Ini Pengingat bagi Diri Sendiri: Jangan Mengeluh, Buk!

Akhir-akhir ini, saya banyak menemukan tulisan tentang ibu-ibu yang bekerja di kantor vs ibu-ibu rumah tangga. Ada tulisan yang memotivasi, “hujatan”, curhat, dan sebagainya. Dulu saya juga pernah menulis tentang ini di notes facebook, karena posisi saya ada di tengah-tengah, yang katanya adalah WAHM atau Working at Home Mother. Soal alasan pilihan ini juga sudah pernah saya tulis.

image

bersama bos kecil yang paling berwenang mengatur pekerjaan saya

Tapi, yang menggelitik akhir-akhir ini adalah banyaknya kontroversi tentang itu. Seolah-olah ibu bekerja bukan ibu yang baik, atau ibu rumah tangga menyia-nyiakan potensi atau pendidikan tingginya. Karena posisi saya yang “ngangkang”, saya pribadi nggak terlalu terganggu dengan keributan ini (atau pada dasarnya memang nggak pedulian? Entah juga hahaa…).

Saya cuma merasa cocok dengan pilihan ini, dan mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena bisa bekerja di rumah ya (cukup banyak teman saya yang menyatakan “enak ya,” ya memang enak bagi saya, tapi entah buat orang lain). Jujur nih, di kantor dulu, saya hanya bisa bekerja efektif paling lama empat sampai lima jam sehari. Sisanya main game, chatting, ngobrol, bengong, dll. Untuk apa jauh-jauh ngantor kalau hanya untuk begituan? Selain itu, kalau saya ngantor sekarang, kasihan si Emak. Mengasuh cucu (apalagi yang seperti Yaya) melelahkan, sudah waktunya Emak bersenang-senang (walaupun dengan cara lain, mengajar lagi di usia senja!).

Soal pendidikan yang sia-sia, ah nggak juga. Sangat terpakai untuk mengasuh anak kok. Apalagi anak-anak zaman sekarang kritis-kritis. Salah satu contoh, saya masih bisa menjelaskan pengetahuan astronomi dasar kepada si Yaya. Masih banyak lagi yang lain. Dan karena pekerjaan yang mengharuskan saya banyak membaca, saya berhasil menjawab hampir semua pertanyaan Yaya. Kecuali yang “kenapa kuda itu ku- dan sapi itu sa-?” (Sampai saat ini belum nemu jawaban yang pas!) Kalau nggak tahu ya riset lagi, belajar lagi, hihii…

Soal prioritas, saya memang memilih memprioritaskan anak. Ada beberapa tawaran pekerjaan lepas yang saya tolak karena saya harus keluar rumah cukup lama. Banyak pekerjaan yang terpaksa tenggatnya molor dan imbasnya, penghasilan jauh berkurang dibandingkan saat masih jadi freelancer lajang. Tapi ya sudahlah.

(Oh iya, saya juga menghormati teman-teman yang berbisnis MLM dan mencoba memprospek saya jadi downline, maaf kalau saya nggak berminat. Pekerjaan kita sama kok, dilakukan dari rumah. Hanya saja, minat orang berbeda kan? Minat saya di bidang buku dan hal-hal yang berkaitan dengan ini serta makanan. Jual makanan pun masih belum pol karena belum saya prioritaskan secara serius. Dan karena saya tahu MLM juga butuh kerja keras, saya sadar nggak akan maksimal kalau bergabung.)

Nah, ini yang paling penting, karena keputusan ini adalah pilihan sendiri, nggak perlu mengeluh, apalagi marah-marah, karena itu buang energi. Beda lagi kalau nggak ada pilihan lain, misalnya nggak boleh berkarier sama suami atau terpaksa bekerja kantoran untuk menanggung nafkah keluarga. Curhat boleh lah, tapi nggak perlu ke seluruh dunia. Masing-masing orang juga punya masalah, kan? Memangnya masalah kita yang paling berat? Yah, kadang-kadang saya masih mengeluh sama suami. Tapi bukankah itu gunanya suami? Hahahaaa…

Selain nggak perlu mengeluh, mungkin kita harus menebalkan telinga terhadap omongan-omongan miring di sekitar. Daripada marah-marah nggak jelas, mending energinya dipakai untuk merencanakan hal-hal menyenangkan dengan keluarga. Iya kan?

Advertisements

11 thoughts on “Ini Pengingat bagi Diri Sendiri: Jangan Mengeluh, Buk!

  1. sukaaaa sama tulisannya…
    si aku jg dlm tahap mencari2, mau jd wahm yg seperti apakah saya? yg bisa long lasting gitu…ga cm smangat di awal. jd mesti sesuai passion.. tp naon nyaaa…?
    perlu sharing sm dirimu jigana 😀

    • eta mah harus diskusi sama diri sendiri, nday. karena kita sendiri yang paling kenal minat masing-masing, juga kekurangan dan kelebihan. pihak lain mah cukup buat menambah pertimbangan aja hihiii..

  2. setuju bgt may… beginilah dilema para ibu..kerja di luar dianggap ninggalin anak, ngurus anak di rumah dianggap mubazir pendidikannya.. kayaknya memilih antara jadi WM atau stay at home mom (bukan full-time mom karena ga ada yg namanya part-time mom kan :P) adalah keputusan tersulit semua ibu deh dan memang ga penting amat diperdebatkan..toh situasi setiap ibu kan beda-beda.. 😛

    • iya ai, udah banyak dibahas lah sampe suka muak bacanya (yang pertentangan tiada akhir). tulisan ini ngingetin diri sendiri aja supaya bersyukur & nggak suka ngeluh heuheu

  3. klo mnrt aku, passion aku teh: ngasi tau orang. hehe… makanya mnikmati ngajar.. tp bgitu pny bayi, g pgn kerja di luar.. nah, jd ngapain atuh? eh seneng nulis juga sih….duluuu..sblm (sok) sibuk.

    iya..sharing ide bgsnya akyu ngapain n bisi ada link gt. aheuheuheu…

  4. “Yah, kadang-kadang saya masih mengeluh sama suami. Tapi bukankah itu gunanya suami? Hahahaaa…”

    Aku malah sering bercanda ama si abang, “Kalau abang ada masalah di kantor atau aku ada masalah di rumah,’telan’ sendiri ya,jangan curhat!!!” Hihihi… Kalimat itu cm brcanda,soalnya kl si abang diajak serius,malah bikin marah :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s