Pindah Lagi …

Sebenarnya males pindah-pindahan, hihiii …. Cuma, ternyata memang perlu.

Sebelumnya, kayanya saya nggak butuh satu blog yang agak seriusan, makanya nama blog ini pun pake ibukibuksompral hahahahaaaaa …. Tapi, sewaktu berniat menempuh satu tahap baru dalam kehidupan (jiyehhhh, gelo bahasanya), kok ternyata perlu juga blog yang agak serius, dengan nama yang agak serius juga (meskipun isinya belum tentu, hahaha).

Jadi, kepaksa pindah lagi. Blog ini nggak bakal dihapus, tapi sepertinya akan ditelantarkan :p. Tak perlu kasian, ntar isi blog ini bisa dicrossposting ke blog satunya hahahaaa …. Dan syukurlah baru ngisi segelintir tulisan di sini, jadi nggak kerasa berat-berat amat waktu mau pindah.

Ini dia si blog baru yang “agak” serius tea: https://marialubis.wordpress.com

Dadaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!

Advertisements

Pilih Jalan yang Mana?

Saya percaya, Tuhan sudah memberikan garis besar dalam kehidupan setiap manusia. Tujuannya sudah jelas harus ke mana. Tapi, saya juga percaya, ada banyak sekali pilihan jalan yang diberikan untuk menuju titik tujuan. Ada yang percaya bahwa jalan hidup itu mutlak ditentukan Tuhan, tapi kok saya kurang setuju. Karena, jika ada pilihan benar-salah dan saya memilih melakukan hal yang salah, berarti Tuhan berkehendak saya salah, dong?

Saya lebih percaya jika ada beberapa pilihan yang diserahkan kepada kita, untuk dipilih secara bebas. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika setelah memutuskan pilihan tertentu, ujung-ujungnya kita akan berakhir di tempat yang sama jika kita memutuskan pilihan lain.

Pusing ya? Analogi mudahnya menurut saya adalah buku Pilih Sendiri Petualanganmu. Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi berdasarkan pengambilan keputusan. Tapi, hanya ada satu ujung: akhir cerita. Kata TAMAT.

Mungkin satu pilihan akan membuat kita mengorbankan pilihan lain yang lebih menyenangkan dan tidak menyulitkan. Tapi, mungkin akan ada suatu kesenangan yang lebih besar setelahnya. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian itu lhooo. Atau seperti memilih jalan, ada jalan singkat tapi macet, ada jalan memutar tapi lancar.

Terserah kita mau memilih yang mana. Yang penting bertanggung jawab dengan pilihan itu, betul kaaan? 😀

DUA PEREMPUAN PAHLAWAN ANAK-ANAK

Menurut saya, penulis buku cerita anak adalah pahlawan bagi anak-anak. Mereka memengaruhi jiwa anak-anak sejak awal kehidupan, saat mulai bisa mencerna tulisan dengan kemampuan otak terbatas, melalui karya-karya yang menghanyutkan.

Di antara sekian banyak penulis buku anak, ada dua perempuan dahsyat yang karya-karyanya sangat memukau. Mereka adalah Astrid Lindgren dan Edith Unnerstad, dua perempuan Swedia yang menulis buku anak-anak.

ASTRID LINDGREN

My papa is a cannibal king; it certainly isn’t every child who has such a stylish papa,” Pippi used to say with satisfaction. And as soon as my papa has build himself a boat he will come and get me, and I’ll be a cannibal princess. Heigh-ho, won’t that be exciting?” (from Pippi Longstocking, 1945)

Astrid Lindgren lahir dengan nama Astrid Anna Emilia Ericsson pada 14 November 1907, di Peternakan Nas di pinggir kota kecil Vimmerby, Swedia. Sejak kecil, dia suka sekali membaca, terutama buku-buku dengan tokoh utama perempuan seperti Anne of Green Gables, sebuah karya klasik karya L. M. Montgomery. Astrid adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kedua orangtuanya, Samuel August—seorang peternak—dan Hanna Jonsson Ericsson, memberikan kebebasan kepadanya. Mereka juga mendorong Astrid dan saudara-saudaranya untuk mencintai dunia literatur dan menggunakan imajinasi mereka.

Selama dua tahun, sejak 1924 hingga 1926, Astrid bekerja sebagai reporter di surat kabar lokal, Wimmerby Tidning—setelah sebelumnya, tulisan pertama Astrid dipublikasikan di surat kabar itu pada 1921. Dia menikah dengan Sture Lindgren pada tahun 1931, sempat menjadi penyensor surat di agen rahasia Swedia, dan pada 1941 dia pindah ke Stockholm.

Buku pertama Astrid, Britt-Mari Opens Her Heart, ditulis pada 1944. Sayang buku ini tidak diterbitkan di Indonesia. Setelah itu, pada tahun 1945, dia menulis sebuah buku untuk hadiah ulang tahun Karin, anak perempuannya. Dan buku itu adalah 
 Pippi Longstocking alias Pippi Langstrump! Karin juga yang memberi nama Pippilotta Delicatessa Windowshade Mackrelmint Efraim’s Daughter Longstocking, yang di edisi bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Pippilotta Viktualia Gorden Tirai Permen Efraim Putri Langstrump. Buku ini mendapat penghargaan dari Penerbit RabĂ©n & Sjogren. Setelah itu, sejak 1946 hingga 1970 Astrid menjadi editor buku anak-anak di Penerbit RabĂ©n & Sjogren.

Buku ini adalah karya Astrid yang pertama kali saya baca. Buku-buku lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah buku Pippi berikutnya (Pippi Hendak Berlayar, Pippi di Negeri Taka-Tuka, Pippi Menggunduli Pohon Natal), Lotta, serial anak-anak Pertanian Bullerbyn, Madicken, Madicken dan Lisabet, serial Kalle Blomkvist, dan serial Emil dari Lönneberga. Setelah itu, berlanjut ke Ronya si Anak Penyamun, Mio My Son, Brothers Lionheart, dan yang terakhir diterjemahkan adalah Karlsson si Manusia Atap.

Saat bekerja sebagai editor buku anak, saya berkesempatan membaca karya-karya lain Astrid Lindgren yang berupa buku bergambar, seperti Mirabelle, SunnanĂ€ng (The Red Bird), Jag Vill OcksĂ„ Ha Ett Syskon (I Want a Brother or a Sister), AllrakĂ€raste Syster (Most Beloved Sister), Jag Vill OcksĂ„ GĂ„ Skolan (I Want to Go to School), Nein, ich will noch nicht ins Bett! (No, I do not want yet to bed!), NĂ€r Adam Engelbrekt blev tvĂ€rag (The Day Adam Got Mad), Nils Karlsson-Pyssling (ini kisah tentang liliput bernama Nils Karlsson-Pyssling atau Simon Small), Kajsa Kavat HjĂ€lper Mormor (dalam bahasa Jerman diterjemahkan menjadi Polly hilft der Großmutter, dalam bahasa Inggris Brenda Brave Helps Grandmother), I Skymningslandet (dalam bahasa Jerman jadi I Skumringslandet), dan Draken Mad De Roda Ɛgonen (dalam bahasa Jerman jadi Der Drache Mit Den Roten Augen atau the Dragon with the Red Eyes).

Banyak penghargaan yang telah diraih oleh Astrid Lindgren, seperti Lewis Carroll Shelf Award untuk Pippi Langstrump pada 1973, Hans Christian Andersen Award pada 1958, dan International Book Award dari UNESCO pada 1993. Penerbit Viking juga mendapatkan Mildred Batchelder Award untuk buku Ronya Anak Penyamun pada 1984. Astrid juga mendapat beberapa anugerah doktor kehormatan dari beberapa universitas. Dan tentu saja, karakter Pippi yang menjadi favorit dunia sudah difilmkan oleh Columbia Pictures, dan banyak program lokal Swedia yang mengadaptasi karya-karya lain Astrid. Selain buku anak-anak juga, dia menulis buku-buku remaja seperti Kati in America, Kati in Paris, dan buku dongeng dewasa seperti Pomperipossa in the World of Money.

Kehebatan Astrid Lindgren membuat dia dikenang dalam mikrosatelit Swedia yang bernama Astrid, yang diluncurkan pada 24 Januari 1995. Instrumen-instrumennya pun diberi nama PIPPI (Prelude in Planetary Particle Imaging), EMIL (Electron Measurements – In-situ and Lightweight), dan MIO (Miniature Imaging Optics). Astrid juga mengatakan, mungkin orang-orang harus memanggilnya Asteroid Lindgren. Dan pada ulang tahunnya yang ke-90, Astrid diangkat sebagai “the Swede of the Year”.

Pada usia 94 tahun, tahun 2002, Astrid mengembuskan napas terakhir. Pemerintah Swedia menggagas Astrid Lindgren Memorial Award, lembaga penghargaan untuk literatur anak dan remaja termahal di dunia.

 

EDITH UNNERSTAD

Mungkin di Indonesia nama Edith Unnerstad tidak seterkenal Astrid Lindgren, tapi karya-karya Edith begitu berkesan dan membekas di hati saya sampai sekarang. Bukunya yang diterbitkan di Indonesia (oleh Gramedia Pustaka Utama) hanya ada empat, yaitu serial keluarga Peep-Larsson yang berjudul: Tamasya Panci Ajaib (Pip-Larssons kastrullresa), Tamasya Laut (Nu Seglar Pip-Larsson), Si Bandel (Pysen Riders), dan O Mungil (Lilla O). Sebetulnya masih banyak buku-buku karyanya yang lain, seperti Farmorsresan, Mormorsresan (Tamasya ke Rumah Kakek dan Tamasya ke Rumah Nenek).

Edith lahir di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1900. Dia sangat menikmati tempat liburan masa kecilnya di rumah nenek, di Mariehamn, kota kecil di tepi Laut Åland. Ini karena ibu Edith, Ingeborg, sangat mencintai suasana kota kecil itu. Setiap Edith kecil tiba pada tengah malam, dengan perjalanan menumpang kapal uap, pertanyaan pertama yang dia ungkapkan selalu berbunyi, “Apakah kucingnya beranak?” dan jawabannya selalu iya!

Nenek Edith, Maria Karolina Boman, ditinggal sang suami—Daniel Robert Boman—yang tenggelam saat memancing di sekitar Kobbar Klint. Perempuan ini sangat mencintai keluarganya, khususnya cucu-cucunya. Nenek Edith tak pernah sekolah, dia belajar membaca dan menulis sendiri, tapi Edith berkomentar begini tentangnya: “Nenekku adalah kutu buku hebat! Dia membaca ketika mengupas kentang, merajut kaus kaki, dan bekerja di ladang.” Mungkin hal ini yang mendorong kesukaan Edith terhadap literatur.

Masa kecil Edith sangat menyenangkan, dengan kota kecil penuh sapi dan ayam, anak-anak kecil bertelanjang kaki, dan banyak tempat memancing. Bersama anak-anak lain, Edith sering mengunjungi pulau-pulau kecil untuk memetik blueberry dan arbei liar. Kadang-kadang dia juga berlayar.

Ingeborg, ibu Edith, kembali ke Laut Åland pada tahun 1921 dan mengelola sebuah cottage di Bukit Öhbergska. Sosok ibunya ini yang memberi inspirasi sosok Bibi Bella, pengusaha binatu dalam serial keluarga Peep-Larsson.

Buku-buku karya Edith tidak dikhususkan untuk anak perempuan atau anak laki-laki saja. Dia bersikap skeptis terhadap pengkhususan ini—dan lebih memilih untuk menggambarkan keluarga besar yang bisa berkumpul bersama dengan bahagia. Ketujuh anak keluarga Peep-Larsson adalah gambaran dia dan keenam saudaranya—jumlah yang membuat keluarga Edith sering kesulitan mencari tempat tinggal di kota besar seperti Stockholm.

Kecintaan Edith terhadap Laut Åland mendorongnya selalu menyelipkan lokasi ini dalam karya-karyanya, seperti dalam kisah Tamasya Laut, tempat Knut—anak kelima keluarga Larsson—pernah berkemah dengan teman-teman pandu-nya, tempat tinggal Bibi Bella (yang kemudian ditinggali juga oleh keluarga Peep-Larrson) di Norrköping, dan tempat tinggal nenek Pelle-Göran di SöderĂ„sen. Salah satu novel dewasanya, Boken om Alarik Barck juga bersetting di Mariehamn. Edith meninggal pada tahun 1982, dalam usia 82 tahun.
KARYA-KARYA MEREKA YANG SANGAT BERNILAI

Karya-karya Astrid dan Edith memiliki beberapa kesamaan—menampilkan kebahagiaan anak-anak yang polos, kenakalan-kenakalan wajar karena keingintahuan besar, hal-hal kecil yang menyenangkan, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan tentu saja—tidak memaksakan nilai dan menggurui.

Sebagian besar karya mereka memang berkisah tentang kehidupan anak-anak di tempat biasa, bukan alam fantasi, kecuali buku-buku Astrid Lindgren seperti Ronya, Brothers Lionheart, Mio My Son, dan Pippi Langstrump (meskipun Pippi masih berada di antara dunia nyata dan alam fantasi). Astrid dan Edith berhasil menuangkan kebahagiaan hidup di desa, pinggir kota, peternakan, dan alam Swedia yang indah—seperti kata Eva-Lotta dalam kisah Kalle Blomkvist si Detektif Ulung: Rasmus Diculik, “Penculikan biasanya terjadi pada musim gugur di kota-kota besar yang kelam seperti Chicago, bukan di Swedia yang padang rumput hijaunya terbentang luas, yang biru danaunya berkilauan, dan yang langit birunya cemerlang.” Atau kebahagiaan anak-anak Peep-Larsson ketika menemukan pulau kecil penuh arbei liar dan pulau kecil lain tempat pohon-pohon apel liar tumbuh, yang tidak berpenduduk, hanya ditinggali dua ekor ular jinak.

 

Kenakalan anak-anak pun ditampilkan dengan indah, seperti si Bandel alias Pysen yang nekad menyeberangi Laut BrĂ„viken (atau menurut istilah si Bandel “Blueviken”) yang membeku hanya untuk mengambil bebek-bebekannya di kapal Rudolfina. Atau saat Lotta kecil memutuskan untuk pindah rumah—karena kesal kepada kakak-kakaknya Jonas dan Mia Maria—ke loteng tetangganya.

Ternyata, mereka pun berhasil menampilkan bahwa imajinasi tak selalu harus berkisah tentang putri-putri cantik dan kerajaan indah. Dalam kehidupan sehari-hari pun, anak-anak bisa berimajinasi dengan luas. Lotta kecil menggantung-gantungkan kue dadarnya di ranting-ranting, lalu membayangkan dirinya sebagai anak kambing yang makan daun (tentu saja daunnya enak, karena sebetulnya kue dadar). Atau kisah anak-anak Bullerbyn yang menangkap hantu sungai pada tengah malam—dan mendapati Lasse, salah seorang anak Bullerbyn, yang menjadi hantu itu.

 

Tentu saja, seperti layaknya buku anak-anak, banyak sekali terkandung nilai-nilai kebaikan dalam buku mereka. Contohnya Pippi yang selalu menyediakan hadiah kecil di dalam rongga pohon untuk Thomas dan Annika; Lisa yang akhirnya berbaikan dengan Anna dan Britta setelah bermusuhan (dalam serial anak-anak Bullerbyn); atau kisah persahabatan anak-anak Peep-Larsson dengan seorang pelaut tua, Kalle, dan istrinya, Vendla. Tetapi, semua dituangkan begitu mengalir, tidak normatif, dan tidak menggurui seperti “Kamu tidak boleh begini, kamu harus begitu, ini tidak baik”. Menurut saya, anak-anak akan lebih mudah menerima konsep kebaikan ini karena langsung dicontohkan dalam perbuatan, bukan hanya sekadar nilai atau bahkan dogma.

Kebahagiaan dari hal-hal kecil dan sederhana pun banyak ditampilkan Astrid dan Edith, seperti betapa senangnya keluarga Peep-Larsson ketika menemukan sebuah kedai yang menjual es krim dalam petualangan mereka saat berlayar, kenikmatan makan biskuit hangat yang baru dipanggang bersama-sama keluarga pada tengah malam dalam si Bandel, atau Madicken yang sangat bahagia karena mendapat kartu-kartu indah ketika dia baru terjun bebas dari atap.

Kisah-kisah Astrid dan Edith juga banyak mengungkap kehangatan keluarga, seperti tiga keluarga kecil di Bullerbyn yang saling membantu saat panen, menjaga bayi, dan lain-lain; kehangatan keluarga Peep-Larsson dengan ketujuh anak, Bibi Bella, dan Nyonya Breemer sang pemilik tanah; keributan yang mulai muncul dalam keluarga Nyman saat anak pertama mereka, Jonas, cukup besar untuk bisa mengetuk-ngetuk boks bayinya; dan banyak lagi.

Yang agak berbeda mungkin kisah-kisah imajinatif Astrid Lindgren. Dalam kisah-kisah ini, dia lebih “suram”, lebih kontemplatif, dan lebih menampilkan sisi-sisi gelap kehidupannya. Seperti dalam Ronya, Astrid menceritakan pertentangan seorang anak perempuan perampok terkenal dengan ayahnya, Matt. Dalam Brothers Lionheart, Astrid mengungkapkan konsep kematian dan kehidupan setelah kematian—suatu konsep yang cukup berat untuk dipahami anak-anak. Kisah Mio My Son juga, yang bercerita tentang Mio, seorang anak yatim piatu yang ternyata adalah putra mahkota kerajaan fantasi.

Dua perempuan pahlawan anak-anak ini memperkaya dunia dengan karya-karyanya. Yang bisa dicontoh adalah penyampaian nilai-nilai kebaikan tanpa harus normatif dan menggurui, menyenangkan untuk dibaca, dan membekas di hati pembacanya sampai dewasa.

ILON WIKLAND, BOCAH BADUNG YANG TERPERANGKAP DALAM TUBUH ORANG TUA

Buku anak tanpa ilustrasi, rasanya seperti nasi tanpa lauk-pauk. Masih mengenyangkan, tapi tidak menggiurkan dan sama sekali tidak menarik.

Adabeberapa ilustrator buku anak yang tampaknya sudah menjadi “belahan jiwa” sang penulis. Contohnya, Roald Dahl dan Quentin Blake. Begitu melihat gambar khas karya Quentin Blake, kita akan segera ingat buku-buku Roald Dahl. Atau seperti Lemony Snicket dan Brett Helquist. Gaya ilustrasi Brett Helquist yang cenderung muram memang sangat cocok dengan kisah tiga bersaudara Baudelaire yang selalu sial dalam serial The Unfortunate Events, sehingga setiap kali melihat karya Brett Helquist, pasti serial tulisan Lemony Snicket itu yang pertama kali teringat.

Sebagai penggemar berat Astrid Lindgren, sejak kecil saya sudah mengamati ilustrasinya. Bahkan kadang-kadang saya meniru gambar yang ada di buku-buku Astrid Lindgren. Hampir semua buku Astrid Lindgren yang diterbitkan di Indonesia dihiasi oleh karya seorang ilustrator bernama Ilon Wikland. Dan menurut saya, Ilon Wikland ini adalah “belahan jiwa” Astrid Lindgren.

 

Satu lagi pengarang buku anak favorit saya, Edith Unnerstad, juga menggunakan ilustrasi karya Ilon Wikland dalam serial tentang keluarga Peep-Larsson—Tamasya Laut, Tamasya Panci Ajaib, Si Bandel, dan O Mungil.

Ilon Wikland lahir di Tartu, Estonia, tanggal 5 Februari 1930. Dia mengungsi ke Swedia pada usia 14 tahun, sempat belajar di Sekolah Melukis “Signe Barths”, dan pada tahun 1954 dia mendapatkan pekerjaan untuk membuat ilustrasi buku Astrid Lindgren, Mio My Son. Sejak saat itu, Ilon mengerjakan ilustrasi hampir semua buku Astrid Lindgren, hampir selama empat puluh tahun. Hingga saat ini, dia sudah mengerjakan ilustrasi lebih dari 100 buku anak-anak.

Karya-karya Ilon memiliki satu ciri khas—detail. Mulai dari karakter tokoh hingga penggambaran suatu lingkungan tempat kejadian dalam cerita terjadi. Banyak orang menjadi inspirasi bagi tokoh-tokohnya, seperti seorang lelaki tua gemuk yang dia temukan di Paris menjadi model untuk tokoh Karlsson si Manusia Atap; perampok di buku Ronya dia temukan di antrean sebuah toko minuman keras; bahkan anak-anaknya sendiri menjadi inspirasi dalam penggambaran Anak-Anak Bullerbyn.

Ilon juga menghidupkan buku anak-anak dengan dua hal sekaligus—fantasi sekaligus realita. Karakter-karakter bermunculan dengan ciri khas masing-masing, warna-warna yang dia gunakan begitu memukau—biru dan putih yang menggambarkan musim dingin, merah muda dan hijau yang menggambarkan musim panas. Meskipun lingkungan Indonesia berbeda dengan Eropa, tapi gambar-gambar rumah, ruangan, dan pemandangan alam terasa akrab dan hangat.

Gambar-gambarnya yang tampak naif, tak berdosa, adalah gambaran seorang Ilon Wikland yang selalu memiliki jiwa kanak-kanak—meskipun sekarang dia sudah termasuk lansia. Mungkin, rahasia Ilon adalah karena dia memiliki banyak anak, atau mungkin dia hanya menolak untuk tumbuh dewasa. Ilon juga tidak pernah menyuruh modelnya diam untuk digambar, dia mengamati gerak-gerik anak-anak secara diam-diam.

Ilon juga menggambar masa kecilnya dalam sebuah buku bergambar berjudul “Den lĂ„nga, lĂ„nga resan” atau “The Long, Long Journey” (1996), saat Soviet menjajah Estonia dan bagaimana dia mengungsi ke Swedia dengan menumpang kapal nelayan.

Karya-karya Ilon menunjukkan bahwa ilustrasi buku anak dibuat dengan sungguh-sungguh dan bermutu, yang dapat menggambarkan banyak sekali cerita di dalamnya.

Beberapa karya Ilon Wikland, seperti yang saya tampilkan di sini, bersumber dari http://www.ilonart.ee/.

“Pindah” Lagi

Sudah berapa kali saya “pindah” blog. Pertama di blog Friendster, kedua di Multiply, ketiga (kadang-kadang) di notes Facebook, keempat ke WordPress, di alamat ibukibuksompral dot wordpress dot com.

Tapi, saya putuskan untuk “pindah” lagi ke blog baru ini.

Alasannya cuma satu: ternyata perlu sebuah blog yang lebih fleksibel daripada blog-blog saya sebelumnya, yang isinya terlalu banyak heureuy, hehe …. Ternyata, saya butuh blog yang bisa menunjang pekerjaan atau segala hal serius. Dan blog-blog sebelumnya saya anggap nggak terlalu cocok. Tapi, bukan berarti blog ini isinya akan selalu kaku dan serius. Oh, mengerikan!

Sama seperti di blog wordpress sebelumnya, selain tulisan-tulisan baru, mungkin ada beberapa tulisan lama yang saya muat ulang atau tulis ulang.

Salam!