“Amplok”-nya Udah Kebanyakan! :D

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

foto sebelum disunat, bergaya metal dulu dan akting cemberut sama si Ompung Bou

Tanggal 25 Oktober 2014 kemarin, hari Sabtu, 1 Muharram 1436 H, si Yaya disunat. Sebetulnya ini dadakan, karena sebelumnya kami nggak berencana menyunat si Yaya secepat ini. Tapi, beberapa minggu lalu, Ompung Bou-nya Yaya menawarkan ikut sunatan massal di kantornya, RSHS.

Awalnya agak ragu karena khawatir memakan jatah orang-orang yang lebih berhak ikutan, tapi si Ompung Bou meyakinkan, lagian karena nggak punya anak, jatah si Ompung Bou selama berpuluh-puluh tahun jadi karyawan RSHS nggak pernah terpakai. Oke, ya sudahlah. Sekarang tinggal tanya si Yaya mau apa nggak.

Kalau ngobrol soal sunatan sih sudah cukup sering, terutama saat mandi dan pipis. Si Yaya sih mendengar gosip teman-teman TK-nya (halah budak leutik ngagosip!), kalau disunat itu tititnya dipotong. Tapi, akhirnya dia mengerti kalau disunat itu hanya dipotong sedikit kulup penisnya supaya bersih, mengurangi risiko infeksi karena kotoran yang numpuk. Nah, pas ditanya, mau disunat nggak, eh dia mau. Padahal nggak diiming-imingi nanti banyak dapet hadiah, uang, dan sebagainya. Alhamdulillah soleh juga si Yaya teh yaaa hahahaaaa …. Waktu ditanya, mau apa pas disunat, dia cuma bilang mau cokelat telur (itu lhooo … chocolate egg surprise yang videonya banyak di youtube) seri planes (dia sempat liat di Toko Setiabudi) sama lego Chima yang agak mahalan. Selama ini dia kan beli lego Chima-nya di Pasar Cibogo. Baiklah.

Eh, baru sadar beberapa hari sebelumnya, ternyata sunatan si Yaya bentrok dengan acara pelatihan penerjemah di Mizan. Ya sudahlah, kan si Yaya disunat cuma sekali seumur hidup. Jadi terpaksa batal ikut acara itu, padahal udah daftar.

Hari Kamis, si Yaya diperiksa dulu. Awalnya diperiksa mata, mulut, lidahnya disuruh keluar. Terus dokter yang meriksa bilang, “Sekarang lidahnya dimasukin aja, ganti penisnya.” Eh, dia tetep aja menjulurkan lidah sambil diperiksa, kaya yang ngeledek dokternya, hihiii …. Bikin dokter-dokter cewek di belakang pak dokter yang meriksa cekikikan. Karena dokter-dokter cewek itu cekikikan, dia tambah malu lagi, ogah penisnya keliatan. Yah, tambah geli lagi mereka, sampai si Yaya keluar, dokter-dokter itu masih ketawa-ketawa.

Pas hari H, kami pergi dari rumah jam 8. Si Lula juga ikut, menyemangati akangnya! πŸ˜€ Sekitar jam 9, si Yaya dapat giliran. Tapi yang ikut megangin si Yaya cuma saya dan bapaknya. Yah, sudah bisa ditebak sejak awal, penuh raungan! Apalagi anak-anak lain pada teriak-teriak juga. Si Yaya dapat tempat di pojok, dokternya laki-laki. Anak yang di sebelah si Yaya sih udah agak lebih besar, lumayan tenang, jadinya lebih cepat selesai. Sementara si Yaya … sempat agak meronta-ronta, teriak-teriak nyuruh-nyuruh dokternya “Udah! Udah! Lama! Lamaaaaa! Cepet! Cepet! Cepet! Kok lagi? Gunting benangnya, guntiiiing!” dan selang satu ranjang di sebelah, seorang anak yang lebih kecil berteriak-teriak “Anying anying anying!” Dokter yang nyunat si Yaya juga sampai ketawa. Si Yaya sempat teriak nahan sakit “Kak kak kakkkkk!” eh sama dia diplesetin “kakaktua!” bikin dokter-dokternya ketawa juga :D. Sayang nggak sempat motret dia pas dan setelah disunat, malah dokter-dokter lain yang motret.

Meskipun rasanya lama banget, tapi ternyata cukup cepat juga. Setelah disunat, dia dapat satu tumpeng mini, obat-obatan, dan “amplok” (amplop, maksudnya). Di jalan dia tidur. Jam sebelas siang sudah sampai rumah. Agak sore juga dia tidur lagi. Saya udah agak cemas karena beberapa saudara bilang “Tunggu sampai biusnya habis!” eh tapi dia cuek-cuek aja tuh, nggak nangis-nangis kesakitan. Cuma agak manja aja, pengen disuapin dan lain-lain.

Besoknya, saudara-saudara pada datang, dan pada ngasih “amplok”. Karena sejak awal nggak diiming-imingi itu, dia kaget dan malah teriak “Kenapa sih pada ngasih ‘amplok’? Udah kebanyakan, tauuuuk!” Hahaha … dasar bocah penggemar duit dua rebuan! (Dia mah taunya duit pecahan dua ribu, yang biasanya dipakai beli mainan di “Mangmang” kleneng-kleneng yang suka nangkring di depan TK) Hari Senin juga guru-guru pada ngasih “amplok”, dia bilang gitu juga hahahaaaaa ….

Tadi, hari Selasa tanggal 28 Oktober, kami kontrol lagi, dan syukurlah kata dokternya bagus, perban bisa dibuka, udah boleh kena air tapi setelahnya dilap dan dioles salep. Mudah-mudahan pemulihan selanjutnya nggak bermasalah juga.

Begitulah kisah si Yaya disunat, doakan ya semoga si Yaya tambah bageur, pinter, dan soleh! πŸ˜€

Advertisements

Oktober!

Tadinya judulnya pake titik-titik. Oktober …. Tapi nggak seru ah. Coba pake tanda seru, supaya nambah semangat sedikit.

Bulan Oktober ini, saya ikut lagi kelas cat airnya Mas Tanto di Tobucil. Tapi, tahun ini sepertinya lebih kacau daripada tahun kemarin (sayanya, bukan kelasnya hahaha), soalnya hati selalu nggak tenang karena ninggalin si Lula di rumah. Dari empat kali pertemuan, dua kali saya terpaksa bawa si Yaya juga, dan … gitu dueeeech, kacau juga :p.

Oktober ini juga ada #inktober challenge. Meskipun nggak bisa tiap hari ikut menggambar, seringnya tertidur (kata seorang teman yang proofreader, yang betul itu tertidur. Kalau ketiduran, berarti ada seseorang atau sesosok makhluk yang tidur di atas tubuh kita hihi). Dengan bayi yang pasti selalu pengen ngerebut alat gambar dan ngerobek kertas, juga anak kecil yang selalu pengen nimbrung, satu-satunya waktu luang untuk menggambar adalah malam, setelah mereka tidur dan sebelum start kerja malam. Meskipun hasilnya juga ya gitu dueeeeech, kegiatan ini bisa sedikit menghibur. Buat saya menggambar ya hiburan, kajeun dibilang jelek juga hahahaaa ….

Bulan Oktober ini juga, si Yaya insya Allah mau disunat. Karena belum terjadi, belum bisa diceritakan bagaimana rentetan peristiwanya.

Oh iya, bulan Oktober ini, umur saya bertambah, jadi delapan belas! (kali dua :p) Jatah usia hidup semakin berkurang, jadi semoga saya bisa jadi orang yang lebih baik untuk siapa pun. Tapi semoga semangat masih tetap delapan belas! πŸ˜€ Sayangnya ada satu keinginan yang nggak tercapai untuk menikmati hari ulang tahun: nggak perlu turun dari tempat tidur seharian, minimal setengah hari aja. Mimpiiiiiiiiiiiiiiiii πŸ˜€

Oktober ini, semoga semua masalah ada titik terangnya!

Cerita Terlambat Si Lulanon

Cerita ini mungkin sudah sangat terlambat, karena keterbatasan gawai (seringnya online di HP, jarang sekali ada kesempatan pegang komputer, sementara laptop untuk kerja sulit dipake internetan) dan energi :p.

Jadi, waktu umur Yaya sekitar tiga tahun, saya dan bapaknya berencana memberi adik. Ternyata, sebelum Yaya berulang tahun keempat, saya hamil.

Kehamilan kedua ini juga nggak terlalu disadari seperti waktu hamil Yaya. Cuma kerasa nggak enak badan seperti PMS. Agak curiga karena terlambat menstruasi, tapi karena ada flek, jadi saya kira karena capek, yang keluar hanya sedikit. Dua kali flek, dua kali juga saya curiga, jadi beli testpack. Tapi, ternyata dua-duanya negatif. Baru waktu tes ketiga, keluar garis dua.

Karena faktor U, kehamilan kali ini lebih melelahkan! (Coba kalau nikah umur 19 gitu ya, hahaaa). Terus, karena jadwal ngajar Emak masih padat, nggak bisa ikut yoga prenatal seperti waktu hamil Yaya, karena harus jauh-jauh ke Yogaleaf Buahbatu, Voila sedang renovasi. Ya sudah, sebisanya yoga sendiri, setidaknya setiap hari peregangan. Berenang juga masih, tapi nggak sesering waktu hamil Yaya, karena alasan yang sama.

DSC_0909

Akibat trauma naik berat badan drastis, 20 kg waktu hamil Yaya, saya konsisten dengan food combining abal-abal (sejak sebelum hamil juga sih, sayang setelah melahirkan, karena makan “sakasampeurna”, jadi FC-nya berantakan). Yang penting pagi-pagi sarapan buah, kalau aturan lain seperti memisahkan protein hewani dengan karbohidrat sih cukup sering dilanggar. Tapi, cara ini lumayan berhasil, karena kenaikan berat badan saya hanya 9 kg sampai waktunya melahirkan.

Kebetulan sebelum kehamilan kedua ini saya melihat page tentang gentle birth di Facebook. Jadi, saya cari informasi sebanyak-banyaknya tentang ini. Tapi tetap kontrol ke Dokter Evi di Hermina Pasteur. Pengennya sih bisa water birth, jadi saya melacak bidan/dokter yang bisa membantu water birth. Dulu, di Galenia yang di belakang Salman bisa, tapi setelah bertanya-tanya via telepon, sudah nggak ada. Bidan yang biasa membantu juga sudah keluar katanya. Jadilah saya melacak bidannya, Bidan Okke Evriana.

Ternyata, Bidan Okke ini sudah keluar karena membuka klinik sendiri, Bumi Ambu. Lokasinya di Adipura Gedebage. Jauuuuh dari rumah saya. Tapi, akhirnya kesampean juga ketemu sama si teteh cantik ini, dijugjug juga ke Adipura waktu usia kehamilan saya 34 minggu. Ngobrol sama Teh Okke ini enak banget, yang jatahnya satu jam jadi moloooor. Meskipun ini kehamilan kedua, ada beberapa hal penting yang baru saya ketahui supaya persalinan lancar: bersihkan puting setiap hari sejak usia kehamilan 34 minggu (supaya ASI lancar), usahakan jangan sembelit (makan sayur dan buah, minum air putih yang banyak), dan jalan kaki setiap hari satu jam (ini bisa dicicil, misalnya setengah jam pagi, setengah jam sore).

Rencananya sih saya ingin melahirkan di rumah, Teh Okke juga sudah setuju dan sempat ke rumah minggu depannya. Tapi, ternyata, ketuban saya pecah saat usia kehamilan 38 minggu. Memang sejak pagi agak nggak enak badan, kerasa mules-mules sedikit, tapi nggak dahsyat. Yah, memang menurut Teh Okke juga melahirkan itu jodoh-jodohan. Waktu saya telepon, Teh Okke nyuruh segera ke rumah sakit, karena waktu itu Minggu sore, pasti macet, kalau nunggu takutnya nggak keburu.

Kebayang kan, Minggu sore kalau ke Hermina Pasteur, pasti antre mobil-mobil yang mau pulang ke Jakarta. Awalnya mau ke RSB Aisyah di dekat rumah, tapi si Emak yang sudah panik nyuruh Bidan Emma di Gegerkalong Hilir. Ya sudah, nurut aja kata Emak, soalnya kami juga bingung hehehe ….

Pecah ketuban jam 4, sampai sana lima belas menit kemudian, diperiksa ternyata sudah bukaan 5. Padahal nggak kerasa mules-mules. Masih bisa whatsappan sama temen-temen, update berita, hahaaa …. Jam tujuh baru mulai kerasa mules, dan yang dahsyat jam delapan. Jam setengah sembilan, ternyata sudah bukaan sepuluh, horeee! Tapi, kok keluarnya lebih susah daripada si Yaya, ya? Ternyata, tali pusar si bayi melilit leher dua kali.

Jadi, semua keinginan saya gagal: water birth di rumah, melahirkan dengan posisi bukan berbaring dan kaki diangkat, juga lotus birth (tali pusat nggak dipotong, nunggu putus sendiri), juga IMD langsung setelah lahir. Adiknya si Yaya lahir agak biru, karena lehernya terlilit. Setelah ditepuk-tepuk agak lama, akhirnya nangis juga. Langsung masuk inkubator dan sisa cairannya dibersihkan. Baru sekitar setengah jam kemudian, setelah saya mandi, dia diantar ke kamar dan langsung belajar menyusu. Tapi, ya nggak apa-apa deh semua buyar, yang penting kami selamat.

wpid-dsc_0913.jpg

Karena merasa lebih enak pemulihan di rumah, besok siangnya saya minta pulang. Kalau di rumah sakit pasti susah ya, tapi Bidan Emma membolehkan dengan syarat saya harus istirahat dulu satu-dua hari, jangan langsung bekerja berat seperti mencuci (horee! :D).

Oh iya, si bayi yang selama di kandungan dijuluki “Yaya Dua” oleh si Yaya baru diyakini jenis kelaminnya waktu USG terakhir di dokter kandungan. Jadi, selama hamil saya nggak beli baju dan perlengkapan girly, yang androginy aja supaya nggak mubazir hehe ….

Mencari nama Yaya Dua ini nggak selama si Yaya. Bapaknya browsing dan mendapat nama “Amaya”, dari bahasa Jepang yang berarti “hujan pada malam hari” (karena lahirnya jam setengah sembilan malam dan hujan deras). Tapi, sepertinya itu lebih cocok untuk nama tengah, jadi depannya apa nih? Nah, besok malamnya, saya mimpi melihat cahaya dalam tampilan seperti Instagram, hahaaaa! Tapi, rasanya damai sekali, seperti melihat cahaya surgawi. Jadi, mulailah kami mencari nama yang berarti “cahaya” atau “terang”. Akhirnya dapat nama “Kenar” yang artinya cahaya, tapi kok agak aneh, jadi diputuskan dimodifikasi sedikit jadi Kinar. Jadilah nama si Yaya Dua ini Kinar Amaya Wahidin.

Tapiiii … karena si Yaya suka sekali serial Charlie dan Lola, awalnya dia pengen adiknya dinamai Lola. Tapi, Lola kan kelincinya teman saya Ainil, hihiiii …. Akhirnya boleh deh panggilannya dimodifikasi lagi, jadi Lula. Setelah dicari artinya, ternyata Lula itu \l(u)-la\as a girl’s name is a variant of Louise (Old German) and Luella (Old English), and the meaning of Lula is “famous warrior”. Terus, entah dari mana asalnya, si Yaya membalik panggilan Non Lula menjadi Lulanon, yang terbawa sampai sekarang. Kadang ditambah juga jadi “De Var Lulanon” dan “De Var De Nuneng”, entah dari mana.

Dan ternyata si Lula ini memang kesatria tangguh. Sewaktu dua bulan, setelah diimunisasi DPT dia ketularan pilek dari si Yaya. Mungkin karena kena serangan ganda, jadi panasnya banget bangeeet … sampai kejang! Awalnya dibawa ke klinik 24 jam dekat rumah dulu, tapi dokter jaga di sana menyarankan segera ke rumah sakit aja. Jadi langsung meluncur ke Hermina, alhamdulillah nggak macet. Empat hari di ICU, dua hari di ruang perawatan, tapi alhamdulillah akhirnya pulang juga!

wpid-dsc_2108.jpg

Begitulah cerita Lulanon si bayi jabrik yang sekarang botak, si amis budi yang suka ketawa jahil ehek ehek ehek, dan hobi jerit-jerit seperti lady rocker.

wpid-dsc_2271.jpgwpid-dsc_2464.jpg

Dalam Asuhan R.A. Kosasih

image

sumbernya entah dari mana tapi nemu di kaskus

Gaya banget, diasuh oleh R.A. Kosasih hihi… Tapi sejak saya mulai bisa membaca, R.A. Kosasih adalah salah seorang “pengasuh” saya, selain Enid Blyton, Astrid Lindgren, Bung Smas, dan lain-lain. Nggak terhitung berapa jam saya duduk anteng sampai lupa makan, lupa mandi, karena keasyikan baca. Juga entah berapa kali buku-buku itu saya baca ulang, sampai kertas-kertasnya keriting dan jilidnya lepas.

Dulu kami punya hampir semua karyanya, mulai dari Ramayana, Mahabharata yang 4 jilid tebal itu, Bharatayuda, dst. dsb. Komik pahlawan super perempuan juga, Sri Asih. Sayang waktu pindah rumah dari Sukahaji ke Sarijadi, semua hilang 😦 bersama koleksi komik-komik lain seperti Tintin, Lucky Luke, dll., juga buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, dll.

Karena R.A. Kosasih, saya jadi tahu epos-epos besar itu dengan cara menyenangkan, meskipun dulu masih mencerna dengan pemahaman anak usia TK/SD. Dan ada beberapa pemahaman yang berubah setelah semakin besar dan tua.

Dan setelah besar, saya baru tersadar dengan takjub: betapa tekunnya R.A. Kosasih menggambar komik-komik dengan detail seteliti itu!

Semoga suatu saat koleksi karya R.A. Kosasih saya bisa lengkap lagi.

Dan semoga R.A. Kosasih di sana tersenyum karena hari ini banyak yang mengenangnya. πŸ™‚

Ini Pengingat bagi Diri Sendiri: Jangan Mengeluh, Buk!

Akhir-akhir ini, saya banyak menemukan tulisan tentang ibu-ibu yang bekerja di kantor vs ibu-ibu rumah tangga. Ada tulisan yang memotivasi, “hujatan”, curhat, dan sebagainya. Dulu saya juga pernah menulis tentang ini di notes facebook, karena posisi saya ada di tengah-tengah, yang katanya adalah WAHM atau Working at Home Mother. Soal alasan pilihan ini juga sudah pernah saya tulis.

image

bersama bos kecil yang paling berwenang mengatur pekerjaan saya

Tapi, yang menggelitik akhir-akhir ini adalah banyaknya kontroversi tentang itu. Seolah-olah ibu bekerja bukan ibu yang baik, atau ibu rumah tangga menyia-nyiakan potensi atau pendidikan tingginya. Karena posisi saya yang “ngangkang”, saya pribadi nggak terlalu terganggu dengan keributan ini (atau pada dasarnya memang nggak pedulian? Entah juga hahaa…).

Saya cuma merasa cocok dengan pilihan ini, dan mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena bisa bekerja di rumah ya (cukup banyak teman saya yang menyatakan “enak ya,” ya memang enak bagi saya, tapi entah buat orang lain). Jujur nih, di kantor dulu, saya hanya bisa bekerja efektif paling lama empat sampai lima jam sehari. Sisanya main game, chatting, ngobrol, bengong, dll. Untuk apa jauh-jauh ngantor kalau hanya untuk begituan? Selain itu, kalau saya ngantor sekarang, kasihan si Emak. Mengasuh cucu (apalagi yang seperti Yaya) melelahkan, sudah waktunya Emak bersenang-senang (walaupun dengan cara lain, mengajar lagi di usia senja!).

Soal pendidikan yang sia-sia, ah nggak juga. Sangat terpakai untuk mengasuh anak kok. Apalagi anak-anak zaman sekarang kritis-kritis. Salah satu contoh, saya masih bisa menjelaskan pengetahuan astronomi dasar kepada si Yaya. Masih banyak lagi yang lain. Dan karena pekerjaan yang mengharuskan saya banyak membaca, saya berhasil menjawab hampir semua pertanyaan Yaya. Kecuali yang “kenapa kuda itu ku- dan sapi itu sa-?” (Sampai saat ini belum nemu jawaban yang pas!) Kalau nggak tahu ya riset lagi, belajar lagi, hihii…

Soal prioritas, saya memang memilih memprioritaskan anak. Ada beberapa tawaran pekerjaan lepas yang saya tolak karena saya harus keluar rumah cukup lama. Banyak pekerjaan yang terpaksa tenggatnya molor dan imbasnya, penghasilan jauh berkurang dibandingkan saat masih jadi freelancer lajang. Tapi ya sudahlah.

(Oh iya, saya juga menghormati teman-teman yang berbisnis MLM dan mencoba memprospek saya jadi downline, maaf kalau saya nggak berminat. Pekerjaan kita sama kok, dilakukan dari rumah. Hanya saja, minat orang berbeda kan? Minat saya di bidang buku dan hal-hal yang berkaitan dengan ini serta makanan. Jual makanan pun masih belum pol karena belum saya prioritaskan secara serius. Dan karena saya tahu MLM juga butuh kerja keras, saya sadar nggak akan maksimal kalau bergabung.)

Nah, ini yang paling penting, karena keputusan ini adalah pilihan sendiri, nggak perlu mengeluh, apalagi marah-marah, karena itu buang energi. Beda lagi kalau nggak ada pilihan lain, misalnya nggak boleh berkarier sama suami atau terpaksa bekerja kantoran untuk menanggung nafkah keluarga. Curhat boleh lah, tapi nggak perlu ke seluruh dunia. Masing-masing orang juga punya masalah, kan? Memangnya masalah kita yang paling berat? Yah, kadang-kadang saya masih mengeluh sama suami. Tapi bukankah itu gunanya suami? Hahahaaa…

Selain nggak perlu mengeluh, mungkin kita harus menebalkan telinga terhadap omongan-omongan miring di sekitar. Daripada marah-marah nggak jelas, mending energinya dipakai untuk merencanakan hal-hal menyenangkan dengan keluarga. Iya kan?

Kecemplung

Kadang kita harus nyemplung dulu ke dalam sesuatu untuk “tersadarkan” bahwa dunia kita bukan di situ.

Dan “tersadarkan” lebih cepat akan lebih baik, betuuul?

Tapi, kalau sudah telanjur nyemplung ya jangan disesali. Nggak sia-sia juga. Kan hasilnya adalah kesadaran baru itu. πŸ˜€

Keajaiban Otak

Ini pengalaman saya aja ya. Entah kalau orang lain.

Akhir-akhir ini, sejak sekitar setahun terakhir, saya sering teringat mimpi-mimpi lampau. Bahkan mimpi-mimpi bertahun-tahun lalu. Padahal, beberapa hari setelah mimpi, ingatan itu sudah menguap entah ke mana.

Begitu juga dengan pelajaran sekolah, terutama pelajaran SMA. Ada beberapa yang tiba-tiba saya ingat lagi, terutama pelajaran sejarah dan … Agama Islam. Pelajaran eksakta dan bahasa sih karena terpakai terus jadi nggak sempat dilupakan.

Tanggal-tanggal dalam sejarah sih nggak pernah ingat, jadi ya nggak pernah lupa lagi, begitu juga ayat-ayat Al Qur’an hihiii …. Tapi, peristiwa-peristiwa bersejarah, atau zaman-zaman prasejarah, tiba-tiba muncul lagi dengan jelas. Juga bab-bab tentang hukum waris, pernikahan, tata cara penanganan jenazah, dll., kembali lagi ke latar depan.

Aneh ya? Padahal masa SMA sudah berlalu lebih dari 17 tahun lalu, hahahaaa ….

Nah, coba kita lihat beberapa tahun ke depan ya, apa pelajaran-pelajaran seperti kalkulus, fismat, fismod, mekanika, dan mata kuliah astronomi bisa muncul lagi di otak. Soalnya sudah dilupakan :p

Ajaib ya cara kerja otak manusia itu. Menakjubkan!

Si Korban Sinetron

Jumat lalu, saya ngajak Yaya ke Museum Geologi. Eh, ternyata tiap Jumat dan hari besar tutup. Akhirnya Yaya minta ke Kebun Binatang. Oke, dengan perjanjian: nggak minta gendong dan nggak beli mainan.

image

di kandang wauwau yang cerewet

Di sekitar Gasibu, Kami berpapasan dengan mobil jip Rubicon. Dasar cowok bensin, Yaya langsung teriak, “Buk, mobilnya bagus!” Memang, saya menyahut.

Lalu, dia bilang, “Nanti kalo Yaya udah besar, Yaya mau beliin Ibuk Rubicon. Ibuk suka warna apa?” Hitam, saya jawab. “Yaya mah sukanya yang biru.”

Lalu saya tanya, kapan, kalau Yaya sebesar apa? Setinggi jerapah? (Karena dia janji, kalau sudah setinggi jerapah dia mau gendong Ibuk.)

Yaya jawab “Kalo udah sebesar Haji Muhidin!”

Saya bilang, kalau Yaya sebesar Haji Muhidin, Ibuk setua apa dong?

“Ibuk sebesar Mak Enok!” jawab si Yaya.

Hadeeuuuuh! :p

(Ini gara-gara dia suka tidur sama si Emak, sebelum tidur pasti ikutan nonton. Dan tokoh favoritnya adalah Bos Romlah, sampai hafal “Lebbbih nganga!” Ibuk speechless lah.)

Lempeng Siga Bagong

Salut sama orang-orang yang masih bisa mengurusi masalah orang lain. Ini bukan dalam konteks kerja sosial ya. Itu mah beda lagi.

Saya pribadi, mengurus diri sendiri aja belum becus. Mengurus pekerjaan domestik dan nondomestik juga kewalahan.

Andai saya punya banyak waktu luang, saya lebih ingin berenang, latihan cat air, menulis, jogging, belajar hal-hal baru, atau sekadar bengong. Atau tidur yang nyenyak.

Saya malas memikirkan orang lain. Aing nya kumaha aing. Sia nya kumaha sia weh (Sekali lagi ingat, ini bukan dalam konteks kerja sosial).

Manajemen waktu saya memang masih kacau. Dan nama tengah saya Procrastiniari :p

Nah, orang-orang yang heboh mengurusi orang lain itu, mungkin
1. Manajemen waktunya keren,
2. Punya energi super,

atau..

3. Nggak ada hal lain yang harus dipikirkan atau dikerjakan?

Saya sih terus terang nggak mampu. Mending lempeng weh siga bagong. πŸ˜€

Kelas Inspirasi 2013

Kan katanya nggak ada yang namanya kebetulan ya.

Jadi, beberapa waktu terakhir ini ada serentetan peristiwa yang membuat saya berpikir (atau merenung ya?) tentang hidup, tentang mati, tentang “dharma” manusia di bumi. Dan salah satu hasil pikiran/renungan itu adalah: berbuat baik nggak perlu selalu harus berbentuk materi.

Dan beberapa waktu lalu, saya baca berita Kelas Inspirasi 2013 di sebuah grup Facebook. Saya langsung daftar, plus mengajak teman-teman saya yang profesinya “seksi”, para astronom istiqomah (saya mah kan murtad, hahaaaa). Tapi ternyata nama saya yang disebut di twitnya Kelas Inspirasi Bandung. Semoga para astronom istiqomah ini bisa mengisi di tahun-tahun berikutnya.

Saya kebagian di SD Sukarasa 1, di Jl. Gegerkalong Hilir 82. Ini mah daerah jajahan, naik angkot 2000 perak juga nyampe (tapi tetep aja kelewat pas survei hahahaa … Ingetnya Sari Bundo aja sih). Kami, kelompok SD Sukarasa, ada berenam plus dua fotografer: saya, Kang Yudi yang profesinya jurnalis, Teh Poppy (dunia sempit, teman SMA Bapak Dindin hehe) dokter spesialis kulit & kelamin, Silmy sang sutradara, Eka sang copywriter iklan, dan Mogi,Β supply chain engineerΒ di perusahaan tambang, Budhi dan Mas Jaya (fotografer).

Setelah ikut briefing tanggal 10 Februari 2013 di Saung Angklung Udjo, belum kebayang juga bagaimana menceritakan profesi saya kepada anak-anak. Yah, memang jadi penerjemah dan editor buku mah nggak menarik sih, kerjaannya cuma duduk, baca teks, ngetik, bongkar-bongkar kamus, browsing. Dulu juga pernah bercanda dengan Antie sesama penerjemah, kalau diikutin kamera seharian, kehidupan kami mah membosankaaaaaan, hahahaaaa …. Yang menarik hanyalah pekerjaan ini bisa dilakukan di mana saja, mau di kafe atau pinggir kolam renang (asal ada colokan). Juga saatnya orang lain heboh ngantor, kami masih bisa santai-santai di tempat tidur.

Setelah beberapa hari berpikir, baru ketemu satu ide: kenapa anak-anaknya nggak diajakin bikin buku aja ya. Sama saya mau cerita sedikit tentang proses bagaimana satu buku bisa sampai di tangan para pembaca. Buku hasil karya anak-anak ini rencananya akan dijilid per kelas, diberi cover dari hasil karya mereka sendiri, dan nanti diserahkan kepada sekolah lagi.

Persiapan saya sendiri ya gitu deeeh … memang nggak maksimal (Gambar sederhana proses buku tercipta aja dikerjakan malamnya hihi), soalnya pas lagi harus ngirim kerjaan terjemahan dan ngerjain pesenan biscotti. Dan meskipun udah niat mau tidur cepet supaya besoknya nggak kesiangan, teteeep … tidur jam setengah tiga. Syukurlah nggak telat bangun. Tapi, karena nggak biasa keluar pagi, ternyata Gegerkalong itu macheeeet.

Begitu datang, padahal masih jam 06.45, anak-anak sudah upacara. Kami diperkenalkan satu per satu oleh Ibu Epon, Kepsek SD Sukarasa 1 (yang ternyata, setelah pancakaki, rumahnya juga di Sarijadi dan beliau tetangga sepupu saya, hadeuuhhh). Lalu, ada penjelasan sebentar dari Kang Yudi, yang tampaknya cucok jadi guru atau kepala sekolah (Bu Epon hati-hati dikudeta Buuuu :p). Setelah itu, langsung deh masuk kelas!

Kelas yang pertama saya datangi adalah kelas 3. Masih seger-seger doooong. Mereka antusias sekali melihat contoh buku-buku yang saya bawa (beberapa bukunya Yaya). Antusias juga membuat cerita tentang cita-cita mereka (di kertas A5 yang saya bagikan), mau berupa cerita, gambar, juga gabungan dari cerita.

Kelas berikutnya adalah kelas 4. Dua kelas digabung, kelas 4A dan 4B. Di sini suasana lebih riuh. Cukup brutal sih, tapi masih bisa terkendali. Sama, mereka antusias juga melihat buku-buku yang menarik. Di kelas 4 saya menemukan cita-cita unik yaitu: penjual jersey tim sepakbola. Jadi, awalnya si anak ini bercita-cita jadi pemain sepakbola. Tapi dia cuma menggambar jersey-jersey tim sepakbola, dan diledek sama temannya. Waktu dia bete, Budhi sang fotografer nanya, “Memang jersey harganya berapa sih?” Dan dia tercenung. Mikir. “Dua ratus ribu, Kak.” Mungkin setelah itu otaknya berputar dan … mendapat kesimpulan bahwa jadi penjual jersey itu menguntungkan! πŸ˜€

DSC_0501

Berikutnya kelas 5. Beda dengan kelas 3 dan kelas 4 yang riuh-rendah, anak-anak kelas 5 ini kalem banget. Mereka melihat-lihat buku dengan tertib. Di kelas 5, cita-cita paling unik yang saya temukan adalah jadi ustadz.

Setelah istirahat, saya masuk ke kelas 2. Karena Silmy masih di kelas, saya sempat ikut nonton film. Yang lucu waktu film pendek tentang seorang anak sekolah yang harus berjualan cemilan supaya bisa sekolah, ada seorang anak cowok yang duduk sendirian di tengah tiba-tiba menoleh ke belakang. Lama. Matanya berkaca-kaca. Oh co cuiiiit, ternyata terharu! Ternyata bukan cuma dia, si KM dan teman sebangkunya yang duduk di depan juga ikut nangis. Filmnya mengharukan sih. Dan di kelas 2 ini juga saya menemukan anak yang terinspirasi Silmy, cita-citanya menjadi sutradara. (Tapi itu dialognya nggak kuat euy hahahaaa)

dasar cowok playboy :D

KAT! Kamu tuh ya dasar cowok playboy. Maaf, Sayang.

(Anak kelas 2 gitu lhuwoookhhh!)

Kelas terakhir, gabungan 6A dan 6B, udah pada lemes. Mungkin kurang oksigen juga, kelasnya pengap, isinya banyak. Di sini ada seorang anak yang tampak penasaran sama buku Chasing Vermeer yang saya bawa (waduuuh tapi itu buku langka euy, sekarang sulit ditemukan). Di sini juga ada anak yang terus terang mengaku bahwa cita-citanya adalah artis, bisa bintang sinetron atau penyanyi. Anak ini juga (namanya Elsa) yang numpang saya sampai ke Setiabudi (rumahnya di Hegarmanah katanya).

DSC_0479

Dan ada satu lagi yang membuat saya senang, cita-citanya menjadi ASTRONOM (meskipun dia nggak tau apa nama profesinya hahaha). Semoga menjadi astronom istiqomah dan tidak murtad seperti saya, aamiin.

DSC_0481

Yang ngaco-ngaco juga ada, mau jadi Ninja Hatori, Naruto, astronot tapi gambarnya Astroboy, juga tentara pembasmi UFO. Ini yang mau jadi Ninja Hatori.

DSC_0497-1

Akhirnya acara selesai, sebelum bubar kami foto-foto dulu di depan sekolah bersama murid-murid dan guru-guru SD Sukarasa (fotonya masih di para fotografer). Setelah itu, penyerahan kenang-kenangan kepada Kepsek dan guru-guru, lalu menuju BCCF untuk debriefing. Oh iya, kami dikerubungi anak-anak SD dooong, berasa artis deh. Silmy dan Mogi paling banyak fansnya, bikin Kang Yudi iri, hahahaaaaaa ….

Ada satu hasil yang sama-sama kami rasakan setelah acara selesai: SUARA SERAK. Jadi bertanya-tanya, guru-guru SD itu apa sih rahasianya, apa ngunyah kencur setiap hari?

Tapi, ada beberapa hal serius yang bisa dipikirkan:

1. Sebetulnya mereka sangat berminat membaca buku, dilihat dari semangat dan antusiasme mereka waktu melihat-lihat buku yang memang bercover atau bergambar menarik. Hanya saja, sepertinya mereka nggak punya akses mendapatkan buku-buku semacam itu, baik di perpustakaan sekolah atau di rumah. Ada dua anak kelas 5 SD yang membawa buku KKPK-nya Dar! Mizan, dan mereka mengaku itu meminjam di taman bacaan, tapi bukan di sekolah.

2. Televisi begitu menguasai kehidupan anak-anak. Masih mending kalau acara yang ditonton cocok untuk anak-anak, tapi televisi Indonesia kan begitu ya, kita tahu sendiri. Ada buktinya di hasil karya anak kelas 2 SD, yang dialognya kamu ya dasar playboy itu.

3. Wawasan guru-guru juga penting. Dulu saya sekolah di SD Sejahtera, SD kampung juga (tapi sekarang sudah termasuk SD lumayan lah hehe). Nggak pernah ada guru-guru yang membuka wawasan saya tentang beragam profesi. Mungkin kondisinya di SD ini juga sama. Profesi yang umum di mata anak-anak adalah dokter, pemain sepakbola, guru. Dan dulu (bukan di SD Sukarasa 1 ya), saya sendiri mengalami, ada beberapa guru yang mengarahkan murid-muridnya dengan iming-iming materi. “Kamu masuk ini aja, nanti uangnya banyak lho. Kalau jadi ini kamu akan jadi kaya.” Lalu, ke mana perginya kedamaian hati dan kebahagiaan karena bisa bekerja sesuaiΒ passion?

Waktu acara debriefing di BCCF, kami disuruh berpisah, mencari kelompok yang bukan dari SD yang sama. Kami disuruh mendiskusikan (kira-kira seperti ini ya, saya lupa kalimat tepatnya gimana) intervensi apa yang bisa dilakukan kepada sekolah setelah program Kelas Inspirasi terlaksana.

Di kelompok saya, ternyata para anggotanya berpikiran sama:

1. Penyediaan bahan-bahan yang membuka wawasan dalam berbagai media, seperti buku, film, majalah. Kalau infrastruktur yang besar-besar dan mahal-mahal mungkin agak sulit, karena urusannya dengan pemerintah juga kan (karena SD-SD ini sekolah negeri). Banyak buku, film, majalah, yang bisa membuka wawasan, menambah pengetahuan, dan memancing kreativitas anak-anak sekolah.

2. Kesinambungan program. Setelah program ini selesai, lalu mau apa? Semoga saja kami masih punya energi untuk terus berkomunikasi dengan sekolah-sekolah itu.

3. Pemberian wawasan bagi guru. Sama dengan yang saya pikirkan di atas. Misalnya nanti si anak ingin bertanya lebih jauh, bagaimana kalau gurunya nggak tahu?

Biarpun seharian itu berasa gempor (bahkan sudah terlatih dengan Yaya pun saya masih gempor hahaha), itu pengalaman yang sangat berkesan. Seperti banyak dikatakan teman-teman lain, juga Farhan yang sempat bicara sebentar di BCCF: Bukan mereka yang terinspirasi, tapi kami yang terinspirasi dari mereka.

Kegiatan ini juga ternyata nggak menimbulkan suatu rasa “puas” (untuk saya) karena sudah berbuat sesuatu untuk masyarakat. Tapi malah timbul perasaan tergelitik: setelah ini, bagaimana tanggung jawab saya selanjutnya? Masih punya energi untuk melanjutkan nggak?

Semoga, ya! πŸ™‚