, kuah tauco), bubur-buburnya (bubur sumsum, bubur ketan hitam, kolak pisang), dan kue basah tradisionalnya (lupis dll). Saya nggak sempat foto-foto, tapi penampakan menu sarapan dan kue-kue basahnya bisa dilihat di sini, menit 1.00 sampai 1.20.

Workshop hari pertama dan kedua berlangsung di Politeknik Negeri Padang. Di sini, saya menemukan dua keistimewaan: pertama, kopinya enak! Menurut panitia, itu kopi kantin politeknik, cuma kopi tubruk biasa, disajikannya pun hanya pakai gelas kantin. Tapi harum, takarannya pas, manisnya pas! Keistimewaan kedua: nasi kotaknya. Nggak ada mereknya, sepertinya bukan dari restoran besar. Saya lupa, siapa ya yang bilang (mungkin Lala istrinya Dyno, tapi saya nggak yakin juga haha), mungkin makanannya dipesan dari warga sekitar kampus. Meskipun tanpa merek, dendeng baladonya, rendang daging sapinya, sayurnya, mantap!

air kemasan lokal

air kemasan lokal

Hari pertama itu, setelah workshop selesai, kami main ke Pantai Padang atau Taplau (Tapi Lauik), menanti matahari terbenam. Betulan menanti matahari terbenam doang, karena Pantai Padang menghadap ke barat.

 

Setelah puas melihat matahari terbenam, kami makan di rumah makan Iko Gantinyo, daerah Pecinan. Sate dan es duren! Sayang, satenya di sini agak kering. Tapi es durennya top. Kalau nggak kekenyangan, saya mau pesan lagi!

 

Setelah hari kedua workshop, kami diantar Bu Sari dan Ayah ke Mesjid Raya Sumatra Barat. Hanya foto-foto di luarnya sih (turis lokal banget ya haha), karena waktu salat asar sudah lama lewat dan magrib belum tiba. Setelah itu kami pulang ke hotel, lalu keluar lagi untuk makan malam di restoran boga bahari Samudra Jaya. Berbagai makanan dari laut dibumbui asam padeh, bumbu Padang, asam manis, dan lain-lain. Di sini juga ada daging rusa! Karena nggak kuat pedas, saya nggak banyak makan ikan asam padeh, padahal itu menu kesukaan banyak orang. Daging rusanya juga empuk.

ikan bakar samudra jaya

ikan bakar di Samudra Jaya

Hari ketiga, workshop di Universitas Bung Hatta dimulai. Di sini, kami disuguhi makan siang dari R.M. Sederhana yang sudah tersohor di seantero negeri. Kelezatannya nggak perlu diragukan lagi. Di sini, saya belajar salah satu adat Minang dari Mas Ricky, bahwa orang Minang makan hanya dengan tangan kanan (dan tanpa sendok). Tangan kiri nggak boleh kotor. Setelah dicoba, ternyata saya bisa juga. Pulangnya, kami diantar oleh sopir UBH ke daerah Pecinan lagi. Es duren lagi! Kali ini, kami mencoba Ganti Nan Lamo, yang letaknya di seberang Iko Gantinyo. Di perjalanan kami sempat tersesat (karena terlalu asyik mengagumi bangunan-bangunan antik di daerah Pecinan, dan bapak sopir UBH kurang mengenal daerah ini). Satenya lebih enak di sini, tapi menurut saya, es durennya lebih mantap di Iko Gantinyo. Di Ganti Nan Lamo, kita bisa memesan paket es duren yang bisa dibawa keluar kota. Tapi saya nggak pesan karena baru akan pulang beberapa hari kemudian.

Besoknya, setelah workshop selesai, kami diajak makan malam di Martabak Kubang Hayuda. Saya dan Mbak Erna membagi dua pesanan, nasi goreng kambing dan martabak kubang. Rasa martabaknya menurut saya nggak berbeda jauh dengan martabak Malabar, hanya nasi goreng kambingnya standar, meskipun ada rasa-rasa khas Sumatra yang nggak bisa ditemui di nasi goreng Bandung. Saya suka sekali saus martabaknya yang khas. Jauh deh dengan rasa saus martabak kubang di Bandung.

 

Setelah selesai makan di Hayuda, kami menuju daerah Ganting untuk makan durian! Bukan dalam bentuk es, tapi durian sungguhan! Oh, saya juga bersyukur karena rombongan workshop kali ini nggak ada yang alergi durian. Coba kalau ada yang nggak suka, pasti tersiksa karena hampir tiap malam menu makan kami ada duriannya.

IMG_20180420_200526

Oooh… durian sayang!

Sebetulnya acara workshop hanya empat hari, dan masih ada sisa satu hari yang bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan! Saya, Mbak Erna, Mbak Dina (dan anaknya yang menyusul untuk ikut jalan-jalan) sepakat untuk main ke Istana Pagaruyung dan sekitarnya. Tadinya sih ingin sekali ke Bukittinggi, tapi khawatir waktunya nggak cukup karena itu hari Sabtu (perjalanan ke Bukittinggi biasanya macet saat akhir pekan). Kalau menginap pun nggak mungkin karena Mbak Erna harus pulang Minggu pagi. Kami menyewa mobil beserta sopirnya, Pak John, rekomendasi Mas Ricky.

Di Pariaman, kami berhenti di pinggir jalan untuk membeli sala lauak khas daerah ini. Camilan ini berbentuk bulat, mirip bola obi, terbuat dari tepung beras dan ikan asin. Murah meriah, lima ribu dapat banyak! Tapi karena suka dower kalau makan ikan asin, saya cuma makan dua butir. Sayang nggak sempat difoto. Beberapa ratus meter kemudian, ketika menuju Padangpanjang, kami mampir lagi untuk membeli kue bika. Saya sendiri lebih suka kue bika (karena cenderung lebih suka manis). Rasanya mirip wingko. Ternyata, selain tepung beras dan parutan kelapa, ada tape singkong juga dalam adonannya. Harumnya khas, karena dibungkus daun baru dan dibakar langsung di atas bara api.

Kami kemudian melewati Air Terjun Lembah Anai. Saat itu hari Sabtu, jadi lokasi penuh wisatawan lokal. Parkir pun agak susah, bahu jalan sempit. Jadi, kami hanya lewat saja. Asyiknya, air terjun terlihat jelas dari jalan. Tidak terlalu jauh di seberangnya, ada pemandian umum. Kolam renangnya juga terlihat jelas dari jalan, jadi agak gimana ya kalau betulan berenang di sana hihi …. Mungkin cocoknya untuk anak-anak yang cuma main air.

lembah anai

foto seadanya dari jendela mobil yang melaju cukup kencang

Syukurlah Pak John ternyata tahu banyak tentang situs-situs bersejarah di Sumatera Barat ini. Objek bersejarah yang pertama kali ditunjukkan pada kami adalah sebuah mesjid yang usianya sudah ratusan tahun. Ternyata, setelah bertanya pada Mbah Gugel, itu Surau Lubuk Bauk, tempat Buya Hamka menuntut ilmu. Pernah jadi lokasi syuting film Kapal Van der Wijk juga. Cerita lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

 

Dari surau ini, kami melanjutkan perjalanan, melewati sawah-sawah, dan mampir di sebuah warung pinggir jalan yang menjual minuman kawa daun. Kawa ini berasal dari kata qahwa dalam bahasa Arab yang berarti kopi. Jadi, kawa daun adalah minuman daun kopi. Dulu, pada zaman penjajahan, para pekerja rodi yang bertugas di kebun kopi terpaksa menyeduh daun kopi yang dibakar, sementara buah kopinya diproduksi dan diminum kaum penjajah. Sedih ya. Rasanya pahit-pahit ganjil haha …. Yang jelas ada bau-bau hangus (ya iyalah, namanya juga daun dibakar), dan tentu saja saya lebih suka kopi! Tapi konon kawa daun ini berkhasiat, salah satunya untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

 

Perhentian berikutnya adalah Desa Pariangan, kabupaten Tanah Datar. Desa ini sejuk karena ada di lereng Gunung Marapi. Pariangan ini salah satu desa terbaik di dunia menurut sebuah majalah pariwisata internasional. Menurut legenda, di sinilah awal mula keberadaan suku Minangkabau.

desa pariangan

Pemandangan Desa Pariangan dari situs Batu Tiga Sajarangan di seberangnya

IMG-20180421-WA0029

Udah mirip Siti Nurbuaya? (difoto oleh Mbak Dina di Mesjid Ishlah)

Di sini ada mesjid tertua di Sumatra Barat, Mesjid Ishlah, yang dibangun pada abad 11. Detail-detail interiornya megah, dan meskipun sudah beberapa kali direnovasi, ciri khas keantikannya (dalam arti baik) nggak hilang.

 

Di seberang mesjid ada situs Batu Tigo Sajarangan. Tapi belum ada keterangan apa pun yang menjelaskan situs apa itu. Di antara mesjid dan batu ada pemandian air panas. Sayangnya kami nggak mampir karena waktu terbatas, tapi air di selokan-selokan kecilnya juga panas.

prasasti pariangan

Salah satu dari Batu Tigo Sajarangan

 

Setelah keluar dari kompleks mesjid, ada sebuah cagar budaya juga, Kuburan Panjang atau Makam Tantejo Gurhano, arsitek pertama rumah gadang. Konon, jika diukur, panjang makam tokoh ini selalu berubah. Di sini juga ada delapan batu sandaran, yang digunakan untuk bermusyawarah. Kami nggak sempat masuk ke situs, hanya mengintip dari luar, karena perjalanan masih panjang. Di sekitar situ, saya juga melihat ada homestay. Waduh, kalau waktunya cukup, asyik juga menginap di sana!

Perjalanan dilanjutkan menuju Istana Pagaruyung. Di tengah jalan, kami melewati Batu Basurek, situs Makam Adityawarman. Karena terlewat dan tanggung juga kalau mau balik lagi, ya sudahlah, kami lanjutkan perjalanan. Tapi, kami menemukan juga situs bersejarah lain, Batu Batikam. Batu ini berlubang, konon ditikam oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang saat bertikai dengan saudaranya. Di sini juga ada batu-batu sandaran untuk bermusyawarah. Di dalam kompleks ini juga ada dua makam batu. Menurut ibu penjaga situs, itu makam putri kembar, tapi karena keterbatasan waktu, kami nggak bertanya lebih lanjut siapa sebenarnya mereka.

 

Akhirnya, tibalah kami di Istana Pagaruyung. Istana ini replika dari istana asli yang dibakar oleh kaum paderi tahun 1804. Pengunjung cukup ramai, tapi nggak penuh sesak.

Sebenarnya, saya berniat menyewa busana tradisional Minangkabau di sini, tapi apa daya, kepala jangar mengalahkan niat itu, haha! Padahal sudah minum parasetamol, tapi ternyata nggak langsung ampuh dan suntingnya berat. Jadi, di sini saya banyak memotret Mbak Dina dan Talitha, putrinya.

Meskipun batal berbusana Minangkabau, ada juga dong foto selfie si dekil dan satu lagi difotoin Mbak Erna, hahaaa!

 

Setelah puas berfoto-foto di Istana Pagaruyung (dan mengisi ulang baterai HP di salah satu pojokan), kami mencari tempat makan. Pilihan jatuh ke salah satu rumah makan berkolam ikan di dekat istana. Di sini saya makan tambusu dan keripik paru, juga minum teh talua. Pas bayar kaget, bukan karena mahal, tapi untuk makan sebanyak itu dengan lauk daging dan sebangsanya, harganya relatif murah!

IMG_20180421_151022

teh talua

Sayang sekali, sudah waktunya pulang ke hotel. Kalau tadi kami melewati Pariaman dan Padangpanjang, sekarang Pak John membawa kami melewati Danau Singkarak dan Solok yang terkenal dengan bareh-nya (beras). Memang benar, nasi di ranah Minang ini berbeda dengan nasi di Pulau Jawa. Lebih putih, tidak terlalu pulen, tapi nikmat! (Sebagai tim sanguan saya akui kehebatan nasinya!). Di Danau Singkarak kami sempat mampir di sebuah warung, sebetulnya bukan karena ingin beristirahat, tapi karena saya pengen pipis hahaa …. Supaya tidak terkesan cuma mampir membuang-buang sesuatu, Pak John sempat ngopi dan saya membeli minuman botol. Saya sempat ngobrol sebentar dengan pemilik warung, eh ternyata si bapak pernah tinggal di Cimahi cukup lama. Jadilah si bapak bernostalgia sejenak.

IMG_20180421_162332

sempat ditawari naik perahu, tapi mendung dan waktu terbatas

Rute perjalanan kali ini sering membuat kami berdecak kagum. Mirip dengan jalan ke Puncak Bogor, tapi jalur ke Puncak sekarang tinggal sedikit yang masih betul-betul alami. Jalur ini lebih panjang dan lebih asri. Saking kagumnya, saya sampai lupa memotret! Kami melewati Taman Hutan Raya Bung Hatta. Sayang sudah hampir magrib, kalau masih siang sih saya pasti minta Pak John mampir ke sana.

Kami juga melewati satu ruas jalan yang bernama Sitinjau Lauik. Dinamakan begitu, karena di sebagian titik jalan, kita bisa melihat laut. Dan memang benar! Tapi, lagi-lagi kami nggak berhenti karena susah parkir, jalan sempit dan menurun. Dari arah berlawanan banyak truk mendaki tanjakan yang cukup curam ini. Mengerikan juga, dengan muatan sebanyak itu, truk-truk bisa mundur lagi kalau nggak kuat nanjak. Banyak kecelakaan juga. Menurut Pak John, karena itulah sebelumnya kami dibawa melalui rute Pariaman-Padangpanjang-Tanah Datar, supaya perjalanan mendaki tidak terlalu terasa.

Akhirnya, kami tiba lagi di Padang. Makan di mana coba? Kembali di Ganti Nan Lamo, dan lagi-lagi saya pesan es duren, hahaha!

Sayang sekali, hari Minggu kami harus bubar. Pesawat kami berbeda-beda jamnya. Pagi-pagi, Mbak Erna yang pertama berangkat. Mbak Eva mengajak jalan-jalan ke Gunung Padang, tapi saya sudah janjian dengan Dyno dan Lala, jadi yang ikut hanya Mbak Dina dan Talitha. Sebelum Dyno dan Lala datang, saya sempat membeli sedikit oleh-oleh di Silungkang, toko cendera mata dekat hotel, lalu ke toko Shirley.

Jam sebelas, akhirnya saya meninggalkan hotel menuju bandara. Perjalanan kali ini cukup sekian. Tapi, mudah-mudahan diberi rezeki dan waktu, saya ingin kembali lagi ke Ranah Minang bersama keluarga. Cita-cita saya adalah napak tilas perjalanan Ompung Hitam dan Ompung Putih (dijuluki begitu karena di foto, ompung laki-laki masih berambut hitam, sementara ompung perempuan yang waktu saya kecil masih ada, rambutnya sudah uban semua) ke Bukittinggi. Kemudian lanjut ke kampung halaman dong, Kotanopan. Aamiin!

 

Catatan: kalau teman-teman jalan-jalan ke Padang dan perlu mobil sewaan plus sopir, dan selera jalan-jalannya mirip dengan selera saya, pakai jasa Pak John saja. Nanti saya kasih nomor teleponnya, japri 😉

Padang (April 2018), Workshop Penerjemahan Buku Anak ke Bahasa Minang bersama Litara dan The Asia Foundation, Membenahi Kekacauan Otak

Sekitar akhir tahun 2017 hingga beberapa bulan awal tahun 2018, rasanya otak saya kacau. Berkali-kali sakit menyerang. Bukan yang parah sih, tapi meskipun ece-ece, tetap mengganggu. Nggak kuat menatap layar laptop, paling lama hanya 15 menit. Sakit kepala, kembung, migrain, pilek berulang, radang tenggorokan, gatal-gatal, pokoknya bukan penyakit serius lah. Bukan hanya saya yang sakit melulu, anak-anak juga. Dan sama, nggak ada penyakit berat, tapi karena bergantian dan ada seorang drama queen di rumah, repot juga.

Ternyata, pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan monoton juga menambah tekanan. Meskipun terbebas dari kewajiban memasak (standar Emak tinggi, jadi daripada nggak memuaskan selera, lebih baik Emak aja yang masak. Kalau Emak pergi-pergi baru deh cari menu praktis hihi), masih ada menyapu, mengepel, menjemur baju (jemuran di rumah sulit dijangkau, terlalu tinggi, jadi harus pakai galah), menyeterika, dan menyuapi si drama queen kecil.

Satu lagi yang menambah kekacauan  adalah mendengar anak-anak berantem. Hadoooh … rasanya Tom dan Jerry, Oggy dan para kecoak, He-Man dan The Skeleton lebih akur daripada dua bocah yang bisa bertengkar hanya karena hal sepele seperti “Lula pup! Yaya pis! Pup! Pis! Pup! Pis!” atau “Yaya bau! Lula geuleuh!” dan lain sebagainya. Huh!

he-man.gif

(diwakili oleh He-Man aja ya, The Skeleton-nya nggak usah)

Pokoknya, beberapa bulan itu bisa dibilang masa-masa kelam dalam produktivitas kerja. Selalu ada gangguan. Padahal deadline nggak berubah dan kebutuhan bayar-membayar nggak bisa diskip, hiks …. Rasanya pengen kabur. Sendirian. Yang jauh.

Tapi, “Mana munkin, mustahil, itu hanya hayalan” (menurut Sakya Lail Wahidin, saat berusia hampir empat tahun. Bukan typo, memang begitu kata-katanya).

Saat sedang kacau-kacaunya, datanglah sebuah tawaran dari Mbak Eva Nukman (Litara) untuk menjadi mentor workshop penerjemahan  buku anak di Padang. Horeeee! Langsung saya bilang iya!

Baru setelah bilang iya, saya lapor ke Pak Dindin (meskipun seharusnya sebelum bilang iya lapor dulu, tapi Pak Dindin mah selalu mendukung pekerjaan istrinya hihi…). Kemudian lapor ke Emak. Soalnya, nanti Emak yang dititipi anak-anak. Emak juga selalu mendukung, tapi khawatir, karena mengurus dua anak ajaib itu hadoooh … melelahkan! Dan ternyata, jadwal ke Padang bersamaan dengan jadwal Pak Dindin ke Palembang kemudian Medan. Heu.

Tapi, saya berangkat juga. Bismillah.

Sebelumnya, saya pernah juga menjadi mentor workshop serupa di Bandung. Waktu itu saya sok akrab mengirim e-mail ke Mbak Eva (setelah tahu di Politeknik Bandung ada workshop penerjemahan dari Mbak Dina Begum), menawarkan diri untuk membantu workshop. Alhamdulillah diterima. Waktu itu, workshopnya tentang menerjemahkan buku-buku anak di situs web letsreadasia.org ke bahasa Indonesia.

Alhamdulillah lagi, Mbak Eva dan Litara masih mau mempekerjakan saya. Padahal, workshop di Padang ini menerjemahkan buku-buku anak di situs yang sama ke … bahasa Minang! Alamak! Meskipun darah saya setengah Sumatra, tapi bahasa daerah yang saya kuasai adalah basa Sunda! Tapi, ternyata tugas saya (dan Mbak Dina yang bukan penutur bahasa Minang) hanya memastikan para peserta menangkap makna teks berbahasa Inggris dengan tepat. Yang bertugas memastikan bahasa Minangnya tepat adalah Mbak Eva, Mbak Erna R. Fitrini, dan Mas Ricky Zulkifli yang memang penutur bahasa tersebut.

Perjalanan ke Padang juga adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah leluhur. Meskipun masih jauh dari kampung, tapi masih sepulau lah hihi (malah si Pak Dindin yang duluan ke Medan dan Binjai).

Saya, Mbak Eva, dan Mas Ricky tiba di Padang Senin sore. Sekitar setengah jam kemudian, Mbak Dina dan Mbak Erna datang dari Jakarta. Kami dijemput Bu Sari dari PNP yang ditemani Willy, mahasiswa, juga bapak sopir yang biasa disapa “Ayah” (teringat pada Pidi Baiq, ayah sejuta umat hihiii). Malam pertama itu, kami diajak makan di Martabak Malabar (postingan kuliner dan wisata akan dibuat terpisah). Malam ini juga saya bertemu Dyno dan Hanif yang sudah besar, menjemput titipan batagor dari Bandung.

dyno-hanif

Bertemu mantan… mantan ketua himastron dan mantan teman tapi musuh hahaaa…

Besoknya, kami sudah dijemput pukul delapan pagi. Dua hari pertama, workshop diselenggarakan di PNP, nun jauh di atas bukit, di ujung kampus Universitas Andalas. Kampusnya asri, berbatasan dengan hutan. Katanya, pernah ada ular dan biawak yang pernah masuk kelas segala!

PNP

sepotong kampus PNP

Di PNP, banyak dosen yang menjadi peserta. Bahkan ada salah seorang ibu dosen pakar bahasa Minang (aduh maaf saya lupa namanya). Sewaktu ada pertanyaan tentang bahasa Minang, malah beliau yang menjawab dengan singkat dan jelas. Bu, Ibu kereeen! Menurut beliau, bahasa itu tergantung konteks. Ada kata yang dianggap kasar, tapi dalam konteks tertentu, kata tersebut bisa dianggap lazim dan pantas digunakan.

PNP-2

Tema workshop di PNP. Sayang nggak pakai bahasa Minang ya 😀

Hari ketiga, workshop berlangsung di Universitas Bung Hatta. Sebelumnya, kampus UBH ada di tepi pantai, tapi menurut Pak Elfiondri, dekan FIB yang menjemput kami ke hotel, setelah gempa besar di Padang tahun 2009, terjadi penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan karena isu tsunami. Jadi UBH terburu-buru mendirikan kampus di daerah bypass, Aie Pacah.

UBH

Kampus UBH di Aie Pacah, tepi sawah!

 

Di UBH, kebanyakan pesertanya mahasiswa. Di sini ternyata baru ada pekan literatur Inggris, jadi banyak dekorasi bertema Harry Potter! Di cermin kamar mandi ada tulisan Chamber of Secret has been opened. Juga ada sarana berfoto dengan hasil penyihir berwajah menyedihkan di bawah. Bahkan Mbak Eva pun ikut melompat dengan sapu terbang!

Workshop selama empat hari ini memang melelahkan secara fisik dan menguras pikiran. Tapi, sangat menyenangkan bagi saya. Bertemu orang-orang baru, mendapat pengetahuan baru, mengenal kebudayaan baru, dan … ternyata saya jadi sedikit memahami bahasa Minang, meskipun hanya saat membaca, bukan saat bicara.

Sebelum pergi, kami ditawari menambah waktu sehari oleh Mbak Eva, dan tentu saja kami (kecuali Mas Ricky) bilang mau! Hari terakhir ini kami manfaatkan untuk jalan-jalan (postingan akan dibuat terpisah).

Hari Minggu, saya pulang sendiri ke Bandung, karena Mbak Eva baru pulang beberapa hari lagi dan Mas Ricky sudah duluan dengan tujuan Jakarta. Pergi sendiri, pulang sendiri, naik gojek dan ojek bandara (dengan harga berlipat ganda, hiks). Saya dibekali sekardus camilan Christine Hakim dari Bu Sari dan sekotak rendang dari Lala dan Dyno. Terima kasih Bu Sari, Lala, dan Dyno!

christine hakim

kotak rendangnya nggak kefoto

Bagaimana setelah workshop? Lelah? Iya.

Tapi, ternyata pergi tanpa anak-anak meskipun untuk urusan pekerjaan bisa menyegarkan pikiran. Sepulang dari Padang, alhamdulillah pelan-pelan semangat kerja kembali dan sepertinya otak dan pikiran lebih beres.

Karena itulah di judul saya menulis “Membenahi Kekacauan Otak”. Karena memang jadi sedikit beres, meskipun masih banyak sengkleknya, hahahahaaaaa ….

Dan tentu saja, kalau ada tawaran semacam itu lagi, saya akan langsung bilang IYA! 😀

PNP-4

PNP-3

Foto bersama setelah workshop di PNP

Oiya, bagaimana anak-anak selama saya tinggal ke Padang? Ternyata baik-baik saja. Cuma si Lula sempat demam waktu saya dalam perjalanan pulang. Makannya juga lahap. Jarang bertengkar. Kenapa ya, kalau ditinggal mereka bisa semanis itu? Berarti bisa sering-sering ditinggal hihiii… (kemudian Emak lieur).

Hasil workshop penerjemahan ini sudah bisa dilihat di situs web letsreadasia.org dan aplikasi let’s read asia, berupa buku-buku anak berbahasa Minang, bahasa daerah pertama di situs dan aplikasi tersebut.

Beberapa foto diambil oleh Mbak Dina, Mas Ricky, Mbak Eva, dan dokumentasi kampus.

 

Episode Jadi Guru Les

Ternyata, saya mengalami juga menjalani profesi ini. Profesi yang nggak diniati dan disengaja.

Awalnya sih waktu Yaya masih TK. Bu Teti, salah satu guru TK, meminta saya membuka les bahasa Inggris untuk anak-anak TK, teman-teman seangkatan si Yaya. Oke deh, sekalian ngasuh si Yaya, saya bersedia. Metodenya sama sekali nggak seperti les-les biasa, hanya nyanyi-nyanyi, mewarnai, menggambar, sedikit mencatat. Pesertanya lumayan banyak, mungkin ada sepuluh orang. Periode les ini berjalan cukup lama, sekitar satu semester, sampai bubar sendiri karena anak-anaknya lulus TK dan berpencar ke berbagai SD.

Murid les saya yang kedua adalah kakaknya teman sekelas Yaya di TK, namanya Dinda. Ibunya Dinda yang meminta lewat Bu Teti juga. Saya bilang oke juga. Dinda waktu itu mau ujian kelulusan SMP, dan saya ajari bahasa Inggris, matematika, dan fisika, yang ternyata masih lumayan ingat waktu belajar lagi, nggak seperti biologi yang blasss lupa, cuma ingat hukum Mendel dan teori genetika (dan mungkin reproduksi? :p ). Meskipun ini juga tanpa niat serius jadi guru les, saya senang sekali mengajar Dinda. Soalnya, Dinda rajin dan gigih. Yang agak sulit waktu itu bahasa Inggris, karena menurut Dinda, guru di SMP-nya nggak mengajarkan apa-apa (saya sampai heran, kenapa Dinda bisa naik kelas terus dengan kemampuan bahasa Inggris seperti itu). Tapi, hebatnya, Dinda bisa mengejar dari pengetahuan yang nyaris nol hingga melapor “lumayan bisa!” saat ujian. Waktu dia diterima di SMK negeri sesuai keinginannya, saya ikut senang sekali.

Setelah itu, saya cukup lama nggak memberi les. Hingga pada suatu hari, di sekolah Yaya (waktu itu Yaya kelas 2 SD) ada ekstrakulikuler. Si Yaya ikut menggambar (karena nggak mau yang lain-lain). Ada ekskul bahasa Inggris juga. Nah, baru berjalan beberapa minggu, tiba-tiba saja semua kegiatan ekskul dibatalkan. Alasannya, sekolah nggak mau memungut biaya tambahan, sementara, masa guru-guru yang mengasuh ekskul nggak dibayar? Setelah dibatalkan, ibu salah satu teman Yaya (yang juga tetangga dan waktu TK ikut les juga) meminta saya memberi les lagi untuk anaknya. Dan saya bilang oke juga. Yang ikut les bertiga, cewek-cewek sebaya Yaya (satu teman sekelasnya, dua lagi kakak kelas setahun).

Ternyata, kabar tentang saya yang memberi les menyebar ke tetangga-tetangga. Sampai akhirnya para tetangga yang punya anak-anak kecil (kelas satu sampai kelas tiga) mengirimkan anak-anaknya untuk les. Awalnya hanya bahasa Inggris, tapi akhirnya ada ibu yang meminta anak-anaknya diajari matematika juga. Di antara pelajaran les, saya selipkan materi membuat buku. Saya ajak anak-anak menulis cerita singkat (biasanya delapan halaman), membuat gambarnya, mewarnai, membuat sampulnya, dan menulis sinopsis. Boleh dong diselipi pendidikan literasi sedikit hihiii….

geng riweuh

geng riweuh beserta buku hasil karya mereka. wajah ditutupi bukan karena riweuh hihiii

Kemudian, selain anak-anak SD, kakaknya teman sekelas Yaya (ibunya teman sekelas saya di SD hehe), kelas 9 SMP, ikut les juga. Bahasa Inggris dan matematika. Lalu tambah satu lagi, cucunya kepala sekolah TK, kelas 7. Sama, bahasa Inggris dan matematika.

Saya sendiri nggak tahu apa yang mendorong saya bilang “Oke”. Soalnya, jika dihitung-hitung, dari pekerjaan menerjemahkan, saya bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada memberi les dalam jangka waktu yang sama. Soalnya, tarif les di saya jauh lebih murah daripada bimbel. Saya juga bingung sendiri sih. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin pengalaman saya memberi les untuk Dinda yang menyebabkan saya mengiyakan permintaan les anak-anak itu (ibu-ibu mereka, tepatnya). Rasanya puas mendengar laporan anak bimbingan saya bisa mengerjakan soal-soal ujian.

Akhirnya, setelah berpikir dan merenung, saya merasa, mungkin ini jawabannya: pada saat ini, saya belum mampu bersedekah uang/materi dalam jumlah besar, jadi Tuhan menunjukkan jalan bahwa ini salah satu cara lain, bersedekah dengan ilmu (mudah-mudahan sedekahnya diterima, aamiin).

Dan ini juga membawa saya ke angan-angan selanjutnya: membuat bimbingan belajar antimainstream. Bimbel-bimbel umumnya kan memasang tarif tinggi, satu semester berjuta-juta. Suatu saat nanti, saya ingin membuat bimbel untuk murid-murid yang nggak mampu ikut bimbel mainstream, tapi punya semangat tinggi untuk belajar (mudah-mudahan cita-cita saya terkabul juga, aamiin).

Apakah selama saya memberi les merasa senang? Ternyata nggak. Kadang les diganggu Lula. Kadang yang les geng rusuh (anak-anak cowok yang kerjaannya beranteeeeem melulu), sampai-sampai setelah les saya cuma bisa mandi, makan, terus tidur! Kadang sebal kalau anak les yang SMP nggak fokus, sebentar-sebentar ngecek HP, waktu dikasih soal (yang pernah diajarkan) nggak bisa. Kadang sebal karena si Yaya malah nggak mau ikut belajar. Masa ibunya ngajarin anak-anak lain, anaknya nonton TV di bawah? Huhhh. Pengalaman buruk lain adalah saat terjebak di tengah-tengah antara ABG dan ibunya: si anak bilang les, padahal entah ke mana, terus minta saya bilang ke ibunya kalau dia les. Permintaan itu nggak saya iyakan, pas ibunya nanya ya saya jawab aja dia nggak les. Hasilnya ya dia dihukum orangtuanya. Heu.

Tapi ini episode kehidupan yang memang harus saya jalani. Entah sampai kapan. Mungkin suatu saat, kalau jalur hidup berkelok ke arah lain, episode jadi guru les ini terpaksa saya tinggalkan.

Jadi Begini Perasaan Ibunya Emil dari Lonneberga …. [Postingan Lama]

Seperti biasa, di Facebook muncul feature On This Day, dan tulisan ini muncul. Daripada terserak di banyak tempat, saya pindahkan ke sini aja ya. Ditulis tanggal 16 Oktober 2010 (waaawww tujuh tahun lalu!).

Pernah baca buku Emil dari Lonneberga karya Astrid Lindgren? Tokoh utamanya, Emil, adalah seorang anak laki-laki kecil yang terlihat manis sekali, dengan pipi kemerah-merahan dan rambut pirang yang ikal. Tapi, itu cuma kelihatannya saja. Sudah ratusan hasil karya patung kayu yang dia raut (Setelah berbuat nakal, biasanya dia dihukum dengan dikurungdalam sebuah pondok perabot. Dan setiap kali dikurung di sana, dia meraut sebuah patung kayu).

emil

(sumber dari sini)

Ibu Emil, Alma Svensson, rajin mencatat kenakalan anak sulungnya ini dalam buku berwarna biru, dan sudah ada beberapa buku yang penuh. Perasaannya selalu campur-aduk jika Emil berbuat kenakalan: marah, sedih, cemas (apakah kenakalan itu akan terus berlanjut dan merugikan orang lain?), tapi tentu saja ibu Emil tetap menyayangi anaknya.

Baru sekarang saya memahami perasaan ibunya Emil saat melihat anaknya berbuat kenakalan. Memang apa sih kenakalan yang bisa dilakukan seorang anak yang umurnya hampir satu setengah tahun?

Ternyata banyak!

Ini contohnya: Nyobek bukunya sendiri (karena itu, koleksi berharga buku anak-anak langka milik si Ibuk masih disimpan rapi di rak, hihiii … sekarang mending boardbook dulu aja), numpahin air di gelas, nempelin hidung di depan tivi sambil nonton (biasanya tivinya langsung dimatiin), ngocok-ngocok botol minum sampai airnya berceceran, sengaja mencet kotak susu UHT supaya tumpah, makan remah kue dan nasi di lantai, makan semut, ngegebrak-gebrak tivi dan pintu kaca, makan crayon, makan sabun, naik tangga dan berniat terjun bebas dari anak tangga kelima (yah, ini salah si Ibuk sendiri sih, ngalenyap sebentar karena lagi pilek, untung dia teriak-teriak dan si Ibuk terbangun). Apalagi kalau kebetulan dibawa ke dapur, mulai deh mainin dispenser, toaster, buka-buka laci, gelantungan di kulkas, muter-muter tombol kompor gas, menggelindingkan galon kosong. Di kamar mandi juga begitu, berusaha buka tutup kloset dan masukin tangannya ke sana, minum dari gayung, dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya ….

Kalau dipikir-pikir, semua ini sebetulnya bukan kenakalan ya, tapi hanya keingintahuan seorang anak kecil. Persis seperti Emil, yang ingin tahu rasanya memasukkan kepala ke dalam mangkuk sup, atau ingin menghibur adiknya dengan cara mengerek si adik di tiang bendera!

Tapi tentu saja tindakan-tindakan yang menjurus berbahaya itu tidak dibiarkan. Tapi karena umurnya baru segitu, kadang-kadang bingung juga bagaimana caranya. Marah malah dianya ketawa, mengalihkan perhatian yah … cuma bertahan beberapa menit, lalu balik lagi ke kenakalan semula. Meleng sedikit, tangan terampilnya sudah beraksi. Makanya, Sakya nggak bisa dibiarkan main sendirian. Kadang-kadang si Ibuk suka ngiri sama ibu-ibu lain yang bisa nyambi ngasuh anak sambil melakukan pekerjaan lain, karena dalam kasus Sakya, mana bisaaaa? Awalnya si Bapak belum tahu keadaan begini, tapi sekarang-sekarang akhirnya sadar kalau anaknya termasuk anak yang istimewa, hahaha …. (Makanya, senang sekali kalau si Bapak kebetulan ada di rumah, gantian ya Pak ngasuhnya, Ibuk mau tidurrrrrr hehe).

Meskipun begitu, sama seperti Alma Svensson, saya juga percaya bahwa kenakalan-kenakalan ini adalah bukti bahwa anak kami sedang melatih otaknya agar bisa berfungsi dengan baik, dan saat dewasa, ternyata Emil pun berhasil jadi bupati! (Eh, tapi saya nggak berharap Sakya jadi bupati di sini, tapi kalau dianya mau ya sok aja, hahahahaaa).

Karena itulah, sekarang saya memahami perasaan Alma Svensson, ibunya Emil dari Lonneberga. Hihiii ….

 

 

Menjadi Penerjemah Buku Freelance (Berdedikasi?)

Sebetulnya, saya merasa bukan penerjemah berdedikasi. Soalnya nggak pernah bahas kerjaan di blog, nggak seperti banyak rekan penerjemah lainnya :p Makanya ada tanda tanya dalam kurung di judul. Baiklah, supaya terkesan “berdedikasi” (waeee haha), saya akan sedikit berbagi tentang profesi ini.

Saya adalah penerjemah buku freelance. Kadang mengedit juga. Melamar jadi penerjemah dokumen belum nyangkut aja hihi… Dan dasar pemalas, jarang juga sih saya melamar untuk menerjemahkan dokumen. Padahal, honor penerjemah dokumen jauh lebih besar daripada penerjemah buku. Saya pernah menerjemahkan makalah, tapi jalurnya nggak lewat melamar (waktu itu dikasih kerjaan sama Antie, untuk kantor suaminya). Saya juga menerjemahkan Space Scoop Unawe, artikel astronomi untuk anak-anak dan remaja, untuk langitselatan.com, pro bono. Anggap aja itu bakti saya sebagai lulusan Astronomi bagi masyarakat luas :p.

Oke, jadi sekarang yang saya bahas lebih sempit ya, profesi penerjemah buku freelance. Sepengetahuan saya, ada dua cara untuk menjadi penerjemah buku freelance.

Pertama, mengikuti jalur seperti saya, masuk dulu ke salah satu penerbit buku. Juli 2004 saya bekerja di Mizan Pustaka, sebagai editor lini novel dewasa terjemahan kemudian lini buku anak terjemahan. Waktu itu saya melamar karena melihat iklan di koran. Sebetulnya untuk buku remaja. Nah, pas wawancara, karena saya bilang remaja nggak perlu baca buku-buku panduan (selfhelp), banyak hikmah dari buku fiksi, jadi saya nggak ditempatkan di lini itu haha….

Kemudian, saya mengundurkan diri dari Mizan Desember 2006. Bukan karena menikah dan punya anak, tapi salah satu alasannya adalah karena merasa kekurangan waktu bermain hihiiii…. Nah, setelah mengundurkan diri, saya mengerjakan beberapa terjemahan buku-buku dari Mizan juga. Terus pelan-pelan kenalan dengan editor-editor penerbit lain. Sok akrab. Temenan di Multiply (Oooh asyik sekali sih masa itu). Jadi dikasih kerjaan deh hihi…. Kemudian melamar-lamar lagi ke beberapa penerbit.

Keuntungan memilih jalur ini adalah lamaran saya lebih mudah dilirik penerbit selain Mizan. Soalnya sudah dianggap berpengalaman (meskipun cuma dua tahun lebih sedikit). Bekerja di penerbit selama itu rasanya seperti sekolah lagi, soalnya saya mulai dari awal sebagai lulusan ilmu sains yang nggak tahu (bahkan mendengar pun kayanya belum pernah) teori-teori penerjemahan, editing, dan hal-hal lain yang berkaitan. Kekurangannya? Nggak setiap saat ada lowongan sebagai editor in house di penerbit. Tapi, cukup banyak kok penerjemah freelance mantan editor in house. Sering juga diminta jadi editor freelance.

Jalur kedua adalah langsung melamar ke penerbit. Standarnya begini: siapkan surat lamaran (cover letter), CV, portofolio (siapa tahu punya pengalaman di bidang tulis-menulis, misalnya redaksi majalah kampus, dll), dan contoh terjemahan serta teks aslinya. Bisa dikirim pos, bisa via e-mail. Contoh terjemahan nggak perlu terlalu banyak, sekitar satu bab atau lima halaman deh, dan pilih teks yang kita sukai. Mau fiksi atau nonfiksi? Buku roman atau fantasi? Pilih aja. Alamat penerbit? Googling aja, pasti keluar semua.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara seperti ini memang lebih kecil daripada jalur pertama (bayangkan, berapa surat lamaran yang diterima editor di penerbit, dan kerjaan editor bukan hanya membaca surat lamaran dan mengirim tes bagi calon penerjemah). Tapi, kalau contoh terjemahan kita bagus, surat lamaran, CV, dan portofolio meyakinkan, bisa kok. Beberapa teman saya juga menjadi penerjemah freelance dengan cara ini. (Tapi ingat, jangan tulis “Lamaran untuk menjadi penTerjemah” ya, nanti berkasnya langsung dibuang oleh editor wkwk)

Apa sih senangnya menjadi penerjemah buku freelance? Saya sendiri senang karena hobi membaca. Asyik kan, melakukan hobi dan dibayar. Waktu kerja bisa mengatur sendiri. Mau kerja di mana saja bisa, asal ada colokan dan wifi atau modem.

Susahnya? Banyak. Sebagai pekerja freelance, kita nggak dapat tunjangan: THR, kesehatan, pensiun, dll. Kadang, padahal honornya nggak seberapa, bayaran telat. Kadang banyak orderan, kadang nggak ada sama sekali. Selalu lebih bayar pajak karena pajak langsung dipotong penerbit, dan kalau klaim lebih bayar, setelah dihitung-hitung AR kok malah jatuhnya kurang bayar (ini pengalaman saya, siaaaaal! Moal deui-deui!) Dan ini yang saya alami: saya jadi nggak hobi baca lagi. Soalnya capek. Mengetik dan membaca itu melelahkan. Setelah selesai bekerja, biasanya saya menekuni hobi lain (tidur).

Seperti yang banyak dibilang para pekerja buku, apalagi sekarang, saat ramai-ramainya bahasan pajak penulis, pajak buku, dll., profesi ini mah romantis. Maksudnya, kalau nggak cinta-cinta amat nggak usah jadi penerjemah/penulis/editor buku. Kalau masih ingin merasakan jadi pejabat atau punya mobil mewah kaya artis-artis masa kini, nggak usah jadi penerjemah buku freelance. Jaga lilin weh bwahahahaaaa ….

Biasanya, sebagai pekerja teks kita dianggap selalu berbahasa baik, baku, dan benar dalam setiap kesempatan. Saya sih nggak. Ya blog ini aja contohnya. Tergantung suasana lah, kalau memang perlu dan harus, ya gunakan bahasa yang baku. Kalau lagi gaul mah terserah. Oh iya, dulu waktu masih jadi editor saya pernah nulis juga, kalau saya suka capek melihat teks-teks yang salah. Misalnya spanduk-spanduk di jalan. Atau pengumuman rumah “dikontrakan” atau “dikontrak” atau apalah apalah. Syukurlah fase itu sudah terlewati. Sekarang mah cuek aja, udah capek melototin teks melulu.

Itu langkah awal dulu ya. Nanti (kapan-kapan, mudah-mudahan nggak males lagi hihi) kita bahas apa yang akan dialami setelah “kecemplung” menjadi penerjemah buku freelance.

Cerita Gajah Pulang

molamola

lagi jadi ikan mola-mola

Cerita ini disusun bersama Lula sebelum tidur di kamar yang gelap, di tengah mampet, serak, dan meler bersama.

Saya (S): Pada suatu hari, ada seekor gajah yang sedang menyedot air dengaaaan?
Lula (L): Belalainya? (masih ragu)
S: Kemudian, gajah itu menyemprotkan air ke seekor?
L: Sapi!
S: Kenapa gajah menyemprot sapi?
L: Karena sapinya haus!
S: Sapi bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Terus, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya!
S: Kemudian, dia?
L: Menyemprotkan air!
S: Ke siapa?
L: Monyet!
S: Kenapa?
L: Monyetnya harus mandi!
S: Kenapa monyet harus mandi?
L: Karena monyet bau!
S: Terus, monyet bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Kemudian, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya.
S: Kemudian, dia?
L: Capek, terus pulang.
S: Hah? Pulang ke mana?
L: KE SARIJADI!
Kemudian Lula berbalik, memeluk bantal, langsung tidur :p

Mimpi

bohulsan

Fjallbaka, desa nelayan penuh warna di Pantai Barat Swedia (sumber Pinterest)

 

Sudah banyak orang yang saya kenal berhasil mencapai mimpi-mimpinya. Dan baru hari ini, seorang teman saya juga berhasil mencapai mimpinya. Saya tahu dari dulu dia suka berlari. Beberapa kali saya melihatnya lari di kompleks dekat rumah dan sekali waktu saya teriaki dan dia kaget hihiii…. Terus saya melihat di FB-nya, dia aktif berlari lintas alam. Naik gunung dengan berlari. Dan hari ini, dari FB-nya juga saya tahu, pada usianya yang kepala empat (dan ibuk-ibuk), dia akan mengikuti lomba lari lintas alam di sekitar Mont Blanc, melewati tiga negara cantik: Italia, Prancis, Swiss. Katanya, lima tahun lalu dia menuliskan mimpinya untuk berfoto dengan latar belakang Mont Blanc!

Kisahnya ini semakin membuat saya percaya, mimpi nggak mustahil terwujud. Tentu saja dengan usaha. Dan sepertinya, mimpi itu harus dituliskan ya. Supaya ada target tertulis yang bisa membuat kita mengusahakan jalan menuju ke sana.

Baiklah… saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya.

  1. Punya camping ground. Berarti harus punya tanah dulu yang cukup luas di kaki gunung atau yang lingkungannya masih cukup alami.
  2. Sekolah lagi. Tujuannya apa? Ya nggak tau. Saya cuma pengen aja sekolah lagi. Belajar itu menyenangkan, asal yang kita suka (ya iyalaaaah) 😀
  3. Punya lembaga kursus sendiri. Menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk orang-orang yang nggak punya kesempatan untuk belajar dengan sistem kaku seperti sekolah atau kuliah. Karena itulah saya membuat Kelas 101.
  4. Punya daycare. Memanfaatkan rumah, tapi rumah Sarijadi harus direnovasi dulu.
  5. Membuat buku anak. Saya nggak bilang “menulis” tapi “membuat”, jadi bentuknya bisa lebih fleksibel ya 😉
  6. Punya rumah masa tua di pinggir pantai. Saya anak pantai yang lahir dan terperangkap tinggal di kaki gunung hihi… Saya penikmat bentangan luas langit, pasir, dan air, juga aroma laut dan desir ombak yang memanggil-manggil.
  7. Ke Swedia, ke daerah pedesaan dan pantainya. Ini gara-gara buku Astrid Lindgren dan Edith Unnerstad sih. Selain itu ke daerah pedesaan Belgia, gara-gara buku-bukunya Marcel Marlier dan Gilbert Delahaye. Juga ke Finlandia, Islandia, Santorini-Yunani. (Baru sadar, ini daerah Eropa semua ya, kebanyakan daerah Skandinavia, mungkin pada kehidupan lalu saya ini seorang gadis Viking! :D)
  8. Keliling Indonesia. Ke Pulau Komodo, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan lain-lain.
  9. Belajar alat musik tiup, apa pun jenisnya. Nggak ada tujuan apa-apa, cuma pengen aja hihi….

Ini semua mimpi pribadi saya. Tidak menyangkut orang lain, seperti anak-anak. Ya, tentu saja saya juga menginginkan hal-hal terbaik untuk keluarga saya, misalnya menyekolahkan anak setinggi-tingginya, membahagiakan si Emak, ibu mertua, dan si Bou (uwak saya), dan segala kewajiban spiritual/religius lain.

Kapan mimpi-mimpi ini terwujud? Entahlah. Semoga satu per satu bisa dicontreng dalam waktu yang nggak terlalu lama. Aamiin!

(Saya menambahkan No. 9 belakangan. Mungkin akan ada juga No. 10 dan seterusnya :p )

Satu PR Selesai …. (Tapi Masih Ada)

img-20161119-wa0007

lagi jadi model skuter matik, difotoin Tante Vivi

Akhirnya, si Lula menyapih diri sendiri, pada usia tiga tahun lewat sebulan! 😀

Kalau Yaya menyapih diri sendiri umur dua tahun delapan bulan. Itu juga gara-gara si Ibuk ada kerjaan di Baros selama dua minggu dan pulang malem melulu, jadi dia tidur sama Emak dan kepaksa nggak nenen. Setelah kerjaan selesai, nggak nenennya keterusan.

Waktu si Lula ini, nggak ada kerjaan atau apa gitu yang mengharuskan si Ibuk pulang malem. Jadi yah agak lebih sulit. Kalau si Bapak udah pulang, biasanya bisa tidur ditemani si Bapak (dengan usap-usap, tepuk-tepuk, garuk-garuk, atau pijit, enaknyaaaa). Tapi kalau Bapak pulang malam, akhirnya balik lagi nenen, hiks ….

Awalnya khawatir, mau sampai kapan nenen meluluuuu …. Masa sampai masuk TK? (Hiiiiy ngeriiii wkwkwk) Tapi, sama seperti si Yaya, nggak ada usaha-usaha tambahan seperti oles-oles brotowali, betadin, ditempel plester, apalagi minta doa sama siapa gitu (bukan apa-apa, si Ibuk mah pemalas weh :p)

Keberhasilan menyapih diri sendiri (meskipun lamaaa) ini dipengaruhi oleh apa coba … permen karet. Jadi, kalau dia jajan ke Uni (warung depan rumah Sarijadi), dia suka pengen beli permen karet. Karena khawatir tertelan, biasanya si Ibuk bilang, “Permen karet itu untuk anak yang udah gede, yang udah nggak nenen.”

Mungkin omongan ini melekat di benak si Lula, karena sekitar dua minggu lalu, suatu malam sebelum tidur, tiba-tiba dia bilang “Nggak nenen, kan Lula udah besar. Tapi mau beli permen karet.” Si Ibuk kira cuma semalam dia begitu, eh besok malemnya juga sama, nggak mau nenen. Dan keukeuh mau permen karet yang bulet hihihiiii ….

Agak lama, baru deh dia merasakan permen karet hadiah berhenti nenen. Baru minggu lalu, pas si Yaya beli permen karet (padahal jarang-jarang dia beli), dia kasih Lula satu. Si Ibuk udah berpesan “Jangan ditelan ya!” berulang-ulang. Lula bilang iya. Sampai ngunyahnya diawasi (bukan khawatir tertelannya sih, tapi takut tersedak). Eh … tapi pas meleng sesaat, paling cuma dua detik, dia udah cengar-cengir. Permen karetnya raib! Terus pasang tampang bersalah gitu dengan senyuman sok polos (hadooooh….)

Yah, begitulah kisah sapih-menyapih ini. PR si Ibuk masih ada satu lagi: Toilet Training. Terutama pipis (kalau pup biasanya keburu dibawa ke WC hehe). Kita tunggu aja ya, ada cerita apa lagi nanti hihihiiii ….

Mengartikan Bahasa si Lula

Dulu waktu si Yaya masih bayi dan balita, saya rajin menulis tahap-tahap perkembangannya. Setelah ada si Lula, bisa ngintip blog tiga bulan sekali juga udah alhamdulillah hehe….

lula

Nyengir, difotoin sama si Mamak Robin

Perkembangan Yaya dan Lula berbeda.Kalau si Yaya telat jalan dan ngomong. Dia baru lancar jalan sekitar umur lima belas-delapan belas bulan, tapi setelahnya langsung lari-lari! Ngomong juga cuma “Maaahhh! Maaaahhhh!” tapi setelah bisa ngomong, kok yang keluar satu kalimat lengkap (dan baku pulak) hihi …. Kalau si Lula, rasanya nggak ada perkembangan drastis, dia bisa jalan dan ngomong secara bertahap.

Tapi, kalau diperhatikan, si Lula itu cenderung sengau, kalo bahasa Sunda-nya ngirung. Pada usianya sekarang (tiga tahun kurang dua minggu), dia masih belum bisa bilang huruf “S” di awal kata. Kalau bilang “esss” bisa, tapi “susu” jadi “u-u”, “sofa” jadi “o-a”, “Tante Shasa” jadi “Tante Haha”. Kebanyakan kata yang sulit dia ucapkan jadi ha, misalnya “ternyata” jadi “ahata”. Kadang keras kepala juga sih, dia bisa bilang “boneka”, tapi keukeuh jadi “ohoka”. Kekeraskepalaan ini juga muncul pada huruf vokal, dia bisa bilang “Ibuk” tapi keukeuh manggilnya “Mbooook” dan “Uni” jadi “Oneeee” hahaaa ….

Dulu si Yaya punya beberapa bahasa yang misterius. Misalnya “Hiiy, labi-labi!” yang ternyata “gelap!” (dari “gelap, gelap hiiii!”) dan yang sampai sekarang belum terkuak adalah “Aciiciciaaaa!” (kalau melihat sesuatu diurai, misalnya rafia diurai dari gulungan, tisu diurai dari gulungan, dll).

Kalau si Lula, kasusnya adalah lagu. Lula itu Princess Syalala, sejak umur delapan bulan dia sudah bersenandung “Hmmm hmmm hmmmmm!” dengan wajah lempeng dan sedikit menggeram. Semakin besar, semakin suka bernyanyi. Kalau si Yaya suaranya lembut, merdu merayu, kalau Lula lebih ngerock! 😀 Karena hobinya nonton Youtube yang banyak lagu-lagunya, dia sudah hafal banyak, mulai dari lagu anak Indonesia, nursery rhymes berbahasa Inggris, dan … lagu-lagu Jepang. Ini yang sulit soalnya saya belum ngerti bahasa Jepang hahahaaa ….

Setahun lalu, dia suka nyanyi “Naik ndahhhh… ing ing Bapaaaap!” terus kami yang mendengarkan bingung, lagu apa sih? Naik becak? Bukan. Naik delman? Bukan. Kring-kring ada sepeda? Bukan juga. Naik sepeda sama si Bapak? (Karena dia manggil Bapak dengan sebutan Bapap) Ternyata bukan juga. Baru beberapa bulan lalu terkuak, ternyata liriknya “Naik sepeda… keliling-liling kota!” (coba search di Youtube, lagu Sepeda, penyanyinya Daffa hihi)

Terus, ada sebuah permainan yang suka dia lakukan sama si Yaya. Begini: “Cacis?” (sambil bergaya nunjuk atau menirukan pistol), “Hukhukhuk!” (mengepalkan tangan, gaya menumbuk), dan “Aaaaaaaaaaaaaaa!” (suaranya bergelombang, kedua tangannya menepuk-nepuk di depan dada). Main apa siiiih… Kata si Yaya itu main gunting kertas batu, tapi dia juga nggak yakin haha …. Mungkin juga betul sih, cacis itu gunting, hukhukhuk batu, aaa kertas. Tapi, si Lula sering seenaknya mengganti kata-katanya, misalnya si Bapak baru pulang, dia bilang “Bapap? Pap pap pap, Bapaaaaaaaap!” atau melihat apa pun di sekitarnya, misalnya ikan “Ikan? Kan kan kan, Ikaaaaaaaan!”

Setelah keranjingan lagu-lagu Jepang, ada beberapa yang misterius lagi. Satu berlirik “Oehehem, oehehem, oehehem!” dengan nada datar sambil membentur-benturkan dua kepalan tangan. Yang kedua “Ai huhupet, ai huhupet, huhahuhahuhahuhah ai huhupet!” Lagu apa cobaaaaa? Awalnya dikira arti “Ai huhupet” adalah “no more monkey jumping on the bed!” tapi kok ada bagian huhahuhahuhahuhah itu ya? Jadi, ini masih misteri. Yang ketiga adalah “Entoh entoh holihiooooo… Onehhhhhh!” Kalo kata si Yaya sih ini lagu berbahasa Jepang, tapi sampai sekarang saya belum nemu lagunya yang manaaaaa ….

Jadi, apakah ini akan jadi misteri tak terpecahkan lagi? 😀

 

UPDATE

Dua misteri terpecahkan. Lagu oehehem ternyata Ram Sam Sam, ai huhupet ai huhupet huhahuhahuhahuhahuhah ternyata “Jelly on the plate, jelly on the plate, wibble-wabble, wibble-wabble…”

Entoh-entoh holihio ada di lagu Jepang Gyu-Gyu, tapi masih belum ketauan, sebetulnya gimana liriknya.