Mengurangi Beban Duniawi

even-living-rooms-are-de-cluttered-the-only-furniture-here-is-a-desk-and-chair

Gambar dari tautan di bawah

Di timeline Facebook, berseliweran tautan tentang gerakan hidup minimalis yang sedang gencar di Jepang, terinspirasi ajaran Zen.

Jauh sebelum tautan ini muncul, sebenarnya saya sudah malas beli baju. Awalnya sih karena jarang nemu yang sesuai selera, dan saya heran, kenapa baju-baju sederhana biasanya malah lebih mahal daripada baju-baju dengan banyak hiasan? Lama-lama, keterusan malas, mau di mal, di outlet, beli online, kalau kata orang Sunda mah barieukeun. Memang sih, akhir-akhir ini bokek terus hihi …. Tapi, kalau pas pegang uang nggak pernah kepikiran juga.

Kesadaran ini mulai terasa pas beres-beres baju sebelum pindah ke Sariwangi. Isi lemari saya berkurang setengahnya. Dan semakin terasa waktu hidup “nomaden”, bolak-balik Sariwangi-Sarijadi. Ternyata manusia nggak butuh banyak pakaian. Menurut saya, sepuluh potong baju atasan sudah cukup, bawahan (rok, celana) cukup empat. Itu sudah termasuk baju tidur. Warna dan model netral, jangan bermotif (Itu teori saya ya hihi).

Tapi, ini belum bisa diterapkan pada anak-anak ya. Apalagi Lula masih berpopok dan Yaya harus berseragam ke sekolah. Baju-baju mereka juga cepat kotor dan bau kecut, jadi harus sering ganti.

Bagaimana dengan barang-barang lain? Karena saya pemalas, sebenarnya nggak suka pekerjaan rumah tangga, gaya hidup minimalis ini cocok banget. Saya nggak suka hiasan dan pajangan rumah. Malas bersihin debu. Karpet berbulu-bulu dan tirai-tirai berimpel juga nggak suka, sarang debu, sering bikin gatal. Ada perkecualian sih, buku. Apalagi buku-buku anak kesukaan saya sejak kecil, yang langka dan sulit dikumpulkan. Juga buku terjemahan dan suntingan saya. Tapi, akhir-akhir ini juga malas beli buku fisik, selain buku anak untuk Yaya dan Lula. Meskipun mata sepet, numpuk e-book ternyata lebih praktis.

Suatu saat, saya ingin sekali hidup seperti tautan di atas. Punya barang yang fungsional saja, nggak berlebihan. Rasanya kok ringan ya. Beban duniawi berkurang banyak. Kalau dikaitkan dengan sisi religius, Rasulullah SAW juga hidupnya seperti begini. Tapi, saya mah alasannya cemen, sebagian besar karena PEMALAS hihi ….

 

Mengapa Kelas 101?

Kelas101

Kelas 101 adalah proyek yang mewujud tiba-tiba. Semua berawal dari rasa penasaran, kenapa di Indonesia belum ada kursus-kursus yang menarik, menambah ilmu sekaligus ajang refreshing.

Sebetulnya, kalau dirunut lebih lampau, almarhum bapak saya (selanjutnya kita sebut saja si Papap :D) juga pernah punya visi tentang ini, meskipun dalam bentuk lain. Karena bidangnya adalah manajemen, organisasi, dan industri kecil, jadi kebanyakan kursus atau workshop adalah tentang itu. Saya sendiri pernah jadi peserta kelas industri kecil-nya. Banyak juga materi pelatihan yang disusun si Papap. Masih ada semua file-nya.

Cita-cita bikin kursus ini lamaaa saya pikirkan. Tujuannya sih sederhana, saya pengen belajar banyak hal. Mungkin orang lain juga pengen. Tapi, kalau harus masuk sekolah formal, kok ribet ya. Apalagi pascasarjana. Biaya mahal, kuliah menyita waktu. Tapi kursus-kursus yang ada belum beragam. Saya juga pernah ikut workshop cat air di Tobucil sama Mas Tanto. Waaah, asyik banget. Suasana informal, biaya terjangkau, nambah ilmu. Tobucil juga asyik-asyik kelasnya, mulai dari merajut sampai kelas fotografi. Kalau waktu saya luang sih sampe sekarang saya juga masih pengen ikut kelas-kelas Tobucil! (Yah, mudah-mudahan nanti kalo si Lula sudah agak besar)

Orang yang pertama saya ajak ngobrol tentang ide ini adalah Ita, temen si Abang. Kenapa Ita? Entahlah. Yang pertama terlintas di kepala waktu ide ini muncul kok dia ya. Mungkin memang sudah ditakdirkan begitu, hahaha ….  Pas Ita bikin Herbsays Kitchen di Cisangkuy, saya berkunjung dan ngobrol lagi. Eh, ternyata gagasannya mulai berbentuk. Nggak usah kursus dulu, tapi kelas-kelas lepasan aja. Dia bersedia diajak kerja sama, kelas-kelas berlangsung di Herbsays (karena saya nggak punya tempat). Beberapa kali Kelas 101 juga pernah berlangsung di Terminal Coffee, salah satu pemiliknya teman saya juga, Hanifa. Sekarang, Herbsays pindah ke Cigadung, Kelas 101 juga ikut ke sana. Setiaaa!

Saya juga konsultasi sama si Om Jahad alias Sandy, mantan karyawan kantor si Papap, tentang cara bikin kursus. Katanya, jalan aja dulu, soal perizinan mah nanti ajaaa …. Lagian, yang sekarang berjalan kan baru kelas-kelas lepasan, belum yang berkesinambungan seperti kursus pada umumnya. Bahkan kata si Om Jahad (ini julukan si Yaya sih, karena ada satu lagi Om Zaid yang dia sebut Om Jahid), kalau sudah jalan yang berkesinambungan, nanti aja ngurus izinnya. Kalem weh, cenah. Ya sudahlah, mari kita nekad!

DSC_6997

Kelas Fashion Style 101

Namanya apa ya? Tadinya mau Kelas For Dummies tapi khawatir nggak laku, karena peserta dianggap dummy, hahaha! Lalu terlintas kode mata kuliah. Kalkulus 1 biasanya kodenya MA-101. Pengantar Astronomi dulu kodenya AS-101. Ya sudah, Kelas 101-lah namanya. Sengaja pake bahasa Indonesia, pertimbangannya cuma supaya punya ciri khas aja sih. Logo juga dibikinin Pak Dindin. Semalem aja. Konsepnya cuma papan tulis dan tulisan Kelas 101 dari kapur. Sederhana dan buru-buru, hihi ….

PhotoGrid_1427735949552

Kelas Make Up 101

Ide ini juga saya ceritakan waktu bertemu beberapa tante penerjemah dan penggemar buku. Ternyata para tante yang tinggal di Bandung, yaitu Tandem (Tante Dempul) Echy, Natnat, dan Icha, bersedia bantuin. Sejak awal saya bilang, saya nggak mau bikin usaha bersama (terus terang saya kapok. Pernah bikin usaha bersama teman, memang salahnya nggak pake perjanjian yang bener, malah jadi nggak enak ke belakangnya). Kalaupun kerja sama, paling bentuknya mereka jadi instruktur (dibayar per kelas aja) atau kalau Kelas 101 sudah mampu, jadi tenaga lepas, kalau perlu dipanggil dan dibayar. Sayangnya belum mampu hahaha …. “Tim Hore” ini banyak membantu saya (meskipun gratisan, baik sekali ya mereka), seperti Natnat yang bantu foto-foto dan Icha yang bersedia jadi model.😉

1-DSCF6550

Kelas Travel Blogging 101

Untuk materi kelas, tim hore ini banyak ngasih usul. Kelas pertama, Travel Blogging 101, adalah usul Natnat. Pas juga, teman lama saya, Vira, punya web Indohoy bersama Mumun. Oke, kelas pertama mengundang mereka! Kelas kedua adalah Make Up 101. Gurunya Teh Echy alias tante dempul hihi …. Setelah itu ada Kelas Menulis 101, Kelas Kerudung Cantik 101, Kelas Fashion Style 101, Kelas Make Up 101 dengan instruktur berbeda, Kelas Leatherworks 101. Semua gurunya adalah teman saya!😀

IMG_20150517_192624

Kelas Menulis 101

Ini satu lagi yang menyenangkan buat saya. Menyambungkan orang-orang. Soalnya, saya sering dihubungi seseorang, “Mar, tau nggak yang bisa ini?” Beberapa kali jadi makcomblang, ternyata berhasil. Jadi, saya sadar, saya punya sumber daya tak terhingga yaitu teman-teman saya yang ahli di bidangnya. Berasa kayak germo hahahaaa …. Atau lebih kerennya head hunter lah, cuma dalam bentuk berbeda.

PhotoGrid_1436200572081

Kelas Make Up 101

 

Para peserta kelas-kelas ini juga kebanyakan masih teman saya. Tapi seiring waktu, page Kelas 101 di FB juga banyak yang nge-like. Lumayan sering juga yang nanya-nanya tentang kelas. Dan jadi nambah kenalan baru, teman baru.

PhotoGrid_1436202013616

Kelas Kerudung Cantik 101

Tapi, itu bisa dibilang salah satu kendala Kelas 101. Peserta masih sedikit, dan kebanyakan teman haha …. Banyak yang nanya, tapi sering batal. Bahkan ada kelas yang benar-benar batal, karena nggak ada peserta yang daftar. Kalau sok-sok menganalisis, mungkin masih banyak orang yang menganggap kelas-kelas seperti ini bukan hal penting. Juga ada yang keberatan soal biaya (Padahal ngintip workshop serupa di Jakarta dan pengen nangis karena mahaaaaal hiks). Seringnya pada batal detik terakhir. Nah ini yang kadang bikin sedih, soalnya udah ngitung souvenir dan konsumsi, hiks ….

PhotoGrid_1453705420596

Kelas Basic Leatherworks 101

Saya juga ingat, si Papap dulu pernah ngomong, kalo mau mulai bisnis, sebisa mungkin jangan yang keluar modal. Cari yang uangnya masuk dulu, bayar-bayar belakangan. Contohnya adalah biro perjalanan/wisata atau lembaga kursus. Tapi, tetap saja beberapa kelas pertama, saya nombok. Sekarang udah nggak, yah pas aja lah buat ongkos sama ikut makan hahaha …. Udah kepikiran mau cari sponsor, tapi belum sempat bikin proposal (eh, barusan aja di-WA sama seseorang yang mau endorse Kelas 101, tunggu aja ya apa wujudnya. Sungguh doa yang terjawab, hihiii). Penyelenggaraan juga masih repot, karena si ibu wali kelas pasti harus bawa salah satu anak, hahaha (Kalo nggak si Emak protes dititipin dua). Oh, ada satu lagi kendala, kalau nawarin Kelas Make Up. Beberapa kali ada yang nggak percaya karena saya yang menyelenggarakan (soalnya dekil, hiks!). Padahal kan gurunya bukan sayaaaaaa! Nggak apa-apa juga (kok banyak nggak apa-apa ya hihi!). Namanya juga usaha.

Keinginan saya yang berikutnya adalah mewujudkan sebuah kelas yang sudah lama jadi cita-cita si Papap. Tahun ’90an, waktu saya masih SMP, si Papap pernah berencana bikin kelas ini. Karena lokasi banyak di sekitar Bandung, dan instrukturnya ada, di lingkaran pergaulan saya juga. Apa itu? Nanti deh, beberapa bulan lagi hehe ….

Ini lucu juga, karena sejak dulu saya males nerusin kerjaan si Papap. Nggak mau masuk TI. Males terlibat sama SBHL Consulting. Tapi ya jalannya harus begini, dapat warisan kantor (meskipun nggak sama warisan duitnya hahahaaaa …. cuma warisan aset kaya kulkas, meja, kursi, hiks … juga kewajiban lapor pajak bulanan). Sekarang malah pengen masuk MM (padahal dulu ogah haha). Mudah-mudahan seiring waktu, SBHL Consulting juga jalan lagi,dengan banyak materi pelatihan yang ada. Aamiin.

Klik INI untuk mengunjungi page Kelas 101 di Facebook dan ITU untuk mengunjungi blog Kelas 101.

Sekolah Baru!

Si Yaya jadi anak SD euuuy …. (Meskipun tetap oces :D)

Awalnya nggak PD dia bisa masuk SD, soalnya umurnya baru enam tahun sebulan. Bu Teti, wali kelasnya di TK B juga menyarankan kelas B aja setaun lagi. Tapi, si Bapak keberatan. Soalnya, selain terlalu lama di TK (PAUD dua taun, TK nanti jadi tiga taun dong?), karena lokasi TK yang hanya “selangkah dari rumah Yaya” (begitu menurut pengakuannya sendiri), si Yaya merasa sekolahnya ya rumahnya. Jadi, dia nggak bertanggung jawab sama barang-barang pribadinya. Pulang sekolah, lepas sepatu di luar, lempar tas, terus main. Nanti, kalau guru-guru dan teman-temannya mau pulang, dia lari masuk, lupa sama barang-barangnya di luar. Terus Ibu Guru yang mindahin ke dalam. Berulang kali dinasihati sampai dimarahi, teteeeep aja begitu. Yah, risiko belajar di sakolah nini aing tea.

Lalu, si Yaya mau dimasukin ke SD mana? Si Bapak sih terserah Ibuk aja katanya. Homeschooling udah nggak masuk pilihan, soalnya si Ibuknya belum mampu. Jungkir balik sama kejar setoran :p. Jadi, alternatif lain adalah sekolah swasta, mengingat umur si Yaya. Dan mengingat kelakuannya yang “istimewa” hihi …. Sejak awal, saya nggak berniat daftarin Yaya ke SD Islam Terpadu. Alasannya sederhana aja sih: di kehidupan nyata, dia akan bergaul dengan berbagai kalangan. TK Armia sendiri sebetulnya bukan TK Islam, tapi kebetulan angkatan si Yaya beragama Islam semua. Kriteria kedua, lokasi jangan jauh-jauh. Dari beberapa pilihan, sebetulnya saya naksir Semipalar di Sukamulya, soalnya kenal dengan beberapa gurunya dan sepertinya sekolah itu “Yaya banget”. Tapi pas saya kirim e-mail untuk menanyakan pendaftaran, katanya kelas SD sudah penuh, karena semua murid TK masuk ke SD Semipalar lagi.

Tapi, sekolah swasta tuh mahal ya. Terus, saya sempat ngobrol dengan Ita si pemilik Herbsays, yang udah pengalaman ikut nyusun kurikulum SD swasta. Kesimpulannya, semua sekolah pasti ada kekurangannya. Kewajiban orangtua adalah mengisi kurangnya ini, pesan Ita. Saya juga mikir, apa sih keinginan kami, orangtua si Yaya, saat memilih sekolah? Saya pribadi sih pengennya si Yaya bahagia, juga bisa bergaul dengan segala kalangan. Bahkan sempat kepikiran masukin sekolah Katolik aja gitu ya, supaya sempat ngerasain jadi kaum minoritas (tapi nggak ada yang deket dan tetep mahaaaaal hahaha).

Oke, jadi kita pikirkan sekolah negeri. Di SD negeri kan muridnya lebih beragam lagi. Teringat zaman saya SD, ada yang diantar jemput mobil tiap hari, ada juga yang ke sekolah pakai plastik keresek karena nggak mampu beli tas. Tapi, tetep aja main bareng tuh. Mungkin ada juga sih kondisi nggak bagus di beberapa SD negeri. Mungkin ada yang geng-gengan dan ada perundungan. Juga saingan barang, gadget, dan segala macam. Tapi, kayanya kalau orangtuanya bertanggung jawab dengan bener, yang begitu-begitu harusnya nggak ada. Soal kurikulum, meskipun katanya dirancang untuk “rakyat jelata” dan masih satu arah, yah … dulu saya juga banyak belajar di rumah, disediain buku-buku dan majalah.

Sebetulnya ada SD negeri yang deket banget dengan rumah, nggak sampai 150 meter, tapi kok anak-anaknya santai banget ya. Masuk jam tujuh, jam delapan udah kelayapan lagi. Terus, bocoran dari guru TK yang sempat ngajar di sana, guru-gurunya pemalas. Malah ada yang suka minta dipijat oleh murid hahaaa … (atuh Buuuu saya juga mau!) Lagipula, karena jaraknya deket, nanti si Yaya malah bolak-balik pulang, minta makan lah, mau ke WC lah, dst. dsb., pasti TK juga terganggu. Ada beberapa alternatif sekolah negeri yang lumayan bagus dan cukup dekat: SD PN Setiabudhi (yang dulunya di UPI), dan SD Sukarasa 3 di KPAD. SD PN lebih dekat, jalan dan naik angkot pun cuma sepuluh menit, dan lumayan banyak alumni TK Armia yang masuk situ.

Masalahnya umur. Tapi, kata Bu Teti, coba aja dulu. Lagipula ada skor jarak rumah-sekolah. Kalau nggak keterima, ya sudah, si Yaya balik lagi ke TK. Atau kalau dia bosan, nggak perlu sekolah tiap hari lah, semaunya dia aja. Saya juga udah siap-siap, bilang ke si Yaya, kalau nggak keterima di SD, kita lari tiap hari aja yuk!

Tak disangka-sangka, alhamdulillah si Yaya keterima. Urutan 103 dari 108 (dihitung menurut skor umur dan jarak), nyaris! Hari pertama sekolah, diantar Ibuk dan Bapak, sebetulnya khawatir kalau terjadi “drama”, tapi dia lempeng aja tuh. Cuma nyari-nyari Ibuk aja pas baris sebelum upacara, dari jauh. Pas si Ibuk keliatan, dia tenang lagi. Di kelas juga lempeng … masih bengong-bengong :p. Hari kedua sudah agak pede, tapi masih harus ditunggu. Lagipula tiga hari ini masih perkenalan, masuk jam setengah delapan, jam sembilan bubar. Kata Bu Teti, siap-siap Senin depan, orangtua nggak boleh masuk ke sekolah selama jam pelajaran. Doakan, mudah-mudahan lancar, ya!

Romantis banget ya, ini nggak sengaja kefoto padahal, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD

Romantis banget ya, padahal ini nggak sengaja kefoto, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD

“Amplok”-nya Udah Kebanyakan! :D

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

Tanggal 25 Oktober 2014 kemarin, hari Sabtu, 1 Muharram 1436 H, si Yaya disunat. Sebetulnya ini dadakan, karena sebelumnya kami nggak berencana menyunat si Yaya secepat ini. Tapi, beberapa minggu lalu, Ompung Bou-nya Yaya menawarkan ikut sunatan massal di kantornya, RSHS.

Awalnya agak ragu karena khawatir memakan jatah orang-orang yang lebih berhak ikutan, tapi si Ompung Bou meyakinkan, lagian karena nggak punya anak, jatah si Ompung Bou selama berpuluh-puluh tahun jadi karyawan RSHS nggak pernah terpakai. Oke, ya sudahlah. Sekarang tinggal tanya si Yaya mau apa nggak.

Kalau ngobrol soal sunatan sih sudah cukup sering, terutama saat mandi dan pipis. Si Yaya sih mendengar gosip teman-teman TK-nya (halah budak leutik ngagosip!), kalau disunat itu tititnya dipotong. Tapi, akhirnya dia mengerti kalau disunat itu hanya dipotong sedikit kulup penisnya supaya bersih, mengurangi risiko infeksi karena kotoran yang numpuk. Nah, pas ditanya, mau disunat nggak, eh dia mau. Padahal nggak diiming-imingi nanti banyak dapet hadiah, uang, dan sebagainya. Alhamdulillah soleh juga si Yaya teh yaaa hahahaaaa …. Waktu ditanya, mau apa pas disunat, dia cuma bilang mau cokelat telur (itu lhooo … chocolate egg surprise yang videonya banyak di youtube) seri planes (dia sempat liat di Toko Setiabudi) sama lego Chima yang agak mahalan. Selama ini dia kan beli lego Chima-nya di Pasar Cibogo. Baiklah.

Eh, baru sadar beberapa hari sebelumnya, ternyata sunatan si Yaya bentrok dengan acara pelatihan penerjemah di Mizan. Ya sudahlah, kan si Yaya disunat cuma sekali seumur hidup. Jadi terpaksa batal ikut acara itu, padahal udah daftar.

Hari Kamis, si Yaya diperiksa dulu. Awalnya diperiksa mata, mulut, lidahnya disuruh keluar. Terus dokter yang meriksa bilang, “Sekarang lidahnya dimasukin aja, ganti penisnya.” Eh, dia tetep aja menjulurkan lidah sambil diperiksa, kaya yang ngeledek dokternya, hihiii …. Bikin dokter-dokter cewek di belakang pak dokter yang meriksa cekikikan. Karena dokter-dokter cewek itu cekikikan, dia tambah malu lagi, ogah penisnya keliatan. Yah, tambah geli lagi mereka, sampai si Yaya keluar, dokter-dokter itu masih ketawa-ketawa.

Pas hari H, kami pergi dari rumah jam 8. Si Lula juga ikut, menyemangati akangnya!😀 Sekitar jam 9, si Yaya dapat giliran. Tapi yang ikut megangin si Yaya cuma saya dan bapaknya. Yah, sudah bisa ditebak sejak awal, penuh raungan! Apalagi anak-anak lain pada teriak-teriak juga. Si Yaya dapat tempat di pojok, dokternya laki-laki. Anak yang di sebelah si Yaya sih udah agak lebih besar, lumayan tenang, jadinya lebih cepat selesai. Sementara si Yaya … sempat agak meronta-ronta, teriak-teriak nyuruh-nyuruh dokternya “Udah! Udah! Lama! Lamaaaaa! Cepet! Cepet! Cepet! Kok lagi? Gunting benangnya, guntiiiing!” dan selang satu ranjang di sebelah, seorang anak yang lebih kecil berteriak-teriak “Anying anying anying!” Dokter yang nyunat si Yaya juga sampai ketawa. Si Yaya sempat teriak nahan sakit “Kak kak kakkkkk!” eh sama dia diplesetin “kakaktua!” bikin dokter-dokternya ketawa juga😀. Sayang nggak sempat motret dia pas dan setelah disunat, malah dokter-dokter lain yang motret.

Meskipun rasanya lama banget, tapi ternyata cukup cepat juga. Setelah disunat, dia dapat satu tumpeng mini, obat-obatan, dan “amplok” (amplop, maksudnya). Di jalan dia tidur. Jam sebelas siang sudah sampai rumah. Agak sore juga dia tidur lagi. Saya udah agak cemas karena beberapa saudara bilang “Tunggu sampai biusnya habis!” eh tapi dia cuek-cuek aja tuh, nggak nangis-nangis kesakitan. Cuma agak manja aja, pengen disuapin dan lain-lain.

Besoknya, saudara-saudara pada datang, dan pada ngasih “amplok”. Karena sejak awal nggak diiming-imingi itu, dia kaget dan malah teriak “Kenapa sih pada ngasih ‘amplok’? Udah kebanyakan, tauuuuk!” Hahaha … dasar bocah penggemar duit dua rebuan! (Dia mah taunya duit pecahan dua ribu, yang biasanya dipakai beli mainan di “Mangmang” kleneng-kleneng yang suka nangkring di depan TK) Hari Senin juga guru-guru pada ngasih “amplok”, dia bilang gitu juga hahahaaaaa ….

Tadi, hari Selasa tanggal 28 Oktober, kami kontrol lagi, dan syukurlah kata dokternya bagus, perban bisa dibuka, udah boleh kena air tapi setelahnya dilap dan dioles salep. Mudah-mudahan pemulihan selanjutnya nggak bermasalah juga.

Begitulah kisah si Yaya disunat, doakan ya semoga si Yaya tambah bageur, pinter, dan soleh!😀

Oktober!

Tadinya judulnya pake titik-titik. Oktober …. Tapi nggak seru ah. Coba pake tanda seru, supaya nambah semangat sedikit.

Bulan Oktober ini, saya ikut lagi kelas cat airnya Mas Tanto di Tobucil. Tapi, tahun ini sepertinya lebih kacau daripada tahun kemarin (sayanya, bukan kelasnya hahaha), soalnya hati selalu nggak tenang karena ninggalin si Lula di rumah. Dari empat kali pertemuan, dua kali saya terpaksa bawa si Yaya juga, dan … gitu dueeeech, kacau juga :p.

Oktober ini juga ada #inktober challenge. Meskipun nggak bisa tiap hari ikut menggambar, seringnya tertidur (kata seorang teman yang proofreader, yang betul itu tertidur. Kalau ketiduran, berarti ada seseorang atau sesosok makhluk yang tidur di atas tubuh kita hihi). Dengan bayi yang pasti selalu pengen ngerebut alat gambar dan ngerobek kertas, juga anak kecil yang selalu pengen nimbrung, satu-satunya waktu luang untuk menggambar adalah malam, setelah mereka tidur dan sebelum start kerja malam. Meskipun hasilnya juga ya gitu dueeeeech, kegiatan ini bisa sedikit menghibur. Buat saya menggambar ya hiburan, kajeun dibilang jelek juga hahahaaa ….

Bulan Oktober ini juga, si Yaya insya Allah mau disunat. Karena belum terjadi, belum bisa diceritakan bagaimana rentetan peristiwanya.

Oh iya, bulan Oktober ini, umur saya bertambah, jadi delapan belas! (kali dua :p) Jatah usia hidup semakin berkurang, jadi semoga saya bisa jadi orang yang lebih baik untuk siapa pun. Tapi semoga semangat masih tetap delapan belas!😀 Sayangnya ada satu keinginan yang nggak tercapai untuk menikmati hari ulang tahun: nggak perlu turun dari tempat tidur seharian, minimal setengah hari aja. Mimpiiiiiiiiiiiiiiiii😀

Oktober ini, semoga semua masalah ada titik terangnya!

Cerita Terlambat Si Lulanon

Cerita ini mungkin sudah sangat terlambat, karena keterbatasan gawai (seringnya online di HP, jarang sekali ada kesempatan pegang komputer, sementara laptop untuk kerja sulit dipake internetan) dan energi :p.

Jadi, waktu umur Yaya sekitar tiga tahun, saya dan bapaknya berencana memberi adik. Ternyata, sebelum Yaya berulang tahun keempat, saya hamil.

Kehamilan kedua ini juga nggak terlalu disadari seperti waktu hamil Yaya. Cuma kerasa nggak enak badan seperti PMS. Agak curiga karena terlambat menstruasi, tapi karena ada flek, jadi saya kira karena capek, yang keluar hanya sedikit. Dua kali flek, dua kali juga saya curiga, jadi beli testpack. Tapi, ternyata dua-duanya negatif. Baru waktu tes ketiga, keluar garis dua.

Karena faktor U, kehamilan kali ini lebih melelahkan! (Coba kalau nikah umur 19 gitu ya, hahaaa). Terus, karena jadwal ngajar Emak masih padat, nggak bisa ikut yoga prenatal seperti waktu hamil Yaya, karena harus jauh-jauh ke Yogaleaf Buahbatu, Voila sedang renovasi. Ya sudah, sebisanya yoga sendiri, setidaknya setiap hari peregangan. Berenang juga masih, tapi nggak sesering waktu hamil Yaya, karena alasan yang sama.

DSC_0909

Akibat trauma naik berat badan drastis, 20 kg waktu hamil Yaya, saya konsisten dengan food combining abal-abal (sejak sebelum hamil juga sih, sayang setelah melahirkan, karena makan “sakasampeurna”, jadi FC-nya berantakan). Yang penting pagi-pagi sarapan buah, kalau aturan lain seperti memisahkan protein hewani dengan karbohidrat sih cukup sering dilanggar. Tapi, cara ini lumayan berhasil, karena kenaikan berat badan saya hanya 9 kg sampai waktunya melahirkan.

Kebetulan sebelum kehamilan kedua ini saya melihat page tentang gentle birth di Facebook. Jadi, saya cari informasi sebanyak-banyaknya tentang ini. Tapi tetap kontrol ke Dokter Evi di Hermina Pasteur. Pengennya sih bisa water birth, jadi saya melacak bidan/dokter yang bisa membantu water birth. Dulu, di Galenia yang di belakang Salman bisa, tapi setelah bertanya-tanya via telepon, sudah nggak ada. Bidan yang biasa membantu juga sudah keluar katanya. Jadilah saya melacak bidannya, Bidan Okke Evriana.

Ternyata, Bidan Okke ini sudah keluar karena membuka klinik sendiri, Bumi Ambu. Lokasinya di Adipura Gedebage. Jauuuuh dari rumah saya. Tapi, akhirnya kesampean juga ketemu sama si teteh cantik ini, dijugjug juga ke Adipura waktu usia kehamilan saya 34 minggu. Ngobrol sama Teh Okke ini enak banget, yang jatahnya satu jam jadi moloooor. Meskipun ini kehamilan kedua, ada beberapa hal penting yang baru saya ketahui supaya persalinan lancar: bersihkan puting setiap hari sejak usia kehamilan 34 minggu (supaya ASI lancar), usahakan jangan sembelit (makan sayur dan buah, minum air putih yang banyak), dan jalan kaki setiap hari satu jam (ini bisa dicicil, misalnya setengah jam pagi, setengah jam sore).

Rencananya sih saya ingin melahirkan di rumah, Teh Okke juga sudah setuju dan sempat ke rumah minggu depannya. Tapi, ternyata, ketuban saya pecah saat usia kehamilan 38 minggu. Memang sejak pagi agak nggak enak badan, kerasa mules-mules sedikit, tapi nggak dahsyat. Yah, memang menurut Teh Okke juga melahirkan itu jodoh-jodohan. Waktu saya telepon, Teh Okke nyuruh segera ke rumah sakit, karena waktu itu Minggu sore, pasti macet, kalau nunggu takutnya nggak keburu.

Kebayang kan, Minggu sore kalau ke Hermina Pasteur, pasti antre mobil-mobil yang mau pulang ke Jakarta. Awalnya mau ke RSB Aisyah di dekat rumah, tapi si Emak yang sudah panik nyuruh Bidan Emma di Gegerkalong Hilir. Ya sudah, nurut aja kata Emak, soalnya kami juga bingung hehehe ….

Pecah ketuban jam 4, sampai sana lima belas menit kemudian, diperiksa ternyata sudah bukaan 5. Padahal nggak kerasa mules-mules. Masih bisa whatsappan sama temen-temen, update berita, hahaaa …. Jam tujuh baru mulai kerasa mules, dan yang dahsyat jam delapan. Jam setengah sembilan, ternyata sudah bukaan sepuluh, horeee! Tapi, kok keluarnya lebih susah daripada si Yaya, ya? Ternyata, tali pusar si bayi melilit leher dua kali.

Jadi, semua keinginan saya gagal: water birth di rumah, melahirkan dengan posisi bukan berbaring dan kaki diangkat, juga lotus birth (tali pusat nggak dipotong, nunggu putus sendiri), juga IMD langsung setelah lahir. Adiknya si Yaya lahir agak biru, karena lehernya terlilit. Setelah ditepuk-tepuk agak lama, akhirnya nangis juga. Langsung masuk inkubator dan sisa cairannya dibersihkan. Baru sekitar setengah jam kemudian, setelah saya mandi, dia diantar ke kamar dan langsung belajar menyusu. Tapi, ya nggak apa-apa deh semua buyar, yang penting kami selamat.

wpid-dsc_0913.jpg

Karena merasa lebih enak pemulihan di rumah, besok siangnya saya minta pulang. Kalau di rumah sakit pasti susah ya, tapi Bidan Emma membolehkan dengan syarat saya harus istirahat dulu satu-dua hari, jangan langsung bekerja berat seperti mencuci (horee! :D).

Oh iya, si bayi yang selama di kandungan dijuluki “Yaya Dua” oleh si Yaya baru diyakini jenis kelaminnya waktu USG terakhir di dokter kandungan. Jadi, selama hamil saya nggak beli baju dan perlengkapan girly, yang androginy aja supaya nggak mubazir hehe ….

Mencari nama Yaya Dua ini nggak selama si Yaya. Bapaknya browsing dan mendapat nama “Amaya”, dari bahasa Jepang yang berarti “hujan pada malam hari” (karena lahirnya jam setengah sembilan malam dan hujan deras). Tapi, sepertinya itu lebih cocok untuk nama tengah, jadi depannya apa nih? Nah, besok malamnya, saya mimpi melihat cahaya dalam tampilan seperti Instagram, hahaaaa! Tapi, rasanya damai sekali, seperti melihat cahaya surgawi. Jadi, mulailah kami mencari nama yang berarti “cahaya” atau “terang”. Akhirnya dapat nama “Kenar” yang artinya cahaya, tapi kok agak aneh, jadi diputuskan dimodifikasi sedikit jadi Kinar. Jadilah nama si Yaya Dua ini Kinar Amaya Wahidin.

Tapiiii … karena si Yaya suka sekali serial Charlie dan Lola, awalnya dia pengen adiknya dinamai Lola. Tapi, Lola kan kelincinya teman saya Ainil, hihiiii …. Akhirnya boleh deh panggilannya dimodifikasi lagi, jadi Lula. Setelah dicari artinya, ternyata Lula itu \l(u)-la\as a girl’s name is a variant of Louise (Old German) and Luella (Old English), and the meaning of Lula is “famous warrior”. Terus, entah dari mana asalnya, si Yaya membalik panggilan Non Lula menjadi Lulanon, yang terbawa sampai sekarang. Kadang ditambah juga jadi “De Var Lulanon” dan “De Var De Nuneng”, entah dari mana.

Dan ternyata si Lula ini memang kesatria tangguh. Sewaktu dua bulan, setelah diimunisasi DPT dia ketularan pilek dari si Yaya. Mungkin karena kena serangan ganda, jadi panasnya banget bangeeet … sampai kejang! Awalnya dibawa ke klinik 24 jam dekat rumah dulu, tapi dokter jaga di sana menyarankan segera ke rumah sakit aja. Jadi langsung meluncur ke Hermina, alhamdulillah nggak macet. Empat hari di ICU, dua hari di ruang perawatan, tapi alhamdulillah akhirnya pulang juga!

wpid-dsc_2108.jpg

Begitulah cerita Lulanon si bayi jabrik yang sekarang botak, si amis budi yang suka ketawa jahil ehek ehek ehek, dan hobi jerit-jerit seperti lady rocker.

wpid-dsc_2271.jpgwpid-dsc_2464.jpg

Dalam Asuhan R.A. Kosasih

image

sumbernya entah dari mana tapi nemu di kaskus

Gaya banget, diasuh oleh R.A. Kosasih hihi… Tapi sejak saya mulai bisa membaca, R.A. Kosasih adalah salah seorang “pengasuh” saya, selain Enid Blyton, Astrid Lindgren, Bung Smas, dan lain-lain. Nggak terhitung berapa jam saya duduk anteng sampai lupa makan, lupa mandi, karena keasyikan baca. Juga entah berapa kali buku-buku itu saya baca ulang, sampai kertas-kertasnya keriting dan jilidnya lepas.

Dulu kami punya hampir semua karyanya, mulai dari Ramayana, Mahabharata yang 4 jilid tebal itu, Bharatayuda, dst. dsb. Komik pahlawan super perempuan juga, Sri Asih. Sayang waktu pindah rumah dari Sukahaji ke Sarijadi, semua hilang😦 bersama koleksi komik-komik lain seperti Tintin, Lucky Luke, dll., juga buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, dll.

Karena R.A. Kosasih, saya jadi tahu epos-epos besar itu dengan cara menyenangkan, meskipun dulu masih mencerna dengan pemahaman anak usia TK/SD. Dan ada beberapa pemahaman yang berubah setelah semakin besar dan tua.

Dan setelah besar, saya baru tersadar dengan takjub: betapa tekunnya R.A. Kosasih menggambar komik-komik dengan detail seteliti itu!

Semoga suatu saat koleksi karya R.A. Kosasih saya bisa lengkap lagi.

Dan semoga R.A. Kosasih di sana tersenyum karena hari ini banyak yang mengenangnya.🙂

Ini Pengingat bagi Diri Sendiri: Jangan Mengeluh, Buk!

Akhir-akhir ini, saya banyak menemukan tulisan tentang ibu-ibu yang bekerja di kantor vs ibu-ibu rumah tangga. Ada tulisan yang memotivasi, “hujatan”, curhat, dan sebagainya. Dulu saya juga pernah menulis tentang ini di notes facebook, karena posisi saya ada di tengah-tengah, yang katanya adalah WAHM atau Working at Home Mother. Soal alasan pilihan ini juga sudah pernah saya tulis.

image

bersama bos kecil yang paling berwenang mengatur pekerjaan saya

Tapi, yang menggelitik akhir-akhir ini adalah banyaknya kontroversi tentang itu. Seolah-olah ibu bekerja bukan ibu yang baik, atau ibu rumah tangga menyia-nyiakan potensi atau pendidikan tingginya. Karena posisi saya yang “ngangkang”, saya pribadi nggak terlalu terganggu dengan keributan ini (atau pada dasarnya memang nggak pedulian? Entah juga hahaa…).

Saya cuma merasa cocok dengan pilihan ini, dan mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena bisa bekerja di rumah ya (cukup banyak teman saya yang menyatakan “enak ya,” ya memang enak bagi saya, tapi entah buat orang lain). Jujur nih, di kantor dulu, saya hanya bisa bekerja efektif paling lama empat sampai lima jam sehari. Sisanya main game, chatting, ngobrol, bengong, dll. Untuk apa jauh-jauh ngantor kalau hanya untuk begituan? Selain itu, kalau saya ngantor sekarang, kasihan si Emak. Mengasuh cucu (apalagi yang seperti Yaya) melelahkan, sudah waktunya Emak bersenang-senang (walaupun dengan cara lain, mengajar lagi di usia senja!).

Soal pendidikan yang sia-sia, ah nggak juga. Sangat terpakai untuk mengasuh anak kok. Apalagi anak-anak zaman sekarang kritis-kritis. Salah satu contoh, saya masih bisa menjelaskan pengetahuan astronomi dasar kepada si Yaya. Masih banyak lagi yang lain. Dan karena pekerjaan yang mengharuskan saya banyak membaca, saya berhasil menjawab hampir semua pertanyaan Yaya. Kecuali yang “kenapa kuda itu ku- dan sapi itu sa-?” (Sampai saat ini belum nemu jawaban yang pas!) Kalau nggak tahu ya riset lagi, belajar lagi, hihii…

Soal prioritas, saya memang memilih memprioritaskan anak. Ada beberapa tawaran pekerjaan lepas yang saya tolak karena saya harus keluar rumah cukup lama. Banyak pekerjaan yang terpaksa tenggatnya molor dan imbasnya, penghasilan jauh berkurang dibandingkan saat masih jadi freelancer lajang. Tapi ya sudahlah.

(Oh iya, saya juga menghormati teman-teman yang berbisnis MLM dan mencoba memprospek saya jadi downline, maaf kalau saya nggak berminat. Pekerjaan kita sama kok, dilakukan dari rumah. Hanya saja, minat orang berbeda kan? Minat saya di bidang buku dan hal-hal yang berkaitan dengan ini serta makanan. Jual makanan pun masih belum pol karena belum saya prioritaskan secara serius. Dan karena saya tahu MLM juga butuh kerja keras, saya sadar nggak akan maksimal kalau bergabung.)

Nah, ini yang paling penting, karena keputusan ini adalah pilihan sendiri, nggak perlu mengeluh, apalagi marah-marah, karena itu buang energi. Beda lagi kalau nggak ada pilihan lain, misalnya nggak boleh berkarier sama suami atau terpaksa bekerja kantoran untuk menanggung nafkah keluarga. Curhat boleh lah, tapi nggak perlu ke seluruh dunia. Masing-masing orang juga punya masalah, kan? Memangnya masalah kita yang paling berat? Yah, kadang-kadang saya masih mengeluh sama suami. Tapi bukankah itu gunanya suami? Hahahaaa…

Selain nggak perlu mengeluh, mungkin kita harus menebalkan telinga terhadap omongan-omongan miring di sekitar. Daripada marah-marah nggak jelas, mending energinya dipakai untuk merencanakan hal-hal menyenangkan dengan keluarga. Iya kan?

Kecemplung

Kadang kita harus nyemplung dulu ke dalam sesuatu untuk “tersadarkan” bahwa dunia kita bukan di situ.

Dan “tersadarkan” lebih cepat akan lebih baik, betuuul?

Tapi, kalau sudah telanjur nyemplung ya jangan disesali. Nggak sia-sia juga. Kan hasilnya adalah kesadaran baru itu.😀

Keajaiban Otak

Ini pengalaman saya aja ya. Entah kalau orang lain.

Akhir-akhir ini, sejak sekitar setahun terakhir, saya sering teringat mimpi-mimpi lampau. Bahkan mimpi-mimpi bertahun-tahun lalu. Padahal, beberapa hari setelah mimpi, ingatan itu sudah menguap entah ke mana.

Begitu juga dengan pelajaran sekolah, terutama pelajaran SMA. Ada beberapa yang tiba-tiba saya ingat lagi, terutama pelajaran sejarah dan … Agama Islam. Pelajaran eksakta dan bahasa sih karena terpakai terus jadi nggak sempat dilupakan.

Tanggal-tanggal dalam sejarah sih nggak pernah ingat, jadi ya nggak pernah lupa lagi, begitu juga ayat-ayat Al Qur’an hihiii …. Tapi, peristiwa-peristiwa bersejarah, atau zaman-zaman prasejarah, tiba-tiba muncul lagi dengan jelas. Juga bab-bab tentang hukum waris, pernikahan, tata cara penanganan jenazah, dll., kembali lagi ke latar depan.

Aneh ya? Padahal masa SMA sudah berlalu lebih dari 17 tahun lalu, hahahaaa ….

Nah, coba kita lihat beberapa tahun ke depan ya, apa pelajaran-pelajaran seperti kalkulus, fismat, fismod, mekanika, dan mata kuliah astronomi bisa muncul lagi di otak. Soalnya sudah dilupakan :p

Ajaib ya cara kerja otak manusia itu. Menakjubkan!