Scriptwriting, the New Thing

Konon, nggak ada kan yang namanya kebetulan. Sudah jalannya aja kali ya, saat mulai jenuh menerjemahkan selama lima tahun, datanglah sebuah tawaran yang cukup menarik.

Bermula dari sebuah message di FB, dari Nino teman si Abang, yang ngajak jadi scriptwriter untuk film animasi pendek. Awalnya agak ragu karena ini proyek dari pemerintah, untuk penunjang pelajaran tingkat SMP. Tapi, akhirnya diterima juga karena saya pikir lumayan, untuk refreshing dari kerjaan rutin (dan karena faktor D juga sih, duiiiit, duiiiit! Hihiii).

Awalnya ada dua mata pelajaran yang harus dibuat screenplaynya: PKn dan Sejarah. Setelah diundi, saya dapat mata pelajaran PKn, 2 episode. Ngeri juga, soalnya kurikulum jadul kan pancasilais bangeeeet … takutnya jadi membosankan, menggurui, dll. Sinopsis dan screenplay yang pertama dibuat pun garing karena masih terbatasi oleh “pancasilais” tea … sampai akhirnya, ketemu dengan seorang narasumber yang awalnya terlihat formal tapi ternyata pikirannya asik juga, Pak Aim, dosen PKn UPI.

Pak Aim ini yang “membebaskan” pikiran saya (entah ya temen-temen lain), bahwa materi untuk anak sekolah itu seharusnya nggak normatif, tapi harus memancing agar mereka ikut berpikir. Makanya, di screenplay BOLEH mengkritik pemerintah, senang sekali kan? Hahahaaaa …. Tapi, namanya juga materi penunjang pelajaran, ya sebisanya digabungkan lah dengan materi yang ada dalam pelajaran.

Lewat kerjaan ini pulak jadi kenal dengan Dzi Studio, yang biasa ngerjain orderan begini. Dan ternyata, setelah screenplay PKn selesai (ditambah satu episode juga, jadi tiga), eh … ternyata disuruh lanjut ngerjain screenplay bahasa Indonesia! (Kalo yang ini proyek Sangkuriang, harus selesai dalam waktu mepet pisan!)

Kalo dibandingkan, duitnya ya banyakan dari kerjaan terjemahan yang udah rutin. Tapi lumayan juga karena nggak banyak waktu tersita buat ngerjainnya. Terus, saya pun udah ngintip trailernya. Yang PKn lucu, yang Sejarah kereeeeeeeen …. Nah ini juga yang jadi masalah: bagaimana menerjemahkan materi pelajaran ke dalam sebuah film singkat berdurasi 8 menit saja. Tapi tentu saja, ini tantangan!

Yah, coba aja silang-sengkarut masalah animasi di negeri ini beres. Pasti lebih keren dari Upin-Ipin. Silang-sengkarutnya seperti apa, ya itu masalahnya: duit. Proyek animasi kan mahal, makanya stasiun-stasiun TV sini nggak pada mau beli. Pemerintah mana kepikiran, kalo Malaysia kan beli serial Upin-Ipin terus ngejual lagi ke mana-mana dengan harga murah. Dapet keuntungan, kebudayaan Malaysia pun lebih terangkat. Tapi entahlah, mungkin harus ditanyakan lagi ke orang-orang yang khatam soal animasi.

Anyway, pekerjaan baru ini lumayan menyegarkan. Dan kalau ada tawaran lagi, saya pasti mau menerima. Malah pengennya mah nulis script yang lebih panjang, misalnya sinetron (yah, kalo duitnya lumayan mah mau aja hahahahaaaaaa … kan cewek matrek!).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s