Si Korban Sinetron

Jumat lalu, saya ngajak Yaya ke Museum Geologi. Eh, ternyata tiap Jumat dan hari besar tutup. Akhirnya Yaya minta ke Kebun Binatang. Oke, dengan perjanjian: nggak minta gendong dan nggak beli mainan.

image

di kandang wauwau yang cerewet

Di sekitar Gasibu, Kami berpapasan dengan mobil jip Rubicon. Dasar cowok bensin, Yaya langsung teriak, “Buk, mobilnya bagus!” Memang, saya menyahut.

Lalu, dia bilang, “Nanti kalo Yaya udah besar, Yaya mau beliin Ibuk Rubicon. Ibuk suka warna apa?” Hitam, saya jawab. “Yaya mah sukanya yang biru.”

Lalu saya tanya, kapan, kalau Yaya sebesar apa? Setinggi jerapah? (Karena dia janji, kalau sudah setinggi jerapah dia mau gendong Ibuk.)

Yaya jawab “Kalo udah sebesar Haji Muhidin!”

Saya bilang, kalau Yaya sebesar Haji Muhidin, Ibuk setua apa dong?

“Ibuk sebesar Mak Enok!” jawab si Yaya.

Hadeeuuuuh! :p

(Ini gara-gara dia suka tidur sama si Emak, sebelum tidur pasti ikutan nonton. Dan tokoh favoritnya adalah Bos Romlah, sampai hafal “Lebbbih nganga!” Ibuk speechless lah.)

Advertisements

Lempeng Siga Bagong

Salut sama orang-orang yang masih bisa mengurusi masalah orang lain. Ini bukan dalam konteks kerja sosial ya. Itu mah beda lagi.

Saya pribadi, mengurus diri sendiri aja belum becus. Mengurus pekerjaan domestik dan nondomestik juga kewalahan.

Andai saya punya banyak waktu luang, saya lebih ingin berenang, latihan cat air, menulis, jogging, belajar hal-hal baru, atau sekadar bengong. Atau tidur yang nyenyak.

Saya malas memikirkan orang lain. Aing nya kumaha aing. Sia nya kumaha sia weh (Sekali lagi ingat, ini bukan dalam konteks kerja sosial).

Manajemen waktu saya memang masih kacau. Dan nama tengah saya Procrastiniari :p

Nah, orang-orang yang heboh mengurusi orang lain itu, mungkin
1. Manajemen waktunya keren,
2. Punya energi super,

atau..

3. Nggak ada hal lain yang harus dipikirkan atau dikerjakan?

Saya sih terus terang nggak mampu. Mending lempeng weh siga bagong. 😀