Mudik

Dulu saya pernah iri melihat orang-orang mudik. Dan malu karena seumur hidup, saya belum pernah memijakkan kaki di Kotanopan, kampung halaman si Papap. Ke kampung Emak di Serang cuma sekali, karena keluarga besarnya pun sudah menetap di Jakarta dan Bandung.

Saya pernah bertanya sama si Papap, kenapa kami nggak pernah mudik? Jawabannya ternyata panjang. Menyangkut sejarah pertentangan keluarga. Singkatnya, kalau kami mudik, sudah nggak ada lagi tanah atau rumah untuk dituju.

Tapi, setelah dipikirkan, daripada maksa macet-macetan dan berdesak-desakan, mengeluarkan biaya ekstra yang pasti membengkak, saya bersyukur nggak perlu mudik.

Karena, kampung halaman adalah tempat hatimu berada. Hati saya ada di sini, di lembur yang tetap memesona meskipun cepat membusuk, Bandung.

Advertisements

4 thoughts on “Mudik

  1. Heu bener kok ums. Kadang-kadang aku berpikir bahwa hatiku aslinya tak berada di Bukittinggi. Aku mudik karena di sana ada keluarga saja, kalau keluarga pindah ke Jakarta ya aku mudik ke Jakarta. Soal apakah aku suka Bukittinggi atau nggak, apakah aku bahagia di sana atau nggak, itu perkara lain yg butuh banyak parameter lain :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s