Duniawi Tapi Manusiawi

Kadang-kadang capek dengan hal-hal “duniawi yang nggak manusiawi”. Kalau sekali-sekali boleh lah, selingan. Tapi kalau pembahasannya ituuu terus, lama-lama muak juga.

Manusia nggak selalu harus dipandang dari materi, jabatan, gelar, mobilnya apa, pernah melancong ke mana aja, punya gadget apa aja, dkk. Kata alm. si Papap, “moal dibawa paeh.”

Makanya, nyaman rasanya kalau berkumpul dengan teman-teman yang nggak begitu. Obrolannya tetap duniawi sih, tapi manusiawi, hihi ….

Bicara dengan mereka selalu menghasilkan sesuatu untuk dipikirkan, meskipun nggak selalu dilaksanakan :p

Haus

Makin banyak belajar, makin kita merasa tidak tahu, makin merasa kecil, makin merasa ingin meneguk ilmu yang belum kita ketahui sebanyak-banyaknya, sampai rasa haus terpuaskan.

Yah, meskipun bagi saya sendiri, haus ilmunya khusus ilmu yang saya sukai saja, hihi ….

Tapi, jadi bertanya-tanya sendiri. Jangan-jangan ini yang namanya “passion“?

BONEKA

Sejak kecil saya nggak terlalu suka boneka. Kalau pergi ke toko mainan, nggak pernah merengek minta boneka. Kalaupun ada beberapa, itu pemberian. Cuma ada satu yang masih bersisa sampai sekarang, boneka kelinci bernama Dodong (dari mana ya nama itu? Hahaha), pemberian Tante Dian teman si Papap waktu saya baru masuk TK. Saya lebih suka boneka kertas bongkar pasang, itu pun sebetulnya lebih suka membangun rumahnya.

Eh, pas punya anak, ternyata banyak yang ngasih boneka binatang. Dan ternyata, Yaya suka boneka, hahaha …. Mungkin karena dia sejak bayi suka binatang. Tidur pun sering ditemani boneka-bonekanya.

image

itu si bekson dan si dodong

Saya sih nggak keberatan Yaya main boneka, sama seperti kalau dia main masak-masakan. Daripada main tembak-tembakan. Anak umur tiga tahun kayanya masih terlalu kecil untuk permainan kekerasan macam begitu.

Biasanya Yaya membuat boneka-bonekanya berdialog. Saya sering nguping, lucuuu! Kadang-kadang suka nggak tahan pengen ketawa. Untungnya, bukannya malu ngerasa diketawain, Yaya malah senang. Makin heboh deh sandiwara bonekanya.

Contoh dialognya begini: “Barney, kamu sudah makan belum?” “Belum, Mbek. Kamu mau makan apa? Makan es krim yuk!” atau “Endin, kok kamu tidur terus? Bangun dong!”

Soal nama boneka juga menggelikan. Ada beberapa yang memang sudah bernama seperti Dodong, Barney, Teddy, atau Ipin (boneka Ipin tanpa Upin yang Yaya telanjangin supaya “bujuynya” keliatan). Ada yang dia karang sendiri, salah satunya si ENDIN, boneka beruang. Padahal si Bapak namanya DINDIN, hahahaaa ….

Selain menghibur dirinya sendiri (dan kami), main boneka terbukti melatih Yaya berbahasa (contohnya sandiwara boneka itu) dan berimajinasi. Juga melatih untuk berempati dan menyayangi orang (dan makhluk) lain.

Kapan-kapan kita nguping sandiwara boneka Yaya, yuuuk!

Empat Tahun Plus Plus Plus

Satu plus mewakili empat tahun juga. Jadi, empat tahun menikah, ditambah tiga kali plus masa pacaran hahaha….

Waktu selama itu nggak menjamin kita mengenal pasangan dengan sangat baik. Masih banyak hal mengejutkan yang tiba-tiba muncul sekarang. Banyak kebiasaan yang baru ketahuan sekarang.

Empat tahun ini memang nggak selalu berjalan mulus. Tapi sejauh ini, setiap jalan “bergakal-gakal” (seperti istilah Yaya) bertujuan ke arah yang baik.

Mungkin karena kelamaan pacaran, hubungan ini nggak lagi romantis (tapi kayanya dari dulu juga nggak terlalu sih, haha). Nggak ada lagi debar tak keruan seperti masa pedekate. Tapi, nggak kebayang kalau salah satu pergi dari sisi yang lain. Karena terbiasa, pasti akan kerasa ada yang nggak lengkap. Seperti istilah si Nata, “serasa ada yang terenggut dari rongga dada”.

Setelah empat tahun ini, saya mendapat kesimpulan bahwa pernikahan bukan lagi sekadar cinta dan kata-kata manis, tapi juga usaha keras, kerelaan, kepercayaan, dan tanggung jawab. Apalagi setelah ada Yaya.

Semoga masih ada tahun kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya (meskipun sepertinya mustahil mencapai ulang tahun pernikahan emas, mengingat usia kami saat menikah hihi..)

Amiin.

image

(Dan baru sekarang saya sadar, jarang banget foto berdua dengan Pak Dindin apalagi foto keluarga dengan si Ujang, hihiii….)

Satu Pintu Menutup, Banyak Jendela Terbuka

Kali ini gagal lagi, seperti sekian belas tahun sebelumnya, hahaha …. Bedanya, sekian belas tahun lalu saya betek berat. Biasalah, namanya juga anak muda. Lagian, kesempatan untuk mencoba lagi pun terbatas. Sekarang, kesempatan masih banyak, mau mencoba sepuluh atau dua puluh tahun lagi pun masih bisa.

Kecewa sih pasti. Tapi, setelah dipikir-pikir, memang salah saya juga. Persiapannya tidak matang, di sela pekerjaan dan mengurus anak. Berarti, memang saya belum mampu membagi pikiran ke situ.

Selain itu, setelah dipikir lagi, ternyata … saya berdoa meminta hal lain. Sepertinya, doa lain itu yang duluan bakal dikabulkan, setidaknya jalan ke sana sudah terbuka, meskipun harus bekerja seperti romusha, haha!

Seperti yang banyak saya dengar, satu pintu menutup, masih banyak pintu lain terbuka. Masih ada jendela juga. Masih ada ventilasi. Masih bisa ngebongkar atap juga, hihihi ….

Jadi, nggak ada waktu untuk berdiam dan bersedih, markitrod, siapkan handuk badjuri untuk menyeka keringaaat! 😀

Dag Dig Dug Pret

Dag dig dug menunggu hasil.

Enam belas tahun lalu (waaa ternyata udah selama ituuu!), waktu hasilnya mengecewakan, hati saya hancur dan sempat “pundung”, ngambek nggak mau berkegiatan yg berkaitan dengan hal itu. Dua kali kecewa pula, sampai akhirnya terdampar di dunia lain yang susah dijalani karena nggak pakai hati, tapi akhirnya lolos juga dari sana.

Sekarang, kalau hasilnya mengecewakan lagi, insya Allah saya siap. Mungkin memang nggak jodoh ke sana. Lagian banyak sekali proyek lain yang bisa dikerjakan. Terkait dengan postingan sebelumnya, ini pilihan saya, tapi kekuatan yang jauh lebih dahsyat yang menentukan jalan saya selanjutnya.

Mungkin ini yang namanya pasrah (kaya judul lagu aja hahaha). Toh yang penting saya sudah berusaha. Betul kaaan? 😀