Ibuk-Ibuk Nonton Koil

Saya mulai kenal Koil kira-kira sejak lulus SMA. Sebagai alumnus yang punya banyak teman preman (khususnya adik kelas), seringkali saya bisa masuk ke bazaar SMAN 2 Bandung dengan gretongan, lewat jalan belakang. Entah kenapa, anak-anak smandu saat itu kayanya kok sering banget nanggap Koil. Jadi saya sering nonton.

Lama-lama, karena sering nonton, jadi senang denger lagunya. Meskipun nggak koleksi albumnya (karena band ini sering bagi-bagi lagu sendiri, saya punya lumayan banyak lagunya, meskipun nggak sampai hafal semua liriknya).

Kenapa saya jadi suka band geje ini? Karena kontradiktif. Lirik-liriknya “dalam”, padahal berbahasa Indonesia (banyak band yang nggak berbahasa Indonesia karena katanya lebih sulit untuk berekspresi. Tapi kok alasan itu nggak bisa saya pahami ya, hehe), coba cek aja ke blog ini. Tapi, coba intip twitter-nya para personel band ini. Lalieur! Tapi, twit-twit geje mereka membuat para personel band itu terasa dekat sama para fansnya. Drummernya, Leon, punya rumah makan R.M. Legoh di Sultan Agung dan Cibeunying, sekaligus jadi koki. Pagi-pagi belanja sayur ke pasar, hahahaaa …. Makanya saya bilang kontradiktif.

Ada salah satu lagu Koil yang jadi “soundtrack” pas saya hamil Yaya, Lagu Hujan. Soalnya, karena bolak-balik naik motor (dianter-jemput si Paklum, pensiun sementara jadi “wanita Jawa”, haha), saya sering kehujanan. Makanya, tadinya saya usul nama “Hujan” untuk si Yaya, tapi diveto bapaknya, hahahaaa …. Terlalu lugas, katanya.

Karena tahu saya suka Koil, si Paklum sering menghadiahi saya kaus band ini. Biasanya sih dia dapat gretongan dari temannya yang pengusaha kaus. Satu lagi kaus Koil lama, saya dapat dari si Abang karena di dia sempit, hihihiiii …. Jadi, total saya punya lima kaus tangan pendek dan dua kaus tangan panjang.

Akhirnya, dari yang tadinya gretongan, saya selalu berusaha nonton konser Koil. Sayang waktu itu saya nggak nonton konser tunggal mereka di Sabuga. Baru pas mereka konser Recital Akustik (Harusnya Resital Akustik atau Recital Accoustic hahahaha ….) di Eldorado 20 Oktober kemarin, saya berhasil nonton bersama Paklum. Sebelumnya, supaya si Emak rela dititipin si Yaya, saya bantuin nulisin rapor murid-murid si Emak, hahahaaaa! Nontonnya agak di depan dong. Padahal sudah dicolek-colek supaya pindah ke belakang, hihihiiiii …. Tapi, ternyata saya ketemu beberapa teman yang sudah ibuk-ibuk juga (Jadi bukan saya sendiri, hahaha!).

Image

Donnijantoro (Gitar), Verdijantoro/Otong (Vokal), Leon Legoh (Drum), Adam Vladvamp (Bass dll)

Sejak awal sampai akhir konser, merindiiiiing …. Mungkin karena suasana dan tata panggung. Juga karena sepanjang konser, para penonton ikut nyanyi. Jadi meskipun Otong si vokalis sedang sakit tenggorokan dan baru dua hari sebelumnya bisa bersuara, nggak terlalu banyak bedanya. Main musiknya juga rapi. Dan setiap jeda, Otong selalu … ngelawak. Coba lihat foto di bawah ini. Rocker gering!

Image

Semoga kalau ada konser organ tunggal boysband geje ini yang berikut, saya bisa nonton lagi! 😀

Tengkiu buat CONI atas foto-fotonya.

Sahabat-Sahabat Yaya

Saat ini sahabat Yaya ada lima orang.

Yang pertama Alika, teman sekelas Yaya di PAUD. Karena ibunya Alika guru di TK, jadi Alika sering lama di sekolah dan main dengan Yaya. Pura-pura jadi ibu dan bapak, pura-pura nonton bioskop, main “tepak” umpet, mobil-mobilan, boneka, dll.

image

Yang kedua adalah Ibu Jamu. Ceu Yanti, ART si Emak, langganan jamu tiap pagi. Kadang-kadang si Ibuk ikut beli. Jadi, setiap hari, jam 8, Yaya lari keluar dan … selalu duduk di pangkuan Ibu Jamu. Padahal sama orang lain yang belum dekat mana mauuu!

Sahabat Yaya berikutnya adalah Oom Djie Seng, bapak-bapak penjual roti merk Djie Seng yang keliling naik motor. Biasanya dua hari sekali Yaya dan Ibuk nunggu Oom Djie Seng lewat depan rumah sekitar jam 7 pagi, dan kalau wadah roti di belakang motor si Oom udah keliatan, Yaya teriak kencang banget: “DJIE SENG!”

Berikutnya Oom Tahu. Tahunya enak, pabriknya dekat (di Cibogo), jadi tiap hari pasti si Oom Tahu mengantar tahu segar dengan motor juga. Sebagai penggemar berat tahu, kalau sudah terdengar teriakan “Tahu!” dari gang di sebelah rumah, Yaya ikut teriak juga “TAHUO!” dan sibuk pengen keluar lewat samping.

Sahabat Yaya yang kelima adalah Oom Ketut, teman kuliah Ibuk. Pokoknya, di antara semua teman Ibuk, Oom Ketut paling istimewa. Tiap ketemu pasti nempel terus. Entah kenapa, mungkin karena merasa sesama botak, hahahaaa…. Dan tiap ketemu, pasti kepala Oom Ketut dielus-elus!

image

Sayang baru ada foto Yaya bersama Alika dan Oom Ketut. Mudah-mudahan Ibuk ingat, kapan-kapan motret Yaya dengan sahabat-sahabatnya yang lain. 😀

Mungkin

Mungkin di kehidupan lampau saya adalah seorang gadis gypsi yang mengembara di padang-padang luas.

Mungkin saya seorang lelaki penyuka sesama jenis.

Mungkin saya seorang perempuan perompak, berlayar dengan kapal bajak laut ke seluruh penjuru samudra.

Mungkin.