Berbagi Peran

Heraaaan sama orang-orang yang suka saling menyalahkan.

Misalnya gini: ada yang sedang gencar membela nasib binatang x karena saat ini banyak dibantai. Lalu ada yang protes dan nyinyir, untuk apa binatang diurus? Masih banyak manusia yang perlu diurus.

Atau orang yang gencar membela kemanusiaan di daerah x. Selalu ada yang protes, daerah lain nggak diperhatikan. Malah dianggap menghasut atau memperkeruh suasana.

Dan banyak lagi contohnya. Lagi. Lagi. Lagi.

Alasan orang-orang yang menyerang juga biasanya dangkal. Hanya karena beda ideologi. Atau hanya karena kebencian pribadi/golongan.

Padahal biarlah, toh sama-sama memperjuangkan kebaikan. Kalau nggak bisa mendukung ya sudah, nggak perlu, konsentrasi saja sama urusan masing-masing, tapi nggak perlu menganggap diri paling benar.

Biar saja kalau ada yang berniat membela satu hal, sementara kita membela hal lain. Selama masih dalam kebaikan.

Itu yang namanya berbagi peran.

Maddah

Tahun 2012 memang tahun saya belajar banyak hal baru. Mulai dari coba-coba nulis script film animasi, belajar cat air, menerjemahkan genre baru, dan yang ini.

Awalnya, suatu hari saya di-SMS Boit sang pemilik Omuniuum. Akhirnya kami whatsapp-an. Ternyata, Boit menawari saya menyunting buku kedua Risa Saraswati, yang berjudul Maddah. Reaksi saya: degdegan. Pertama, ini Risa Saraswati, penyanyi indie yang saya sukai. Kedua, baru pertama kali saya menyunting buku lokal. Yang ketiga, saya tahu, seperti buku pertama Risa yang judulnya Danur, isinya menceritakan sahabat-sahabat Risa dari dunia lain. Wew. Sampai-sampai Boit bertanya, apakah saya takut? Saya jawab, saya sih lempeng jaya, alhamdulillah nggak sensitif sama hal-hal demikian. Tapi tetap males kalau kepaksa ketemu yang begituan, hihiiiii ….

Setelah ngobrol dengan Boit dan akhirnya dengan Risa sendiri, ternyata buku ini diterbitkan secara indie (nggak seperti Danur yang diterbitkan oleh Bukune). Dan saya hanya akan menukar, memangkas, memperbaiki, dan sedikit menambahi struktur kalimat, hanya untuk memoles naskah supaya lebih enak dibaca. Sama seperti Danur, naskah ini pun adalah kumpulan tulisan Risa di blognya, bukan novel. Hanya saja, ada satu benang merah sehingga tetap ada alur cerita. Jadi, memang nggak perlu terlalu banyak merombak isi buku.

Nggak ada masalah saat saya mengerjakan buku ini. Kelebihan Risa adalah beberapa pemilihan diksi yang belum terlalu kita kenal, terutama untuk judul-judul bab. Ini karena dia biasa menulis lirik lagu. Seperti danur, di KBBI: da·nur n air yg keluar dr bangkai (mayat) yg sudah membusuk. Judul-judul babnya juga puitis. Risa juga penutur kisah yang baik, tinggal  kemampuannya menulis dalam bahasa Indonesia saja (seperti EYD, kata baku, huruf kapital dll, pemenggalan kalimat, yang teknis-teknis lah) yang perlu dipoles.

Sebelum mulai bekerja, saya membaca dulu buku pertama, Danur. Seperti buku referensi pada umumnya, saya harus bolak-balik mengacu ke buku pertama, supaya tetap bisa “tune in” dengan cerita. Padahal, awalnya saya nggak berminat baca, karena bukan termasuk genre yang saya sukai. Tapi, setelah membaca Danur dan naskah mentah, saya kok malah terharu. Waktu diskusi dengan Boit via whatsapp pun, saya bilang, ini mah kisah cinta, hanya tokoh-tokohnya saja yang “berbeda”. Cinta yang umum: cinta kepada orangtua, sahabat, teman, dan sesama makhluk Tuhan.

Hanya ada satu kejadian mendebarkan waktu pengerjaan buku ini. Waktu mengerjakan bab tentang Ivanna (supaya nggak spoiler, beli dan baca aja bukunya ya, hihiiii), kok saya nggak enak hati. Nggak enak rasanya kerja sampai tengah malam. Akhirnya, saya selalu kerja pagi sampai sore pas bagian ini. Sampai-sampai saya curhat sama Paklum dan si Emak, kok saya nggak enak hati terus ya. Padahal bagian-bagian lain sih biasa aja. Si Emak sampai berkomentar, “Biasanya Adek kan lempeng sama hal-hal begituan?” Ya entah, nggak bisa dijelaskan.

Eh, tau-tau, suatu malam, Risa SMS saya. Minta beberapa bagian di bab tentang Ivanna itu disensor. Kata Risa, banyak pembaca bukunya yang masih SD (Ya, beneran!), dan bagian itu (tentang kekejaman para serdadu Nippon kepada seorang tokoh di bab itu) terlalu vulgar. Oke, saya bilang. Nanti setelah saya pangkas, saya kirim lagi supaya Risa baca. Saya nggak cerita soal nggak enak hati saya itu. Mungkin itu hanya perasaan Dik Maria saja, hihiiii …. Tapi, ternyata Risa SMS lagi, sang tokoh yang diceritakan sedang menjerit-jerit di telinganya, karena teringat pengalaman buruk oleh orang-orang Nippon itu dan nggak suka. Hah? Jangan-jangan, waktu saya bekerja juga … ah, tapi ya sudahlah, syukur saya cuma nggak enak hati doang. Setelah itu, nggak ada lagi perasaan aneh sepanjang sisa pekerjaan.

Jadi, buku ini bagus nggak? Kalau tanya sama saya, ya saya bilang bagus karena saya juga ikut andil, hahahaaaaa! Tapi, coba aja baca sendiri. Tentukan sendiri, kembali ke selera masing-masing ya. Tapi, buku ini memang ditujukan dengan mayoritas target pasar tertentu: para penggemar Risa yang kebanyakan masih remaja, atau dewasa muda. Jangan berharap ada kalimat-kalimat sastrawi seperti misalnya buku-buku Ayu Utami. Dan menurut saya, ilustrasi cover dan bagian dalam juga mendukung isi buku. Kelam dan absurd. Selain baca buku ini, coba dengar lagu-lagunya Risa di dua albumnya: Story of Peter dan Mirror (yang baru kemarin launching, bersamaan dengan buku ini dan konser Nishkala Sarasvati). Kebanyakan lagu Risa juga bercerita tentang para tokoh dalam dua buku ini.

Coba ceki-ceki Story of Peter. Tapi, favorit saya di album Story of Peter mah Oh I Never Know, duet sama Tulus. Tapi harus sama Tulus, hihihiiii … (kemaren di konser duetnya sama Mario Ginanjar, kok kaya kurang pas ya :D). Beda sama lagu-lagu arteeyyss Indonesia masa kini kan?

Terakhir, sama seperti setelah membaca buku Danur, setelah selesai mengerjakan Maddah, ini hikmah yang bisa saya ambil: jangan sia-siakan orang-orang yang kita sayangi, selama kita atau mereka masih bernapas. Juga, jangan lupa doakan orang-orang yang kita sayangi, ikhlaskan, jika mereka sudah duluan “pulang”.