Padang (April 2018), Workshop Penerjemahan Buku Anak ke Bahasa Minang bersama Litara dan The Asia Foundation, Membenahi Kekacauan Otak

Sekitar akhir tahun 2017 hingga beberapa bulan awal tahun 2018, rasanya otak saya kacau. Berkali-kali sakit menyerang. Bukan yang parah sih, tapi meskipun ece-ece, tetap mengganggu. Nggak kuat menatap layar laptop, paling lama hanya 15 menit. Sakit kepala, kembung, migrain, pilek berulang, radang tenggorokan, gatal-gatal, pokoknya bukan penyakit serius lah. Bukan hanya saya yang sakit melulu, anak-anak juga. Dan sama, nggak ada penyakit berat, tapi karena bergantian dan ada seorang drama queen di rumah, repot juga.

Ternyata, pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan monoton juga menambah tekanan. Meskipun terbebas dari kewajiban memasak (standar Emak tinggi, jadi daripada nggak memuaskan selera, lebih baik Emak aja yang masak. Kalau Emak pergi-pergi baru deh cari menu praktis hihi), masih ada menyapu, mengepel, menjemur baju (jemuran di rumah sulit dijangkau, terlalu tinggi, jadi harus pakai galah), menyeterika, dan menyuapi si drama queen kecil.

Satu lagi yang menambah kekacauan  adalah mendengar anak-anak berantem. Hadoooh … rasanya Tom dan Jerry, Oggy dan para kecoak, He-Man dan The Skeleton lebih akur daripada dua bocah yang bisa bertengkar hanya karena hal sepele seperti “Lula pup! Yaya pis! Pup! Pis! Pup! Pis!” atau “Yaya bau! Lula geuleuh!” dan lain sebagainya. Huh!

he-man.gif

(diwakili oleh He-Man aja ya, The Skeleton-nya nggak usah)

Pokoknya, beberapa bulan itu bisa dibilang masa-masa kelam dalam produktivitas kerja. Selalu ada gangguan. Padahal deadline nggak berubah dan kebutuhan bayar-membayar nggak bisa diskip, hiks …. Rasanya pengen kabur. Sendirian. Yang jauh.

Tapi, “Mana munkin, mustahil, itu hanya hayalan” (menurut Sakya Lail Wahidin, saat berusia hampir empat tahun. Bukan typo, memang begitu kata-katanya).

Saat sedang kacau-kacaunya, datanglah sebuah tawaran dari Mbak Eva Nukman (Litara) untuk menjadi mentor workshop penerjemahan  buku anak di Padang. Horeeee! Langsung saya bilang iya!

Baru setelah bilang iya, saya lapor ke Pak Dindin (meskipun seharusnya sebelum bilang iya lapor dulu, tapi Pak Dindin mah selalu mendukung pekerjaan istrinya hihi…). Kemudian lapor ke Emak. Soalnya, nanti Emak yang dititipi anak-anak. Emak juga selalu mendukung, tapi khawatir, karena mengurus dua anak ajaib itu hadoooh … melelahkan! Dan ternyata, jadwal ke Padang bersamaan dengan jadwal Pak Dindin ke Palembang kemudian Medan. Heu.

Tapi, saya berangkat juga. Bismillah.

Sebelumnya, saya pernah juga menjadi mentor workshop serupa di Bandung. Waktu itu saya sok akrab mengirim e-mail ke Mbak Eva (setelah tahu di Politeknik Bandung ada workshop penerjemahan dari Mbak Dina Begum), menawarkan diri untuk membantu workshop. Alhamdulillah diterima. Waktu itu, workshopnya tentang menerjemahkan buku-buku anak di situs web letsreadasia.org ke bahasa Indonesia.

Alhamdulillah lagi, Mbak Eva dan Litara masih mau mempekerjakan saya. Padahal, workshop di Padang ini menerjemahkan buku-buku anak di situs yang sama ke … bahasa Minang! Alamak! Meskipun darah saya setengah Sumatra, tapi bahasa daerah yang saya kuasai adalah basa Sunda! Tapi, ternyata tugas saya (dan Mbak Dina yang bukan penutur bahasa Minang) hanya memastikan para peserta menangkap makna teks berbahasa Inggris dengan tepat. Yang bertugas memastikan bahasa Minangnya tepat adalah Mbak Eva, Mbak Erna R. Fitrini, dan Mas Ricky Zulkifli yang memang penutur bahasa tersebut.

Perjalanan ke Padang juga adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah leluhur. Meskipun masih jauh dari kampung, tapi masih sepulau lah hihi (malah si Pak Dindin yang duluan ke Medan dan Binjai).

Saya, Mbak Eva, dan Mas Ricky tiba di Padang Senin sore. Sekitar setengah jam kemudian, Mbak Dina dan Mbak Erna datang dari Jakarta. Kami dijemput Bu Sari dari PNP yang ditemani Willy, mahasiswa, juga bapak sopir yang biasa disapa “Ayah” (teringat pada Pidi Baiq, ayah sejuta umat hihiii). Malam pertama itu, kami diajak makan di Martabak Malabar (postingan kuliner dan wisata akan dibuat terpisah). Malam ini juga saya bertemu Dyno dan Hanif yang sudah besar, menjemput titipan batagor dari Bandung.

dyno-hanif

Bertemu mantan… mantan ketua himastron dan mantan teman tapi musuh hahaaa…

Besoknya, kami sudah dijemput pukul delapan pagi. Dua hari pertama, workshop diselenggarakan di PNP, nun jauh di atas bukit, di ujung kampus Universitas Andalas. Kampusnya asri, berbatasan dengan hutan. Katanya, pernah ada ular dan biawak yang pernah masuk kelas segala!

PNP

sepotong kampus PNP

Di PNP, banyak dosen yang menjadi peserta. Bahkan ada salah seorang ibu dosen pakar bahasa Minang (aduh maaf saya lupa namanya). Sewaktu ada pertanyaan tentang bahasa Minang, malah beliau yang menjawab dengan singkat dan jelas. Bu, Ibu kereeen! Menurut beliau, bahasa itu tergantung konteks. Ada kata yang dianggap kasar, tapi dalam konteks tertentu, kata tersebut bisa dianggap lazim dan pantas digunakan.

PNP-2

Tema workshop di PNP. Sayang nggak pakai bahasa Minang ya 😀

Hari ketiga, workshop berlangsung di Universitas Bung Hatta. Sebelumnya, kampus UBH ada di tepi pantai, tapi menurut Pak Elfiondri, dekan FIB yang menjemput kami ke hotel, setelah gempa besar di Padang tahun 2009, terjadi penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan karena isu tsunami. Jadi UBH terburu-buru mendirikan kampus di daerah bypass, Aie Pacah.

UBH

Kampus UBH di Aie Pacah, tepi sawah!

 

Di UBH, kebanyakan pesertanya mahasiswa. Di sini ternyata baru ada pekan literatur Inggris, jadi banyak dekorasi bertema Harry Potter! Di cermin kamar mandi ada tulisan Chamber of Secret has been opened. Juga ada sarana berfoto dengan hasil penyihir berwajah menyedihkan di bawah. Bahkan Mbak Eva pun ikut melompat dengan sapu terbang!

Workshop selama empat hari ini memang melelahkan secara fisik dan menguras pikiran. Tapi, sangat menyenangkan bagi saya. Bertemu orang-orang baru, mendapat pengetahuan baru, mengenal kebudayaan baru, dan … ternyata saya jadi sedikit memahami bahasa Minang, meskipun hanya saat membaca, bukan saat bicara.

Sebelum pergi, kami ditawari menambah waktu sehari oleh Mbak Eva, dan tentu saja kami (kecuali Mas Ricky) bilang mau! Hari terakhir ini kami manfaatkan untuk jalan-jalan (postingan akan dibuat terpisah).

Hari Minggu, saya pulang sendiri ke Bandung, karena Mbak Eva baru pulang beberapa hari lagi dan Mas Ricky sudah duluan dengan tujuan Jakarta. Pergi sendiri, pulang sendiri, naik gojek dan ojek bandara (dengan harga berlipat ganda, hiks). Saya dibekali sekardus camilan Christine Hakim dari Bu Sari dan sekotak rendang dari Lala dan Dyno. Terima kasih Bu Sari, Lala, dan Dyno!

christine hakim

kotak rendangnya nggak kefoto

Bagaimana setelah workshop? Lelah? Iya.

Tapi, ternyata pergi tanpa anak-anak meskipun untuk urusan pekerjaan bisa menyegarkan pikiran. Sepulang dari Padang, alhamdulillah pelan-pelan semangat kerja kembali dan sepertinya otak dan pikiran lebih beres.

Karena itulah di judul saya menulis “Membenahi Kekacauan Otak”. Karena memang jadi sedikit beres, meskipun masih banyak sengkleknya, hahahahaaaaa ….

Dan tentu saja, kalau ada tawaran semacam itu lagi, saya akan langsung bilang IYA! 😀

PNP-4

PNP-3

Foto bersama setelah workshop di PNP

Oiya, bagaimana anak-anak selama saya tinggal ke Padang? Ternyata baik-baik saja. Cuma si Lula sempat demam waktu saya dalam perjalanan pulang. Makannya juga lahap. Jarang bertengkar. Kenapa ya, kalau ditinggal mereka bisa semanis itu? Berarti bisa sering-sering ditinggal hihiii… (kemudian Emak lieur).

Hasil workshop penerjemahan ini sudah bisa dilihat di situs web letsreadasia.org dan aplikasi let’s read asia, berupa buku-buku anak berbahasa Minang, bahasa daerah pertama di situs dan aplikasi tersebut.

Beberapa foto diambil oleh Mbak Dina, Mas Ricky, Mbak Eva, dan dokumentasi kampus.

 

Advertisements

Episode Jadi Guru Les

Ternyata, saya mengalami juga menjalani profesi ini. Profesi yang nggak diniati dan disengaja.

Awalnya sih waktu Yaya masih TK. Bu Teti, salah satu guru TK, meminta saya membuka les bahasa Inggris untuk anak-anak TK, teman-teman seangkatan si Yaya. Oke deh, sekalian ngasuh si Yaya, saya bersedia. Metodenya sama sekali nggak seperti les-les biasa, hanya nyanyi-nyanyi, mewarnai, menggambar, sedikit mencatat. Pesertanya lumayan banyak, mungkin ada sepuluh orang. Periode les ini berjalan cukup lama, sekitar satu semester, sampai bubar sendiri karena anak-anaknya lulus TK dan berpencar ke berbagai SD.

Murid les saya yang kedua adalah kakaknya teman sekelas Yaya di TK, namanya Dinda. Ibunya Dinda yang meminta lewat Bu Teti juga. Saya bilang oke juga. Dinda waktu itu mau ujian kelulusan SMP, dan saya ajari bahasa Inggris, matematika, dan fisika, yang ternyata masih lumayan ingat waktu belajar lagi, nggak seperti biologi yang blasss lupa, cuma ingat hukum Mendel dan teori genetika (dan mungkin reproduksi? :p ). Meskipun ini juga tanpa niat serius jadi guru les, saya senang sekali mengajar Dinda. Soalnya, Dinda rajin dan gigih. Yang agak sulit waktu itu bahasa Inggris, karena menurut Dinda, guru di SMP-nya nggak mengajarkan apa-apa (saya sampai heran, kenapa Dinda bisa naik kelas terus dengan kemampuan bahasa Inggris seperti itu). Tapi, hebatnya, Dinda bisa mengejar dari pengetahuan yang nyaris nol hingga melapor “lumayan bisa!” saat ujian. Waktu dia diterima di SMK negeri sesuai keinginannya, saya ikut senang sekali.

Setelah itu, saya cukup lama nggak memberi les. Hingga pada suatu hari, di sekolah Yaya (waktu itu Yaya kelas 2 SD) ada ekstrakulikuler. Si Yaya ikut menggambar (karena nggak mau yang lain-lain). Ada ekskul bahasa Inggris juga. Nah, baru berjalan beberapa minggu, tiba-tiba saja semua kegiatan ekskul dibatalkan. Alasannya, sekolah nggak mau memungut biaya tambahan, sementara, masa guru-guru yang mengasuh ekskul nggak dibayar? Setelah dibatalkan, ibu salah satu teman Yaya (yang juga tetangga dan waktu TK ikut les juga) meminta saya memberi les lagi untuk anaknya. Dan saya bilang oke juga. Yang ikut les bertiga, cewek-cewek sebaya Yaya (satu teman sekelasnya, dua lagi kakak kelas setahun).

Ternyata, kabar tentang saya yang memberi les menyebar ke tetangga-tetangga. Sampai akhirnya para tetangga yang punya anak-anak kecil (kelas satu sampai kelas tiga) mengirimkan anak-anaknya untuk les. Awalnya hanya bahasa Inggris, tapi akhirnya ada ibu yang meminta anak-anaknya diajari matematika juga. Di antara pelajaran les, saya selipkan materi membuat buku. Saya ajak anak-anak menulis cerita singkat (biasanya delapan halaman), membuat gambarnya, mewarnai, membuat sampulnya, dan menulis sinopsis. Boleh dong diselipi pendidikan literasi sedikit hihiii….

geng riweuh

geng riweuh beserta buku hasil karya mereka. wajah ditutupi bukan karena riweuh hihiii

Kemudian, selain anak-anak SD, kakaknya teman sekelas Yaya (ibunya teman sekelas saya di SD hehe), kelas 9 SMP, ikut les juga. Bahasa Inggris dan matematika. Lalu tambah satu lagi, cucunya kepala sekolah TK, kelas 7. Sama, bahasa Inggris dan matematika.

Saya sendiri nggak tahu apa yang mendorong saya bilang “Oke”. Soalnya, jika dihitung-hitung, dari pekerjaan menerjemahkan, saya bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada memberi les dalam jangka waktu yang sama. Soalnya, tarif les di saya jauh lebih murah daripada bimbel. Saya juga bingung sendiri sih. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin pengalaman saya memberi les untuk Dinda yang menyebabkan saya mengiyakan permintaan les anak-anak itu (ibu-ibu mereka, tepatnya). Rasanya puas mendengar laporan anak bimbingan saya bisa mengerjakan soal-soal ujian.

Akhirnya, setelah berpikir dan merenung, saya merasa, mungkin ini jawabannya: pada saat ini, saya belum mampu bersedekah uang/materi dalam jumlah besar, jadi Tuhan menunjukkan jalan bahwa ini salah satu cara lain, bersedekah dengan ilmu (mudah-mudahan sedekahnya diterima, aamiin).

Dan ini juga membawa saya ke angan-angan selanjutnya: membuat bimbingan belajar antimainstream. Bimbel-bimbel umumnya kan memasang tarif tinggi, satu semester berjuta-juta. Suatu saat nanti, saya ingin membuat bimbel untuk murid-murid yang nggak mampu ikut bimbel mainstream, tapi punya semangat tinggi untuk belajar (mudah-mudahan cita-cita saya terkabul juga, aamiin).

Apakah selama saya memberi les merasa senang? Ternyata nggak. Kadang les diganggu Lula. Kadang yang les geng rusuh (anak-anak cowok yang kerjaannya beranteeeeem melulu), sampai-sampai setelah les saya cuma bisa mandi, makan, terus tidur! Kadang sebal kalau anak les yang SMP nggak fokus, sebentar-sebentar ngecek HP, waktu dikasih soal (yang pernah diajarkan) nggak bisa. Kadang sebal karena si Yaya malah nggak mau ikut belajar. Masa ibunya ngajarin anak-anak lain, anaknya nonton TV di bawah? Huhhh. Pengalaman buruk lain adalah saat terjebak di tengah-tengah antara ABG dan ibunya: si anak bilang les, padahal entah ke mana, terus minta saya bilang ke ibunya kalau dia les. Permintaan itu nggak saya iyakan, pas ibunya nanya ya saya jawab aja dia nggak les. Hasilnya ya dia dihukum orangtuanya. Heu.

Tapi ini episode kehidupan yang memang harus saya jalani. Entah sampai kapan. Mungkin suatu saat, kalau jalur hidup berkelok ke arah lain, episode jadi guru les ini terpaksa saya tinggalkan.

Jadi Begini Perasaan Ibunya Emil dari Lonneberga …. [Postingan Lama]

Seperti biasa, di Facebook muncul feature On This Day, dan tulisan ini muncul. Daripada terserak di banyak tempat, saya pindahkan ke sini aja ya. Ditulis tanggal 16 Oktober 2010 (waaawww tujuh tahun lalu!).

Pernah baca buku Emil dari Lonneberga karya Astrid Lindgren? Tokoh utamanya, Emil, adalah seorang anak laki-laki kecil yang terlihat manis sekali, dengan pipi kemerah-merahan dan rambut pirang yang ikal. Tapi, itu cuma kelihatannya saja. Sudah ratusan hasil karya patung kayu yang dia raut (Setelah berbuat nakal, biasanya dia dihukum dengan dikurungdalam sebuah pondok perabot. Dan setiap kali dikurung di sana, dia meraut sebuah patung kayu).

emil

(sumber dari sini)

Ibu Emil, Alma Svensson, rajin mencatat kenakalan anak sulungnya ini dalam buku berwarna biru, dan sudah ada beberapa buku yang penuh. Perasaannya selalu campur-aduk jika Emil berbuat kenakalan: marah, sedih, cemas (apakah kenakalan itu akan terus berlanjut dan merugikan orang lain?), tapi tentu saja ibu Emil tetap menyayangi anaknya.

Baru sekarang saya memahami perasaan ibunya Emil saat melihat anaknya berbuat kenakalan. Memang apa sih kenakalan yang bisa dilakukan seorang anak yang umurnya hampir satu setengah tahun?

Ternyata banyak!

Ini contohnya: Nyobek bukunya sendiri (karena itu, koleksi berharga buku anak-anak langka milik si Ibuk masih disimpan rapi di rak, hihiii … sekarang mending boardbook dulu aja), numpahin air di gelas, nempelin hidung di depan tivi sambil nonton (biasanya tivinya langsung dimatiin), ngocok-ngocok botol minum sampai airnya berceceran, sengaja mencet kotak susu UHT supaya tumpah, makan remah kue dan nasi di lantai, makan semut, ngegebrak-gebrak tivi dan pintu kaca, makan crayon, makan sabun, naik tangga dan berniat terjun bebas dari anak tangga kelima (yah, ini salah si Ibuk sendiri sih, ngalenyap sebentar karena lagi pilek, untung dia teriak-teriak dan si Ibuk terbangun). Apalagi kalau kebetulan dibawa ke dapur, mulai deh mainin dispenser, toaster, buka-buka laci, gelantungan di kulkas, muter-muter tombol kompor gas, menggelindingkan galon kosong. Di kamar mandi juga begitu, berusaha buka tutup kloset dan masukin tangannya ke sana, minum dari gayung, dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya ….

Kalau dipikir-pikir, semua ini sebetulnya bukan kenakalan ya, tapi hanya keingintahuan seorang anak kecil. Persis seperti Emil, yang ingin tahu rasanya memasukkan kepala ke dalam mangkuk sup, atau ingin menghibur adiknya dengan cara mengerek si adik di tiang bendera!

Tapi tentu saja tindakan-tindakan yang menjurus berbahaya itu tidak dibiarkan. Tapi karena umurnya baru segitu, kadang-kadang bingung juga bagaimana caranya. Marah malah dianya ketawa, mengalihkan perhatian yah … cuma bertahan beberapa menit, lalu balik lagi ke kenakalan semula. Meleng sedikit, tangan terampilnya sudah beraksi. Makanya, Sakya nggak bisa dibiarkan main sendirian. Kadang-kadang si Ibuk suka ngiri sama ibu-ibu lain yang bisa nyambi ngasuh anak sambil melakukan pekerjaan lain, karena dalam kasus Sakya, mana bisaaaa? Awalnya si Bapak belum tahu keadaan begini, tapi sekarang-sekarang akhirnya sadar kalau anaknya termasuk anak yang istimewa, hahaha …. (Makanya, senang sekali kalau si Bapak kebetulan ada di rumah, gantian ya Pak ngasuhnya, Ibuk mau tidurrrrrr hehe).

Meskipun begitu, sama seperti Alma Svensson, saya juga percaya bahwa kenakalan-kenakalan ini adalah bukti bahwa anak kami sedang melatih otaknya agar bisa berfungsi dengan baik, dan saat dewasa, ternyata Emil pun berhasil jadi bupati! (Eh, tapi saya nggak berharap Sakya jadi bupati di sini, tapi kalau dianya mau ya sok aja, hahahahaaa).

Karena itulah, sekarang saya memahami perasaan Alma Svensson, ibunya Emil dari Lonneberga. Hihiii ….

 

 

Menjadi Penerjemah Buku Freelance (Berdedikasi?)

Sebetulnya, saya merasa bukan penerjemah berdedikasi. Soalnya nggak pernah bahas kerjaan di blog, nggak seperti banyak rekan penerjemah lainnya :p Makanya ada tanda tanya dalam kurung di judul. Baiklah, supaya terkesan “berdedikasi” (waeee haha), saya akan sedikit berbagi tentang profesi ini.

Saya adalah penerjemah buku freelance. Kadang mengedit juga. Melamar jadi penerjemah dokumen belum nyangkut aja hihi… Dan dasar pemalas, jarang juga sih saya melamar untuk menerjemahkan dokumen. Padahal, honor penerjemah dokumen jauh lebih besar daripada penerjemah buku. Saya pernah menerjemahkan makalah, tapi jalurnya nggak lewat melamar (waktu itu dikasih kerjaan sama Antie, untuk kantor suaminya). Saya juga menerjemahkan Space Scoop Unawe, artikel astronomi untuk anak-anak dan remaja, untuk langitselatan.com, pro bono. Anggap aja itu bakti saya sebagai lulusan Astronomi bagi masyarakat luas :p.

Oke, jadi sekarang yang saya bahas lebih sempit ya, profesi penerjemah buku freelance. Sepengetahuan saya, ada dua cara untuk menjadi penerjemah buku freelance.

Pertama, mengikuti jalur seperti saya, masuk dulu ke salah satu penerbit buku. Juli 2004 saya bekerja di Mizan Pustaka, sebagai editor lini novel dewasa terjemahan kemudian lini buku anak terjemahan. Waktu itu saya melamar karena melihat iklan di koran. Sebetulnya untuk buku remaja. Nah, pas wawancara, karena saya bilang remaja nggak perlu baca buku-buku panduan (selfhelp), banyak hikmah dari buku fiksi, jadi saya nggak ditempatkan di lini itu haha….

Kemudian, saya mengundurkan diri dari Mizan Desember 2006. Bukan karena menikah dan punya anak, tapi salah satu alasannya adalah karena merasa kekurangan waktu bermain hihiiii…. Nah, setelah mengundurkan diri, saya mengerjakan beberapa terjemahan buku-buku dari Mizan juga. Terus pelan-pelan kenalan dengan editor-editor penerbit lain. Sok akrab. Temenan di Multiply (Oooh asyik sekali sih masa itu). Jadi dikasih kerjaan deh hihi…. Kemudian melamar-lamar lagi ke beberapa penerbit.

Keuntungan memilih jalur ini adalah lamaran saya lebih mudah dilirik penerbit selain Mizan. Soalnya sudah dianggap berpengalaman (meskipun cuma dua tahun lebih sedikit). Bekerja di penerbit selama itu rasanya seperti sekolah lagi, soalnya saya mulai dari awal sebagai lulusan ilmu sains yang nggak tahu (bahkan mendengar pun kayanya belum pernah) teori-teori penerjemahan, editing, dan hal-hal lain yang berkaitan. Kekurangannya? Nggak setiap saat ada lowongan sebagai editor in house di penerbit. Tapi, cukup banyak kok penerjemah freelance mantan editor in house. Sering juga diminta jadi editor freelance.

Jalur kedua adalah langsung melamar ke penerbit. Standarnya begini: siapkan surat lamaran (cover letter), CV, portofolio (siapa tahu punya pengalaman di bidang tulis-menulis, misalnya redaksi majalah kampus, dll), dan contoh terjemahan serta teks aslinya. Bisa dikirim pos, bisa via e-mail. Contoh terjemahan nggak perlu terlalu banyak, sekitar satu bab atau lima halaman deh, dan pilih teks yang kita sukai. Mau fiksi atau nonfiksi? Buku roman atau fantasi? Pilih aja. Alamat penerbit? Googling aja, pasti keluar semua.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara seperti ini memang lebih kecil daripada jalur pertama (bayangkan, berapa surat lamaran yang diterima editor di penerbit, dan kerjaan editor bukan hanya membaca surat lamaran dan mengirim tes bagi calon penerjemah). Tapi, kalau contoh terjemahan kita bagus, surat lamaran, CV, dan portofolio meyakinkan, bisa kok. Beberapa teman saya juga menjadi penerjemah freelance dengan cara ini. (Tapi ingat, jangan tulis “Lamaran untuk menjadi penTerjemah” ya, nanti berkasnya langsung dibuang oleh editor wkwk)

Apa sih senangnya menjadi penerjemah buku freelance? Saya sendiri senang karena hobi membaca. Asyik kan, melakukan hobi dan dibayar. Waktu kerja bisa mengatur sendiri. Mau kerja di mana saja bisa, asal ada colokan dan wifi atau modem.

Susahnya? Banyak. Sebagai pekerja freelance, kita nggak dapat tunjangan: THR, kesehatan, pensiun, dll. Kadang, padahal honornya nggak seberapa, bayaran telat. Kadang banyak orderan, kadang nggak ada sama sekali. Selalu lebih bayar pajak karena pajak langsung dipotong penerbit, dan kalau klaim lebih bayar, setelah dihitung-hitung AR kok malah jatuhnya kurang bayar (ini pengalaman saya, siaaaaal! Moal deui-deui!) Dan ini yang saya alami: saya jadi nggak hobi baca lagi. Soalnya capek. Mengetik dan membaca itu melelahkan. Setelah selesai bekerja, biasanya saya menekuni hobi lain (tidur).

Seperti yang banyak dibilang para pekerja buku, apalagi sekarang, saat ramai-ramainya bahasan pajak penulis, pajak buku, dll., profesi ini mah romantis. Maksudnya, kalau nggak cinta-cinta amat nggak usah jadi penerjemah/penulis/editor buku. Kalau masih ingin merasakan jadi pejabat atau punya mobil mewah kaya artis-artis masa kini, nggak usah jadi penerjemah buku freelance. Jaga lilin weh bwahahahaaaa ….

Biasanya, sebagai pekerja teks kita dianggap selalu berbahasa baik, baku, dan benar dalam setiap kesempatan. Saya sih nggak. Ya blog ini aja contohnya. Tergantung suasana lah, kalau memang perlu dan harus, ya gunakan bahasa yang baku. Kalau lagi gaul mah terserah. Oh iya, dulu waktu masih jadi editor saya pernah nulis juga, kalau saya suka capek melihat teks-teks yang salah. Misalnya spanduk-spanduk di jalan. Atau pengumuman rumah “dikontrakan” atau “dikontrak” atau apalah apalah. Syukurlah fase itu sudah terlewati. Sekarang mah cuek aja, udah capek melototin teks melulu.

Itu langkah awal dulu ya. Nanti (kapan-kapan, mudah-mudahan nggak males lagi hihi) kita bahas apa yang akan dialami setelah “kecemplung” menjadi penerjemah buku freelance.

Cerita Gajah Pulang

molamola

lagi jadi ikan mola-mola

Cerita ini disusun bersama Lula sebelum tidur di kamar yang gelap, di tengah mampet, serak, dan meler bersama.

Saya (S): Pada suatu hari, ada seekor gajah yang sedang menyedot air dengaaaan?
Lula (L): Belalainya? (masih ragu)
S: Kemudian, gajah itu menyemprotkan air ke seekor?
L: Sapi!
S: Kenapa gajah menyemprot sapi?
L: Karena sapinya haus!
S: Sapi bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Terus, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya!
S: Kemudian, dia?
L: Menyemprotkan air!
S: Ke siapa?
L: Monyet!
S: Kenapa?
L: Monyetnya harus mandi!
S: Kenapa monyet harus mandi?
L: Karena monyet bau!
S: Terus, monyet bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Kemudian, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya.
S: Kemudian, dia?
L: Capek, terus pulang.
S: Hah? Pulang ke mana?
L: KE SARIJADI!
Kemudian Lula berbalik, memeluk bantal, langsung tidur :p

Mimpi

bohulsan

Fjallbaka, desa nelayan penuh warna di Pantai Barat Swedia (sumber Pinterest)

 

Sudah banyak orang yang saya kenal berhasil mencapai mimpi-mimpinya. Dan baru hari ini, seorang teman saya juga berhasil mencapai mimpinya. Saya tahu dari dulu dia suka berlari. Beberapa kali saya melihatnya lari di kompleks dekat rumah dan sekali waktu saya teriaki dan dia kaget hihiii…. Terus saya melihat di FB-nya, dia aktif berlari lintas alam. Naik gunung dengan berlari. Dan hari ini, dari FB-nya juga saya tahu, pada usianya yang kepala empat (dan ibuk-ibuk), dia akan mengikuti lomba lari lintas alam di sekitar Mont Blanc, melewati tiga negara cantik: Italia, Prancis, Swiss. Katanya, lima tahun lalu dia menuliskan mimpinya untuk berfoto dengan latar belakang Mont Blanc!

Kisahnya ini semakin membuat saya percaya, mimpi nggak mustahil terwujud. Tentu saja dengan usaha. Dan sepertinya, mimpi itu harus dituliskan ya. Supaya ada target tertulis yang bisa membuat kita mengusahakan jalan menuju ke sana.

Baiklah… saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya.

  1. Punya camping ground. Berarti harus punya tanah dulu yang cukup luas di kaki gunung atau yang lingkungannya masih cukup alami.
  2. Sekolah lagi. Tujuannya apa? Ya nggak tau. Saya cuma pengen aja sekolah lagi. Belajar itu menyenangkan, asal yang kita suka (ya iyalaaaah) 😀
  3. Punya lembaga kursus sendiri. Menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk orang-orang yang nggak punya kesempatan untuk belajar dengan sistem kaku seperti sekolah atau kuliah. Karena itulah saya membuat Kelas 101.
  4. Punya daycare. Memanfaatkan rumah, tapi rumah Sarijadi harus direnovasi dulu.
  5. Membuat buku anak. Saya nggak bilang “menulis” tapi “membuat”, jadi bentuknya bisa lebih fleksibel ya 😉
  6. Punya rumah masa tua di pinggir pantai. Saya anak pantai yang lahir dan terperangkap tinggal di kaki gunung hihi… Saya penikmat bentangan luas langit, pasir, dan air, juga aroma laut dan desir ombak yang memanggil-manggil.
  7. Ke Swedia, ke daerah pedesaan dan pantainya. Ini gara-gara buku Astrid Lindgren dan Edith Unnerstad sih. Selain itu ke daerah pedesaan Belgia, gara-gara buku-bukunya Marcel Marlier dan Gilbert Delahaye. Juga ke Finlandia, Islandia, Santorini-Yunani. (Baru sadar, ini daerah Eropa semua ya, kebanyakan daerah Skandinavia, mungkin pada kehidupan lalu saya ini seorang gadis Viking! :D)
  8. Keliling Indonesia. Ke Pulau Komodo, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan lain-lain.
  9. Belajar alat musik tiup, apa pun jenisnya. Nggak ada tujuan apa-apa, cuma pengen aja hihi….

Ini semua mimpi pribadi saya. Tidak menyangkut orang lain, seperti anak-anak. Ya, tentu saja saya juga menginginkan hal-hal terbaik untuk keluarga saya, misalnya menyekolahkan anak setinggi-tingginya, membahagiakan si Emak, ibu mertua, dan si Bou (uwak saya), dan segala kewajiban spiritual/religius lain.

Kapan mimpi-mimpi ini terwujud? Entahlah. Semoga satu per satu bisa dicontreng dalam waktu yang nggak terlalu lama. Aamiin!

(Saya menambahkan No. 9 belakangan. Mungkin akan ada juga No. 10 dan seterusnya :p )

Satu PR Selesai …. (Tapi Masih Ada)

img-20161119-wa0007

lagi jadi model skuter matik, difotoin Tante Vivi

Akhirnya, si Lula menyapih diri sendiri, pada usia tiga tahun lewat sebulan! 😀

Kalau Yaya menyapih diri sendiri umur dua tahun delapan bulan. Itu juga gara-gara si Ibuk ada kerjaan di Baros selama dua minggu dan pulang malem melulu, jadi dia tidur sama Emak dan kepaksa nggak nenen. Setelah kerjaan selesai, nggak nenennya keterusan.

Waktu si Lula ini, nggak ada kerjaan atau apa gitu yang mengharuskan si Ibuk pulang malem. Jadi yah agak lebih sulit. Kalau si Bapak udah pulang, biasanya bisa tidur ditemani si Bapak (dengan usap-usap, tepuk-tepuk, garuk-garuk, atau pijit, enaknyaaaa). Tapi kalau Bapak pulang malam, akhirnya balik lagi nenen, hiks ….

Awalnya khawatir, mau sampai kapan nenen meluluuuu …. Masa sampai masuk TK? (Hiiiiy ngeriiii wkwkwk) Tapi, sama seperti si Yaya, nggak ada usaha-usaha tambahan seperti oles-oles brotowali, betadin, ditempel plester, apalagi minta doa sama siapa gitu (bukan apa-apa, si Ibuk mah pemalas weh :p)

Keberhasilan menyapih diri sendiri (meskipun lamaaa) ini dipengaruhi oleh apa coba … permen karet. Jadi, kalau dia jajan ke Uni (warung depan rumah Sarijadi), dia suka pengen beli permen karet. Karena khawatir tertelan, biasanya si Ibuk bilang, “Permen karet itu untuk anak yang udah gede, yang udah nggak nenen.”

Mungkin omongan ini melekat di benak si Lula, karena sekitar dua minggu lalu, suatu malam sebelum tidur, tiba-tiba dia bilang “Nggak nenen, kan Lula udah besar. Tapi mau beli permen karet.” Si Ibuk kira cuma semalam dia begitu, eh besok malemnya juga sama, nggak mau nenen. Dan keukeuh mau permen karet yang bulet hihihiiii ….

Agak lama, baru deh dia merasakan permen karet hadiah berhenti nenen. Baru minggu lalu, pas si Yaya beli permen karet (padahal jarang-jarang dia beli), dia kasih Lula satu. Si Ibuk udah berpesan “Jangan ditelan ya!” berulang-ulang. Lula bilang iya. Sampai ngunyahnya diawasi (bukan khawatir tertelannya sih, tapi takut tersedak). Eh … tapi pas meleng sesaat, paling cuma dua detik, dia udah cengar-cengir. Permen karetnya raib! Terus pasang tampang bersalah gitu dengan senyuman sok polos (hadooooh….)

Yah, begitulah kisah sapih-menyapih ini. PR si Ibuk masih ada satu lagi: Toilet Training. Terutama pipis (kalau pup biasanya keburu dibawa ke WC hehe). Kita tunggu aja ya, ada cerita apa lagi nanti hihihiiii ….

Mengartikan Bahasa si Lula

Dulu waktu si Yaya masih bayi dan balita, saya rajin menulis tahap-tahap perkembangannya. Setelah ada si Lula, bisa ngintip blog tiga bulan sekali juga udah alhamdulillah hehe….

lula

Nyengir, difotoin sama si Mamak Robin

Perkembangan Yaya dan Lula berbeda.Kalau si Yaya telat jalan dan ngomong. Dia baru lancar jalan sekitar umur lima belas-delapan belas bulan, tapi setelahnya langsung lari-lari! Ngomong juga cuma “Maaahhh! Maaaahhhh!” tapi setelah bisa ngomong, kok yang keluar satu kalimat lengkap (dan baku pulak) hihi …. Kalau si Lula, rasanya nggak ada perkembangan drastis, dia bisa jalan dan ngomong secara bertahap.

Tapi, kalau diperhatikan, si Lula itu cenderung sengau, kalo bahasa Sunda-nya ngirung. Pada usianya sekarang (tiga tahun kurang dua minggu), dia masih belum bisa bilang huruf “S” di awal kata. Kalau bilang “esss” bisa, tapi “susu” jadi “u-u”, “sofa” jadi “o-a”, “Tante Shasa” jadi “Tante Haha”. Kebanyakan kata yang sulit dia ucapkan jadi ha, misalnya “ternyata” jadi “ahata”. Kadang keras kepala juga sih, dia bisa bilang “boneka”, tapi keukeuh jadi “ohoka”. Kekeraskepalaan ini juga muncul pada huruf vokal, dia bisa bilang “Ibuk” tapi keukeuh manggilnya “Mbooook” dan “Uni” jadi “Oneeee” hahaaa ….

Dulu si Yaya punya beberapa bahasa yang misterius. Misalnya “Hiiy, labi-labi!” yang ternyata “gelap!” (dari “gelap, gelap hiiii!”) dan yang sampai sekarang belum terkuak adalah “Aciiciciaaaa!” (kalau melihat sesuatu diurai, misalnya rafia diurai dari gulungan, tisu diurai dari gulungan, dll).

Kalau si Lula, kasusnya adalah lagu. Lula itu Princess Syalala, sejak umur delapan bulan dia sudah bersenandung “Hmmm hmmm hmmmmm!” dengan wajah lempeng dan sedikit menggeram. Semakin besar, semakin suka bernyanyi. Kalau si Yaya suaranya lembut, merdu merayu, kalau Lula lebih ngerock! 😀 Karena hobinya nonton Youtube yang banyak lagu-lagunya, dia sudah hafal banyak, mulai dari lagu anak Indonesia, nursery rhymes berbahasa Inggris, dan … lagu-lagu Jepang. Ini yang sulit soalnya saya belum ngerti bahasa Jepang hahahaaa ….

Setahun lalu, dia suka nyanyi “Naik ndahhhh… ing ing Bapaaaap!” terus kami yang mendengarkan bingung, lagu apa sih? Naik becak? Bukan. Naik delman? Bukan. Kring-kring ada sepeda? Bukan juga. Naik sepeda sama si Bapak? (Karena dia manggil Bapak dengan sebutan Bapap) Ternyata bukan juga. Baru beberapa bulan lalu terkuak, ternyata liriknya “Naik sepeda… keliling-liling kota!” (coba search di Youtube, lagu Sepeda, penyanyinya Daffa hihi)

Terus, ada sebuah permainan yang suka dia lakukan sama si Yaya. Begini: “Cacis?” (sambil bergaya nunjuk atau menirukan pistol), “Hukhukhuk!” (mengepalkan tangan, gaya menumbuk), dan “Aaaaaaaaaaaaaaa!” (suaranya bergelombang, kedua tangannya menepuk-nepuk di depan dada). Main apa siiiih… Kata si Yaya itu main gunting kertas batu, tapi dia juga nggak yakin haha …. Mungkin juga betul sih, cacis itu gunting, hukhukhuk batu, aaa kertas. Tapi, si Lula sering seenaknya mengganti kata-katanya, misalnya si Bapak baru pulang, dia bilang “Bapap? Pap pap pap, Bapaaaaaaaap!” atau melihat apa pun di sekitarnya, misalnya ikan “Ikan? Kan kan kan, Ikaaaaaaaan!”

Setelah keranjingan lagu-lagu Jepang, ada beberapa yang misterius lagi. Satu berlirik “Oehehem, oehehem, oehehem!” dengan nada datar sambil membentur-benturkan dua kepalan tangan. Yang kedua “Ai huhupet, ai huhupet, huhahuhahuhahuhah ai huhupet!” Lagu apa cobaaaaa? Awalnya dikira arti “Ai huhupet” adalah “no more monkey jumping on the bed!” tapi kok ada bagian huhahuhahuhahuhah itu ya? Jadi, ini masih misteri. Yang ketiga adalah “Entoh entoh holihiooooo… Onehhhhhh!” Kalo kata si Yaya sih ini lagu berbahasa Jepang, tapi sampai sekarang saya belum nemu lagunya yang manaaaaa ….

Jadi, apakah ini akan jadi misteri tak terpecahkan lagi? 😀

 

UPDATE

Dua misteri terpecahkan. Lagu oehehem ternyata Ram Sam Sam, ai huhupet ai huhupet huhahuhahuhahuhahuhah ternyata “Jelly on the plate, jelly on the plate, wibble-wabble, wibble-wabble…”

Entoh-entoh holihio ada di lagu Jepang Gyu-Gyu, tapi masih belum ketauan, sebetulnya gimana liriknya.

Memperpanjang SIM di Outlet BTC Bandung

Wew, untung ada pembicaraan di salah satu grup whatsapp tentang SIM. Kalau nggak, lapur (apa sih bahasa Indonesianya lapur teh nya, hahaha) deh, harus bikin baru. SIM C saya sudah kadung kedaluwarsa, males aja kalau SIM A juga. Sebelum pergi ke BTC, saya googling dulu tentang ini. Cuma ada satu blog yang menulis pengalaman memperpanjang SIM di BTC, tapi ternyata salah informasi, hiks.

Sehari sebelum tanggal kedaluwarsa, saya datang ke BTC dengan si Yaya. Menurut info di blog yang saya baca, outlet buka sampai jam 20.00. Tapi, ternyata jam 3 outlet sudah sepi, formulir habis. Petugas penjaga bertanya, kapan SIM saya kedaluwarsa? Saya jawab besok. Kata si Bapak, kalau nggak mau bikin baru, usahakan besok sepagi mungkin datang lagi. Hadeuh, perpanjang SIM gagal, tapi terpaksa dipalak main Animal Kaiser sebagai sogokan si Yaya!

Besok paginya, saya datang jam 8 pagi membawa si Lula (soalnya Emak sakit, nggak bisa dititipin 😦 ). Ternyata sudah banyak orang di depan outlet, lantai paling bawah BTC. Tapi saya bengong-bengong dulu, duduk di sana, karena nggak ada petunjuk daftar ke mana, harus ngapain. Syukurlah ternyata ada seorang bapak yang memberitahu kalau kami harus menulis nama di sebuah daftar yang ditempel di pintu kaca ruang pemeriksaan kesehatan (letaknya di belakang outlet). Saya dapat urutan 49, syukurlah (menurut rumor, sehari hanya tersedia 90 formulir). Tapi karena ruang pemeriksaan kesehatan dan outlet belum buka juga, saya dan si Lula jalan-jalan dulu di lantai atas (yang masih gelap karena belum pada buka, hiks hiks).

Setelah sarapan roti, kami turun lagi dan setelah menunggu sebentar, kami disuruh baris oleh si teteh petugas pemeriksaan kesehatan (yang kecil-kecil tapi tegas, melarang orang-orang meninggalkan antrean kalau nggak mau disela hihi). Sebetulnya sih yang antre di depan dan belakang saya baik-baik, kalau saya mau duduk dulu atau ke mana dulu sok aja kata mereka. Tapi malas juga, khawatir nanti pas balik lagi giliran saya sudah terlewat. Jadilah mati gaya mengantre bersama si Lula. Entah berapa lagu yang sudah kami nyanyikan di antrean. Otot juga makin kencang karena gendong, muter-muter, dan ngangkat-ngangkat si Lula (hadeuh…). Sebelum tes, serahkan fotokopi KTP dan SIM lama kita ke petugas pemeriksaan. Terus, biasanya petugas bertanya, mau sekalian laminating SIM nggak? Kalau ya, bayar Rp. 5.000.-.

Sekitar jam 9, ruang pemeriksaan kesehatan baru buka. Antrean beringsut maju sedikit-sedikit. Tapi pemeriksaan tiap orang berlangsung cepat, hanya diperiksa tekanan darah, ditanya berat badan, tes penglihatan (disuruh baca huruf-huruf seperti di dokter mata), tes buta warna. Setelah itu, tunggu dipanggil di loket outlet untuk membayar dan mendapat formulir (perpanjang SIM A bulan Oktober 2016 harganya Rp. 170.000,-. SIM C kalau nggak salah Rp. 150.000,-). Formulir harus diisi di situ (kalau bingung, lihat contoh yang ditempel di dinding, kalau kita menghadap loket pertama, ada di sebelah kanan. Nomor resi dikosongkan saja, diisi oleh petugas), lalu dimasukkan lagi ke kotak kardus di jendela tempat pengisian formulir di belakang loket pertama.

Setelah itu, tunggu dipanggil untuk difoto (dan seperti biasa, kamera, eh entah fotografernya hihi, pembuatan SIM atau KTP paling bisa menemukan sisi gelap, sisi kucel, dan sisi kelam seseorang, hahaha!). Setelah difoto, diambil sidik jari, dan tanda tangan, tunggu sampai SIM-nya jadi deh, nanti dipanggil di loket sebelah kiri loket pertama. Setelah mendapat SIM, kalau tadi kita bayar untuk laminating, balik lagi ke ruang kesehatan, teteh-teteh petugas di sana yang mengerjakan.

Ada beberapa hal yang harus dibawa/diingat saat memperpanjang SIM di sana:

  1. Bawa fotokopi KTP dan bolpen. Sebetulnya ada tempat fotokopian yang juga jual bolpen di depan outlet, tapi mending siapkan sebelumnya. Soalnya waktu itu, fotokopian bukanya lebih siang daripada antrean tes kesehatan dimulai.
  2. Datang sepagi mungkin boleh, langsung cari ruangan tes kesehatan di belakang outlet, tulis nama di situ. Boleh ditinggal sih, tapi jangan lama-lama. Tes kesehatan mah cincai, semua juga lulus sih hihiii ….
  3. Kalau perpanjang dua SIM, tulis nama di daftar dua kali (berurutan), di samping kolom nama ada kolom keterangan jenis SIM. Tes kesehatan sih cukup sekali, tapi nanti dapat dua formulir.
  4. Kalau bisa jangan bawa anak kecil. Khawatir bosan kaya si Lula. Kecuali kalau si anak kecil tenang dan jarang pengen lari-lari ke sana kemari.
  5. Pasang telinga baik-baik, soalnya di tiga loket yang ada di outlet, suara petugasnya kurang keras (Saya heran kenapa nggak pake mikrofon aja).
  6. Sistem belum secanggih outlet SAMSAT di Giant, jadi yah maklum aja kalau berdesakan hehe….
  7. Hanya tersedia 120 formulir per hari, jadi betulan harus datang pagi. Jam 9 formulir sudah habis.

Proses dari daftar di antrean pemeriksaan kesehatan sampai dapat SIM baru memakan waktu sekitar tiga setengah sampai empat jam. Menyebalkan sih waktu terbuang begini, tapi yah gimana lagi, susah kalau diwakilkan hehe….

Oh iya, satu lagi, pastikan alamat KTP dan SIM sama. Kalau beda, prosesnya lebih sulit lagi. Waktu itu ada kasus begini, tapi maaf saya nggak terlalu memperhatikan, samar-samar saya dengar ada yang harus diurus ke Polwiltabes di Jalan Jawa.

Mudah-mudahan pengalaman saya ini berguna ya.

 

Mengurangi Beban Duniawi

even-living-rooms-are-de-cluttered-the-only-furniture-here-is-a-desk-and-chair

Gambar dari tautan di bawah

Di timeline Facebook, berseliweran tautan tentang gerakan hidup minimalis yang sedang gencar di Jepang, terinspirasi ajaran Zen.

Jauh sebelum tautan ini muncul, sebenarnya saya sudah malas beli baju. Awalnya sih karena jarang nemu yang sesuai selera, dan saya heran, kenapa baju-baju sederhana biasanya malah lebih mahal daripada baju-baju dengan banyak hiasan? Lama-lama, keterusan malas, mau di mal, di outlet, beli online, kalau kata orang Sunda mah barieukeun. Memang sih, akhir-akhir ini bokek terus hihi …. Tapi, kalau pas pegang uang nggak pernah kepikiran juga.

Kesadaran ini mulai terasa pas beres-beres baju sebelum pindah ke Sariwangi. Isi lemari saya berkurang setengahnya. Dan semakin terasa waktu hidup “nomaden”, bolak-balik Sariwangi-Sarijadi. Ternyata manusia nggak butuh banyak pakaian. Menurut saya, sepuluh potong baju atasan sudah cukup, bawahan (rok, celana) cukup empat. Itu sudah termasuk baju tidur. Warna dan model netral, jangan bermotif (Itu teori saya ya hihi).

Tapi, ini belum bisa diterapkan pada anak-anak ya. Apalagi Lula masih berpopok dan Yaya harus berseragam ke sekolah. Baju-baju mereka juga cepat kotor dan bau kecut, jadi harus sering ganti.

Bagaimana dengan barang-barang lain? Karena saya pemalas, sebenarnya nggak suka pekerjaan rumah tangga, gaya hidup minimalis ini cocok banget. Saya nggak suka hiasan dan pajangan rumah. Malas bersihin debu. Karpet berbulu-bulu dan tirai-tirai berimpel juga nggak suka, sarang debu, sering bikin gatal. Ada perkecualian sih, buku. Apalagi buku-buku anak kesukaan saya sejak kecil, yang langka dan sulit dikumpulkan. Juga buku terjemahan dan suntingan saya. Tapi, akhir-akhir ini juga malas beli buku fisik, selain buku anak untuk Yaya dan Lula. Meskipun mata sepet, numpuk e-book ternyata lebih praktis.

Suatu saat, saya ingin sekali hidup seperti tautan di atas. Punya barang yang fungsional saja, nggak berlebihan. Rasanya kok ringan ya. Beban duniawi berkurang banyak. Kalau dikaitkan dengan sisi religius, Rasulullah SAW juga hidupnya seperti begini. Tapi, saya mah alasannya cemen, sebagian besar karena PEMALAS hihi ….