Kelas Inspirasi 2013

Kan katanya nggak ada yang namanya kebetulan ya.

Jadi, beberapa waktu terakhir ini ada serentetan peristiwa yang membuat saya berpikir (atau merenung ya?) tentang hidup, tentang mati, tentang “dharma” manusia di bumi. Dan salah satu hasil pikiran/renungan itu adalah: berbuat baik nggak perlu selalu harus berbentuk materi.

Dan beberapa waktu lalu, saya baca berita Kelas Inspirasi 2013 di sebuah grup Facebook. Saya langsung daftar, plus mengajak teman-teman saya yang profesinya “seksi”, para astronom istiqomah (saya mah kan murtad, hahaaaa). Tapi ternyata nama saya yang disebut di twitnya Kelas Inspirasi Bandung. Semoga para astronom istiqomah ini bisa mengisi di tahun-tahun berikutnya.

Saya kebagian di SD Sukarasa 1, di Jl. Gegerkalong Hilir 82. Ini mah daerah jajahan, naik angkot 2000 perak juga nyampe (tapi tetep aja kelewat pas survei hahahaa … Ingetnya Sari Bundo aja sih). Kami, kelompok SD Sukarasa, ada berenam plus dua fotografer: saya, Kang Yudi yang profesinya jurnalis, Teh Poppy (dunia sempit, teman SMA Bapak Dindin hehe) dokter spesialis kulit & kelamin, Silmy sang sutradara, Eka sang copywriter iklan, dan Mogisupply chain engineer di perusahaan tambang, Budhi dan Mas Jaya (fotografer).

Setelah ikut briefing tanggal 10 Februari 2013 di Saung Angklung Udjo, belum kebayang juga bagaimana menceritakan profesi saya kepada anak-anak. Yah, memang jadi penerjemah dan editor buku mah nggak menarik sih, kerjaannya cuma duduk, baca teks, ngetik, bongkar-bongkar kamus, browsing. Dulu juga pernah bercanda dengan Antie sesama penerjemah, kalau diikutin kamera seharian, kehidupan kami mah membosankaaaaaan, hahahaaaa …. Yang menarik hanyalah pekerjaan ini bisa dilakukan di mana saja, mau di kafe atau pinggir kolam renang (asal ada colokan). Juga saatnya orang lain heboh ngantor, kami masih bisa santai-santai di tempat tidur.

Setelah beberapa hari berpikir, baru ketemu satu ide: kenapa anak-anaknya nggak diajakin bikin buku aja ya. Sama saya mau cerita sedikit tentang proses bagaimana satu buku bisa sampai di tangan para pembaca. Buku hasil karya anak-anak ini rencananya akan dijilid per kelas, diberi cover dari hasil karya mereka sendiri, dan nanti diserahkan kepada sekolah lagi.

Persiapan saya sendiri ya gitu deeeh … memang nggak maksimal (Gambar sederhana proses buku tercipta aja dikerjakan malamnya hihi), soalnya pas lagi harus ngirim kerjaan terjemahan dan ngerjain pesenan biscotti. Dan meskipun udah niat mau tidur cepet supaya besoknya nggak kesiangan, teteeep … tidur jam setengah tiga. Syukurlah nggak telat bangun. Tapi, karena nggak biasa keluar pagi, ternyata Gegerkalong itu macheeeet.

Begitu datang, padahal masih jam 06.45, anak-anak sudah upacara. Kami diperkenalkan satu per satu oleh Ibu Epon, Kepsek SD Sukarasa 1 (yang ternyata, setelah pancakaki, rumahnya juga di Sarijadi dan beliau tetangga sepupu saya, hadeuuhhh). Lalu, ada penjelasan sebentar dari Kang Yudi, yang tampaknya cucok jadi guru atau kepala sekolah (Bu Epon hati-hati dikudeta Buuuu :p). Setelah itu, langsung deh masuk kelas!

Kelas yang pertama saya datangi adalah kelas 3. Masih seger-seger doooong. Mereka antusias sekali melihat contoh buku-buku yang saya bawa (beberapa bukunya Yaya). Antusias juga membuat cerita tentang cita-cita mereka (di kertas A5 yang saya bagikan), mau berupa cerita, gambar, juga gabungan dari cerita.

Kelas berikutnya adalah kelas 4. Dua kelas digabung, kelas 4A dan 4B. Di sini suasana lebih riuh. Cukup brutal sih, tapi masih bisa terkendali. Sama, mereka antusias juga melihat buku-buku yang menarik. Di kelas 4 saya menemukan cita-cita unik yaitu: penjual jersey tim sepakbola. Jadi, awalnya si anak ini bercita-cita jadi pemain sepakbola. Tapi dia cuma menggambar jersey-jersey tim sepakbola, dan diledek sama temannya. Waktu dia bete, Budhi sang fotografer nanya, “Memang jersey harganya berapa sih?” Dan dia tercenung. Mikir. “Dua ratus ribu, Kak.” Mungkin setelah itu otaknya berputar dan … mendapat kesimpulan bahwa jadi penjual jersey itu menguntungkan! 😀

DSC_0501

Berikutnya kelas 5. Beda dengan kelas 3 dan kelas 4 yang riuh-rendah, anak-anak kelas 5 ini kalem banget. Mereka melihat-lihat buku dengan tertib. Di kelas 5, cita-cita paling unik yang saya temukan adalah jadi ustadz.

Setelah istirahat, saya masuk ke kelas 2. Karena Silmy masih di kelas, saya sempat ikut nonton film. Yang lucu waktu film pendek tentang seorang anak sekolah yang harus berjualan cemilan supaya bisa sekolah, ada seorang anak cowok yang duduk sendirian di tengah tiba-tiba menoleh ke belakang. Lama. Matanya berkaca-kaca. Oh co cuiiiit, ternyata terharu! Ternyata bukan cuma dia, si KM dan teman sebangkunya yang duduk di depan juga ikut nangis. Filmnya mengharukan sih. Dan di kelas 2 ini juga saya menemukan anak yang terinspirasi Silmy, cita-citanya menjadi sutradara. (Tapi itu dialognya nggak kuat euy hahahaaa)

dasar cowok playboy :D

KAT! Kamu tuh ya dasar cowok playboy. Maaf, Sayang.

(Anak kelas 2 gitu lhuwoookhhh!)

Kelas terakhir, gabungan 6A dan 6B, udah pada lemes. Mungkin kurang oksigen juga, kelasnya pengap, isinya banyak. Di sini ada seorang anak yang tampak penasaran sama buku Chasing Vermeer yang saya bawa (waduuuh tapi itu buku langka euy, sekarang sulit ditemukan). Di sini juga ada anak yang terus terang mengaku bahwa cita-citanya adalah artis, bisa bintang sinetron atau penyanyi. Anak ini juga (namanya Elsa) yang numpang saya sampai ke Setiabudi (rumahnya di Hegarmanah katanya).

DSC_0479

Dan ada satu lagi yang membuat saya senang, cita-citanya menjadi ASTRONOM (meskipun dia nggak tau apa nama profesinya hahaha). Semoga menjadi astronom istiqomah dan tidak murtad seperti saya, aamiin.

DSC_0481

Yang ngaco-ngaco juga ada, mau jadi Ninja Hatori, Naruto, astronot tapi gambarnya Astroboy, juga tentara pembasmi UFO. Ini yang mau jadi Ninja Hatori.

DSC_0497-1

Akhirnya acara selesai, sebelum bubar kami foto-foto dulu di depan sekolah bersama murid-murid dan guru-guru SD Sukarasa (fotonya masih di para fotografer). Setelah itu, penyerahan kenang-kenangan kepada Kepsek dan guru-guru, lalu menuju BCCF untuk debriefing. Oh iya, kami dikerubungi anak-anak SD dooong, berasa artis deh. Silmy dan Mogi paling banyak fansnya, bikin Kang Yudi iri, hahahaaaaaa ….

Ada satu hasil yang sama-sama kami rasakan setelah acara selesai: SUARA SERAK. Jadi bertanya-tanya, guru-guru SD itu apa sih rahasianya, apa ngunyah kencur setiap hari?

Tapi, ada beberapa hal serius yang bisa dipikirkan:

1. Sebetulnya mereka sangat berminat membaca buku, dilihat dari semangat dan antusiasme mereka waktu melihat-lihat buku yang memang bercover atau bergambar menarik. Hanya saja, sepertinya mereka nggak punya akses mendapatkan buku-buku semacam itu, baik di perpustakaan sekolah atau di rumah. Ada dua anak kelas 5 SD yang membawa buku KKPK-nya Dar! Mizan, dan mereka mengaku itu meminjam di taman bacaan, tapi bukan di sekolah.

2. Televisi begitu menguasai kehidupan anak-anak. Masih mending kalau acara yang ditonton cocok untuk anak-anak, tapi televisi Indonesia kan begitu ya, kita tahu sendiri. Ada buktinya di hasil karya anak kelas 2 SD, yang dialognya kamu ya dasar playboy itu.

3. Wawasan guru-guru juga penting. Dulu saya sekolah di SD Sejahtera, SD kampung juga (tapi sekarang sudah termasuk SD lumayan lah hehe). Nggak pernah ada guru-guru yang membuka wawasan saya tentang beragam profesi. Mungkin kondisinya di SD ini juga sama. Profesi yang umum di mata anak-anak adalah dokter, pemain sepakbola, guru. Dan dulu (bukan di SD Sukarasa 1 ya), saya sendiri mengalami, ada beberapa guru yang mengarahkan murid-muridnya dengan iming-iming materi. “Kamu masuk ini aja, nanti uangnya banyak lho. Kalau jadi ini kamu akan jadi kaya.” Lalu, ke mana perginya kedamaian hati dan kebahagiaan karena bisa bekerja sesuai passion?

Waktu acara debriefing di BCCF, kami disuruh berpisah, mencari kelompok yang bukan dari SD yang sama. Kami disuruh mendiskusikan (kira-kira seperti ini ya, saya lupa kalimat tepatnya gimana) intervensi apa yang bisa dilakukan kepada sekolah setelah program Kelas Inspirasi terlaksana.

Di kelompok saya, ternyata para anggotanya berpikiran sama:

1. Penyediaan bahan-bahan yang membuka wawasan dalam berbagai media, seperti buku, film, majalah. Kalau infrastruktur yang besar-besar dan mahal-mahal mungkin agak sulit, karena urusannya dengan pemerintah juga kan (karena SD-SD ini sekolah negeri). Banyak buku, film, majalah, yang bisa membuka wawasan, menambah pengetahuan, dan memancing kreativitas anak-anak sekolah.

2. Kesinambungan program. Setelah program ini selesai, lalu mau apa? Semoga saja kami masih punya energi untuk terus berkomunikasi dengan sekolah-sekolah itu.

3. Pemberian wawasan bagi guru. Sama dengan yang saya pikirkan di atas. Misalnya nanti si anak ingin bertanya lebih jauh, bagaimana kalau gurunya nggak tahu?

Biarpun seharian itu berasa gempor (bahkan sudah terlatih dengan Yaya pun saya masih gempor hahaha), itu pengalaman yang sangat berkesan. Seperti banyak dikatakan teman-teman lain, juga Farhan yang sempat bicara sebentar di BCCF: Bukan mereka yang terinspirasi, tapi kami yang terinspirasi dari mereka.

Kegiatan ini juga ternyata nggak menimbulkan suatu rasa “puas” (untuk saya) karena sudah berbuat sesuatu untuk masyarakat. Tapi malah timbul perasaan tergelitik: setelah ini, bagaimana tanggung jawab saya selanjutnya? Masih punya energi untuk melanjutkan nggak?

Semoga, ya! 🙂

Advertisements