Sekolah Baru!

Si Yaya jadi anak SD euuuy …. (Meskipun tetap oces :D)

Awalnya nggak PD dia bisa masuk SD, soalnya umurnya baru enam tahun sebulan. Bu Teti, wali kelasnya di TK B juga menyarankan kelas B aja setaun lagi. Tapi, si Bapak keberatan. Soalnya, selain terlalu lama di TK (PAUD dua taun, TK nanti jadi tiga taun dong?), karena lokasi TK yang hanya “selangkah dari rumah Yaya” (begitu menurut pengakuannya sendiri), si Yaya merasa sekolahnya ya rumahnya. Jadi, dia nggak bertanggung jawab sama barang-barang pribadinya. Pulang sekolah, lepas sepatu di luar, lempar tas, terus main. Nanti, kalau guru-guru dan teman-temannya mau pulang, dia lari masuk, lupa sama barang-barangnya di luar. Terus Ibu Guru yang mindahin ke dalam. Berulang kali dinasihati sampai dimarahi, teteeeep aja begitu. Yah, risiko belajar di sakolah nini aing tea.

Lalu, si Yaya mau dimasukin ke SD mana? Si Bapak sih terserah Ibuk aja katanya. Homeschooling udah nggak masuk pilihan, soalnya si Ibuknya belum mampu. Jungkir balik sama kejar setoran :p. Jadi, alternatif lain adalah sekolah swasta, mengingat umur si Yaya. Dan mengingat kelakuannya yang “istimewa” hihi …. Sejak awal, saya nggak berniat daftarin Yaya ke SD Islam Terpadu. Alasannya sederhana aja sih: di kehidupan nyata, dia akan bergaul dengan berbagai kalangan. TK Armia sendiri sebetulnya bukan TK Islam, tapi kebetulan angkatan si Yaya beragama Islam semua. Kriteria kedua, lokasi jangan jauh-jauh. Dari beberapa pilihan, sebetulnya saya naksir Semipalar di Sukamulya, soalnya kenal dengan beberapa gurunya dan sepertinya sekolah itu “Yaya banget”. Tapi pas saya kirim e-mail untuk menanyakan pendaftaran, katanya kelas SD sudah penuh, karena semua murid TK masuk ke SD Semipalar lagi.

Tapi, sekolah swasta tuh mahal ya. Terus, saya sempat ngobrol dengan Ita si pemilik Herbsays, yang udah pengalaman ikut nyusun kurikulum SD swasta. Kesimpulannya, semua sekolah pasti ada kekurangannya. Kewajiban orangtua adalah mengisi kurangnya ini, pesan Ita. Saya juga mikir, apa sih keinginan kami, orangtua si Yaya, saat memilih sekolah? Saya pribadi sih pengennya si Yaya bahagia, juga bisa bergaul dengan segala kalangan. Bahkan sempat kepikiran masukin sekolah Katolik aja gitu ya, supaya sempat ngerasain jadi kaum minoritas (tapi nggak ada yang deket dan tetep mahaaaaal hahaha).

Oke, jadi kita pikirkan sekolah negeri. Di SD negeri kan muridnya lebih beragam lagi. Teringat zaman saya SD, ada yang diantar jemput mobil tiap hari, ada juga yang ke sekolah pakai plastik keresek karena nggak mampu beli tas. Tapi, tetep aja main bareng tuh. Mungkin ada juga sih kondisi nggak bagus di beberapa SD negeri. Mungkin ada yang geng-gengan dan ada perundungan. Juga saingan barang, gadget, dan segala macam. Tapi, kayanya kalau orangtuanya bertanggung jawab dengan bener, yang begitu-begitu harusnya nggak ada. Soal kurikulum, meskipun katanya dirancang untuk “rakyat jelata” dan masih satu arah, yah … dulu saya juga banyak belajar di rumah, disediain buku-buku dan majalah.

Sebetulnya ada SD negeri yang deket banget dengan rumah, nggak sampai 150 meter, tapi kok anak-anaknya santai banget ya. Masuk jam tujuh, jam delapan udah kelayapan lagi. Terus, bocoran dari guru TK yang sempat ngajar di sana, guru-gurunya pemalas. Malah ada yang suka minta dipijat oleh murid hahaaa … (atuh Buuuu saya juga mau!) Lagipula, karena jaraknya deket, nanti si Yaya malah bolak-balik pulang, minta makan lah, mau ke WC lah, dst. dsb., pasti TK juga terganggu. Ada beberapa alternatif sekolah negeri yang lumayan bagus dan cukup dekat: SD PN Setiabudhi (yang dulunya di UPI), dan SD Sukarasa 3 di KPAD. SD PN lebih dekat, jalan dan naik angkot pun cuma sepuluh menit, dan lumayan banyak alumni TK Armia yang masuk situ.

Masalahnya umur. Tapi, kata Bu Teti, coba aja dulu. Lagipula ada skor jarak rumah-sekolah. Kalau nggak keterima, ya sudah, si Yaya balik lagi ke TK. Atau kalau dia bosan, nggak perlu sekolah tiap hari lah, semaunya dia aja. Saya juga udah siap-siap, bilang ke si Yaya, kalau nggak keterima di SD, kita lari tiap hari aja yuk!

Tak disangka-sangka, alhamdulillah si Yaya keterima. Urutan 103 dari 108 (dihitung menurut skor umur dan jarak), nyaris! Hari pertama sekolah, diantar Ibuk dan Bapak, sebetulnya khawatir kalau terjadi “drama”, tapi dia lempeng aja tuh. Cuma nyari-nyari Ibuk aja pas baris sebelum upacara, dari jauh. Pas si Ibuk keliatan, dia tenang lagi. Di kelas juga lempeng … masih bengong-bengong :p. Hari kedua sudah agak pede, tapi masih harus ditunggu. Lagipula tiga hari ini masih perkenalan, masuk jam setengah delapan, jam sembilan bubar. Kata Bu Teti, siap-siap Senin depan, orangtua nggak boleh masuk ke sekolah selama jam pelajaran. Doakan, mudah-mudahan lancar, ya!

Romantis banget ya, ini nggak sengaja kefoto padahal, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD

Romantis banget ya, padahal ini nggak sengaja kefoto, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s