Jadi Begini Perasaan Ibunya Emil dari Lonneberga …. [Postingan Lama]

Seperti biasa, di Facebook muncul feature On This Day, dan tulisan ini muncul. Daripada terserak di banyak tempat, saya pindahkan ke sini aja ya. Ditulis tanggal 16 Oktober 2010 (waaawww tujuh tahun lalu!).

Pernah baca buku Emil dari Lonneberga karya Astrid Lindgren? Tokoh utamanya, Emil, adalah seorang anak laki-laki kecil yang terlihat manis sekali, dengan pipi kemerah-merahan dan rambut pirang yang ikal. Tapi, itu cuma kelihatannya saja. Sudah ratusan hasil karya patung kayu yang dia raut (Setelah berbuat nakal, biasanya dia dihukum dengan dikurungdalam sebuah pondok perabot. Dan setiap kali dikurung di sana, dia meraut sebuah patung kayu).

emil

(sumber dari sini)

Ibu Emil, Alma Svensson, rajin mencatat kenakalan anak sulungnya ini dalam buku berwarna biru, dan sudah ada beberapa buku yang penuh. Perasaannya selalu campur-aduk jika Emil berbuat kenakalan: marah, sedih, cemas (apakah kenakalan itu akan terus berlanjut dan merugikan orang lain?), tapi tentu saja ibu Emil tetap menyayangi anaknya.

Baru sekarang saya memahami perasaan ibunya Emil saat melihat anaknya berbuat kenakalan. Memang apa sih kenakalan yang bisa dilakukan seorang anak yang umurnya hampir satu setengah tahun?

Ternyata banyak!

Ini contohnya: Nyobek bukunya sendiri (karena itu, koleksi berharga buku anak-anak langka milik si Ibuk masih disimpan rapi di rak, hihiii … sekarang mending boardbook dulu aja), numpahin air di gelas, nempelin hidung di depan tivi sambil nonton (biasanya tivinya langsung dimatiin), ngocok-ngocok botol minum sampai airnya berceceran, sengaja mencet kotak susu UHT supaya tumpah, makan remah kue dan nasi di lantai, makan semut, ngegebrak-gebrak tivi dan pintu kaca, makan crayon, makan sabun, naik tangga dan berniat terjun bebas dari anak tangga kelima (yah, ini salah si Ibuk sendiri sih,¬†ngalenyap¬†sebentar karena lagi pilek, untung dia teriak-teriak dan si Ibuk terbangun). Apalagi kalau kebetulan dibawa ke dapur, mulai deh mainin dispenser, toaster, buka-buka laci, gelantungan di kulkas, muter-muter tombol kompor gas, menggelindingkan galon kosong. Di kamar mandi juga begitu, berusaha buka tutup kloset dan masukin tangannya ke sana, minum dari gayung, dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya ….

Kalau dipikir-pikir, semua ini sebetulnya bukan kenakalan ya, tapi hanya keingintahuan seorang anak kecil. Persis seperti Emil, yang ingin tahu rasanya memasukkan kepala ke dalam mangkuk sup, atau ingin menghibur adiknya dengan cara mengerek si adik di tiang bendera!

Tapi tentu saja tindakan-tindakan yang menjurus berbahaya itu tidak dibiarkan. Tapi karena umurnya baru segitu, kadang-kadang bingung juga bagaimana caranya. Marah malah dianya ketawa, mengalihkan perhatian yah … cuma bertahan beberapa menit, lalu balik lagi ke kenakalan semula. Meleng sedikit, tangan terampilnya sudah beraksi. Makanya, Sakya nggak bisa dibiarkan main sendirian. Kadang-kadang si Ibuk suka ngiri sama ibu-ibu lain yang bisa nyambi ngasuh anak sambil melakukan pekerjaan lain, karena dalam kasus Sakya, mana bisaaaa? Awalnya si Bapak belum tahu keadaan begini, tapi sekarang-sekarang akhirnya sadar kalau anaknya termasuk anak yang istimewa, hahaha …. (Makanya, senang sekali kalau si Bapak kebetulan ada di rumah, gantian ya Pak ngasuhnya, Ibuk mau tidurrrrrr hehe).

Meskipun begitu, sama seperti Alma Svensson, saya juga percaya bahwa kenakalan-kenakalan ini adalah bukti bahwa anak kami sedang melatih otaknya agar bisa berfungsi dengan baik, dan saat dewasa, ternyata Emil pun berhasil jadi bupati! (Eh, tapi saya nggak berharap Sakya jadi bupati di sini, tapi kalau dianya mau ya sok aja, hahahahaaa).

Karena itulah, sekarang saya memahami perasaan Alma Svensson, ibunya Emil dari Lonneberga. Hihiii ….

 

 

Advertisements