Mudik

Dulu saya pernah iri melihat orang-orang mudik. Dan malu karena seumur hidup, saya belum pernah memijakkan kaki di Kotanopan, kampung halaman si Papap. Ke kampung Emak di Serang cuma sekali, karena keluarga besarnya pun sudah menetap di Jakarta dan Bandung.

Saya pernah bertanya sama si Papap, kenapa kami nggak pernah mudik? Jawabannya ternyata panjang. Menyangkut sejarah pertentangan keluarga. Singkatnya, kalau kami mudik, sudah nggak ada lagi tanah atau rumah untuk dituju.

Tapi, setelah dipikirkan, daripada maksa macet-macetan dan berdesak-desakan, mengeluarkan biaya ekstra yang pasti membengkak, saya bersyukur nggak perlu mudik.

Karena, kampung halaman adalah tempat hatimu berada. Hati saya ada di sini, di lembur yang tetap memesona meskipun cepat membusuk, Bandung.

“Supaya Tumbuh Besar, Buuuk!”

image

Tadi pagi saya hanya berdua dengan Yaya di rumah. Si Emak piket di sekolah, si Bapak ke Cihanjuang, dan Ceu Yanti (ART yg nggak nginep) lagi ada urusan ke Pak RT.

Waktu saya di kamar mandi, terdengar teriakan Yaya. “Buuk, kenapa tvnya jadi begini?” Saya balas teriak dari kamar mandi, “Diapain sama Yaya?” karena curiga, pasti dia melakukan sesuatu.

“Disiram Buuuk!” begitu jawabannya.

DEG.

Saya langsung keluar kamar mandi dan mematikan saklar yang tersambung ke tv.

Yah, seperti biasanya, saya marah. Saya jelaskan kenapa tv nggak boleh kena air, nanti Yaya kesetrum, dll (dan seperti biasanya, banyak pertanyaan selaan seperti “Kesetrum itu apa, Buuuk?” dll)

Biasanya, kalau dia nakal, hukumannya dikurung. Karena dia paling takut. Dikurung di kamar sih, sebentar, lagian di kamar kan sebetulnya banyak yang bisa dioprek. Tapi, tadi dia memohon dengan suara manis, “Mohon Buk, mohoooon!” supaya nggak dikurung. Jadi, saya suruh duduk nggak bergerak di sofa. Ceritanya time out.

Setelah dia nggak ribut, saya tanya, kenapa tvnya disiram? Eh, jawabannya, “Supaya tumbuh besar, Buuuk, seperti tvnya Aki yang di belakang.”

Oh. Saya mulai geli. Di dekat kamar setrika memang ada tv jadul ukuran besar yang sudah rusak, tinggal luarnya.

Saya baru ingat, Yaya senang sekali menonton Mr. Bloom, acara tentang berkebun di cbeebies. Pasti dari sana dia dapat pikiran ini.

Tapi nggak kerasa, air mata saya menetes karena reuwas kareureuhnakeun (apa ya bahasa Indonesianya? Haha). Campur marah, kesal, tapi geli juga.

Yayaaa, Yaya. Lama-lama betulan deh si Ibuk nulis buku catatan seperti ibunya Emil dari Lonneberga. 😐