Liang Teh, Kurupuk, dan ASIP Rasa Kopi

Ini kisah si Ujang Sakya waktu awal tahun. Tapi karena si Ibuk riweuh dan ngantuk melulu, jadi baru sempat diselesaikan sekarang, setelah sekian hari nangkring di draft.

Jadi begini. Karena si Ibuk, si Bapak, dan Mamak Robin adalah pemenang putaran terakhir arisan keluarga Batak yang kalau ngobrol pada pake bahasa Sunda, jadi kami sepakat untuk bikin acara yang agak istimewa. Biasanya kan cuma makan-makan di dalam kota, sekarang pada pengen kemping. Ke mana lagi kalau bukan ke Citere, tempat gawenya Bapak Dindin.

Nah, entah karena mentalnya belum tergojlok, Sakya selalu sakit kalau mau pergi (yang direncanakan jauh-jauh hari). Dulu waktu kemping pertama di Citere sempat demam, lalu pas mau ke kawinan Tante Mbil-Oom Mbul di Salatiga juga, pake bintil-bintil merah pulak (dan nggak jadi, huuu). Kali ini juga begitu, dua hari meriang dan nggak nyenyak tidur.

Sugan teh demam ringan biasa, eh … kok subuh-subuh sebelum mau pergi, dia nangis terus sambil terus masukin jari ke dalam mulut. Ternyata Sakya SARIAWAN.

Biasanya sih kalau demam-demam biasa memang jadi susah makan, tapi nenen sih jalan terussss. Nah kali ini, tiap kali nenen pasti ngegigit. Huuu … sakiiit! Sampai ikutan meriang segala. Tiap kali Sakya gigit-gigit, si Ibuk selalu pencet hidungnya biar lepas. Mungkin karena itu dia jadi males-malesan nenen dan akhirnya sama sekali mogok. Bahkan air putih pun nggak bisa masuk.

Akhirnya ASI-nya diperah deh. Habis merah dan dapet setengah gelas, si Ibuk istirahat dulu dan minum kopi. Eh, tau-tau dia minta minum “srup srup. srup srup.” (Si Ujang memang jagoan bahasa isyarat, segala macam ada bahasa isyaratnya, mulai dari minum sampai gajah hihiiii) Dikasih ASIP kok tetep nangis. Malah nunjuk-nunjuk cangkir kopi si Ibuk. Ya sudah, akhirnya si Ibuk menyerah: ASIP-nya dioplos kopi.

Karena keburu-buru mau pergi, nggak sempat nyari obat sariawan buat anak kecil lagi (si Bapak nyari di tiga apotek nggak dapet!). Akhirnya si Ibuk beli liang teh, soalnya kalo si Ibuk beli, dia suka ikut nimbrung. Syukurlah mau liang teh (mungkin karena ada gambar panda-nya hihi) dan teh kotak. Tapi dipaksa segimana pun disuruh minum air putih, susu, atau ASIP, dia nggak mau.

Makan apalagi, mulai dari bubur manis-bubur asin-nasi-sereal dst, nggak ada yang masuk (yang ada sih si Ibuk aja jadi Tempat Pembuangan Akhir, huuuhhhh). Tapi, waktu liat kurupuk yang dibawa si Wak Encing, eh … malah mau. Meskipun setiap suap pasti diikuti jejeritan, biarin deh. Kali ini agak longgar kontrol makanan dan minumannya, yang penting ada yang masuk.

Dan yang parah adalah … semalam beberapa kali meraung di dalam tenda, minta keluar. Padahal kan dingin, Ujaaaang. Akhirnya daripada mengganggu yang lain (ah tapi ternyata mereka juga pada terbangun hihiii), dibawa juga keluar, plus diselimutin. Jadilah kemping malam itu ditemani siaran raungan peserta paling kecil hehe.

Total tiga hari Sakya GTM, yang masuk cuma liang teh dan teh kotak serta … kurupuk. Hebatnya, meskipun setiap suap jejeritan, tetep aja krauk-krauk. Anak si Bapak!

 

biarpun sariawan tetep pose di rumah makan sop buntut pangalengan hehe

Syukurlah setelah dioles salep, sariawannya agak mendingan. Dan hari keempat, mulai mamayu. Sayang, baru beberapa hari rakus, eh … ketularan batuk guludug dari si Nini. Jadi males makan lagi, tapi angin-anginan. Kadang-kadang mau, kadang-kadang nggak. Sekarang udah lumayan, tapi kadang-kadang suka akting nangis menggerung-gerung sambil megangin bibir, pura-pura sariawan. Huhhhhh!

Catatan

sengaja ditulis kurupuk, bukan kerupuk, kan si Ujang mah preman Cibarunay 😀