Menjadi Penerjemah Buku Freelance (Berdedikasi?)

Sebetulnya, saya merasa bukan penerjemah berdedikasi. Soalnya nggak pernah bahas kerjaan di blog, nggak seperti banyak rekan penerjemah lainnya :p Makanya ada tanda tanya dalam kurung di judul. Baiklah, supaya terkesan “berdedikasi” (waeee haha), saya akan sedikit berbagi tentang profesi ini.

Saya adalah penerjemah buku freelance. Kadang mengedit juga. Melamar jadi penerjemah dokumen belum nyangkut aja hihi… Dan dasar pemalas, jarang juga sih saya melamar untuk menerjemahkan dokumen. Padahal, honor penerjemah dokumen jauh lebih besar daripada penerjemah buku. Saya pernah menerjemahkan makalah, tapi jalurnya nggak lewat melamar (waktu itu dikasih kerjaan sama Antie, untuk kantor suaminya). Saya juga menerjemahkan Space Scoop Unawe, artikel astronomi untuk anak-anak dan remaja, untuk langitselatan.com, pro bono. Anggap aja itu bakti saya sebagai lulusan Astronomi bagi masyarakat luas :p.

Oke, jadi sekarang yang saya bahas lebih sempit ya, profesi penerjemah buku freelance. Sepengetahuan saya, ada dua cara untuk menjadi penerjemah buku freelance.

Pertama, mengikuti jalur seperti saya, masuk dulu ke salah satu penerbit buku. Juli 2004 saya bekerja di Mizan Pustaka, sebagai editor lini novel dewasa terjemahan kemudian lini buku anak terjemahan. Waktu itu saya melamar karena melihat iklan di koran. Sebetulnya untuk buku remaja. Nah, pas wawancara, karena saya bilang remaja nggak perlu baca buku-buku panduan (selfhelp), banyak hikmah dari buku fiksi, jadi saya nggak ditempatkan di lini itu haha….

Kemudian, saya mengundurkan diri dari Mizan Desember 2006. Bukan karena menikah dan punya anak, tapi salah satu alasannya adalah karena merasa kekurangan waktu bermain hihiiii…. Nah, setelah mengundurkan diri, saya mengerjakan beberapa terjemahan buku-buku dari Mizan juga. Terus pelan-pelan kenalan dengan editor-editor penerbit lain. Sok akrab. Temenan di Multiply (Oooh asyik sekali sih masa itu). Jadi dikasih kerjaan deh hihi…. Kemudian melamar-lamar lagi ke beberapa penerbit.

Keuntungan memilih jalur ini adalah lamaran saya lebih mudah dilirik penerbit selain Mizan. Soalnya sudah dianggap berpengalaman (meskipun cuma dua tahun lebih sedikit). Bekerja di penerbit selama itu rasanya seperti sekolah lagi, soalnya saya mulai dari awal sebagai lulusan ilmu sains yang nggak tahu (bahkan mendengar pun kayanya belum pernah) teori-teori penerjemahan, editing, dan hal-hal lain yang berkaitan. Kekurangannya? Nggak setiap saat ada lowongan sebagai editor in house di penerbit. Tapi, cukup banyak kok penerjemah freelance mantan editor in house. Sering juga diminta jadi editor freelance.

Jalur kedua adalah langsung melamar ke penerbit. Standarnya begini: siapkan surat lamaran (cover letter), CV, portofolio (siapa tahu punya pengalaman di bidang tulis-menulis, misalnya redaksi majalah kampus, dll), dan contoh terjemahan serta teks aslinya. Bisa dikirim pos, bisa via e-mail. Contoh terjemahan nggak perlu terlalu banyak, sekitar satu bab atau lima halaman deh, dan pilih teks yang kita sukai. Mau fiksi atau nonfiksi? Buku roman atau fantasi? Pilih aja. Alamat penerbit? Googling aja, pasti keluar semua.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara seperti ini memang lebih kecil daripada jalur pertama (bayangkan, berapa surat lamaran yang diterima editor di penerbit, dan kerjaan editor bukan hanya membaca surat lamaran dan mengirim tes bagi calon penerjemah). Tapi, kalau contoh terjemahan kita bagus, surat lamaran, CV, dan portofolio meyakinkan, bisa kok. Beberapa teman saya juga menjadi penerjemah freelance dengan cara ini. (Tapi ingat, jangan tulis “Lamaran untuk menjadi penTerjemah” ya, nanti berkasnya langsung dibuang oleh editor wkwk)

Apa sih senangnya menjadi penerjemah buku freelance? Saya sendiri senang karena hobi membaca. Asyik kan, melakukan hobi dan dibayar. Waktu kerja bisa mengatur sendiri. Mau kerja di mana saja bisa, asal ada colokan dan wifi atau modem.

Susahnya? Banyak. Sebagai pekerja freelance, kita nggak dapat tunjangan: THR, kesehatan, pensiun, dll. Kadang, padahal honornya nggak seberapa, bayaran telat. Kadang banyak orderan, kadang nggak ada sama sekali. Selalu lebih bayar pajak karena pajak langsung dipotong penerbit, dan kalau klaim lebih bayar, setelah dihitung-hitung AR kok malah jatuhnya kurang bayar (ini pengalaman saya, siaaaaal! Moal deui-deui!) Dan ini yang saya alami: saya jadi nggak hobi baca lagi. Soalnya capek. Mengetik dan membaca itu melelahkan. Setelah selesai bekerja, biasanya saya menekuni hobi lain (tidur).

Seperti yang banyak dibilang para pekerja buku, apalagi sekarang, saat ramai-ramainya bahasan pajak penulis, pajak buku, dll., profesi ini mah romantis. Maksudnya, kalau nggak cinta-cinta amat nggak usah jadi penerjemah/penulis/editor buku. Kalau masih ingin merasakan jadi pejabat atau punya mobil mewah kaya artis-artis masa kini, nggak usah jadi penerjemah buku freelance. Jaga lilin weh bwahahahaaaa ….

Biasanya, sebagai pekerja teks kita dianggap selalu berbahasa baik, baku, dan benar dalam setiap kesempatan. Saya sih nggak. Ya blog ini aja contohnya. Tergantung suasana lah, kalau memang perlu dan harus, ya gunakan bahasa yang baku. Kalau lagi gaul mah terserah. Oh iya, dulu waktu masih jadi editor saya pernah nulis juga, kalau saya suka capek melihat teks-teks yang salah. Misalnya spanduk-spanduk di jalan. Atau pengumuman rumah “dikontrakan” atau “dikontrak” atau apalah apalah. Syukurlah fase itu sudah terlewati. Sekarang mah cuek aja, udah capek melototin teks melulu.

Itu langkah awal dulu ya. Nanti (kapan-kapan, mudah-mudahan nggak males lagi hihi) kita bahas apa yang akan dialami setelah “kecemplung” menjadi penerjemah buku freelance.

Advertisements

7 thoughts on “Menjadi Penerjemah Buku Freelance (Berdedikasi?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s