“Amplok”-nya Udah Kebanyakan! :D

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

Tanggal 25 Oktober 2014 kemarin, hari Sabtu, 1 Muharram 1436 H, si Yaya disunat. Sebetulnya ini dadakan, karena sebelumnya kami nggak berencana menyunat si Yaya secepat ini. Tapi, beberapa minggu lalu, Ompung Bou-nya Yaya menawarkan ikut sunatan massal di kantornya, RSHS.

Awalnya agak ragu karena khawatir memakan jatah orang-orang yang lebih berhak ikutan, tapi si Ompung Bou meyakinkan, lagian karena nggak punya anak, jatah si Ompung Bou selama berpuluh-puluh tahun jadi karyawan RSHS nggak pernah terpakai. Oke, ya sudahlah. Sekarang tinggal tanya si Yaya mau apa nggak.

Kalau ngobrol soal sunatan sih sudah cukup sering, terutama saat mandi dan pipis. Si Yaya sih mendengar gosip teman-teman TK-nya (halah budak leutik ngagosip!), kalau disunat itu tititnya dipotong. Tapi, akhirnya dia mengerti kalau disunat itu hanya dipotong sedikit kulup penisnya supaya bersih, mengurangi risiko infeksi karena kotoran yang numpuk. Nah, pas ditanya, mau disunat nggak, eh dia mau. Padahal nggak diiming-imingi nanti banyak dapet hadiah, uang, dan sebagainya. Alhamdulillah soleh juga si Yaya teh yaaa hahahaaaa …. Waktu ditanya, mau apa pas disunat, dia cuma bilang mau cokelat telur (itu lhooo … chocolate egg surprise yang videonya banyak di youtube) seri planes (dia sempat liat di Toko Setiabudi) sama lego Chima yang agak mahalan. Selama ini dia kan beli lego Chima-nya di Pasar Cibogo. Baiklah.

Eh, baru sadar beberapa hari sebelumnya, ternyata sunatan si Yaya bentrok dengan acara pelatihan penerjemah di Mizan. Ya sudahlah, kan si Yaya disunat cuma sekali seumur hidup. Jadi terpaksa batal ikut acara itu, padahal udah daftar.

Hari Kamis, si Yaya diperiksa dulu. Awalnya diperiksa mata, mulut, lidahnya disuruh keluar. Terus dokter yang meriksa bilang, “Sekarang lidahnya dimasukin aja, ganti penisnya.” Eh, dia tetep aja menjulurkan lidah sambil diperiksa, kaya yang ngeledek dokternya, hihiii …. Bikin dokter-dokter cewek di belakang pak dokter yang meriksa cekikikan. Karena dokter-dokter cewek itu cekikikan, dia tambah malu lagi, ogah penisnya keliatan. Yah, tambah geli lagi mereka, sampai si Yaya keluar, dokter-dokter itu masih ketawa-ketawa.

Pas hari H, kami pergi dari rumah jam 8. Si Lula juga ikut, menyemangati akangnya! šŸ˜€ Sekitar jam 9, si Yaya dapat giliran. Tapi yang ikut megangin si Yaya cuma saya dan bapaknya. Yah, sudah bisa ditebak sejak awal, penuh raungan! Apalagi anak-anak lain pada teriak-teriak juga. Si Yaya dapat tempat di pojok, dokternya laki-laki. Anak yang di sebelah si Yaya sih udah agak lebih besar, lumayan tenang, jadinya lebih cepat selesai. Sementara si Yaya … sempat agak meronta-ronta, teriak-teriak nyuruh-nyuruh dokternya “Udah! Udah! Lama! Lamaaaaa! Cepet! Cepet! Cepet! Kok lagi? Gunting benangnya, guntiiiing!” dan selang satu ranjang di sebelah, seorang anak yang lebih kecil berteriak-teriak “Anying anying anying!” Dokter yang nyunat si Yaya juga sampai ketawa. Si Yaya sempat teriak nahan sakit “Kak kak kakkkkk!” eh sama dia diplesetin “kakaktua!” bikin dokter-dokternya ketawa juga :D. Sayang nggak sempat motret dia pas dan setelah disunat, malah dokter-dokter lain yang motret.

Meskipun rasanya lama banget, tapi ternyata cukup cepat juga. Setelah disunat, dia dapat satu tumpeng mini, obat-obatan, dan “amplok” (amplop, maksudnya). Di jalan dia tidur. Jam sebelas siang sudah sampai rumah. Agak sore juga dia tidur lagi. Saya udah agak cemas karena beberapa saudara bilang “Tunggu sampai biusnya habis!” eh tapi dia cuek-cuek aja tuh, nggak nangis-nangis kesakitan. Cuma agak manja aja, pengen disuapin dan lain-lain.

Besoknya, saudara-saudara pada datang, dan pada ngasih “amplok”. Karena sejak awal nggak diiming-imingi itu, dia kaget dan malah teriak “Kenapa sih pada ngasih ‘amplok’? Udah kebanyakan, tauuuuk!” Hahaha … dasar bocah penggemar duit dua rebuan! (Dia mah taunya duit pecahan dua ribu, yang biasanya dipakai beli mainan di “Mangmang” kleneng-kleneng yang suka nangkring di depan TK) Hari Senin juga guru-guru pada ngasih “amplok”, dia bilang gitu juga hahahaaaaa ….

Tadi, hari Selasa tanggal 28 Oktober, kami kontrol lagi, dan syukurlah kata dokternya bagus, perban bisa dibuka, udah boleh kena air tapi setelahnya dilap dan dioles salep. Mudah-mudahan pemulihan selanjutnya nggak bermasalah juga.

Begitulah kisah si Yaya disunat, doakan ya semoga si Yaya tambah bageur, pinter, dan soleh! šŸ˜€

Advertisements

7 thoughts on ““Amplok”-nya Udah Kebanyakan! :D

  1. aamiin…hehehe kakaktua, kuat juga yaya abis pengaruh biusnya ga terlalu kesakitan, katanya orang2 klo masih kecil di sunat lebih cepat pemulihannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s