Padang (April 2018), Workshop Penerjemahan Buku Anak ke Bahasa Minang bersama Litara dan The Asia Foundation, Membenahi Kekacauan Otak

Sekitar akhir tahun 2017 hingga beberapa bulan awal tahun 2018, rasanya otak saya kacau. Berkali-kali sakit menyerang. Bukan yang parah sih, tapi meskipun ece-ece, tetap mengganggu. Nggak kuat menatap layar laptop, paling lama hanya 15 menit. Sakit kepala, kembung, migrain, pilek berulang, radang tenggorokan, gatal-gatal, pokoknya bukan penyakit serius lah. Bukan hanya saya yang sakit melulu, anak-anak juga. Dan sama, nggak ada penyakit berat, tapi karena bergantian dan ada seorang drama queen di rumah, repot juga.

Ternyata, pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan monoton juga menambah tekanan. Meskipun terbebas dari kewajiban memasak (standar Emak tinggi, jadi daripada nggak memuaskan selera, lebih baik Emak aja yang masak. Kalau Emak pergi-pergi baru deh cari menu praktis hihi), masih ada menyapu, mengepel, menjemur baju (jemuran di rumah sulit dijangkau, terlalu tinggi, jadi harus pakai galah), menyeterika, dan menyuapi si drama queen kecil.

Satu lagi yang menambah kekacauan  adalah mendengar anak-anak berantem. Hadoooh … rasanya Tom dan Jerry, Oggy dan para kecoak, He-Man dan The Skeleton lebih akur daripada dua bocah yang bisa bertengkar hanya karena hal sepele seperti “Lula pup! Yaya pis! Pup! Pis! Pup! Pis!” atau “Yaya bau! Lula geuleuh!” dan lain sebagainya. Huh!

he-man.gif

(diwakili oleh He-Man aja ya, The Skeleton-nya nggak usah)

Pokoknya, beberapa bulan itu bisa dibilang masa-masa kelam dalam produktivitas kerja. Selalu ada gangguan. Padahal deadline nggak berubah dan kebutuhan bayar-membayar nggak bisa diskip, hiks …. Rasanya pengen kabur. Sendirian. Yang jauh.

Tapi, “Mana munkin, mustahil, itu hanya hayalan” (menurut Sakya Lail Wahidin, saat berusia hampir empat tahun. Bukan typo, memang begitu kata-katanya).

Saat sedang kacau-kacaunya, datanglah sebuah tawaran dari Mbak Eva Nukman (Litara) untuk menjadi mentor workshop penerjemahan  buku anak di Padang. Horeeee! Langsung saya bilang iya!

Baru setelah bilang iya, saya lapor ke Pak Dindin (meskipun seharusnya sebelum bilang iya lapor dulu, tapi Pak Dindin mah selalu mendukung pekerjaan istrinya hihi…). Kemudian lapor ke Emak. Soalnya, nanti Emak yang dititipi anak-anak. Emak juga selalu mendukung, tapi khawatir, karena mengurus dua anak ajaib itu hadoooh … melelahkan! Dan ternyata, jadwal ke Padang bersamaan dengan jadwal Pak Dindin ke Palembang kemudian Medan. Heu.

Tapi, saya berangkat juga. Bismillah.

Sebelumnya, saya pernah juga menjadi mentor workshop serupa di Bandung. Waktu itu saya sok akrab mengirim e-mail ke Mbak Eva (setelah tahu di Politeknik Bandung ada workshop penerjemahan dari Mbak Dina Begum), menawarkan diri untuk membantu workshop. Alhamdulillah diterima. Waktu itu, workshopnya tentang menerjemahkan buku-buku anak di situs web letsreadasia.org ke bahasa Indonesia.

Alhamdulillah lagi, Mbak Eva dan Litara masih mau mempekerjakan saya. Padahal, workshop di Padang ini menerjemahkan buku-buku anak di situs yang sama ke … bahasa Minang! Alamak! Meskipun darah saya setengah Sumatra, tapi bahasa daerah yang saya kuasai adalah basa Sunda! Tapi, ternyata tugas saya (dan Mbak Dina yang bukan penutur bahasa Minang) hanya memastikan para peserta menangkap makna teks berbahasa Inggris dengan tepat. Yang bertugas memastikan bahasa Minangnya tepat adalah Mbak Eva, Mbak Erna R. Fitrini, dan Mas Ricky Zulkifli yang memang penutur bahasa tersebut.

Perjalanan ke Padang juga adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah leluhur. Meskipun masih jauh dari kampung, tapi masih sepulau lah hihi (malah si Pak Dindin yang duluan ke Medan dan Binjai).

Saya, Mbak Eva, dan Mas Ricky tiba di Padang Senin sore. Sekitar setengah jam kemudian, Mbak Dina dan Mbak Erna datang dari Jakarta. Kami dijemput Bu Sari dari PNP yang ditemani Willy, mahasiswa, juga bapak sopir yang biasa disapa “Ayah” (teringat pada Pidi Baiq, ayah sejuta umat hihiii). Malam pertama itu, kami diajak makan di Martabak Malabar (postingan kuliner dan wisata akan dibuat terpisah). Malam ini juga saya bertemu Dyno dan Hanif yang sudah besar, menjemput titipan batagor dari Bandung.

dyno-hanif

Bertemu mantan… mantan ketua himastron dan mantan teman tapi musuh hahaaa…

Besoknya, kami sudah dijemput pukul delapan pagi. Dua hari pertama, workshop diselenggarakan di PNP, nun jauh di atas bukit, di ujung kampus Universitas Andalas. Kampusnya asri, berbatasan dengan hutan. Katanya, pernah ada ular dan biawak yang pernah masuk kelas segala!

PNP

sepotong kampus PNP

Di PNP, banyak dosen yang menjadi peserta. Bahkan ada salah seorang ibu dosen pakar bahasa Minang (aduh maaf saya lupa namanya). Sewaktu ada pertanyaan tentang bahasa Minang, malah beliau yang menjawab dengan singkat dan jelas. Bu, Ibu kereeen! Menurut beliau, bahasa itu tergantung konteks. Ada kata yang dianggap kasar, tapi dalam konteks tertentu, kata tersebut bisa dianggap lazim dan pantas digunakan.

PNP-2

Tema workshop di PNP. Sayang nggak pakai bahasa Minang ya 😀

Hari ketiga, workshop berlangsung di Universitas Bung Hatta. Sebelumnya, kampus UBH ada di tepi pantai, tapi menurut Pak Elfiondri, dekan FIB yang menjemput kami ke hotel, setelah gempa besar di Padang tahun 2009, terjadi penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan karena isu tsunami. Jadi UBH terburu-buru mendirikan kampus di daerah bypass, Aie Pacah.

UBH

Kampus UBH di Aie Pacah, tepi sawah!

 

Di UBH, kebanyakan pesertanya mahasiswa. Di sini ternyata baru ada pekan literatur Inggris, jadi banyak dekorasi bertema Harry Potter! Di cermin kamar mandi ada tulisan Chamber of Secret has been opened. Juga ada sarana berfoto dengan hasil penyihir berwajah menyedihkan di bawah. Bahkan Mbak Eva pun ikut melompat dengan sapu terbang!

Workshop selama empat hari ini memang melelahkan secara fisik dan menguras pikiran. Tapi, sangat menyenangkan bagi saya. Bertemu orang-orang baru, mendapat pengetahuan baru, mengenal kebudayaan baru, dan … ternyata saya jadi sedikit memahami bahasa Minang, meskipun hanya saat membaca, bukan saat bicara.

Sebelum pergi, kami ditawari menambah waktu sehari oleh Mbak Eva, dan tentu saja kami (kecuali Mas Ricky) bilang mau! Hari terakhir ini kami manfaatkan untuk jalan-jalan (postingan akan dibuat terpisah).

Hari Minggu, saya pulang sendiri ke Bandung, karena Mbak Eva baru pulang beberapa hari lagi dan Mas Ricky sudah duluan dengan tujuan Jakarta. Pergi sendiri, pulang sendiri, naik gojek dan ojek bandara (dengan harga berlipat ganda, hiks). Saya dibekali sekardus camilan Christine Hakim dari Bu Sari dan sekotak rendang dari Lala dan Dyno. Terima kasih Bu Sari, Lala, dan Dyno!

christine hakim

kotak rendangnya nggak kefoto

Bagaimana setelah workshop? Lelah? Iya.

Tapi, ternyata pergi tanpa anak-anak meskipun untuk urusan pekerjaan bisa menyegarkan pikiran. Sepulang dari Padang, alhamdulillah pelan-pelan semangat kerja kembali dan sepertinya otak dan pikiran lebih beres.

Karena itulah di judul saya menulis “Membenahi Kekacauan Otak”. Karena memang jadi sedikit beres, meskipun masih banyak sengkleknya, hahahahaaaaa ….

Dan tentu saja, kalau ada tawaran semacam itu lagi, saya akan langsung bilang IYA! 😀

PNP-4

PNP-3

Foto bersama setelah workshop di PNP

Oiya, bagaimana anak-anak selama saya tinggal ke Padang? Ternyata baik-baik saja. Cuma si Lula sempat demam waktu saya dalam perjalanan pulang. Makannya juga lahap. Jarang bertengkar. Kenapa ya, kalau ditinggal mereka bisa semanis itu? Berarti bisa sering-sering ditinggal hihiii… (kemudian Emak lieur).

Hasil workshop penerjemahan ini sudah bisa dilihat di situs web letsreadasia.org dan aplikasi let’s read asia, berupa buku-buku anak berbahasa Minang, bahasa daerah pertama di situs dan aplikasi tersebut.

Beberapa foto diambil oleh Mbak Dina, Mas Ricky, Mbak Eva, dan dokumentasi kampus.

 

Advertisements

2 thoughts on “Padang (April 2018), Workshop Penerjemahan Buku Anak ke Bahasa Minang bersama Litara dan The Asia Foundation, Membenahi Kekacauan Otak

  1. Tp bener mar … ceuk si bibi oge mun ga ada emakna anak2 jd manis semanis maduuuuu…. entah bener atau ngga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s