Ikan Kecil Bermulut Besar

Sebetulnya saya nggak mau sering-sering nulis beginian. 😦

Ini tentang si Tama. Pertama kali saya mengenalnya waktu dia kelas 1 SMA, tahun 1999. Baru kelas 1 SMA tapi tampangnya tua hihii… Malah kaya lebih tua dari kakaknya.

Kalau saya gengsi ogah ikut pendidikan lanjutan di GPA (karena udah kuliah semester 6), mungkin saya nggak akan mengenalnya dengan baik. Tapi ya memang begitu jalannya, saya masuk kelompok anak-anak seangkatannya saat program pengembaraan ke Gunung Halimun untuk jadi anggota penuh GPA.

Di antara teman-teman seangkatannya, dia paling kuat dan mauan. Bahkan sampai bikin laporan pun, meskipun nggak ngerti, tetep mauan bantu. Tadinya, terus terang saya frustrasi karena ada gap usia, saya mikir ke mana, dia dan teman-teman lain mikir ke mana. Maklum masih pada SMA.

Satu saat yang membuat saya lebih mengenalnya adalah pas hari kedua pendakian. Dari ROP, saya kebagian duluan sama Tama, sementara yang lain ngambil logistik ke bawah. Eh, anak-anak kok lamaaa banget. Akhirnya kami memutuskan nunggu aja di satu puncakan kecil. Dan mulai curhat, hahahaaa…

Yang lebih banyak curhat sih dia. Dan bukan tentang asmara, tapi banyakan tentang kakak sulungnya, Mbak Ima, katanya dimarahin melulu hahahaaa …. Sampe waktu nandain tempat di peta, kami namain itu puncak curhat. 😀

Setelah itu ya jadinya kami sering berkegiatan bersama. Jadi dewan pengurus, panitia ini-itu. Main bareng, nangkring bareng.

Tiga belas tahun mengenal Tama, kayanya saya yang lebih banyak bikin dia repot. Bikin dia panik juga, salah satunya karena saya nginjek kopling dulu baru rem (ah, ekspresi paniknya priceless. Soalnya dia biasa jadi sopir), atau lempeng nggak tengok-tengok saat naik motor terus belok.

Saya juga agak merasa bersalah karena ngegosokin dia biar jadi ketua Dewan Pengurus (itu “sekolah” yang lebih berat daripada sekolah biasa ya Tam :p). Soalnya ngurus GPA itu rieut pisan. Makanya pas sertijab saya bekelin dia kompresan buat bayi, karena bakal sering panas kepala hehe ….

Berapa kali juga saya bikin dia repot karena masalah pribadi saya. Tapi dia mah baik. Baik banget. Sampai kadang-kadang saya marah sama diri sendiri, kenapa harus bikin dia terlibat kerepotan.

Tapi yah, Tama memang gitu. Jarang sekali berpikiran buruk sama orang. Bawaannya hepi terus, dan hebatnya menular. Wajahnya bodor juga sih. Sering diledek karena bibirnya berlebihan. Pokoknya apa-apa tentang bibir, pasti ingat si Tama.

Dia juga yang bawa cerita ikan kecil bermulut besar. Susah cerita cuma lewat tulisan doang mah, karena harus dengan ekspresi, suara, dan nada bicara. Tapi pokoknya, karena dia yang cerita, kisahnya jadi bodor (berhubungan sama bibir lagi).

Tapi, dia kadang-kadang mengejutkan di sela kepolosannya. Waktu saya gagal sidang dan nggak jadi wisuda Oktober, dia ngehibur, “May, kan masih bisa becanda ‘Neneng ITB’ lebih lama.” Itu heureuyan lokal saat dia ngegodain anak-anak SMA, bilang “Neng, Neng, Aa Unpad.” Suatu kali saya yang bales ledekin, “A, A, Neneng ITB, nuju TA deuih.” Dan dia betek, hahahaaa ….

Satu lagi yang saya ingat sampai sekarang, waktu saya bilang pengen kaya. Supaya bisa bantu banyak orang. Dia yang bilang, “Tama mah nggak perlu kaya, mending cukup aja.” Lama setelahnya, saya mengakui dalam hati, memang benar. Itu yang penting, mau sekaya apa pun, kalau kita nggak ngerasa cukup, ya nggak akan puas.

Terakhir kami ketemu di Punclut setelah Idul Adha. Ternyata dia pelihara kumis. Kumis betulan haha … Wajahnya makin bodor. Setelah itu lama nggak ketemu, sampe dia bilang di Twitter, periksa ke RS. Dan kacaunya, saya ledekin, mau suntik silikon bibir?

Tanggal 15 November, 46 hari lalu, dia ngetwit ditawarin lahan makam. Saya bilang si Papap juga ditawarin tapi nggak mau. Nu maot mah kumaha nu hirup weh. Dan deket-deket tanggal segitu, saya mimpi naik kereta, turun di stasiun dan dia yang jemput. Ujug-ujug makcemunthul. Mungkin itu firasat ya. Si Rere Chantau juga didatangi dalam mimpi, katanya dia mau berobat ke Lampung (tapi baru-baru aja).

Ternyata, ada kabar dia tumor otak. Dioperasi Selasa tiga minggu lalu. Sayang saya nggak bisa nengok, si Emak ngawas ujian dan saya nggak mau bawa Yaya ke rumah sakit. Setelah operasi sadar, tapi ternyata beberapa hari kemudian drop karena kena infeksi, dan nggak sadar lagi.

Waktu akhirnya bisa nengok, sempat saya ajak ngomong, tapi udah nggak ada respons. Malamnya dapat kabar katanya agak membaik, tapi beberapa hari kemudian drop lagi.

Dan ternyata, Senin 31 Desember 2012, jam 2 siang, dia “pulang” duluan. Saya nggak kaget kaya waktu si Ical taun 2009, tapi tetep lah, sedih. Seperti perasaan saya waktu si Papap sakit, ada satu perasaan yang bilang, orang ini nggak akan balik lagi.

Only the good die young. Memang bener. Dan saya yakin, seperti si Ical, Tama ingin dikenang dengan senyuman.

Selamat jalan Tam, maaf sudah banyak merepotkan, terima kasih karena sudah menjadi dirimu apa adanya. Sampai jumpa di perhentian berikut. 🙂

image

(foto dari fesbuknya si Tulang Cico eh tapi ternyata pemilik aslinya Oom Ari Marifat)