Belajar “Ngode” bersama Coding Mum dan Teman-Teman Difabel

coding mumSaya sudah pernah menulis, dua tahun ini (2018-2019) banyak sekali kesempatan belajar dibukakan untuk saya. Ada yang berbayar, ada yang gratis. Tapi berbayar pun masih terjangkau lah. Salah satu yang gratis adalah belajar membuat situs web bersama Coding Mum.

Sebetulnya saya pengen ikut sejak pertama berlangsung di Bandung beberapa tahun lalu. Nah, dua minggu lalu, sang pemateri (sebut saja namanya Iduy wkwk) mengirim e-selebaran ke grup astro. Periode ini ternyata untuk para difabel, tapi katanya yang bukan difabel juga boleh ikut. Oke deh, saya daftar! Syaratnya mudah, hanya harus datang selama delapan hari berturut-turut, untuk belajar selama tiga jam setiap hari. Peralatan yang harus dibawa hanya laptop. Lokasi di ATC (Art Therapy Center) Widyatama, di Jl. PHH Mustofa. Asyik karena saya bisa pulang-pergi naik bis TMB Sarijadi-Cicaheum. Turun pas di shelter Widyatama, pulang jalan sedikit ke shelter Taspen. (Saya suka banget naik bis. Pengen belajar nyetirnya juga hihi…)

Hari Pertama

Hari pertama diisi dengan perkenalan pemateri, para mentor, dan setiap peserta. Dilanjutkan dengan sedikit pengenalan materi dari Kakak Iduy. Peserta kebanyakan adalah murid-murid ATC Widyatama, lembaga pendidikan lanjutan untuk anak-anak difabel. Beberapa peserta adalah anak difabel yang kuliah di Universitas Widyatama. Anak-anak difabel ini ada yang tuli, autistik, ADHD, penyandang celebral palsy, borderline. Yang bukan difabel hanya segelintir (termasuk saya).

Hari ini saya belum kenal siapa-siapa kecuali Iduy, tapi… ada salah satu mentor yang menyapa. Ternyata, beberapa hari sebelumnya saya berbalas pesan di FB dengannya (namanya Aliya), ngobrol soal penulisan. Cuma, otak saya nggak langsung bisa menyambungkan wajah dengan nama hihi…. Dulu Aliya pernah ikut kelas menulis-nya Jia Effendie. Nggak nyangka ketemu di sini!

Hari Kedua

Hari ini langsung terjun ke materi HTML. Kami diajarkan membuat “kerangka” situs. Banyak kode-kode yang baru saya ketahui, dengan simbol-simbol yang jarang sekali saya gunakan di keyboard (meskipun saya sudah hafal letak alfabet dan bisa mengetik dengan mata terpejam haha!).

(Saya jadi ingat cerita konyol saya waktu kuliah. Entah bagaimana, angkatan saya kok pada nggak bisa pemrograman. Paling yang cukup melek program hanya Vivi seorang. Saya sendiri waktu pertama kali ketemu Pak Hakim, dosen pembimbing TA, ditanya, “Kamu bisa program apa aja, Mar?” Terus saya jawab dengan pede, “Corel draw dan photoshop, Pak!” Dan Pak Hakim geleng-geleng kepala sambil nyengir. Akhirnya disuruh belajar IRAF dari awal. IRAF itu peranti lunak untuk mengolah citra.)

Pada hari kedua ini, saya duduk di samping Luthfi Haris, mahasiswa ATC. Luthfi adalah penyandang autisme, tapi bisa berkomunikasi dengan baik. Dia sempat memamerkan karya-karyanya pada saya. Keren! Ternyata, Luthfi pernah ikut pameran Festival Bebas Batas di Galeri Nasional dan Pameran Warna-Warna di Galeri Dia.Lo.Gue Jakarta. Karya-karya Luthfi bisa dilihat di sini. Favorit saya yang Volkswagen dan Ibu Kartini.

Hari Ketiga

Hari ini saya satu bis dengan Claudia, mahasiswa ATC juga. Dia penyandang borderline. Sempat mengobrol sebentar di bis, rumahnya di Gunungbatu. Ternyata (saya baru tahu beberapa hari kemudian), salah satu karya Claudia (bersama dua temannya, salah satunya Edo yang juga peserta kelas Coding Mum ini) terpampang di tumbler dan tote bag Starbucks. Mereka mendapatkan royalti dari setiap pembelian merchandise ini. Coba lihat di sini, keren banget ya karya mereka.

Karena Claudia duduk di samping Luthfi, saya pindah ke belakang, duduk di samping Riyadi dan Haqy. Saya nggak tahu Riyadi penyandang apa, tapi dia bisa berkomunikasi dengan lancar meskipun agak kesulitan mengetik (tangan kirinya yang dominan). Haqy sepertinya autistik, dan dia senang sekali mengabsen nama-nama makanan. Seru! Dia juga ramah, sering tertawa. Saya lebih banyak membantu Riyadi. Haqy sudah bisa menyimak sendiri, meskipun kadang-kadang nggak teliti.

Hari Keempat

Hari ini, materi CSS mulai diberikan. Setelah membuat “kerangka”, kami “mendandani” situs masing-masing. Saya masih duduk di belakang, bersama Riyadi dan Haqy. Awalnya saya belum menentukan ingin membuat situs apa. Tapi, baru hari ini terpikir. Saya akan mulai membuat situs web Jebi. Supaya dia punya “rumah” selain Instagram dan Youtube, hehe….

Siapa sih Jebi? Ini proyek nirlaba (sebetulnya modal dengkul wkwk) bersama teman-teman yang dulu nulis screenplay animasi Menggapai Bintang. Mungkin nanti ada postingan khusus tentang Jebi (kalau nggak males, biasa laaah haha). Kalo ada yang mau ngintip boleh, ini Instagram-nya Jebi.

Hari Kelima

Hari ini singkat karena kepotong Jumatan, jadi kelas selesai lebih awal. Materi masih CSS. Saya ngobrol cukup banyak dengan Kang Hilman, yang duduk di sebelah kiri Riyadi. Kang Hilman ini penyandang tuna daksa, tapi masih bisa jalan sendiri. Kang Hilman juga kerja di bagian laundry di Hotel Hilton. Hebat, ya! Kang Hilman cerita kalau dia dapat libur cukup panjang karena waktu Lebaran nggak libur. Tapi Kang Hilman belum cerita pada atasannya tentang pelatihan ini. Jadi sempat bolos sehari karena harus masuk kerja. Kang Hilman juga bodor, jadi bangku belakang sering agak ramai karena ketawa-ketawa.

Hari Keenam

Hari ini agak rempong. Emak reunian. Pak Dindin masih harus ke kantor. Jadi, kami bagi tugas: saya bawa Lula, Pak Dindin bawa Yaya ke kantor. Sebetulnya, hari Jumat saya tanya dulu ke Iduy, boleh nggak ngajak Lula. Jawabannya: boleh banget! Soalnya, kelas Coding Mum di Pekanbaru lalu juga ramai: ibu-ibu belajar, di belakang bapak-bapak mengasuh anak. Hari ini juga saya masuk kelas siang karena sepanjang pagi sampai jam berangkat rasanya lebih repot. Awalnya khawatir ketinggalan materi (karena memang sampai di ATC juga telat 20 menit), tapi ternyata ada masalah teknis: proyektor bermasalah. Jadi kelas juga telat mulai.

Di kelas siang, pesertanya kebanyakan teman tuli. Jadi, Iduy menjelaskan dengan cara mengetik di layar. Sebetulnya ada aplikasi transcriber, mengubah ucapan lisan menjadi tulisan di layar. Tapi waktu pertama kali dicoba pada hari pertama, agak ngaco ya. Bahkan sempat keluar kata yang agak mesum hihi…. Saya merasa materi di kelas ini lebih cepat daripada di kelas pagi, karena teman-teman tuli kan hanya sulit mendengar penjelasan. Kemampuan menangkap materi sih nggak kalah dengan orang-orang non-difabel.

Saya juga khawatir Lula bikin kehebohan. Tapi, mungkin karena kebanyakan pesertanya teman tuli, jadi mereka nggak begitu terganggu kalau Lula agak ribut di belakang. Alhamdulillah selamat sampai akhir, nggak heboh minta jajan (yah biasa… anwar, anak warung). Pertama dia makan bekalnya dulu (hidup mi instan goreng!). Terus mewarnai. Terus nonton Youtube (pakai earphone). Lama-lama main sama Teteh Ulfa, salah seorang mentor. Terus bolak-balik keluar. Syukurlah sekarang Lula udah cukup mengerti, nurut saat dilarang main ke jalan, jangan jauh-jauh dari pintu.

Setelah kelas bubar, saya dan Iduy bergabung dengan teman-teman astro yang berkumpul di Selasih. Mumpung ada artis Norwegia datang hihi… (Ayu Loui pulang kampung, jadilah reuni dadakan). Setelah itu, saya diajak Vivi ketemu dulu sama kakak-kakak seniohhh astro 92 di Pasirkaliki, karena ada artis Denmark (Ceu Demi) pulkam juga. Mereka ngumpul di Pia 170.

Karena udah capek, saya cuma salam-salaman dengan Mbak-Mbak 92 (juga keluarganya Ceu Demi), terus langsung pulang. Naik angkot karena tinggal nyeberang. Nah, kira-kira di depan Saung Kabayan, Lula ngantuk. Saya kitik-kitik lehernya, terus kami ketawa bareng. Eh, pas saat itu seorang “om cantik” (istilahnya si Yaya waktu kecil) naik. Terus doi sensi banget, mengira kami ngetawain. Dia ngomel (tapi nggak ngebentak sih), nuduh saya ngetawain. Merepet soal “sama-sama manusia, blablabla”. Saya coba membela diri, “Nggak ngetawain kok, saya lagi bercanda sama anak!” Eh dia tetap merepet. Lula langsung diem, tegang… Bapak-bapak di depan saya juga langsung siaga (tadinya main game). Si “om cantik” turun di stopan menuju tol, dan sepanjang perjalanan nggak berenti ngomel.

Begitu si “om cantik” turun, bapak di depan saya langsung lega. Kata si bapak, dulu dia nakal, hobi tawuran, ikut geng. Tapi, yang paling anak geng takuti adalah… “om cantik” seperti yang tadi ngomel. Kata si bapak, mereka suka nekad. Jadi (menurut si bapak), lebih baik menyerang duluan kalau punya kasus sama mereka. Saya sih iya-iya aja denger cerita si bapak. Tapi, ini pengalaman baru! (Padahal zaman SMA sering diculik untuk dibawa ngider ke Van Deventer sama teman-teman hihiii….)

Hari Ketujuh

Ini hari terakhir materi. Tinggal merapikan kode. Syukurlah channel Youtube Jebi sudah muncul dengan klip iklan singkat, jadi bisa saya tampilkan di situs web. Ini dia si Jebi!

Sampai di rumah, laptop saya “dibersihkan” dulu oleh Pak Dindin, supaya nggak lemot. Setelahnya, malam-malam saya baru merapikan kode dan melengkapi isi situs web. Syukurlah nggak telat-telat amat dari tenggat hihiii….

Hari Kedelapan

Hari ini adalah penutupan kelas. Lokasinya bukan di ATC, tapi pindah ke ruang seminar di Gedung B Universitas Widyatama. Ternyata, untuk menuju Universitas Widyatama, ada gang kecil yang diapit sungai dan gedung ATC. Jadi nggak perlu memutar ke Jalan Cikutra.

Sejak kemarin Vivi berencana ingin datang. Kata Iduy, Vivi nanti didaftarkan jadi pendamping saya aja (soalnya para peserta lain boleh didampingi orangtua). Sepuluh orang terpilih akan memberikan presentasi hari ini di hadapan perwakilan dari Bekraf, perwakilan yayasan Widyatama, perwakilan Universitas Widyatama, Bu Susi dari Kolla, Mbak Chika dari ProCode, dan Pak Budi Rahardjo, suhu dari segala suhu perkodean (menurut Iduy). Saya sih sudah tahu sejak awal, pasti yang maju anak-anak ATC, jadi tenang-tenang aja hehe….

Waktu menunggu acara mulai, saya duduk di samping Nurul, mahasiswi DKV Universitas Widyatama (bukan ATC), penyandang celebral palsy. Meskipun singkat, rasanya seperti ngobrol dengan teman lama. Nurul bersahabat dengan seorang teman tuli bernama Nurul juga (sesama mahasiswi DKV Universitas Widyatama).

Presentasi teman-teman difabel yang hebat-hebat bisa ditonton di channel ProCodeCG ini:

 

Senang  sekali melihat orangtua yang bangga melihat anaknya presentasi di depan. Jadi orangtua aja sudah berat, apalagi dengan anak difabel. Para bapak dan ibu ini sehebat anak-anaknya.

Setelah acara selesai, saya dan Vivi diajak makan dulu di kantin foodcourt di bawah. Rekomendasi Iduy adalah iga bakar enak dan murah (memang enak dan murah, hanya delapan belas ribu!). Waktu makan, saya ngobrol lagi dengan Nurul (Nurul 1, Nurul 2 malu bergabung hehe). Setelah itu, ada seorang peserta lagi bergabung, namanya Alwan (baru lulus dari BK UPI).

Belajar Banyak!

Selain belajar HTML dan CSS, ada hal lain yang saya pelajari dari kegiatan ini.

  1. Teman-teman difabel itu gigih, disiplin, dan tekun. Saya hampir nggak pernah datang terlambat selama delapan hari ini. Biasanya, lima belas hingga lima menit sebelum kelas mulai, saya sudah sampai di ATC. Tapi, teman-teman difabel selalu sudah siap jauh sebelumnya. Laptop sudah menyala, program Visual Studio Code dan peramban sudah dibuka. Sangat jarang ada yang terlambat. Hebat!
  2. Selalu ada kelebihan di balik kekurangan teman-teman difabel. Kemampuan visual teman-teman tuli dan beberapa teman autistik keren-keren.
  3. Ada perasaan puas dan bahagia kalau saya berhasil membantu teman difabel yang duduk di kiri-kanan saya. Senang sekali kalau mereka gembira saat kode-kode berupa susunan simbol dan kata yang ruwet itu mewujud di peramban.
  4. Jangan macam-macam dengan “om cantik”.

Kesimpulan: I am blessed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s