Bermain ke Gunung Putri

Beberapa bulan lalu saya mengeluh kepada Pak Dindin, pengen hiking, tapi yang hore aja jangan yang berat. Eh dianya malah jadi om-om metropolis yang kalo pulang ke Bandung pengennya tiduuurrr….

Pas banget, diajak bergabung ke grup hiking ITB lintas angkatan oleh Mbak Dyah seorang senioh astro. Ternyata di grup itu ada seseteman ekskul masa SMA. Saya tarik juga seorang sepupu untuk bergabung di grup biar tambah rameee….

Nah, di grup ada rencana untuk hiking ke Gunung Putri. Karena yang ikut banyak, jalurnya dipilih yang cukup ringan. Dari beberapa titik di jalur, tiga di antaranya adalah warung hihii…. Dan jalurnya pun konon nggak terlalu menanjak. Cocok lah karena hiking terakhir kaya beginian itu… berapa belas tahun lalu, ya? Saya juga ajak si Yaya, dengan harapan semoga dia kuat. Sempat tanya-tanya juga sama teman seekskul itu, di titik start parkir motor aman nggak (males bawa si Vivid), ternyata aman. Okeh, saatnya menyiksa si KK (ini nama motor matic Emak yang biasa saya pakai hehe).

Sayang sekali, hari Minggu pagi pas mau berangkat, saya dan si Yaya mendadak berurusan dulu dengan WC. HP juga lupa dicharge sampai full. Lalu karena saya nggak teliti membaca peta, nyasar deh sampai Tangkuban Perahu. Baru berhasil menemukan jalan menuju Geger Bukit Bintang, titik startnya, setelah menggunakan metode orientasi penduduk lokal (nanya aa-aa juru parkir minimarket dekat situ hihii).

Sampai di titik start sudah terlambat satu jam, padahal menurut perjanjian mau start pukul 06.30. Jadilah nggak sempat serah-terima dulu jersey Timik-Timik (hadiah dari salah seorang senior untuk sekian puluh anggota grup, terima kasih banyaak!). Di pos, bapak-bapak petugas tiket bertanya, “Rombongan ITB ya? Langsung ditunggu di atas.” Padahal yang pakai dresscode merah cuma si Yaya. Saya tadinya pakai sweter merah tapi panas, jadi dibuka (karena tadinya mau ganti jersey).

Saya dan si Yaya akhirnya naik sambil bingung, di atas di manaaa…. Jalannya nanjak pulak. Haduh, setiap beberapa meter istirahat dulu. Tadinya udah mau balik lagi aja, ngajak si Yaya makan di mana gitu. Tapi, coba dulu deh sampai atas. Di tengah jalan, ada spot foto yang kebetulan kosong. Jadi curi-curi motret si Yaya di situ (karena ogah disuruh berpose, biasalaaah… abegong).

Pertanyaan Yaya: “Buk, di situ ada laut? Yaya mau loncat.” Hadehhh 😀

Tapi, penasaran juga ada apa di atas. Akhirnya terus naiiik sampai berjumpa tugu. Di depan sana, mendaki menuju tugu juga, saya melihat seseorang yang saya kenal. Ya saya panggil dah. Eh ternyata betul itu teman seekskul SMA dan teman kuliahnya hahahaaa…. Di tugu nggak foto-foto, karena ternyata rombongan sudah menuju titik kedua, Benteng Gunung Putri.

Ketemu lagi sama orang iniii hahahaaa…. Wajah tanpa sengaja diburamkan. Ini pas istirahat di titik akhir

Baru di Benteng Gunung Putri kami bertemu dengan rombongan lain. Bertemu juga dengan Mbak Dyah, Teh Ori, juga sesama anggota grup yang terlambat (ternyata angkatan ’97 juga, dan sama-sama hafal wajah tapi lupa nama 😀 Kenalan lagi deh sama Dwi di situ). Kenalan juga dengan Mas Yandi, “gegedug”-nya grup hehe…. Naah saat rombongan akan melanjutkan perjalanan, si Yaya mengeluh, pengen ke WC lagi. Waduh. Disuruh tahan sampai titik berikut yang ada warung nggak mau. Akhirnya, si teman ekskul mencarikan tempat agak sepi dan menggali tanah untuk Yaya (makasih Om Omen kata Yaya… Moal deui-deui nya hahaa). Setor di galian tanah bukan pengalaman pertama sih untuk si Yaya, tapi tetap rempong! Makanya nggak sempat foto-foto di benteng.

Setelah urusan si Yaya selesai, kami melanjutkan perjalanan, menuju titik kedua: Warung Ma Eti! Tapi nggak istirahat di sini, lanjut ke titik berikutnya, Warung Pak Kumis. Di sini juga nggak mampir, lanjut ke Warung Jengkol. Di sini baru mampir untuk jajan sejenak, gorengan dulu dong. Tapi, gorengannya kami bungkus, untuk dimakan di titik istirahat berikutnya.

Perjalanan berlanjut menuju Titik Puncak Jayagiri. Di sini ada Warung Ma Idah. Dulu cukup sering ke Jayagiri, tapi kemarin pangling, banyak perubahan (yaa terakhir ke sana juga berbelas tahun lalu sih). Di puncak ini kami beristirahat sejenak setelah menanjak.

Abegong ogah difoto

Lalu, kami berjalan lagi. Di tengah perjalanan, kok ada pemandangan ganjil ya. Ini dia.

Sepasang kuda yang entah liar atau lieur

Mereka asyik merumput. Agak khawatir juga sih kalau pas lewat mereka ngamuk. Tapi ternyata tenang-tenang aja. Mungkin itu kuda peliharaan yang sengaja dilepas di situ untuk mencari makan.

Perjalanan berlanjut ke Leuweung Kunti. Jalurnya cukup becek. Waktu saya jalan di depan, tiba-tiba terdengar suara tawa di belakang. Ternyata Yaya main-main di genangan air dan kecebur. Sepatu dan celananya basah-berlumpur. Yaa ssedikit bawel sih dia, tapi baju gantinya disimpan di dalam jok motor.

Tiba di Leuweung Kunti, si teman ekskul dan teman kuliahnya mengajak bongkar kompor di situ. Istirahat dulu deh. Sebetulnya ada titik akhir di Benteng Cikahuripan, tapi akhirnya kami memutuskan balik lagi dari titik itu. Si Yaya sempat mengeringkan celana dulu (bagian belakangnya yang basah. Dia pakai terbalik, lalu berbaring di flysheet :D). Baru pas mau jalan dia balikin lagi celananya.

Hasil fotonya si teman ekskul

Dari Warung Jengkol, rute yang ditempuh saat perjalanan pulang ternyata berbeda dengan rute pergi. Di sini nggak ada pita-pita oranye penanda jalan. Sempat bercanda, bagaimana kalau sampai di Dago, Jayagiri, atau di tempat-tempat lain? Duh, PR banget karena harus balik lagi ngambil motor. Tapi ternyata muncul juga di jalur yang benar.

Karena jalannya masih batu makadam, kaki lumayan sakit. Di sini si Yaya mulai mengeluh-ngeluh, sakit kakiiii… Terus banyak istirahatnya. Tapi setelah dibujuk, sedikit ditipu, dan agak dipaksa, sampai juga ke Warung Pak Kumis. Lanjut terus meskipun si Yaya masih mengeluh, baru istirahat sebentar di Warung Ma Eti (sempat ke WC juga). Lalu, keluhan berlanjut hahaaa…

Baru setelah melihat banyak orang berjersey kuning agak oranye, keluhan berhenti. Akhirnya sampai juga di titik akhir. Kami menyeduh mi instan di tempat itu. Sebetulnya ditawari makan nasi juga, dengan sambel hasil ulekan Mbak Retno. Tapi si Yaya sudah terbayang-bayang mi instan sejak dari rumah hehe…. Eh beres makan, dia lari lagi ke WC, kaya burung aja.

Mi instan yang sudah terbayang-bayang oleh Yaya

Akhirnya, sekitar jam tiga kami pulang, dengan memotong jalur curam sampai bertemu jalan makadam lagi. Kali ini bareng juga dengan Kang Senja, senioh saya di astro. Lalu lanjut ke tempat parkir. Ternyata, motor saya, si teman ekskul, dan teman kuliahnya terparkir sebelahan hahaaa… Dasarrr. Setelah Yaya bilang terima kasih sama Om Omen dan Om Hakim, kami pulang deh. Kali ini nggak nyasar lagi haha….

Sayang sekali nggak banyak foto-foto karena hp saya keburu lowbatt. Syukurlah dikirim beberapa foto candid oleh si teman ekskul haha….

Foto dari si teman ekskul, lagi ngapain sih saya teh?
Ini juga dari si teman ekskul, giliran lagi ngapain sih Yaya?

Ternyata meskipun capek dan pegal (terutama bagian nyuci lumpur di celana dan kaus kaki Yaya), pikiran jadi segar. Kapan-kapan mau diulang lagi! Terima kasih Grup Hiking ITB Lintas Angkatan, maafkan kami bocah-bocah tua nakal yang telat datang, hihiii….

Catatan: Tetap mengikuti prokes kok, lepas masker pas makan dan saat nggak ada orang banyak di sekitar 😀

ReplyForward

3 thoughts on “Bermain ke Gunung Putri

  1. Kuda2 itu punya Jungle Milk mar, lokasi mereka di bagian yang di pagar berduri di puncak jayagiri,.
    Dulu jalur menuju tebing lumut lewat istal kuda mereka, skrg udah ngga bisa lagi, musti muter lewat leuweung tiis

    Search ig deh jungle milk, tempat kemping dan makan siang cantik di hutan tanpa cape hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s