Dalam Asuhan R.A. Kosasih

image

sumbernya entah dari mana tapi nemu di kaskus

Gaya banget, diasuh oleh R.A. Kosasih hihi… Tapi sejak saya mulai bisa membaca, R.A. Kosasih adalah salah seorang “pengasuh” saya, selain Enid Blyton, Astrid Lindgren, Bung Smas, dan lain-lain. Nggak terhitung berapa jam saya duduk anteng sampai lupa makan, lupa mandi, karena keasyikan baca. Juga entah berapa kali buku-buku itu saya baca ulang, sampai kertas-kertasnya keriting dan jilidnya lepas.

Dulu kami punya hampir semua karyanya, mulai dari Ramayana, Mahabharata yang 4 jilid tebal itu, Bharatayuda, dst. dsb. Komik pahlawan super perempuan juga, Sri Asih. Sayang waktu pindah rumah dari Sukahaji ke Sarijadi, semua hilang 😦 bersama koleksi komik-komik lain seperti Tintin, Lucky Luke, dll., juga buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, dll.

Karena R.A. Kosasih, saya jadi tahu epos-epos besar itu dengan cara menyenangkan, meskipun dulu masih mencerna dengan pemahaman anak usia TK/SD. Dan ada beberapa pemahaman yang berubah setelah semakin besar dan tua.

Dan setelah besar, saya baru tersadar dengan takjub: betapa tekunnya R.A. Kosasih menggambar komik-komik dengan detail seteliti itu!

Semoga suatu saat koleksi karya R.A. Kosasih saya bisa lengkap lagi.

Dan semoga R.A. Kosasih di sana tersenyum karena hari ini banyak yang mengenangnya. 🙂

Ini Pengingat bagi Diri Sendiri: Jangan Mengeluh, Buk!

Akhir-akhir ini, saya banyak menemukan tulisan tentang ibu-ibu yang bekerja di kantor vs ibu-ibu rumah tangga. Ada tulisan yang memotivasi, “hujatan”, curhat, dan sebagainya. Dulu saya juga pernah menulis tentang ini di notes facebook, karena posisi saya ada di tengah-tengah, yang katanya adalah WAHM atau Working at Home Mother. Soal alasan pilihan ini juga sudah pernah saya tulis.

image

bersama bos kecil yang paling berwenang mengatur pekerjaan saya

Tapi, yang menggelitik akhir-akhir ini adalah banyaknya kontroversi tentang itu. Seolah-olah ibu bekerja bukan ibu yang baik, atau ibu rumah tangga menyia-nyiakan potensi atau pendidikan tingginya. Karena posisi saya yang “ngangkang”, saya pribadi nggak terlalu terganggu dengan keributan ini (atau pada dasarnya memang nggak pedulian? Entah juga hahaa…).

Saya cuma merasa cocok dengan pilihan ini, dan mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena bisa bekerja di rumah ya (cukup banyak teman saya yang menyatakan “enak ya,” ya memang enak bagi saya, tapi entah buat orang lain). Jujur nih, di kantor dulu, saya hanya bisa bekerja efektif paling lama empat sampai lima jam sehari. Sisanya main game, chatting, ngobrol, bengong, dll. Untuk apa jauh-jauh ngantor kalau hanya untuk begituan? Selain itu, kalau saya ngantor sekarang, kasihan si Emak. Mengasuh cucu (apalagi yang seperti Yaya) melelahkan, sudah waktunya Emak bersenang-senang (walaupun dengan cara lain, mengajar lagi di usia senja!).

Soal pendidikan yang sia-sia, ah nggak juga. Sangat terpakai untuk mengasuh anak kok. Apalagi anak-anak zaman sekarang kritis-kritis. Salah satu contoh, saya masih bisa menjelaskan pengetahuan astronomi dasar kepada si Yaya. Masih banyak lagi yang lain. Dan karena pekerjaan yang mengharuskan saya banyak membaca, saya berhasil menjawab hampir semua pertanyaan Yaya. Kecuali yang “kenapa kuda itu ku- dan sapi itu sa-?” (Sampai saat ini belum nemu jawaban yang pas!) Kalau nggak tahu ya riset lagi, belajar lagi, hihii…

Soal prioritas, saya memang memilih memprioritaskan anak. Ada beberapa tawaran pekerjaan lepas yang saya tolak karena saya harus keluar rumah cukup lama. Banyak pekerjaan yang terpaksa tenggatnya molor dan imbasnya, penghasilan jauh berkurang dibandingkan saat masih jadi freelancer lajang. Tapi ya sudahlah.

(Oh iya, saya juga menghormati teman-teman yang berbisnis MLM dan mencoba memprospek saya jadi downline, maaf kalau saya nggak berminat. Pekerjaan kita sama kok, dilakukan dari rumah. Hanya saja, minat orang berbeda kan? Minat saya di bidang buku dan hal-hal yang berkaitan dengan ini serta makanan. Jual makanan pun masih belum pol karena belum saya prioritaskan secara serius. Dan karena saya tahu MLM juga butuh kerja keras, saya sadar nggak akan maksimal kalau bergabung.)

Nah, ini yang paling penting, karena keputusan ini adalah pilihan sendiri, nggak perlu mengeluh, apalagi marah-marah, karena itu buang energi. Beda lagi kalau nggak ada pilihan lain, misalnya nggak boleh berkarier sama suami atau terpaksa bekerja kantoran untuk menanggung nafkah keluarga. Curhat boleh lah, tapi nggak perlu ke seluruh dunia. Masing-masing orang juga punya masalah, kan? Memangnya masalah kita yang paling berat? Yah, kadang-kadang saya masih mengeluh sama suami. Tapi bukankah itu gunanya suami? Hahahaaa…

Selain nggak perlu mengeluh, mungkin kita harus menebalkan telinga terhadap omongan-omongan miring di sekitar. Daripada marah-marah nggak jelas, mending energinya dipakai untuk merencanakan hal-hal menyenangkan dengan keluarga. Iya kan?

Kecemplung

Kadang kita harus nyemplung dulu ke dalam sesuatu untuk “tersadarkan” bahwa dunia kita bukan di situ.

Dan “tersadarkan” lebih cepat akan lebih baik, betuuul?

Tapi, kalau sudah telanjur nyemplung ya jangan disesali. Nggak sia-sia juga. Kan hasilnya adalah kesadaran baru itu. 😀

Keajaiban Otak

Ini pengalaman saya aja ya. Entah kalau orang lain.

Akhir-akhir ini, sejak sekitar setahun terakhir, saya sering teringat mimpi-mimpi lampau. Bahkan mimpi-mimpi bertahun-tahun lalu. Padahal, beberapa hari setelah mimpi, ingatan itu sudah menguap entah ke mana.

Begitu juga dengan pelajaran sekolah, terutama pelajaran SMA. Ada beberapa yang tiba-tiba saya ingat lagi, terutama pelajaran sejarah dan … Agama Islam. Pelajaran eksakta dan bahasa sih karena terpakai terus jadi nggak sempat dilupakan.

Tanggal-tanggal dalam sejarah sih nggak pernah ingat, jadi ya nggak pernah lupa lagi, begitu juga ayat-ayat Al Qur’an hihiii …. Tapi, peristiwa-peristiwa bersejarah, atau zaman-zaman prasejarah, tiba-tiba muncul lagi dengan jelas. Juga bab-bab tentang hukum waris, pernikahan, tata cara penanganan jenazah, dll., kembali lagi ke latar depan.

Aneh ya? Padahal masa SMA sudah berlalu lebih dari 17 tahun lalu, hahahaaa ….

Nah, coba kita lihat beberapa tahun ke depan ya, apa pelajaran-pelajaran seperti kalkulus, fismat, fismod, mekanika, dan mata kuliah astronomi bisa muncul lagi di otak. Soalnya sudah dilupakan :p

Ajaib ya cara kerja otak manusia itu. Menakjubkan!

Si Korban Sinetron

Jumat lalu, saya ngajak Yaya ke Museum Geologi. Eh, ternyata tiap Jumat dan hari besar tutup. Akhirnya Yaya minta ke Kebun Binatang. Oke, dengan perjanjian: nggak minta gendong dan nggak beli mainan.

image

di kandang wauwau yang cerewet

Di sekitar Gasibu, Kami berpapasan dengan mobil jip Rubicon. Dasar cowok bensin, Yaya langsung teriak, “Buk, mobilnya bagus!” Memang, saya menyahut.

Lalu, dia bilang, “Nanti kalo Yaya udah besar, Yaya mau beliin Ibuk Rubicon. Ibuk suka warna apa?” Hitam, saya jawab. “Yaya mah sukanya yang biru.”

Lalu saya tanya, kapan, kalau Yaya sebesar apa? Setinggi jerapah? (Karena dia janji, kalau sudah setinggi jerapah dia mau gendong Ibuk.)

Yaya jawab “Kalo udah sebesar Haji Muhidin!”

Saya bilang, kalau Yaya sebesar Haji Muhidin, Ibuk setua apa dong?

“Ibuk sebesar Mak Enok!” jawab si Yaya.

Hadeeuuuuh! :p

(Ini gara-gara dia suka tidur sama si Emak, sebelum tidur pasti ikutan nonton. Dan tokoh favoritnya adalah Bos Romlah, sampai hafal “Lebbbih nganga!” Ibuk speechless lah.)

Lempeng Siga Bagong

Salut sama orang-orang yang masih bisa mengurusi masalah orang lain. Ini bukan dalam konteks kerja sosial ya. Itu mah beda lagi.

Saya pribadi, mengurus diri sendiri aja belum becus. Mengurus pekerjaan domestik dan nondomestik juga kewalahan.

Andai saya punya banyak waktu luang, saya lebih ingin berenang, latihan cat air, menulis, jogging, belajar hal-hal baru, atau sekadar bengong. Atau tidur yang nyenyak.

Saya malas memikirkan orang lain. Aing nya kumaha aing. Sia nya kumaha sia weh (Sekali lagi ingat, ini bukan dalam konteks kerja sosial).

Manajemen waktu saya memang masih kacau. Dan nama tengah saya Procrastiniari :p

Nah, orang-orang yang heboh mengurusi orang lain itu, mungkin
1. Manajemen waktunya keren,
2. Punya energi super,

atau..

3. Nggak ada hal lain yang harus dipikirkan atau dikerjakan?

Saya sih terus terang nggak mampu. Mending lempeng weh siga bagong. 😀

Kelas Inspirasi 2013

Kan katanya nggak ada yang namanya kebetulan ya.

Jadi, beberapa waktu terakhir ini ada serentetan peristiwa yang membuat saya berpikir (atau merenung ya?) tentang hidup, tentang mati, tentang “dharma” manusia di bumi. Dan salah satu hasil pikiran/renungan itu adalah: berbuat baik nggak perlu selalu harus berbentuk materi.

Dan beberapa waktu lalu, saya baca berita Kelas Inspirasi 2013 di sebuah grup Facebook. Saya langsung daftar, plus mengajak teman-teman saya yang profesinya “seksi”, para astronom istiqomah (saya mah kan murtad, hahaaaa). Tapi ternyata nama saya yang disebut di twitnya Kelas Inspirasi Bandung. Semoga para astronom istiqomah ini bisa mengisi di tahun-tahun berikutnya.

Saya kebagian di SD Sukarasa 1, di Jl. Gegerkalong Hilir 82. Ini mah daerah jajahan, naik angkot 2000 perak juga nyampe (tapi tetep aja kelewat pas survei hahahaa … Ingetnya Sari Bundo aja sih). Kami, kelompok SD Sukarasa, ada berenam plus dua fotografer: saya, Kang Yudi yang profesinya jurnalis, Teh Poppy (dunia sempit, teman SMA Bapak Dindin hehe) dokter spesialis kulit & kelamin, Silmy sang sutradara, Eka sang copywriter iklan, dan Mogisupply chain engineer di perusahaan tambang, Budhi dan Mas Jaya (fotografer).

Setelah ikut briefing tanggal 10 Februari 2013 di Saung Angklung Udjo, belum kebayang juga bagaimana menceritakan profesi saya kepada anak-anak. Yah, memang jadi penerjemah dan editor buku mah nggak menarik sih, kerjaannya cuma duduk, baca teks, ngetik, bongkar-bongkar kamus, browsing. Dulu juga pernah bercanda dengan Antie sesama penerjemah, kalau diikutin kamera seharian, kehidupan kami mah membosankaaaaaan, hahahaaaa …. Yang menarik hanyalah pekerjaan ini bisa dilakukan di mana saja, mau di kafe atau pinggir kolam renang (asal ada colokan). Juga saatnya orang lain heboh ngantor, kami masih bisa santai-santai di tempat tidur.

Setelah beberapa hari berpikir, baru ketemu satu ide: kenapa anak-anaknya nggak diajakin bikin buku aja ya. Sama saya mau cerita sedikit tentang proses bagaimana satu buku bisa sampai di tangan para pembaca. Buku hasil karya anak-anak ini rencananya akan dijilid per kelas, diberi cover dari hasil karya mereka sendiri, dan nanti diserahkan kepada sekolah lagi.

Persiapan saya sendiri ya gitu deeeh … memang nggak maksimal (Gambar sederhana proses buku tercipta aja dikerjakan malamnya hihi), soalnya pas lagi harus ngirim kerjaan terjemahan dan ngerjain pesenan biscotti. Dan meskipun udah niat mau tidur cepet supaya besoknya nggak kesiangan, teteeep … tidur jam setengah tiga. Syukurlah nggak telat bangun. Tapi, karena nggak biasa keluar pagi, ternyata Gegerkalong itu macheeeet.

Begitu datang, padahal masih jam 06.45, anak-anak sudah upacara. Kami diperkenalkan satu per satu oleh Ibu Epon, Kepsek SD Sukarasa 1 (yang ternyata, setelah pancakaki, rumahnya juga di Sarijadi dan beliau tetangga sepupu saya, hadeuuhhh). Lalu, ada penjelasan sebentar dari Kang Yudi, yang tampaknya cucok jadi guru atau kepala sekolah (Bu Epon hati-hati dikudeta Buuuu :p). Setelah itu, langsung deh masuk kelas!

Kelas yang pertama saya datangi adalah kelas 3. Masih seger-seger doooong. Mereka antusias sekali melihat contoh buku-buku yang saya bawa (beberapa bukunya Yaya). Antusias juga membuat cerita tentang cita-cita mereka (di kertas A5 yang saya bagikan), mau berupa cerita, gambar, juga gabungan dari cerita.

Kelas berikutnya adalah kelas 4. Dua kelas digabung, kelas 4A dan 4B. Di sini suasana lebih riuh. Cukup brutal sih, tapi masih bisa terkendali. Sama, mereka antusias juga melihat buku-buku yang menarik. Di kelas 4 saya menemukan cita-cita unik yaitu: penjual jersey tim sepakbola. Jadi, awalnya si anak ini bercita-cita jadi pemain sepakbola. Tapi dia cuma menggambar jersey-jersey tim sepakbola, dan diledek sama temannya. Waktu dia bete, Budhi sang fotografer nanya, “Memang jersey harganya berapa sih?” Dan dia tercenung. Mikir. “Dua ratus ribu, Kak.” Mungkin setelah itu otaknya berputar dan … mendapat kesimpulan bahwa jadi penjual jersey itu menguntungkan! 😀

DSC_0501

Berikutnya kelas 5. Beda dengan kelas 3 dan kelas 4 yang riuh-rendah, anak-anak kelas 5 ini kalem banget. Mereka melihat-lihat buku dengan tertib. Di kelas 5, cita-cita paling unik yang saya temukan adalah jadi ustadz.

Setelah istirahat, saya masuk ke kelas 2. Karena Silmy masih di kelas, saya sempat ikut nonton film. Yang lucu waktu film pendek tentang seorang anak sekolah yang harus berjualan cemilan supaya bisa sekolah, ada seorang anak cowok yang duduk sendirian di tengah tiba-tiba menoleh ke belakang. Lama. Matanya berkaca-kaca. Oh co cuiiiit, ternyata terharu! Ternyata bukan cuma dia, si KM dan teman sebangkunya yang duduk di depan juga ikut nangis. Filmnya mengharukan sih. Dan di kelas 2 ini juga saya menemukan anak yang terinspirasi Silmy, cita-citanya menjadi sutradara. (Tapi itu dialognya nggak kuat euy hahahaaa)

dasar cowok playboy :D

KAT! Kamu tuh ya dasar cowok playboy. Maaf, Sayang.

(Anak kelas 2 gitu lhuwoookhhh!)

Kelas terakhir, gabungan 6A dan 6B, udah pada lemes. Mungkin kurang oksigen juga, kelasnya pengap, isinya banyak. Di sini ada seorang anak yang tampak penasaran sama buku Chasing Vermeer yang saya bawa (waduuuh tapi itu buku langka euy, sekarang sulit ditemukan). Di sini juga ada anak yang terus terang mengaku bahwa cita-citanya adalah artis, bisa bintang sinetron atau penyanyi. Anak ini juga (namanya Elsa) yang numpang saya sampai ke Setiabudi (rumahnya di Hegarmanah katanya).

DSC_0479

Dan ada satu lagi yang membuat saya senang, cita-citanya menjadi ASTRONOM (meskipun dia nggak tau apa nama profesinya hahaha). Semoga menjadi astronom istiqomah dan tidak murtad seperti saya, aamiin.

DSC_0481

Yang ngaco-ngaco juga ada, mau jadi Ninja Hatori, Naruto, astronot tapi gambarnya Astroboy, juga tentara pembasmi UFO. Ini yang mau jadi Ninja Hatori.

DSC_0497-1

Akhirnya acara selesai, sebelum bubar kami foto-foto dulu di depan sekolah bersama murid-murid dan guru-guru SD Sukarasa (fotonya masih di para fotografer). Setelah itu, penyerahan kenang-kenangan kepada Kepsek dan guru-guru, lalu menuju BCCF untuk debriefing. Oh iya, kami dikerubungi anak-anak SD dooong, berasa artis deh. Silmy dan Mogi paling banyak fansnya, bikin Kang Yudi iri, hahahaaaaaa ….

Ada satu hasil yang sama-sama kami rasakan setelah acara selesai: SUARA SERAK. Jadi bertanya-tanya, guru-guru SD itu apa sih rahasianya, apa ngunyah kencur setiap hari?

Tapi, ada beberapa hal serius yang bisa dipikirkan:

1. Sebetulnya mereka sangat berminat membaca buku, dilihat dari semangat dan antusiasme mereka waktu melihat-lihat buku yang memang bercover atau bergambar menarik. Hanya saja, sepertinya mereka nggak punya akses mendapatkan buku-buku semacam itu, baik di perpustakaan sekolah atau di rumah. Ada dua anak kelas 5 SD yang membawa buku KKPK-nya Dar! Mizan, dan mereka mengaku itu meminjam di taman bacaan, tapi bukan di sekolah.

2. Televisi begitu menguasai kehidupan anak-anak. Masih mending kalau acara yang ditonton cocok untuk anak-anak, tapi televisi Indonesia kan begitu ya, kita tahu sendiri. Ada buktinya di hasil karya anak kelas 2 SD, yang dialognya kamu ya dasar playboy itu.

3. Wawasan guru-guru juga penting. Dulu saya sekolah di SD Sejahtera, SD kampung juga (tapi sekarang sudah termasuk SD lumayan lah hehe). Nggak pernah ada guru-guru yang membuka wawasan saya tentang beragam profesi. Mungkin kondisinya di SD ini juga sama. Profesi yang umum di mata anak-anak adalah dokter, pemain sepakbola, guru. Dan dulu (bukan di SD Sukarasa 1 ya), saya sendiri mengalami, ada beberapa guru yang mengarahkan murid-muridnya dengan iming-iming materi. “Kamu masuk ini aja, nanti uangnya banyak lho. Kalau jadi ini kamu akan jadi kaya.” Lalu, ke mana perginya kedamaian hati dan kebahagiaan karena bisa bekerja sesuai passion?

Waktu acara debriefing di BCCF, kami disuruh berpisah, mencari kelompok yang bukan dari SD yang sama. Kami disuruh mendiskusikan (kira-kira seperti ini ya, saya lupa kalimat tepatnya gimana) intervensi apa yang bisa dilakukan kepada sekolah setelah program Kelas Inspirasi terlaksana.

Di kelompok saya, ternyata para anggotanya berpikiran sama:

1. Penyediaan bahan-bahan yang membuka wawasan dalam berbagai media, seperti buku, film, majalah. Kalau infrastruktur yang besar-besar dan mahal-mahal mungkin agak sulit, karena urusannya dengan pemerintah juga kan (karena SD-SD ini sekolah negeri). Banyak buku, film, majalah, yang bisa membuka wawasan, menambah pengetahuan, dan memancing kreativitas anak-anak sekolah.

2. Kesinambungan program. Setelah program ini selesai, lalu mau apa? Semoga saja kami masih punya energi untuk terus berkomunikasi dengan sekolah-sekolah itu.

3. Pemberian wawasan bagi guru. Sama dengan yang saya pikirkan di atas. Misalnya nanti si anak ingin bertanya lebih jauh, bagaimana kalau gurunya nggak tahu?

Biarpun seharian itu berasa gempor (bahkan sudah terlatih dengan Yaya pun saya masih gempor hahaha), itu pengalaman yang sangat berkesan. Seperti banyak dikatakan teman-teman lain, juga Farhan yang sempat bicara sebentar di BCCF: Bukan mereka yang terinspirasi, tapi kami yang terinspirasi dari mereka.

Kegiatan ini juga ternyata nggak menimbulkan suatu rasa “puas” (untuk saya) karena sudah berbuat sesuatu untuk masyarakat. Tapi malah timbul perasaan tergelitik: setelah ini, bagaimana tanggung jawab saya selanjutnya? Masih punya energi untuk melanjutkan nggak?

Semoga, ya! 🙂

Ikan Kecil Bermulut Besar

Sebetulnya saya nggak mau sering-sering nulis beginian. 😦

Ini tentang si Tama. Pertama kali saya mengenalnya waktu dia kelas 1 SMA, tahun 1999. Baru kelas 1 SMA tapi tampangnya tua hihii… Malah kaya lebih tua dari kakaknya.

Kalau saya gengsi ogah ikut pendidikan lanjutan di GPA (karena udah kuliah semester 6), mungkin saya nggak akan mengenalnya dengan baik. Tapi ya memang begitu jalannya, saya masuk kelompok anak-anak seangkatannya saat program pengembaraan ke Gunung Halimun untuk jadi anggota penuh GPA.

Di antara teman-teman seangkatannya, dia paling kuat dan mauan. Bahkan sampai bikin laporan pun, meskipun nggak ngerti, tetep mauan bantu. Tadinya, terus terang saya frustrasi karena ada gap usia, saya mikir ke mana, dia dan teman-teman lain mikir ke mana. Maklum masih pada SMA.

Satu saat yang membuat saya lebih mengenalnya adalah pas hari kedua pendakian. Dari ROP, saya kebagian duluan sama Tama, sementara yang lain ngambil logistik ke bawah. Eh, anak-anak kok lamaaa banget. Akhirnya kami memutuskan nunggu aja di satu puncakan kecil. Dan mulai curhat, hahahaaa…

Yang lebih banyak curhat sih dia. Dan bukan tentang asmara, tapi banyakan tentang kakak sulungnya, Mbak Ima, katanya dimarahin melulu hahahaaa …. Sampe waktu nandain tempat di peta, kami namain itu puncak curhat. 😀

Setelah itu ya jadinya kami sering berkegiatan bersama. Jadi dewan pengurus, panitia ini-itu. Main bareng, nangkring bareng.

Tiga belas tahun mengenal Tama, kayanya saya yang lebih banyak bikin dia repot. Bikin dia panik juga, salah satunya karena saya nginjek kopling dulu baru rem (ah, ekspresi paniknya priceless. Soalnya dia biasa jadi sopir), atau lempeng nggak tengok-tengok saat naik motor terus belok.

Saya juga agak merasa bersalah karena ngegosokin dia biar jadi ketua Dewan Pengurus (itu “sekolah” yang lebih berat daripada sekolah biasa ya Tam :p). Soalnya ngurus GPA itu rieut pisan. Makanya pas sertijab saya bekelin dia kompresan buat bayi, karena bakal sering panas kepala hehe ….

Berapa kali juga saya bikin dia repot karena masalah pribadi saya. Tapi dia mah baik. Baik banget. Sampai kadang-kadang saya marah sama diri sendiri, kenapa harus bikin dia terlibat kerepotan.

Tapi yah, Tama memang gitu. Jarang sekali berpikiran buruk sama orang. Bawaannya hepi terus, dan hebatnya menular. Wajahnya bodor juga sih. Sering diledek karena bibirnya berlebihan. Pokoknya apa-apa tentang bibir, pasti ingat si Tama.

Dia juga yang bawa cerita ikan kecil bermulut besar. Susah cerita cuma lewat tulisan doang mah, karena harus dengan ekspresi, suara, dan nada bicara. Tapi pokoknya, karena dia yang cerita, kisahnya jadi bodor (berhubungan sama bibir lagi).

Tapi, dia kadang-kadang mengejutkan di sela kepolosannya. Waktu saya gagal sidang dan nggak jadi wisuda Oktober, dia ngehibur, “May, kan masih bisa becanda ‘Neneng ITB’ lebih lama.” Itu heureuyan lokal saat dia ngegodain anak-anak SMA, bilang “Neng, Neng, Aa Unpad.” Suatu kali saya yang bales ledekin, “A, A, Neneng ITB, nuju TA deuih.” Dan dia betek, hahahaaa ….

Satu lagi yang saya ingat sampai sekarang, waktu saya bilang pengen kaya. Supaya bisa bantu banyak orang. Dia yang bilang, “Tama mah nggak perlu kaya, mending cukup aja.” Lama setelahnya, saya mengakui dalam hati, memang benar. Itu yang penting, mau sekaya apa pun, kalau kita nggak ngerasa cukup, ya nggak akan puas.

Terakhir kami ketemu di Punclut setelah Idul Adha. Ternyata dia pelihara kumis. Kumis betulan haha … Wajahnya makin bodor. Setelah itu lama nggak ketemu, sampe dia bilang di Twitter, periksa ke RS. Dan kacaunya, saya ledekin, mau suntik silikon bibir?

Tanggal 15 November, 46 hari lalu, dia ngetwit ditawarin lahan makam. Saya bilang si Papap juga ditawarin tapi nggak mau. Nu maot mah kumaha nu hirup weh. Dan deket-deket tanggal segitu, saya mimpi naik kereta, turun di stasiun dan dia yang jemput. Ujug-ujug makcemunthul. Mungkin itu firasat ya. Si Rere Chantau juga didatangi dalam mimpi, katanya dia mau berobat ke Lampung (tapi baru-baru aja).

Ternyata, ada kabar dia tumor otak. Dioperasi Selasa tiga minggu lalu. Sayang saya nggak bisa nengok, si Emak ngawas ujian dan saya nggak mau bawa Yaya ke rumah sakit. Setelah operasi sadar, tapi ternyata beberapa hari kemudian drop karena kena infeksi, dan nggak sadar lagi.

Waktu akhirnya bisa nengok, sempat saya ajak ngomong, tapi udah nggak ada respons. Malamnya dapat kabar katanya agak membaik, tapi beberapa hari kemudian drop lagi.

Dan ternyata, Senin 31 Desember 2012, jam 2 siang, dia “pulang” duluan. Saya nggak kaget kaya waktu si Ical taun 2009, tapi tetep lah, sedih. Seperti perasaan saya waktu si Papap sakit, ada satu perasaan yang bilang, orang ini nggak akan balik lagi.

Only the good die young. Memang bener. Dan saya yakin, seperti si Ical, Tama ingin dikenang dengan senyuman.

Selamat jalan Tam, maaf sudah banyak merepotkan, terima kasih karena sudah menjadi dirimu apa adanya. Sampai jumpa di perhentian berikut. 🙂

image

(foto dari fesbuknya si Tulang Cico eh tapi ternyata pemilik aslinya Oom Ari Marifat)

Berbagi Peran

Heraaaan sama orang-orang yang suka saling menyalahkan.

Misalnya gini: ada yang sedang gencar membela nasib binatang x karena saat ini banyak dibantai. Lalu ada yang protes dan nyinyir, untuk apa binatang diurus? Masih banyak manusia yang perlu diurus.

Atau orang yang gencar membela kemanusiaan di daerah x. Selalu ada yang protes, daerah lain nggak diperhatikan. Malah dianggap menghasut atau memperkeruh suasana.

Dan banyak lagi contohnya. Lagi. Lagi. Lagi.

Alasan orang-orang yang menyerang juga biasanya dangkal. Hanya karena beda ideologi. Atau hanya karena kebencian pribadi/golongan.

Padahal biarlah, toh sama-sama memperjuangkan kebaikan. Kalau nggak bisa mendukung ya sudah, nggak perlu, konsentrasi saja sama urusan masing-masing, tapi nggak perlu menganggap diri paling benar.

Biar saja kalau ada yang berniat membela satu hal, sementara kita membela hal lain. Selama masih dalam kebaikan.

Itu yang namanya berbagi peran.

Maddah

Tahun 2012 memang tahun saya belajar banyak hal baru. Mulai dari coba-coba nulis script film animasi, belajar cat air, menerjemahkan genre baru, dan yang ini.

Awalnya, suatu hari saya di-SMS Boit sang pemilik Omuniuum. Akhirnya kami whatsapp-an. Ternyata, Boit menawari saya menyunting buku kedua Risa Saraswati, yang berjudul Maddah. Reaksi saya: degdegan. Pertama, ini Risa Saraswati, penyanyi indie yang saya sukai. Kedua, baru pertama kali saya menyunting buku lokal. Yang ketiga, saya tahu, seperti buku pertama Risa yang judulnya Danur, isinya menceritakan sahabat-sahabat Risa dari dunia lain. Wew. Sampai-sampai Boit bertanya, apakah saya takut? Saya jawab, saya sih lempeng jaya, alhamdulillah nggak sensitif sama hal-hal demikian. Tapi tetap males kalau kepaksa ketemu yang begituan, hihiiiii ….

Setelah ngobrol dengan Boit dan akhirnya dengan Risa sendiri, ternyata buku ini diterbitkan secara indie (nggak seperti Danur yang diterbitkan oleh Bukune). Dan saya hanya akan menukar, memangkas, memperbaiki, dan sedikit menambahi struktur kalimat, hanya untuk memoles naskah supaya lebih enak dibaca. Sama seperti Danur, naskah ini pun adalah kumpulan tulisan Risa di blognya, bukan novel. Hanya saja, ada satu benang merah sehingga tetap ada alur cerita. Jadi, memang nggak perlu terlalu banyak merombak isi buku.

Nggak ada masalah saat saya mengerjakan buku ini. Kelebihan Risa adalah beberapa pemilihan diksi yang belum terlalu kita kenal, terutama untuk judul-judul bab. Ini karena dia biasa menulis lirik lagu. Seperti danur, di KBBI: da·nur n air yg keluar dr bangkai (mayat) yg sudah membusuk. Judul-judul babnya juga puitis. Risa juga penutur kisah yang baik, tinggal  kemampuannya menulis dalam bahasa Indonesia saja (seperti EYD, kata baku, huruf kapital dll, pemenggalan kalimat, yang teknis-teknis lah) yang perlu dipoles.

Sebelum mulai bekerja, saya membaca dulu buku pertama, Danur. Seperti buku referensi pada umumnya, saya harus bolak-balik mengacu ke buku pertama, supaya tetap bisa “tune in” dengan cerita. Padahal, awalnya saya nggak berminat baca, karena bukan termasuk genre yang saya sukai. Tapi, setelah membaca Danur dan naskah mentah, saya kok malah terharu. Waktu diskusi dengan Boit via whatsapp pun, saya bilang, ini mah kisah cinta, hanya tokoh-tokohnya saja yang “berbeda”. Cinta yang umum: cinta kepada orangtua, sahabat, teman, dan sesama makhluk Tuhan.

Hanya ada satu kejadian mendebarkan waktu pengerjaan buku ini. Waktu mengerjakan bab tentang Ivanna (supaya nggak spoiler, beli dan baca aja bukunya ya, hihiiii), kok saya nggak enak hati. Nggak enak rasanya kerja sampai tengah malam. Akhirnya, saya selalu kerja pagi sampai sore pas bagian ini. Sampai-sampai saya curhat sama Paklum dan si Emak, kok saya nggak enak hati terus ya. Padahal bagian-bagian lain sih biasa aja. Si Emak sampai berkomentar, “Biasanya Adek kan lempeng sama hal-hal begituan?” Ya entah, nggak bisa dijelaskan.

Eh, tau-tau, suatu malam, Risa SMS saya. Minta beberapa bagian di bab tentang Ivanna itu disensor. Kata Risa, banyak pembaca bukunya yang masih SD (Ya, beneran!), dan bagian itu (tentang kekejaman para serdadu Nippon kepada seorang tokoh di bab itu) terlalu vulgar. Oke, saya bilang. Nanti setelah saya pangkas, saya kirim lagi supaya Risa baca. Saya nggak cerita soal nggak enak hati saya itu. Mungkin itu hanya perasaan Dik Maria saja, hihiiii …. Tapi, ternyata Risa SMS lagi, sang tokoh yang diceritakan sedang menjerit-jerit di telinganya, karena teringat pengalaman buruk oleh orang-orang Nippon itu dan nggak suka. Hah? Jangan-jangan, waktu saya bekerja juga … ah, tapi ya sudahlah, syukur saya cuma nggak enak hati doang. Setelah itu, nggak ada lagi perasaan aneh sepanjang sisa pekerjaan.

Jadi, buku ini bagus nggak? Kalau tanya sama saya, ya saya bilang bagus karena saya juga ikut andil, hahahaaaaa! Tapi, coba aja baca sendiri. Tentukan sendiri, kembali ke selera masing-masing ya. Tapi, buku ini memang ditujukan dengan mayoritas target pasar tertentu: para penggemar Risa yang kebanyakan masih remaja, atau dewasa muda. Jangan berharap ada kalimat-kalimat sastrawi seperti misalnya buku-buku Ayu Utami. Dan menurut saya, ilustrasi cover dan bagian dalam juga mendukung isi buku. Kelam dan absurd. Selain baca buku ini, coba dengar lagu-lagunya Risa di dua albumnya: Story of Peter dan Mirror (yang baru kemarin launching, bersamaan dengan buku ini dan konser Nishkala Sarasvati). Kebanyakan lagu Risa juga bercerita tentang para tokoh dalam dua buku ini.

Coba ceki-ceki Story of Peter. Tapi, favorit saya di album Story of Peter mah Oh I Never Know, duet sama Tulus. Tapi harus sama Tulus, hihihiiii … (kemaren di konser duetnya sama Mario Ginanjar, kok kaya kurang pas ya :D). Beda sama lagu-lagu arteeyyss Indonesia masa kini kan?

Terakhir, sama seperti setelah membaca buku Danur, setelah selesai mengerjakan Maddah, ini hikmah yang bisa saya ambil: jangan sia-siakan orang-orang yang kita sayangi, selama kita atau mereka masih bernapas. Juga, jangan lupa doakan orang-orang yang kita sayangi, ikhlaskan, jika mereka sudah duluan “pulang”.