Episode Jadi Guru Les

Ternyata, saya mengalami juga menjalani profesi ini. Profesi yang nggak diniati dan disengaja.

Awalnya sih waktu Yaya masih TK. Bu Teti, salah satu guru TK, meminta saya membuka les bahasa Inggris untuk anak-anak TK, teman-teman seangkatan si Yaya. Oke deh, sekalian ngasuh si Yaya, saya bersedia. Metodenya sama sekali nggak seperti les-les biasa, hanya nyanyi-nyanyi, mewarnai, menggambar, sedikit mencatat. Pesertanya lumayan banyak, mungkin ada sepuluh orang. Periode les ini berjalan cukup lama, sekitar satu semester, sampai bubar sendiri karena anak-anaknya lulus TK dan berpencar ke berbagai SD.

Murid les saya yang kedua adalah kakaknya teman sekelas Yaya di TK, namanya Dinda. Ibunya Dinda yang meminta lewat Bu Teti juga. Saya bilang oke juga. Dinda waktu itu mau ujian kelulusan SMP, dan saya ajari bahasa Inggris, matematika, dan fisika, yang ternyata masih lumayan ingat waktu belajar lagi, nggak seperti biologi yang blasss lupa, cuma ingat hukum Mendel dan teori genetika (dan mungkin reproduksi? :p ). Meskipun ini juga tanpa niat serius jadi guru les, saya senang sekali mengajar Dinda. Soalnya, Dinda rajin dan gigih. Yang agak sulit waktu itu bahasa Inggris, karena menurut Dinda, guru di SMP-nya nggak mengajarkan apa-apa (saya sampai heran, kenapa Dinda bisa naik kelas terus dengan kemampuan bahasa Inggris seperti itu). Tapi, hebatnya, Dinda bisa mengejar dari pengetahuan yang nyaris nol hingga melapor “lumayan bisa!” saat ujian. Waktu dia diterima di SMK negeri sesuai keinginannya, saya ikut senang sekali.

Setelah itu, saya cukup lama nggak memberi les. Hingga pada suatu hari, di sekolah Yaya (waktu itu Yaya kelas 2 SD) ada ekstrakulikuler. Si Yaya ikut menggambar (karena nggak mau yang lain-lain). Ada ekskul bahasa Inggris juga. Nah, baru berjalan beberapa minggu, tiba-tiba saja semua kegiatan ekskul dibatalkan. Alasannya, sekolah nggak mau memungut biaya tambahan, sementara, masa guru-guru yang mengasuh ekskul nggak dibayar? Setelah dibatalkan, ibu salah satu teman Yaya (yang juga tetangga dan waktu TK ikut les juga) meminta saya memberi les lagi untuk anaknya. Dan saya bilang oke juga. Yang ikut les bertiga, cewek-cewek sebaya Yaya (satu teman sekelasnya, dua lagi kakak kelas setahun).

Ternyata, kabar tentang saya yang memberi les menyebar ke tetangga-tetangga. Sampai akhirnya para tetangga yang punya anak-anak kecil (kelas satu sampai kelas tiga) mengirimkan anak-anaknya untuk les. Awalnya hanya bahasa Inggris, tapi akhirnya ada ibu yang meminta anak-anaknya diajari matematika juga. Di antara pelajaran les, saya selipkan materi membuat buku. Saya ajak anak-anak menulis cerita singkat (biasanya delapan halaman), membuat gambarnya, mewarnai, membuat sampulnya, dan menulis sinopsis. Boleh dong diselipi pendidikan literasi sedikit hihiii….

geng riweuh

geng riweuh beserta buku hasil karya mereka. wajah ditutupi bukan karena riweuh hihiii

Kemudian, selain anak-anak SD, kakaknya teman sekelas Yaya (ibunya teman sekelas saya di SD hehe), kelas 9 SMP, ikut les juga. Bahasa Inggris dan matematika. Lalu tambah satu lagi, cucunya kepala sekolah TK, kelas 7. Sama, bahasa Inggris dan matematika.

Saya sendiri nggak tahu apa yang mendorong saya bilang “Oke”. Soalnya, jika dihitung-hitung, dari pekerjaan menerjemahkan, saya bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada memberi les dalam jangka waktu yang sama. Soalnya, tarif les di saya jauh lebih murah daripada bimbel. Saya juga bingung sendiri sih. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin pengalaman saya memberi les untuk Dinda yang menyebabkan saya mengiyakan permintaan les anak-anak itu (ibu-ibu mereka, tepatnya). Rasanya puas mendengar laporan anak bimbingan saya bisa mengerjakan soal-soal ujian.

Akhirnya, setelah berpikir dan merenung, saya merasa, mungkin ini jawabannya: pada saat ini, saya belum mampu bersedekah uang/materi dalam jumlah besar, jadi Tuhan menunjukkan jalan bahwa ini salah satu cara lain, bersedekah dengan ilmu (mudah-mudahan sedekahnya diterima, aamiin).

Dan ini juga membawa saya ke angan-angan selanjutnya: membuat bimbingan belajar antimainstream. Bimbel-bimbel umumnya kan memasang tarif tinggi, satu semester berjuta-juta. Suatu saat nanti, saya ingin membuat bimbel untuk murid-murid yang nggak mampu ikut bimbel mainstream, tapi punya semangat tinggi untuk belajar (mudah-mudahan cita-cita saya terkabul juga, aamiin).

Apakah selama saya memberi les merasa senang? Ternyata nggak. Kadang les diganggu Lula. Kadang yang les geng rusuh (anak-anak cowok yang kerjaannya beranteeeeem melulu), sampai-sampai setelah les saya cuma bisa mandi, makan, terus tidur! Kadang sebal kalau anak les yang SMP nggak fokus, sebentar-sebentar ngecek HP, waktu dikasih soal (yang pernah diajarkan) nggak bisa. Kadang sebal karena si Yaya malah nggak mau ikut belajar. Masa ibunya ngajarin anak-anak lain, anaknya nonton TV di bawah? Huhhh. Pengalaman buruk lain adalah saat terjebak di tengah-tengah antara ABG dan ibunya: si anak bilang les, padahal entah ke mana, terus minta saya bilang ke ibunya kalau dia les. Permintaan itu nggak saya iyakan, pas ibunya nanya ya saya jawab aja dia nggak les. Hasilnya ya dia dihukum orangtuanya. Heu.

Tapi ini episode kehidupan yang memang harus saya jalani. Entah sampai kapan. Mungkin suatu saat, kalau jalur hidup berkelok ke arah lain, episode jadi guru les ini terpaksa saya tinggalkan.

Advertisements

Jadi Begini Perasaan Ibunya Emil dari Lonneberga …. [Postingan Lama]

Seperti biasa, di Facebook muncul feature On This Day, dan tulisan ini muncul. Daripada terserak di banyak tempat, saya pindahkan ke sini aja ya. Ditulis tanggal 16 Oktober 2010 (waaawww tujuh tahun lalu!).

Pernah baca buku Emil dari Lonneberga karya Astrid Lindgren? Tokoh utamanya, Emil, adalah seorang anak laki-laki kecil yang terlihat manis sekali, dengan pipi kemerah-merahan dan rambut pirang yang ikal. Tapi, itu cuma kelihatannya saja. Sudah ratusan hasil karya patung kayu yang dia raut (Setelah berbuat nakal, biasanya dia dihukum dengan dikurungdalam sebuah pondok perabot. Dan setiap kali dikurung di sana, dia meraut sebuah patung kayu).

emil

(sumber dari sini)

Ibu Emil, Alma Svensson, rajin mencatat kenakalan anak sulungnya ini dalam buku berwarna biru, dan sudah ada beberapa buku yang penuh. Perasaannya selalu campur-aduk jika Emil berbuat kenakalan: marah, sedih, cemas (apakah kenakalan itu akan terus berlanjut dan merugikan orang lain?), tapi tentu saja ibu Emil tetap menyayangi anaknya.

Baru sekarang saya memahami perasaan ibunya Emil saat melihat anaknya berbuat kenakalan. Memang apa sih kenakalan yang bisa dilakukan seorang anak yang umurnya hampir satu setengah tahun?

Ternyata banyak!

Ini contohnya: Nyobek bukunya sendiri (karena itu, koleksi berharga buku anak-anak langka milik si Ibuk masih disimpan rapi di rak, hihiii … sekarang mending boardbook dulu aja), numpahin air di gelas, nempelin hidung di depan tivi sambil nonton (biasanya tivinya langsung dimatiin), ngocok-ngocok botol minum sampai airnya berceceran, sengaja mencet kotak susu UHT supaya tumpah, makan remah kue dan nasi di lantai, makan semut, ngegebrak-gebrak tivi dan pintu kaca, makan crayon, makan sabun, naik tangga dan berniat terjun bebas dari anak tangga kelima (yah, ini salah si Ibuk sendiri sih, ngalenyap sebentar karena lagi pilek, untung dia teriak-teriak dan si Ibuk terbangun). Apalagi kalau kebetulan dibawa ke dapur, mulai deh mainin dispenser, toaster, buka-buka laci, gelantungan di kulkas, muter-muter tombol kompor gas, menggelindingkan galon kosong. Di kamar mandi juga begitu, berusaha buka tutup kloset dan masukin tangannya ke sana, minum dari gayung, dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya ….

Kalau dipikir-pikir, semua ini sebetulnya bukan kenakalan ya, tapi hanya keingintahuan seorang anak kecil. Persis seperti Emil, yang ingin tahu rasanya memasukkan kepala ke dalam mangkuk sup, atau ingin menghibur adiknya dengan cara mengerek si adik di tiang bendera!

Tapi tentu saja tindakan-tindakan yang menjurus berbahaya itu tidak dibiarkan. Tapi karena umurnya baru segitu, kadang-kadang bingung juga bagaimana caranya. Marah malah dianya ketawa, mengalihkan perhatian yah … cuma bertahan beberapa menit, lalu balik lagi ke kenakalan semula. Meleng sedikit, tangan terampilnya sudah beraksi. Makanya, Sakya nggak bisa dibiarkan main sendirian. Kadang-kadang si Ibuk suka ngiri sama ibu-ibu lain yang bisa nyambi ngasuh anak sambil melakukan pekerjaan lain, karena dalam kasus Sakya, mana bisaaaa? Awalnya si Bapak belum tahu keadaan begini, tapi sekarang-sekarang akhirnya sadar kalau anaknya termasuk anak yang istimewa, hahaha …. (Makanya, senang sekali kalau si Bapak kebetulan ada di rumah, gantian ya Pak ngasuhnya, Ibuk mau tidurrrrrr hehe).

Meskipun begitu, sama seperti Alma Svensson, saya juga percaya bahwa kenakalan-kenakalan ini adalah bukti bahwa anak kami sedang melatih otaknya agar bisa berfungsi dengan baik, dan saat dewasa, ternyata Emil pun berhasil jadi bupati! (Eh, tapi saya nggak berharap Sakya jadi bupati di sini, tapi kalau dianya mau ya sok aja, hahahahaaa).

Karena itulah, sekarang saya memahami perasaan Alma Svensson, ibunya Emil dari Lonneberga. Hihiii ….

 

 

Menjadi Penerjemah Buku Freelance (Berdedikasi?)

Sebetulnya, saya merasa bukan penerjemah berdedikasi. Soalnya nggak pernah bahas kerjaan di blog, nggak seperti banyak rekan penerjemah lainnya :p Makanya ada tanda tanya dalam kurung di judul. Baiklah, supaya terkesan “berdedikasi” (waeee haha), saya akan sedikit berbagi tentang profesi ini.

Saya adalah penerjemah buku freelance. Kadang mengedit juga. Melamar jadi penerjemah dokumen belum nyangkut aja hihi… Dan dasar pemalas, jarang juga sih saya melamar untuk menerjemahkan dokumen. Padahal, honor penerjemah dokumen jauh lebih besar daripada penerjemah buku. Saya pernah menerjemahkan makalah, tapi jalurnya nggak lewat melamar (waktu itu dikasih kerjaan sama Antie, untuk kantor suaminya). Saya juga menerjemahkan Space Scoop Unawe, artikel astronomi untuk anak-anak dan remaja, untuk langitselatan.com, pro bono. Anggap aja itu bakti saya sebagai lulusan Astronomi bagi masyarakat luas :p.

Oke, jadi sekarang yang saya bahas lebih sempit ya, profesi penerjemah buku freelance. Sepengetahuan saya, ada dua cara untuk menjadi penerjemah buku freelance.

Pertama, mengikuti jalur seperti saya, masuk dulu ke salah satu penerbit buku. Juli 2004 saya bekerja di Mizan Pustaka, sebagai editor lini novel dewasa terjemahan kemudian lini buku anak terjemahan. Waktu itu saya melamar karena melihat iklan di koran. Sebetulnya untuk buku remaja. Nah, pas wawancara, karena saya bilang remaja nggak perlu baca buku-buku panduan (selfhelp), banyak hikmah dari buku fiksi, jadi saya nggak ditempatkan di lini itu haha….

Kemudian, saya mengundurkan diri dari Mizan Desember 2006. Bukan karena menikah dan punya anak, tapi salah satu alasannya adalah karena merasa kekurangan waktu bermain hihiiii…. Nah, setelah mengundurkan diri, saya mengerjakan beberapa terjemahan buku-buku dari Mizan juga. Terus pelan-pelan kenalan dengan editor-editor penerbit lain. Sok akrab. Temenan di Multiply (Oooh asyik sekali sih masa itu). Jadi dikasih kerjaan deh hihi…. Kemudian melamar-lamar lagi ke beberapa penerbit.

Keuntungan memilih jalur ini adalah lamaran saya lebih mudah dilirik penerbit selain Mizan. Soalnya sudah dianggap berpengalaman (meskipun cuma dua tahun lebih sedikit). Bekerja di penerbit selama itu rasanya seperti sekolah lagi, soalnya saya mulai dari awal sebagai lulusan ilmu sains yang nggak tahu (bahkan mendengar pun kayanya belum pernah) teori-teori penerjemahan, editing, dan hal-hal lain yang berkaitan. Kekurangannya? Nggak setiap saat ada lowongan sebagai editor in house di penerbit. Tapi, cukup banyak kok penerjemah freelance mantan editor in house. Sering juga diminta jadi editor freelance.

Jalur kedua adalah langsung melamar ke penerbit. Standarnya begini: siapkan surat lamaran (cover letter), CV, portofolio (siapa tahu punya pengalaman di bidang tulis-menulis, misalnya redaksi majalah kampus, dll), dan contoh terjemahan serta teks aslinya. Bisa dikirim pos, bisa via e-mail. Contoh terjemahan nggak perlu terlalu banyak, sekitar satu bab atau lima halaman deh, dan pilih teks yang kita sukai. Mau fiksi atau nonfiksi? Buku roman atau fantasi? Pilih aja. Alamat penerbit? Googling aja, pasti keluar semua.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan dengan cara seperti ini memang lebih kecil daripada jalur pertama (bayangkan, berapa surat lamaran yang diterima editor di penerbit, dan kerjaan editor bukan hanya membaca surat lamaran dan mengirim tes bagi calon penerjemah). Tapi, kalau contoh terjemahan kita bagus, surat lamaran, CV, dan portofolio meyakinkan, bisa kok. Beberapa teman saya juga menjadi penerjemah freelance dengan cara ini. (Tapi ingat, jangan tulis “Lamaran untuk menjadi penTerjemah” ya, nanti berkasnya langsung dibuang oleh editor wkwk)

Apa sih senangnya menjadi penerjemah buku freelance? Saya sendiri senang karena hobi membaca. Asyik kan, melakukan hobi dan dibayar. Waktu kerja bisa mengatur sendiri. Mau kerja di mana saja bisa, asal ada colokan dan wifi atau modem.

Susahnya? Banyak. Sebagai pekerja freelance, kita nggak dapat tunjangan: THR, kesehatan, pensiun, dll. Kadang, padahal honornya nggak seberapa, bayaran telat. Kadang banyak orderan, kadang nggak ada sama sekali. Selalu lebih bayar pajak karena pajak langsung dipotong penerbit, dan kalau klaim lebih bayar, setelah dihitung-hitung AR kok malah jatuhnya kurang bayar (ini pengalaman saya, siaaaaal! Moal deui-deui!) Dan ini yang saya alami: saya jadi nggak hobi baca lagi. Soalnya capek. Mengetik dan membaca itu melelahkan. Setelah selesai bekerja, biasanya saya menekuni hobi lain (tidur).

Seperti yang banyak dibilang para pekerja buku, apalagi sekarang, saat ramai-ramainya bahasan pajak penulis, pajak buku, dll., profesi ini mah romantis. Maksudnya, kalau nggak cinta-cinta amat nggak usah jadi penerjemah/penulis/editor buku. Kalau masih ingin merasakan jadi pejabat atau punya mobil mewah kaya artis-artis masa kini, nggak usah jadi penerjemah buku freelance. Jaga lilin weh bwahahahaaaa ….

Biasanya, sebagai pekerja teks kita dianggap selalu berbahasa baik, baku, dan benar dalam setiap kesempatan. Saya sih nggak. Ya blog ini aja contohnya. Tergantung suasana lah, kalau memang perlu dan harus, ya gunakan bahasa yang baku. Kalau lagi gaul mah terserah. Oh iya, dulu waktu masih jadi editor saya pernah nulis juga, kalau saya suka capek melihat teks-teks yang salah. Misalnya spanduk-spanduk di jalan. Atau pengumuman rumah “dikontrakan” atau “dikontrak” atau apalah apalah. Syukurlah fase itu sudah terlewati. Sekarang mah cuek aja, udah capek melototin teks melulu.

Itu langkah awal dulu ya. Nanti (kapan-kapan, mudah-mudahan nggak males lagi hihi) kita bahas apa yang akan dialami setelah “kecemplung” menjadi penerjemah buku freelance.

Cerita Gajah Pulang

molamola

lagi jadi ikan mola-mola

Cerita ini disusun bersama Lula sebelum tidur di kamar yang gelap, di tengah mampet, serak, dan meler bersama.

Saya (S): Pada suatu hari, ada seekor gajah yang sedang menyedot air dengaaaan?
Lula (L): Belalainya? (masih ragu)
S: Kemudian, gajah itu menyemprotkan air ke seekor?
L: Sapi!
S: Kenapa gajah menyemprot sapi?
L: Karena sapinya haus!
S: Sapi bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Terus, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya!
S: Kemudian, dia?
L: Menyemprotkan air!
S: Ke siapa?
L: Monyet!
S: Kenapa?
L: Monyetnya harus mandi!
S: Kenapa monyet harus mandi?
L: Karena monyet bau!
S: Terus, monyet bilang apa sama gajah?
L: Terima kasiiiihh…
S: Terima kasih kembali, kata gajah.
S: Kemudian, si gajah menyedot air lagi dengan?
L: Belalainya.
S: Kemudian, dia?
L: Capek, terus pulang.
S: Hah? Pulang ke mana?
L: KE SARIJADI!
Kemudian Lula berbalik, memeluk bantal, langsung tidur :p

Mimpi

bohulsan

Fjallbaka, desa nelayan penuh warna di Pantai Barat Swedia (sumber Pinterest)

 

Sudah banyak orang yang saya kenal berhasil mencapai mimpi-mimpinya. Dan baru hari ini, seorang teman saya juga berhasil mencapai mimpinya. Saya tahu dari dulu dia suka berlari. Beberapa kali saya melihatnya lari di kompleks dekat rumah dan sekali waktu saya teriaki dan dia kaget hihiii…. Terus saya melihat di FB-nya, dia aktif berlari lintas alam. Naik gunung dengan berlari. Dan hari ini, dari FB-nya juga saya tahu, pada usianya yang kepala empat (dan ibuk-ibuk), dia akan mengikuti lomba lari lintas alam di sekitar Mont Blanc, melewati tiga negara cantik: Italia, Prancis, Swiss. Katanya, lima tahun lalu dia menuliskan mimpinya untuk berfoto dengan latar belakang Mont Blanc!

Kisahnya ini semakin membuat saya percaya, mimpi nggak mustahil terwujud. Tentu saja dengan usaha. Dan sepertinya, mimpi itu harus dituliskan ya. Supaya ada target tertulis yang bisa membuat kita mengusahakan jalan menuju ke sana.

Baiklah… saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya.

  1. Punya camping ground. Berarti harus punya tanah dulu yang cukup luas di kaki gunung atau yang lingkungannya masih cukup alami.
  2. Sekolah lagi. Tujuannya apa? Ya nggak tau. Saya cuma pengen aja sekolah lagi. Belajar itu menyenangkan, asal yang kita suka (ya iyalaaaah) 😀
  3. Punya lembaga kursus sendiri. Menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk orang-orang yang nggak punya kesempatan untuk belajar dengan sistem kaku seperti sekolah atau kuliah. Karena itulah saya membuat Kelas 101.
  4. Punya daycare. Memanfaatkan rumah, tapi rumah Sarijadi harus direnovasi dulu.
  5. Membuat buku anak. Saya nggak bilang “menulis” tapi “membuat”, jadi bentuknya bisa lebih fleksibel ya 😉
  6. Punya rumah masa tua di pinggir pantai. Saya anak pantai yang lahir dan terperangkap tinggal di kaki gunung hihi… Saya penikmat bentangan luas langit, pasir, dan air, juga aroma laut dan desir ombak yang memanggil-manggil.
  7. Ke Swedia, ke daerah pedesaan dan pantainya. Ini gara-gara buku Astrid Lindgren dan Edith Unnerstad sih. Selain itu ke daerah pedesaan Belgia, gara-gara buku-bukunya Marcel Marlier dan Gilbert Delahaye. Juga ke Finlandia, Islandia, Santorini-Yunani. (Baru sadar, ini daerah Eropa semua ya, kebanyakan daerah Skandinavia, mungkin pada kehidupan lalu saya ini seorang gadis Viking! :D)
  8. Keliling Indonesia. Ke Pulau Komodo, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan lain-lain.
  9. Belajar alat musik tiup, apa pun jenisnya. Nggak ada tujuan apa-apa, cuma pengen aja hihi….

Ini semua mimpi pribadi saya. Tidak menyangkut orang lain, seperti anak-anak. Ya, tentu saja saya juga menginginkan hal-hal terbaik untuk keluarga saya, misalnya menyekolahkan anak setinggi-tingginya, membahagiakan si Emak, ibu mertua, dan si Bou (uwak saya), dan segala kewajiban spiritual/religius lain.

Kapan mimpi-mimpi ini terwujud? Entahlah. Semoga satu per satu bisa dicontreng dalam waktu yang nggak terlalu lama. Aamiin!

(Saya menambahkan No. 9 belakangan. Mungkin akan ada juga No. 10 dan seterusnya :p )

Satu PR Selesai …. (Tapi Masih Ada)

img-20161119-wa0007

lagi jadi model skuter matik, difotoin Tante Vivi

Akhirnya, si Lula menyapih diri sendiri, pada usia tiga tahun lewat sebulan! 😀

Kalau Yaya menyapih diri sendiri umur dua tahun delapan bulan. Itu juga gara-gara si Ibuk ada kerjaan di Baros selama dua minggu dan pulang malem melulu, jadi dia tidur sama Emak dan kepaksa nggak nenen. Setelah kerjaan selesai, nggak nenennya keterusan.

Waktu si Lula ini, nggak ada kerjaan atau apa gitu yang mengharuskan si Ibuk pulang malem. Jadi yah agak lebih sulit. Kalau si Bapak udah pulang, biasanya bisa tidur ditemani si Bapak (dengan usap-usap, tepuk-tepuk, garuk-garuk, atau pijit, enaknyaaaa). Tapi kalau Bapak pulang malam, akhirnya balik lagi nenen, hiks ….

Awalnya khawatir, mau sampai kapan nenen meluluuuu …. Masa sampai masuk TK? (Hiiiiy ngeriiii wkwkwk) Tapi, sama seperti si Yaya, nggak ada usaha-usaha tambahan seperti oles-oles brotowali, betadin, ditempel plester, apalagi minta doa sama siapa gitu (bukan apa-apa, si Ibuk mah pemalas weh :p)

Keberhasilan menyapih diri sendiri (meskipun lamaaa) ini dipengaruhi oleh apa coba … permen karet. Jadi, kalau dia jajan ke Uni (warung depan rumah Sarijadi), dia suka pengen beli permen karet. Karena khawatir tertelan, biasanya si Ibuk bilang, “Permen karet itu untuk anak yang udah gede, yang udah nggak nenen.”

Mungkin omongan ini melekat di benak si Lula, karena sekitar dua minggu lalu, suatu malam sebelum tidur, tiba-tiba dia bilang “Nggak nenen, kan Lula udah besar. Tapi mau beli permen karet.” Si Ibuk kira cuma semalam dia begitu, eh besok malemnya juga sama, nggak mau nenen. Dan keukeuh mau permen karet yang bulet hihihiiii ….

Agak lama, baru deh dia merasakan permen karet hadiah berhenti nenen. Baru minggu lalu, pas si Yaya beli permen karet (padahal jarang-jarang dia beli), dia kasih Lula satu. Si Ibuk udah berpesan “Jangan ditelan ya!” berulang-ulang. Lula bilang iya. Sampai ngunyahnya diawasi (bukan khawatir tertelannya sih, tapi takut tersedak). Eh … tapi pas meleng sesaat, paling cuma dua detik, dia udah cengar-cengir. Permen karetnya raib! Terus pasang tampang bersalah gitu dengan senyuman sok polos (hadooooh….)

Yah, begitulah kisah sapih-menyapih ini. PR si Ibuk masih ada satu lagi: Toilet Training. Terutama pipis (kalau pup biasanya keburu dibawa ke WC hehe). Kita tunggu aja ya, ada cerita apa lagi nanti hihihiiii ….

Mengartikan Bahasa si Lula

Dulu waktu si Yaya masih bayi dan balita, saya rajin menulis tahap-tahap perkembangannya. Setelah ada si Lula, bisa ngintip blog tiga bulan sekali juga udah alhamdulillah hehe….

lula

Nyengir, difotoin sama si Mamak Robin

Perkembangan Yaya dan Lula berbeda.Kalau si Yaya telat jalan dan ngomong. Dia baru lancar jalan sekitar umur lima belas-delapan belas bulan, tapi setelahnya langsung lari-lari! Ngomong juga cuma “Maaahhh! Maaaahhhh!” tapi setelah bisa ngomong, kok yang keluar satu kalimat lengkap (dan baku pulak) hihi …. Kalau si Lula, rasanya nggak ada perkembangan drastis, dia bisa jalan dan ngomong secara bertahap.

Tapi, kalau diperhatikan, si Lula itu cenderung sengau, kalo bahasa Sunda-nya ngirung. Pada usianya sekarang (tiga tahun kurang dua minggu), dia masih belum bisa bilang huruf “S” di awal kata. Kalau bilang “esss” bisa, tapi “susu” jadi “u-u”, “sofa” jadi “o-a”, “Tante Shasa” jadi “Tante Haha”. Kebanyakan kata yang sulit dia ucapkan jadi ha, misalnya “ternyata” jadi “ahata”. Kadang keras kepala juga sih, dia bisa bilang “boneka”, tapi keukeuh jadi “ohoka”. Kekeraskepalaan ini juga muncul pada huruf vokal, dia bisa bilang “Ibuk” tapi keukeuh manggilnya “Mbooook” dan “Uni” jadi “Oneeee” hahaaa ….

Dulu si Yaya punya beberapa bahasa yang misterius. Misalnya “Hiiy, labi-labi!” yang ternyata “gelap!” (dari “gelap, gelap hiiii!”) dan yang sampai sekarang belum terkuak adalah “Aciiciciaaaa!” (kalau melihat sesuatu diurai, misalnya rafia diurai dari gulungan, tisu diurai dari gulungan, dll).

Kalau si Lula, kasusnya adalah lagu. Lula itu Princess Syalala, sejak umur delapan bulan dia sudah bersenandung “Hmmm hmmm hmmmmm!” dengan wajah lempeng dan sedikit menggeram. Semakin besar, semakin suka bernyanyi. Kalau si Yaya suaranya lembut, merdu merayu, kalau Lula lebih ngerock! 😀 Karena hobinya nonton Youtube yang banyak lagu-lagunya, dia sudah hafal banyak, mulai dari lagu anak Indonesia, nursery rhymes berbahasa Inggris, dan … lagu-lagu Jepang. Ini yang sulit soalnya saya belum ngerti bahasa Jepang hahahaaa ….

Setahun lalu, dia suka nyanyi “Naik ndahhhh… ing ing Bapaaaap!” terus kami yang mendengarkan bingung, lagu apa sih? Naik becak? Bukan. Naik delman? Bukan. Kring-kring ada sepeda? Bukan juga. Naik sepeda sama si Bapak? (Karena dia manggil Bapak dengan sebutan Bapap) Ternyata bukan juga. Baru beberapa bulan lalu terkuak, ternyata liriknya “Naik sepeda… keliling-liling kota!” (coba search di Youtube, lagu Sepeda, penyanyinya Daffa hihi)

Terus, ada sebuah permainan yang suka dia lakukan sama si Yaya. Begini: “Cacis?” (sambil bergaya nunjuk atau menirukan pistol), “Hukhukhuk!” (mengepalkan tangan, gaya menumbuk), dan “Aaaaaaaaaaaaaaa!” (suaranya bergelombang, kedua tangannya menepuk-nepuk di depan dada). Main apa siiiih… Kata si Yaya itu main gunting kertas batu, tapi dia juga nggak yakin haha …. Mungkin juga betul sih, cacis itu gunting, hukhukhuk batu, aaa kertas. Tapi, si Lula sering seenaknya mengganti kata-katanya, misalnya si Bapak baru pulang, dia bilang “Bapap? Pap pap pap, Bapaaaaaaaap!” atau melihat apa pun di sekitarnya, misalnya ikan “Ikan? Kan kan kan, Ikaaaaaaaan!”

Setelah keranjingan lagu-lagu Jepang, ada beberapa yang misterius lagi. Satu berlirik “Oehehem, oehehem, oehehem!” dengan nada datar sambil membentur-benturkan dua kepalan tangan. Yang kedua “Ai huhupet, ai huhupet, huhahuhahuhahuhah ai huhupet!” Lagu apa cobaaaaa? Awalnya dikira arti “Ai huhupet” adalah “no more monkey jumping on the bed!” tapi kok ada bagian huhahuhahuhahuhah itu ya? Jadi, ini masih misteri. Yang ketiga adalah “Entoh entoh holihiooooo… Onehhhhhh!” Kalo kata si Yaya sih ini lagu berbahasa Jepang, tapi sampai sekarang saya belum nemu lagunya yang manaaaaa ….

Jadi, apakah ini akan jadi misteri tak terpecahkan lagi? 😀

 

UPDATE

Dua misteri terpecahkan. Lagu oehehem ternyata Ram Sam Sam, ai huhupet ai huhupet huhahuhahuhahuhahuhah ternyata “Jelly on the plate, jelly on the plate, wibble-wabble, wibble-wabble…”

Entoh-entoh holihio ada di lagu Jepang Gyu-Gyu, tapi masih belum ketauan, sebetulnya gimana liriknya.

Memperpanjang SIM di Outlet BTC Bandung

Wew, untung ada pembicaraan di salah satu grup whatsapp tentang SIM. Kalau nggak, lapur (apa sih bahasa Indonesianya lapur teh nya, hahaha) deh, harus bikin baru. SIM C saya sudah kadung kedaluwarsa, males aja kalau SIM A juga. Sebelum pergi ke BTC, saya googling dulu tentang ini. Cuma ada satu blog yang menulis pengalaman memperpanjang SIM di BTC, tapi ternyata salah informasi, hiks.

Sehari sebelum tanggal kedaluwarsa, saya datang ke BTC dengan si Yaya. Menurut info di blog yang saya baca, outlet buka sampai jam 20.00. Tapi, ternyata jam 3 outlet sudah sepi, formulir habis. Petugas penjaga bertanya, kapan SIM saya kedaluwarsa? Saya jawab besok. Kata si Bapak, kalau nggak mau bikin baru, usahakan besok sepagi mungkin datang lagi. Hadeuh, perpanjang SIM gagal, tapi terpaksa dipalak main Animal Kaiser sebagai sogokan si Yaya!

Besok paginya, saya datang jam 8 pagi membawa si Lula (soalnya Emak sakit, nggak bisa dititipin 😦 ). Ternyata sudah banyak orang di depan outlet, lantai paling bawah BTC. Tapi saya bengong-bengong dulu, duduk di sana, karena nggak ada petunjuk daftar ke mana, harus ngapain. Syukurlah ternyata ada seorang bapak yang memberitahu kalau kami harus menulis nama di sebuah daftar yang ditempel di pintu kaca ruang pemeriksaan kesehatan (letaknya di belakang outlet). Saya dapat urutan 49, syukurlah (menurut rumor, sehari hanya tersedia 90 formulir). Tapi karena ruang pemeriksaan kesehatan dan outlet belum buka juga, saya dan si Lula jalan-jalan dulu di lantai atas (yang masih gelap karena belum pada buka, hiks hiks).

Setelah sarapan roti, kami turun lagi dan setelah menunggu sebentar, kami disuruh baris oleh si teteh petugas pemeriksaan kesehatan (yang kecil-kecil tapi tegas, melarang orang-orang meninggalkan antrean kalau nggak mau disela hihi). Sebetulnya sih yang antre di depan dan belakang saya baik-baik, kalau saya mau duduk dulu atau ke mana dulu sok aja kata mereka. Tapi malas juga, khawatir nanti pas balik lagi giliran saya sudah terlewat. Jadilah mati gaya mengantre bersama si Lula. Entah berapa lagu yang sudah kami nyanyikan di antrean. Otot juga makin kencang karena gendong, muter-muter, dan ngangkat-ngangkat si Lula (hadeuh…). Sebelum tes, serahkan fotokopi KTP dan SIM lama kita ke petugas pemeriksaan. Terus, biasanya petugas bertanya, mau sekalian laminating SIM nggak? Kalau ya, bayar Rp. 5.000.-.

Sekitar jam 9, ruang pemeriksaan kesehatan baru buka. Antrean beringsut maju sedikit-sedikit. Tapi pemeriksaan tiap orang berlangsung cepat, hanya diperiksa tekanan darah, ditanya berat badan, tes penglihatan (disuruh baca huruf-huruf seperti di dokter mata), tes buta warna. Setelah itu, tunggu dipanggil di loket outlet untuk membayar dan mendapat formulir (perpanjang SIM A bulan Oktober 2016 harganya Rp. 170.000,-. SIM C kalau nggak salah Rp. 150.000,-). Formulir harus diisi di situ (kalau bingung, lihat contoh yang ditempel di dinding, kalau kita menghadap loket pertama, ada di sebelah kanan. Nomor resi dikosongkan saja, diisi oleh petugas), lalu dimasukkan lagi ke kotak kardus di jendela tempat pengisian formulir di belakang loket pertama.

Setelah itu, tunggu dipanggil untuk difoto (dan seperti biasa, kamera, eh entah fotografernya hihi, pembuatan SIM atau KTP paling bisa menemukan sisi gelap, sisi kucel, dan sisi kelam seseorang, hahaha!). Setelah difoto, diambil sidik jari, dan tanda tangan, tunggu sampai SIM-nya jadi deh, nanti dipanggil di loket sebelah kiri loket pertama. Setelah mendapat SIM, kalau tadi kita bayar untuk laminating, balik lagi ke ruang kesehatan, teteh-teteh petugas di sana yang mengerjakan.

Ada beberapa hal yang harus dibawa/diingat saat memperpanjang SIM di sana:

  1. Bawa fotokopi KTP dan bolpen. Sebetulnya ada tempat fotokopian yang juga jual bolpen di depan outlet, tapi mending siapkan sebelumnya. Soalnya waktu itu, fotokopian bukanya lebih siang daripada antrean tes kesehatan dimulai.
  2. Datang sepagi mungkin boleh, langsung cari ruangan tes kesehatan di belakang outlet, tulis nama di situ. Boleh ditinggal sih, tapi jangan lama-lama. Tes kesehatan mah cincai, semua juga lulus sih hihiii ….
  3. Kalau perpanjang dua SIM, tulis nama di daftar dua kali (berurutan), di samping kolom nama ada kolom keterangan jenis SIM. Tes kesehatan sih cukup sekali, tapi nanti dapat dua formulir.
  4. Kalau bisa jangan bawa anak kecil. Khawatir bosan kaya si Lula. Kecuali kalau si anak kecil tenang dan jarang pengen lari-lari ke sana kemari.
  5. Pasang telinga baik-baik, soalnya di tiga loket yang ada di outlet, suara petugasnya kurang keras (Saya heran kenapa nggak pake mikrofon aja).
  6. Sistem belum secanggih outlet SAMSAT di Giant, jadi yah maklum aja kalau berdesakan hehe….
  7. Hanya tersedia 120 formulir per hari, jadi betulan harus datang pagi. Jam 9 formulir sudah habis.

Proses dari daftar di antrean pemeriksaan kesehatan sampai dapat SIM baru memakan waktu sekitar tiga setengah sampai empat jam. Menyebalkan sih waktu terbuang begini, tapi yah gimana lagi, susah kalau diwakilkan hehe….

Oh iya, satu lagi, pastikan alamat KTP dan SIM sama. Kalau beda, prosesnya lebih sulit lagi. Waktu itu ada kasus begini, tapi maaf saya nggak terlalu memperhatikan, samar-samar saya dengar ada yang harus diurus ke Polwiltabes di Jalan Jawa.

Mudah-mudahan pengalaman saya ini berguna ya.

 

Mengurangi Beban Duniawi

even-living-rooms-are-de-cluttered-the-only-furniture-here-is-a-desk-and-chair

Gambar dari tautan di bawah

Di timeline Facebook, berseliweran tautan tentang gerakan hidup minimalis yang sedang gencar di Jepang, terinspirasi ajaran Zen.

Jauh sebelum tautan ini muncul, sebenarnya saya sudah malas beli baju. Awalnya sih karena jarang nemu yang sesuai selera, dan saya heran, kenapa baju-baju sederhana biasanya malah lebih mahal daripada baju-baju dengan banyak hiasan? Lama-lama, keterusan malas, mau di mal, di outlet, beli online, kalau kata orang Sunda mah barieukeun. Memang sih, akhir-akhir ini bokek terus hihi …. Tapi, kalau pas pegang uang nggak pernah kepikiran juga.

Kesadaran ini mulai terasa pas beres-beres baju sebelum pindah ke Sariwangi. Isi lemari saya berkurang setengahnya. Dan semakin terasa waktu hidup “nomaden”, bolak-balik Sariwangi-Sarijadi. Ternyata manusia nggak butuh banyak pakaian. Menurut saya, sepuluh potong baju atasan sudah cukup, bawahan (rok, celana) cukup empat. Itu sudah termasuk baju tidur. Warna dan model netral, jangan bermotif (Itu teori saya ya hihi).

Tapi, ini belum bisa diterapkan pada anak-anak ya. Apalagi Lula masih berpopok dan Yaya harus berseragam ke sekolah. Baju-baju mereka juga cepat kotor dan bau kecut, jadi harus sering ganti.

Bagaimana dengan barang-barang lain? Karena saya pemalas, sebenarnya nggak suka pekerjaan rumah tangga, gaya hidup minimalis ini cocok banget. Saya nggak suka hiasan dan pajangan rumah. Malas bersihin debu. Karpet berbulu-bulu dan tirai-tirai berimpel juga nggak suka, sarang debu, sering bikin gatal. Ada perkecualian sih, buku. Apalagi buku-buku anak kesukaan saya sejak kecil, yang langka dan sulit dikumpulkan. Juga buku terjemahan dan suntingan saya. Tapi, akhir-akhir ini juga malas beli buku fisik, selain buku anak untuk Yaya dan Lula. Meskipun mata sepet, numpuk e-book ternyata lebih praktis.

Suatu saat, saya ingin sekali hidup seperti tautan di atas. Punya barang yang fungsional saja, nggak berlebihan. Rasanya kok ringan ya. Beban duniawi berkurang banyak. Kalau dikaitkan dengan sisi religius, Rasulullah SAW juga hidupnya seperti begini. Tapi, saya mah alasannya cemen, sebagian besar karena PEMALAS hihi ….

 

Sekolah Baru!

Si Yaya jadi anak SD euuuy …. (Meskipun tetap oces :D)

Awalnya nggak PD dia bisa masuk SD, soalnya umurnya baru enam tahun sebulan. Bu Teti, wali kelasnya di TK B juga menyarankan kelas B aja setaun lagi. Tapi, si Bapak keberatan. Soalnya, selain terlalu lama di TK (PAUD dua taun, TK nanti jadi tiga taun dong?), karena lokasi TK yang hanya “selangkah dari rumah Yaya” (begitu menurut pengakuannya sendiri), si Yaya merasa sekolahnya ya rumahnya. Jadi, dia nggak bertanggung jawab sama barang-barang pribadinya. Pulang sekolah, lepas sepatu di luar, lempar tas, terus main. Nanti, kalau guru-guru dan teman-temannya mau pulang, dia lari masuk, lupa sama barang-barangnya di luar. Terus Ibu Guru yang mindahin ke dalam. Berulang kali dinasihati sampai dimarahi, teteeeep aja begitu. Yah, risiko belajar di sakolah nini aing tea.

Lalu, si Yaya mau dimasukin ke SD mana? Si Bapak sih terserah Ibuk aja katanya. Homeschooling udah nggak masuk pilihan, soalnya si Ibuknya belum mampu. Jungkir balik sama kejar setoran :p. Jadi, alternatif lain adalah sekolah swasta, mengingat umur si Yaya. Dan mengingat kelakuannya yang “istimewa” hihi …. Sejak awal, saya nggak berniat daftarin Yaya ke SD Islam Terpadu. Alasannya sederhana aja sih: di kehidupan nyata, dia akan bergaul dengan berbagai kalangan. TK Armia sendiri sebetulnya bukan TK Islam, tapi kebetulan angkatan si Yaya beragama Islam semua. Kriteria kedua, lokasi jangan jauh-jauh. Dari beberapa pilihan, sebetulnya saya naksir Semipalar di Sukamulya, soalnya kenal dengan beberapa gurunya dan sepertinya sekolah itu “Yaya banget”. Tapi pas saya kirim e-mail untuk menanyakan pendaftaran, katanya kelas SD sudah penuh, karena semua murid TK masuk ke SD Semipalar lagi.

Tapi, sekolah swasta tuh mahal ya. Terus, saya sempat ngobrol dengan Ita si pemilik Herbsays, yang udah pengalaman ikut nyusun kurikulum SD swasta. Kesimpulannya, semua sekolah pasti ada kekurangannya. Kewajiban orangtua adalah mengisi kurangnya ini, pesan Ita. Saya juga mikir, apa sih keinginan kami, orangtua si Yaya, saat memilih sekolah? Saya pribadi sih pengennya si Yaya bahagia, juga bisa bergaul dengan segala kalangan. Bahkan sempat kepikiran masukin sekolah Katolik aja gitu ya, supaya sempat ngerasain jadi kaum minoritas (tapi nggak ada yang deket dan tetep mahaaaaal hahaha).

Oke, jadi kita pikirkan sekolah negeri. Di SD negeri kan muridnya lebih beragam lagi. Teringat zaman saya SD, ada yang diantar jemput mobil tiap hari, ada juga yang ke sekolah pakai plastik keresek karena nggak mampu beli tas. Tapi, tetep aja main bareng tuh. Mungkin ada juga sih kondisi nggak bagus di beberapa SD negeri. Mungkin ada yang geng-gengan dan ada perundungan. Juga saingan barang, gadget, dan segala macam. Tapi, kayanya kalau orangtuanya bertanggung jawab dengan bener, yang begitu-begitu harusnya nggak ada. Soal kurikulum, meskipun katanya dirancang untuk “rakyat jelata” dan masih satu arah, yah … dulu saya juga banyak belajar di rumah, disediain buku-buku dan majalah.

Sebetulnya ada SD negeri yang deket banget dengan rumah, nggak sampai 150 meter, tapi kok anak-anaknya santai banget ya. Masuk jam tujuh, jam delapan udah kelayapan lagi. Terus, bocoran dari guru TK yang sempat ngajar di sana, guru-gurunya pemalas. Malah ada yang suka minta dipijat oleh murid hahaaa … (atuh Buuuu saya juga mau!) Lagipula, karena jaraknya deket, nanti si Yaya malah bolak-balik pulang, minta makan lah, mau ke WC lah, dst. dsb., pasti TK juga terganggu. Ada beberapa alternatif sekolah negeri yang lumayan bagus dan cukup dekat: SD PN Setiabudhi (yang dulunya di UPI), dan SD Sukarasa 3 di KPAD. SD PN lebih dekat, jalan dan naik angkot pun cuma sepuluh menit, dan lumayan banyak alumni TK Armia yang masuk situ.

Masalahnya umur. Tapi, kata Bu Teti, coba aja dulu. Lagipula ada skor jarak rumah-sekolah. Kalau nggak keterima, ya sudah, si Yaya balik lagi ke TK. Atau kalau dia bosan, nggak perlu sekolah tiap hari lah, semaunya dia aja. Saya juga udah siap-siap, bilang ke si Yaya, kalau nggak keterima di SD, kita lari tiap hari aja yuk!

Tak disangka-sangka, alhamdulillah si Yaya keterima. Urutan 103 dari 108 (dihitung menurut skor umur dan jarak), nyaris! Hari pertama sekolah, diantar Ibuk dan Bapak, sebetulnya khawatir kalau terjadi “drama”, tapi dia lempeng aja tuh. Cuma nyari-nyari Ibuk aja pas baris sebelum upacara, dari jauh. Pas si Ibuk keliatan, dia tenang lagi. Di kelas juga lempeng … masih bengong-bengong :p. Hari kedua sudah agak pede, tapi masih harus ditunggu. Lagipula tiga hari ini masih perkenalan, masuk jam setengah delapan, jam sembilan bubar. Kata Bu Teti, siap-siap Senin depan, orangtua nggak boleh masuk ke sekolah selama jam pelajaran. Doakan, mudah-mudahan lancar, ya!

Romantis banget ya, ini nggak sengaja kefoto padahal, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD

Romantis banget ya, padahal ini nggak sengaja kefoto, disun si Bapak pas hari pertama sekolah di SD