Mengapa Kelas 101?

Kelas101

Kelas 101 adalah proyek yang mewujud tiba-tiba. Semua berawal dari rasa penasaran, kenapa di Indonesia belum ada kursus-kursus yang menarik, menambah ilmu sekaligus ajang refreshing.

Sebetulnya, kalau dirunut lebih lampau, almarhum bapak saya (selanjutnya kita sebut saja si Papap :D) juga pernah punya visi tentang ini, meskipun dalam bentuk lain. Karena bidangnya adalah manajemen, organisasi, dan industri kecil, jadi kebanyakan kursus atau workshop adalah tentang itu. Saya sendiri pernah jadi peserta kelas industri kecil-nya. Banyak juga materi pelatihan yang disusun si Papap. Masih ada semua file-nya.

Cita-cita bikin kursus ini lamaaa saya pikirkan. Tujuannya sih sederhana, saya pengen belajar banyak hal. Mungkin orang lain juga pengen. Tapi, kalau harus masuk sekolah formal, kok ribet ya. Apalagi pascasarjana. Biaya mahal, kuliah menyita waktu. Tapi kursus-kursus yang ada belum beragam. Saya juga pernah ikut workshop cat air di Tobucil sama Mas Tanto. Waaah, asyik banget. Suasana informal, biaya terjangkau, nambah ilmu. Tobucil juga asyik-asyik kelasnya, mulai dari merajut sampai kelas fotografi. Kalau waktu saya luang sih sampe sekarang saya juga masih pengen ikut kelas-kelas Tobucil! (Yah, mudah-mudahan nanti kalo si Lula sudah agak besar)

Orang yang pertama saya ajak ngobrol tentang ide ini adalah Ita, temen si Abang. Kenapa Ita? Entahlah. Yang pertama terlintas di kepala waktu ide ini muncul kok dia ya. Mungkin memang sudah ditakdirkan begitu, hahaha ….  Pas Ita bikin Herbsays Kitchen di Cisangkuy, saya berkunjung dan ngobrol lagi. Eh, ternyata gagasannya mulai berbentuk. Nggak usah kursus dulu, tapi kelas-kelas lepasan aja. Dia bersedia diajak kerja sama, kelas-kelas berlangsung di Herbsays (karena saya nggak punya tempat). Beberapa kali Kelas 101 juga pernah berlangsung di Terminal Coffee, salah satu pemiliknya teman saya juga, Hanifa. Sekarang, Herbsays pindah ke Cigadung, Kelas 101 juga ikut ke sana. Setiaaa!

Saya juga konsultasi sama si Om Jahad alias Sandy, mantan karyawan kantor si Papap, tentang cara bikin kursus. Katanya, jalan aja dulu, soal perizinan mah nanti ajaaa …. Lagian, yang sekarang berjalan kan baru kelas-kelas lepasan, belum yang berkesinambungan seperti kursus pada umumnya. Bahkan kata si Om Jahad (ini julukan si Yaya sih, karena ada satu lagi Om Zaid yang dia sebut Om Jahid), kalau sudah jalan yang berkesinambungan, nanti aja ngurus izinnya. Kalem weh, cenah. Ya sudahlah, mari kita nekad!

DSC_6997

Kelas Fashion Style 101

Namanya apa ya? Tadinya mau Kelas For Dummies tapi khawatir nggak laku, karena peserta dianggap dummy, hahaha! Lalu terlintas kode mata kuliah. Kalkulus 1 biasanya kodenya MA-101. Pengantar Astronomi dulu kodenya AS-101. Ya sudah, Kelas 101-lah namanya. Sengaja pake bahasa Indonesia, pertimbangannya cuma supaya punya ciri khas aja sih. Logo juga dibikinin Pak Dindin. Semalem aja. Konsepnya cuma papan tulis dan tulisan Kelas 101 dari kapur. Sederhana dan buru-buru, hihi ….

PhotoGrid_1427735949552

Kelas Make Up 101

Ide ini juga saya ceritakan waktu bertemu beberapa tante penerjemah dan penggemar buku. Ternyata para tante yang tinggal di Bandung, yaitu Tandem (Tante Dempul) Echy, Natnat, dan Icha, bersedia bantuin. Sejak awal saya bilang, saya nggak mau bikin usaha bersama (terus terang saya kapok. Pernah bikin usaha bersama teman, memang salahnya nggak pake perjanjian yang bener, malah jadi nggak enak ke belakangnya). Kalaupun kerja sama, paling bentuknya mereka jadi instruktur (dibayar per kelas aja) atau kalau Kelas 101 sudah mampu, jadi tenaga lepas, kalau perlu dipanggil dan dibayar. Sayangnya belum mampu hahaha …. “Tim Hore” ini banyak membantu saya (meskipun gratisan, baik sekali ya mereka), seperti Natnat yang bantu foto-foto dan Icha yang bersedia jadi model. 😉

1-DSCF6550

Kelas Travel Blogging 101

Untuk materi kelas, tim hore ini banyak ngasih usul. Kelas pertama, Travel Blogging 101, adalah usul Natnat. Pas juga, teman lama saya, Vira, punya web Indohoy bersama Mumun. Oke, kelas pertama mengundang mereka! Kelas kedua adalah Make Up 101. Gurunya Teh Echy alias tante dempul hihi …. Setelah itu ada Kelas Menulis 101, Kelas Kerudung Cantik 101, Kelas Fashion Style 101, Kelas Make Up 101 dengan instruktur berbeda, Kelas Leatherworks 101. Semua gurunya adalah teman saya! 😀

IMG_20150517_192624

Kelas Menulis 101

Ini satu lagi yang menyenangkan buat saya. Menyambungkan orang-orang. Soalnya, saya sering dihubungi seseorang, “Mar, tau nggak yang bisa ini?” Beberapa kali jadi makcomblang, ternyata berhasil. Jadi, saya sadar, saya punya sumber daya tak terhingga yaitu teman-teman saya yang ahli di bidangnya. Berasa kayak germo hahahaaa …. Atau lebih kerennya head hunter lah, cuma dalam bentuk berbeda.

PhotoGrid_1436200572081

Kelas Make Up 101

 

Para peserta kelas-kelas ini juga kebanyakan masih teman saya. Tapi seiring waktu, page Kelas 101 di FB juga banyak yang nge-like. Lumayan sering juga yang nanya-nanya tentang kelas. Dan jadi nambah kenalan baru, teman baru.

PhotoGrid_1436202013616

Kelas Kerudung Cantik 101

Tapi, itu bisa dibilang salah satu kendala Kelas 101. Peserta masih sedikit, dan kebanyakan teman haha …. Banyak yang nanya, tapi sering batal. Bahkan ada kelas yang benar-benar batal, karena nggak ada peserta yang daftar. Kalau sok-sok menganalisis, mungkin masih banyak orang yang menganggap kelas-kelas seperti ini bukan hal penting. Juga ada yang keberatan soal biaya (Padahal ngintip workshop serupa di Jakarta dan pengen nangis karena mahaaaaal hiks). Seringnya pada batal detik terakhir. Nah ini yang kadang bikin sedih, soalnya udah ngitung souvenir dan konsumsi, hiks ….

PhotoGrid_1453705420596

Kelas Basic Leatherworks 101

Saya juga ingat, si Papap dulu pernah ngomong, kalo mau mulai bisnis, sebisa mungkin jangan yang keluar modal. Cari yang uangnya masuk dulu, bayar-bayar belakangan. Contohnya adalah biro perjalanan/wisata atau lembaga kursus. Tapi, tetap saja beberapa kelas pertama, saya nombok. Sekarang udah nggak, yah pas aja lah buat ongkos sama ikut makan hahaha …. Udah kepikiran mau cari sponsor, tapi belum sempat bikin proposal (eh, barusan aja di-WA sama seseorang yang mau endorse Kelas 101, tunggu aja ya apa wujudnya. Sungguh doa yang terjawab, hihiii). Penyelenggaraan juga masih repot, karena si ibu wali kelas pasti harus bawa salah satu anak, hahaha (Kalo nggak si Emak protes dititipin dua). Oh, ada satu lagi kendala, kalau nawarin Kelas Make Up. Beberapa kali ada yang nggak percaya karena saya yang menyelenggarakan (soalnya dekil, hiks!). Padahal kan gurunya bukan sayaaaaaa! Nggak apa-apa juga (kok banyak nggak apa-apa ya hihi!). Namanya juga usaha.

Keinginan saya yang berikutnya adalah mewujudkan sebuah kelas yang sudah lama jadi cita-cita si Papap. Tahun ’90an, waktu saya masih SMP, si Papap pernah berencana bikin kelas ini. Karena lokasi banyak di sekitar Bandung, dan instrukturnya ada, di lingkaran pergaulan saya juga. Apa itu? Nanti deh, beberapa bulan lagi hehe ….

Ini lucu juga, karena sejak dulu saya males nerusin kerjaan si Papap. Nggak mau masuk TI. Males terlibat sama SBHL Consulting. Tapi ya jalannya harus begini, dapat warisan kantor (meskipun nggak sama warisan duitnya hahahaaaa …. cuma warisan aset kaya kulkas, meja, kursi, hiks … juga kewajiban lapor pajak bulanan). Sekarang malah pengen masuk MM (padahal dulu ogah haha). Mudah-mudahan seiring waktu, SBHL Consulting juga jalan lagi,dengan banyak materi pelatihan yang ada. Aamiin.

Klik INI untuk mengunjungi page Kelas 101 di Facebook dan ITU untuk mengunjungi blog Kelas 101.

Advertisements

Semua Ada Waktunya :D

Si Ibuk rencananya pengen sekolah lagi tahun ini … tapi ternyata batal karena alasan konyol, salah lihat jadwal pendaftaran hihiiiiii. Padahal udah niat tes TOEFL segala.

Ya sudah, nunggu semester genap aja. Eeeeeh … ternyata fakultas yang diminati nggak buka pendaftaran semester genap pulak hahahaaaaa ….

Mungkin memang belum waktunya, disuruh nabung lebih banyak dulu kali ya :p Sekalian masih ada waktu sembilan bulan lagi buat mikir-mikir, tetap masuk situ atau MM aja ya (dan bisa nabung lebih lama biar duitnya cukup buat masuk MM, atau biar si Bapak beresin syakolah dulu).

Amiiiiiin 😀

Scriptwriting, the New Thing

Konon, nggak ada kan yang namanya kebetulan. Sudah jalannya aja kali ya, saat mulai jenuh menerjemahkan selama lima tahun, datanglah sebuah tawaran yang cukup menarik.

Bermula dari sebuah message di FB, dari Nino teman si Abang, yang ngajak jadi scriptwriter untuk film animasi pendek. Awalnya agak ragu karena ini proyek dari pemerintah, untuk penunjang pelajaran tingkat SMP. Tapi, akhirnya diterima juga karena saya pikir lumayan, untuk refreshing dari kerjaan rutin (dan karena faktor D juga sih, duiiiit, duiiiit! Hihiii).

Awalnya ada dua mata pelajaran yang harus dibuat screenplaynya: PKn dan Sejarah. Setelah diundi, saya dapat mata pelajaran PKn, 2 episode. Ngeri juga, soalnya kurikulum jadul kan pancasilais bangeeeet … takutnya jadi membosankan, menggurui, dll. Sinopsis dan screenplay yang pertama dibuat pun garing karena masih terbatasi oleh “pancasilais” tea … sampai akhirnya, ketemu dengan seorang narasumber yang awalnya terlihat formal tapi ternyata pikirannya asik juga, Pak Aim, dosen PKn UPI.

Pak Aim ini yang “membebaskan” pikiran saya (entah ya temen-temen lain), bahwa materi untuk anak sekolah itu seharusnya nggak normatif, tapi harus memancing agar mereka ikut berpikir. Makanya, di screenplay BOLEH mengkritik pemerintah, senang sekali kan? Hahahaaaa …. Tapi, namanya juga materi penunjang pelajaran, ya sebisanya digabungkan lah dengan materi yang ada dalam pelajaran.

Lewat kerjaan ini pulak jadi kenal dengan Dzi Studio, yang biasa ngerjain orderan begini. Dan ternyata, setelah screenplay PKn selesai (ditambah satu episode juga, jadi tiga), eh … ternyata disuruh lanjut ngerjain screenplay bahasa Indonesia! (Kalo yang ini proyek Sangkuriang, harus selesai dalam waktu mepet pisan!)

Kalo dibandingkan, duitnya ya banyakan dari kerjaan terjemahan yang udah rutin. Tapi lumayan juga karena nggak banyak waktu tersita buat ngerjainnya. Terus, saya pun udah ngintip trailernya. Yang PKn lucu, yang Sejarah kereeeeeeeen …. Nah ini juga yang jadi masalah: bagaimana menerjemahkan materi pelajaran ke dalam sebuah film singkat berdurasi 8 menit saja. Tapi tentu saja, ini tantangan!

Yah, coba aja silang-sengkarut masalah animasi di negeri ini beres. Pasti lebih keren dari Upin-Ipin. Silang-sengkarutnya seperti apa, ya itu masalahnya: duit. Proyek animasi kan mahal, makanya stasiun-stasiun TV sini nggak pada mau beli. Pemerintah mana kepikiran, kalo Malaysia kan beli serial Upin-Ipin terus ngejual lagi ke mana-mana dengan harga murah. Dapet keuntungan, kebudayaan Malaysia pun lebih terangkat. Tapi entahlah, mungkin harus ditanyakan lagi ke orang-orang yang khatam soal animasi.

Anyway, pekerjaan baru ini lumayan menyegarkan. Dan kalau ada tawaran lagi, saya pasti mau menerima. Malah pengennya mah nulis script yang lebih panjang, misalnya sinetron (yah, kalo duitnya lumayan mah mau aja hahahahaaaaaa … kan cewek matrek!).

Doa Ramadhan

Hihi … mentang-mentang bulan puasa mendadak religius hahahaaaaaa …. Tapi doa ini timbul dari pengalaman saya selama dua puasa terakhir, sejak si Papap meninggal 30 Agustus 2010 lalu, dan yang akhirnya membuat saya jadi CEO SBHL Consulting! Haha!

Ini doanya:

“Ya Allah, semoga saya, keluarga, dan keturunan saya hanya makan dan menggunakan uang dari rizki yang halal, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak merugikan orang lain. Amiin.”

Eh ini mah serius. Pisan.

Demi Cita-Cita … (Halahhhhh!)

Mulai minggu depan, rencananya si Ibuk mau “ngantor” kembali. Seperti pada kata “sompral”, “ngantor”-nya pake tanda kutip. Demi meraih cita-cita yang semoga terwujud pada tahun ini! 😀

Apa itu cita-citanya? Nanti aja lah bilang-bilangnya, kalau sudah pasti beneran. Cita-citanya positif dan menyegarkan kok. Bisa dibilang ini tabungan untuk masa depan, modal yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan kalau beneran niat, hehehehe ….

“Ngantor”-nya juga nggak kaya ngantor biasa. Cukup di rumah, di ruang kerja lantai atas, bekas kamarnya si Aki & Nini. Paling-paling bisa “ngantor” cuma hari Senin-Selasa-Sabtu, kalau si Nini nggak ngajar dan bisa jagain Sakya. Pintu ruang kerjanya harus ditutup, supaya Sakya nggak masuk-masuk dan nggak ngegangguin si Ibuk!

Tapi tentu saja harus ada percobaan dulu. Mudah-mudahan lancar. Insya Allah mulai hari Selasa, karena Senin si Nini rapat. Mudah-mudahan juga Sakya nggak rewel dan pengen nenen terus kalau ditinggal Ibuk “ngantor”, hahahahaaaa ….

Amiin. (Lho kok langsung amiin? Eh ini berdoa dalam hati semoga cita-cita itu terwujud hahahaaaaa)